Melewati Zaman dan Pengetahuan

Karya : Makhrus Habibi

Aku masih hidup di zamanmu. Zaman yang sangat sulit ku mengerti. Tapi berupaya ku pahami. Karena aku begitu mencintaimu. (Naga Bonar 2)
Orang sering berbicara bahwa sekarang zamannya sudah maju, sering mereka mempersepsikannya dengan zaman modern, modernitas, dan modernisme, sekarang sudah bisa ngomong langsung dengan saudara yang ada di luar pulau, sekarang sudah bisa lihat secara langsung kejadian-kejadian di Jakarta, Baca lebih lanjut

Hidup Adalah Pilihan

Oleh : Ramlah

Manusia adalah mahluk yang diberikan kebebasan dalam arti yang seluas-luasnya. Coba perhatikan kedalam kehidupan yang kita jalani, hampir semua yang berhubungan dengan masalah manusia selalu memiliki lebih dari satu piliham, ya atau tidak, menolak atau menerima, mengikuti atau membuat jalan sendiri.
Ambil contoh kecil, saat akal menyakini keberadaan tuhan sang pencipta kehidupan mutlak didunia ini, manusia masih saja dihadapkan pada pilihan, beriman (mukmin) atau tidak beriman (atheis). Coba bayangkan, kalau dalamhal yang sangat pasti adanya saja manusia diberikan kekuatan untuk menolak, apalagi dalm hal-hal sepele lainnya. Tentu saja, manusia bisa berbuat menurut sekehendak hatinya.

Tentu, pilihan mempunyai akibat. Namun, akibatpun tidak mutlak diterima begitu saja oleh manusia. Ambil contoh, saat seorang penjahat mendapat hukuman dari pengadilan, ia masih juga diberikan kehendak umtuk menerima putusan hakim maupun menolak. Luar biasa temtunya mahluk yang bern ama manusia itu, dalam segala sendi kehidupannya ia selalu dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang notabene tentunya mengakui kebebasan hakikinya.
Kebebasan! Itu adalah anugrah terbesar yang dimiliki oleh manusia. Namun ternyata, tidak semua kebebasan itu dapat dinikmati oleh manusia. Namun ternyata, tidak semua kebebasan itu dapat dinikmati oleh manusia. Berlandaskan “demokrasi” sebuah pilihan dapat dipaksakan hanya karena disepakati oleh oran g banyak. Sangat riskan tentunya jikalau oran g (mayoritas) ternyata tidak memahami hakikat kebebasan ini. Inilah yang menjadi masalah.
Contoh lagi, sebuah Negara dapat dibumi hanguskan (ekspansi yang berakhir eksploitasi) hanya karena mayoritas Negara menyetujui keputusan sebuah Negara adikuasa yang menguasai perekonomian dan teknologi. Hal itu menimbulkan tanda Tanya besar, kemana kebebasan Negara tersebut? Dimana kehendak bebasnya untuk membangun Negara sendiri? kapan dibolehkan sebuah Negara menguasai teknologi nuklir saat Negara-negara mayoritas menolak kemajuan teknologi Negara tersebut?. Kalau contoh tersebut terlalu “melangit” , ada contoh lain, dalam sebuah pemilihan ketua organisasi, umumnya selalu dimintakan kesediaan. Namun, saat mayoritas suara tidak menghendaki adanya proses (dalam tata tertib pemilihan) kesediaan dan pembacaan visi dan misi (mungkin takut sang calon mengundurkan diri), maka san calon terpilih tanpa diakui sedikitpun kehendak bebasnya. Dalam hal ini, kedua contoh diatas sama-sam berakibat fatal. zholim.
Lalu, bagaimana hal itu dapat terjadi. Kekuatan kata-kata itu kuncinya. Seorang yang pandai mengolah kata tentunya akan mampumeyakinkan oran g lain untuk mengikuti kehendaknya. Pada zamn sozrates dahulu, oran g-oran tersebut diberi label “sophis”. Yaitu oran g-orang pandai yang menggunakan kepandaiannya untuk mengajak oramg lain setuju dengan keinginannya. Bagaimana mengatasinya? Seperti layaknya tokoh heroic yunani tersebut, kita harus menanyakan kembali hal-hal tersebut kepada manusia dengan terbuka, tanpa takut akan akibat dari pernyataan tersebut. Yakinlah, hati nurani tahu apa yang terbaik bagi manusia. Ia akan memberikan jawban yang mengndung kebenaran tanpa mengurangi sedikitpun kabar kebebasan manusia. Eureka !!!

Pemanasan Global ”Tragedi Peradaban

(Refleksi Konferensi Perubahan Iklim /COP-13 di Bali, 3-14 Desember 2007)


Oleh : Makhrus Habibi

Konferensi Perubahan Iklim bulan Desember di Bali salah satu agendanya adalah Pengurangan emisi dari deforestasi, Pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim (Climate Change) belum menjadi mengedepan dalam kesadaran multi pihak. Pemanasan global (Global Warming) telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif). Tidak banyak memang yang memahami dan concern pada isu perubahan iklim. Sebab banyak yang mengatakan, memang dampak lingkungan itu biasanya terjadi secara akumulatif. Pada titik inilah masalah lingkungan sering dianggap tidak penting oleh banyak kalangan, utamanya penerima mandat kekuasaan dalam membuat kebijakan.

Perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming), pemicu utamanya adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan enerji fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Canada, Jepang, China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negera-negar utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrilisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Selain kerusakan hutan Indonesia yang tahun ini tercatat pada rekor dunia ”guinnes record of book” sebagai negara tercepat yang rusak hutannya.
Menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah lembaga dibawah PBB, tetapi kuasanya melebihi PBB. Menyatakan pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi, yaitu 10. selanjutnya adalah ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30 persen dan melelehnya Gleser (gunung Es) di Himalaya dan Kutub Selatan. Secara general yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el nino) di seluruh dunia. Serta meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis. Jika ini kita kaitkan dengan wilayah Indonesia tentu sangat terasa, begitu juga dengan kota-kota yang dulunya dikenal sejuk dan dingin makin hari makin panas saja. Contohnya di Jawa Timur bisa kita rasakan adalah Kota Malang, Kota Batu, Kawasan Prigen Pasuruan di Lereng Gunung Welirang dan sekitarnya, juga kawasan kaki gunung Semeru. Atau kota-kota lain seperti Bogor Jawa Barat, Ruteng Nusa Tenggara, adalah daerah yang dulunya dikenal dingin tetapi sekarang tidak lagi.

Meningkatnya suhu ini, ternyata telah menimbulkan makin banyaknya wabah penyakit endemik “lama dan baru” yang merata dan terus bermunculan; seperti leptospirosis, demam berdarah, diare, malaria. Padahal penyakit-penyakit seperti malaria, demam berdarah dan diare adalah penyakit lama yang seharusnya sudah lewat dan mampu ditangani dan kini telah mengakibatkan ribuan orang terinfeksi dan meninggal. Selain ancaman ratusan Desa di pesisir Jatim yang bisa tenggelam akibat naiknya permukaan air laut, indikatornya serasa makin dekat saja jika kita tengok naiknya gelombang pasang di minggu ketiga bulan mei 2007 kemarin. Mulai dari pantai Kenjeran, pantai popoh Tulungagung, Ngeliyep Malang dan pantai lain di pulau-pulau Indonesia.

Untuk negara-negara lain meningkatnya permukaan air laut bisa dilihat dengan makin tingginya ombak di pantai-pantai Asia dan Afrika. Apalagi hal itu di tambah dengan melelehnya gleser di gunung Himalaya Tibet dan di kutub utara. Di sinyalir oleh IPCC hal ini berkontribusi langsung meningkatkan permukaan air laut setinggi 4-6 meter. Dan jika benar-benar meleleh semuanya maka akan meningkatkan permukaan air laut setinggi 7 M pada tahun 2012. Dan pada 30 tahun kedepan tentu ini bisa mengancam kehidupan pesisir dan kelangkaan pangan yang luar biasa, akibat berubahnya iklim yang sudah bisa kita rasakan sekarang dengan musim hujan yang makin pendek sementara kemarau semakin panjang. Hingga gagal panen selain soal hama, tetapi akibat kekuarangan air di tanaman para ibu-bapak petani banyak yang gagal.

Situasi ini tentu saja tidak hanya akan dirasakan oleh dunia, tetapi bisa juga terjadi dan akan sangat mengancam Indonesia. Sebab dengan meningkatnya permukaan air laut, desa-desa pesisir Indonesia tentu akan langsung merasakan dampaknya. Mulai dengan makin panjangnya jeda untuk tidak melaut bagi nelayan, saat angin barat. Yang tentunya ini akan berimplikasi langsung pada ekonomi keluarga mereka, maupun mengancam tenggelamnya lebih dari 4000 Desa-desa pesisir Indonesia. Apalagi Indonesia sebagai negara kepulauan, tentu akan sangat dirugikan dengan ancaman tenggelamnya pulau-pulaunya, terutama pulau-pulau kecil yang ratusan jumlahnya.

The Day After Tomorrow. Sebuah film yang menggambarkan tenggelamnya kota-kota besar di pesisir yang di sertai dengan runtuhnya patung Liberty di Kota New York AS pada tahun 2020. Tentunya situasi yang kita hadapi saat ini bukan lagi manifest film tersebut, tetapi ini kenyataan yang kita hadapi saat ini Lantas jika demikian. Sebenarnya apa yang di butuhkan oleh dunia kecil “lokal” dan kita sebagai individu penghuni planet bumi? adalah revolusi gaya hidup, sebab dengan demikian akan mengurangi penggunaan energi baik listrik, bahan bakar, air yang memang menjadi sumber utama makin berkurangnya sumber kehidupan.

Selain itu perlunya melahirkan konsesus yang membawa komitmen dari semua negara untuk menegakkan keadilan iklim. Seperti yang sudah dilakukan oleh Australia yang mempunyai instrumen keadilan iklim, melalui penegakan keadilan iklim dengan membentuk pengadilan iklim (Climate Justice). Dimana sebuah instrumen yang mengacu pada isi protokol kyoto yang menekankan pada kewajiban pada negara-negara utara untuk membayar dari hasil pembuangan emisi karbon mereka untuk perbaikan mutu lingkungan hidup bagi negara-negara selatan.

Dalam praktek yang lain saatnya kita mulai menggunakan energi bahan bakar alternatif yang tidak hanya dari bahan energi fosil, misalnya untuk kebutuhan memasak. Menggunakan energi biogas (gas dari kotoran ternak) seperti yang dilakukan komunitas merah putih di Kota Batu. Desentraliasasi energi memang harus dilakukan agar menghantarkan kita pada kedaulatan energi dan melepas ketergantungan pada sentralisasi energi yang pada akhirnya harganya pun makin mahal saja.

Sedangkan untuk para pengambil kebijakan harusnya mengeluarkan policy yang jelas orientasinya untuk mengurangi pemanasan global. Misalnya menetapkan jeda tebang hutan di seluruh Indonesia agar tidak mengalami kepunahan dan wilayah kita makin panas. Menghentikan pertambangan mineral dan batubara seperti di Papua, Kalimantan, Sulawesi, hal ini bisa dilakukan dengan bertahap mulai dari meninjau ulang kontrak karyanya terlebih dahulu. Selanjutnya kebijakan progressive dengan mempraktekkan secara nyata jeda tebang dan kedaulatan energi harus dilakukan jika kita tidak mau menjadi kontributor utama pemanasan global.

Di tingkatan pemuka agama, bagaiman kemudian bisa menafsirkan teologi-teologi yang ramah lingkungan

Iklim memang mengisi ruang hidup kita baik secara individu maupun sosial, maka tidak mungkin menegakkan keadilan iklim tanpa melibatkan kesadaran dan komitmen semua pihak. Bahwa tidak bisa dibantah, kita hidup dalam ekosistem dunia “perahu” yang sama, sehingga jika ada bagian yang bocor dan tidak seimbang, sebenarya ini merupakan ancaman bagi seluruh isi perahu dan penumpangnya. Maka merevolusi gaya hidup kita untuk tidak makin konsumtif sangat mendasar dilakukan sekarang juga oleh seluruh umat manusia. Sebab dengan begitu kita bisa menempatkan apa yang kita butuhkan bisa ditunda tidak, yang harus kita beli membawa manfaat atau tidak dan apakah yang kita beli bisa digantikan oleh barang yang lain yang ramah lingkungan? Selamat hari lingkungan hidup sedunia. Mari bertindak nyata untuk masa depan bersama.

Mencintai Rasul Sebagai Benteng Menghadapi Aliran Sesat

Al-Qiyadah Al-Islamiyah tentu bukan kata yang asing di telinga kita. Sebulan terakhir ini kita mendengar kata ini disebut di televisi dan radio, ditulis di surat kabar, internet, koran dan tabloid, disebut dalam diskusi-diskusi kelompok masyarakat kita. Penyelewengan selalu menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Seperti halnya penyelewengan dalam masalah rumah tangga, penyelewengan ajaran agama menjadi hal yang dengan sangat cepat meroket, menempati chart tertinggi dalam setiap pembahasan. Majelis Ulama Indonesia telah menyatakan bahwa Al-Qiyadah merupakan aliran sesat. Hal ini dilakukan setelah pengkajian terhadap beberapa pokok dan sumber ajarannya. Hal utama aliran ini dinyatakan sesat karena telah mengingkari Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul terakhir. Ahmad Mozadeq sebagai pengembang ajaran ini mengklaim dirinya sebagai Rasul, setelah Muhammad. Pengakuan ini dituangkan dalam perubahan Syahadat mereka menjadi, “Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah, wa asyhadu anna Ahmad Mozadeq Rasullullah”. Bukankah ini adalah penghianatan terhadap ajaran Islam murni yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai khatamunnabiyyin (penutup para nabi)? Apakah kita siap menghadap kepada Allah sebagai pengkhianat Islam?
Ajaran sesat ini tentu menimbulkan kegeraman dari berbagai kalangan umat Islam. Terutama pada kalangan radikal seperti FPI dan berbagai forum religius yang akhirnya dengan berani mengambil sikap keras yang berujung tindakan kriminal pada setiap pengikut aliran sesat. Tak ayal lagi, pengrusakan dan penghakiman dilakukan oleh massa terhadap person-person yang dianggap ikut andil dalam penyebaran ajaran sesat ini.

Fenomena aliran sesat sebenarnya telah sejak lama membumi di tanah air kita ini. Beberapa diantaranya yang mencuat dan mendapat kecaman keras adalah aliran Ahmadiyah, Al-Qur’an Suci dan Al-Qiyadah. Mereka berkembang secara underground, dengan pengikut yang kadang tersebar di berbagai daerah. Hingga akhirnya ketika muncul ke permukaan, akan langsung mendapat kecaman keras dari umat Islam.
Beberapa pakar telah menyebutkan bahwa rata-rata aliran sesat yang muncul memiliki berbagai kesamaan, diantaranya adalah :
Aliran yang berkembang memiliki pemimpin yang kharismatik. Pemimpin yang mengaku sebagai nabi ini adalah orang yang sangat peduli terhadap sesamanya, apalagi terhadap kader rekrutannya. Hal ini memudahkan baginya untuk mempengaruhi dan mendoktrin setiap orang untuk masuk dan ikut dalam ajarannya. Beberapa pengikut aliran sesat berkata, sejarah penyebaran ajaran ini sama persis dengan sejarah yang terjadi pada masa Nabi Muhammad. Nabi mereka akan diusir, dikucilkan, dilempari batu. Sehingga dengan kharisma yang dimiliki, pemimpin akan tetap mampu mengembangkan ajarannya meskipun berbagai pihak, termasuk pemerintah, memberikan peringatan dan ancaman. Hal ini juga sebenarnya tidak terlepas dari kondisi masyarakat yang sedang mengalami tekanan. Baik itu tekanan ekonomi akibat desakan kebutuhan, tekanan psikologis akibat perubahan gaya hidup yang sangat cepat, ataupun tekanan akibat masalah politik negara yang berpengaruh pada semua lini hidup.
Orang yang direkrut menjadi anggota aliran sesat rata-rata memiliki tingkat pemahaman agama rendah. Ya, tentu saja hal itu benar. Bukankah Al-Qur’an telah memerintahkan kita untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah? Kaffah yang berarti ber-Islam dalam setiap gerakan. Islam dalam Aqidah, Islam dalam ekonomi, Islam dalam Pendidikan, Islam dalam pergaulan, dan Islam semuanya. Rasul telah meninggalkan dua pedoman hidup yang akan menyelamatkan kita dari kesesatan. Al-Qur’an dan Hadits. Pemahaman yang total terhadap sumber ajaran ini akan membawa kita kepada keselamatan, dunia dan akhirat. Sedangkan pemahaman yang setengah-setengah terhadap sumber ajaran ini tentu akan memberikan resiko sebaliknya. Muslim yang memiliki pengetahuan setengah-setengah tentang Islam akan sangat mudah untuk diselewengkan akidahnya. Dalam kasus Al-Qiyadah, kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut : bukankah telah sangat jelas dipaparkan bahwa setiap Rasul memiliki mu’jizat yang diberikan oleh Allah sebagai bukti bahwa ia benar-benar Rasul? Jika memang Ahmat Mozadeq adalah Rasul, apa mu’jizat yang dibawanya? Apakah mu’jizatnya lebih besar dibanding Al-Qur’an?
Dalam aliran sesat, terdapat pemusatan dan otoriterisasi kebijakan pada pemimpin. Pemimpin bebas memerintahkan apa saja bagi pengikutnya, sesuai yang dituangkan dalam Anggaran Dasarnya. Al-Qiyadah Al-Islamiyah telah mewajibkan pemeluknya untuk menyerahkan sebagian hartanya kepada pemimpin. Dengan dalih sebagai sedekah, pengikut menyerahkan beberapa kendaraan. Bahkan yang lucu, bagi pengikut yang berhasil mengajak 40 orang ke dalam aliran ini, akan mendapatkan sebuah sepeda motor. Apakah ini tidak lebih dari sekedar arisan? Keadaan ekonomi masyarakat rupanya tak pernah dapat dilepaskan dari masalah akidah. Sebagaimana yang pernah ditegaskan oleh Rasul :
“dan kefakiran itu lebih dekat kepada kekufuran”
Yang sangat menarik dari kajian aliran sesat ini adalah pandangan yang mengemukakan bahwa aliran sesat merupakan operasi intelijen yang dilakukan untuk memecah suara umat Islam dalam Pemilu yang akan diadakan beberapa tahun ke depan. Pada Pemilu sebelumnya, fenomena aliran sesat juga muncul bertubi-tubi. Bagaimana tidak, dengan munculnya aliran-aliran baru dalam Islam, umat akan bingung kemana mesti memberikan dukungan. Tentu saja hal ini dikhususkan bagi komunitas muslim yang tidak cukup memiliki pegangan kuat berpolitik. Bagi muslim yang hanya ber-Islam dalam KTP. Bagi muslim yang shalat mungkin hanya seminggu sekali, atau setahun dua kali. Dalam ruang lingkup yang universal, pecahnya suara umat akan berpengaruh pada posisi nomor satu di negeri ini, Presiden. Jika presiden kita bukan muslim, akankah ada wadah bagi setiap aspirasi yang diberikan warga muslim?
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah : Bagaimana menghindarkan diri dari berbagai ajaran sesat?
Selama kita berpegang pada rukun Iman dan rukun Islam, maka kita tidak akan pernah terjerumus dalam ajaran sesat yang tak jelas asal muasal dan ujungnya. Salah satu jalannya adalah dengan mencintai Rasulullah. Rasul yang kita percayai ajarannya, sehingga hati kita teguh dalam ber-Islam. Dengan mencintai Rasul, maka kita akan mendapatkan ketenangan dalam menjalankan ajaran Islam. Secara Kaffah.
Beberapa cara mencintai Rasul adalah sebagai berikut :
Meyakini dengan penuh tanggung jawab akan kebenaran Nabi Muhammad dan apa yang dibawa oleh beliau. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menandaskan tentang ciri orang bertaqwa:
“Dan orang-orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (Az-Zumar : 33).
Ikhlas mentaati Rasul Shallallaahu alaihi wa Sallam dengan melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam . Sebagaimana janji Allah :
“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (An-Nuur: 54).
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (An-Nisaa’: 65).
Mencintai beliau, keluarga, para sahabat dan segenap pengikutnya. Rasulullah bersabda:
“Tidaklah beriman seseorang (secara sempurna)sehingga aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Membela dan memperjuangkan ajaran Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam serta berda’wah demi membebaskan ummat manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari ke zhaliman menuju keadilan, dari kebatilan kepada kebenaran, serta dari kemaksiatan menuju ketaatan. Sebagaimana firman di atas :
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (Al-A’raaf: 157).
Meneladani akhlaq dan kepemimpinan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam dalam setiap amal dan tingkah laku, itulah petunjuk Allah:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah”. (Al-Ahzab:21).
Memuliakan dengan banyak membaca shalawat salam kepada beliau terutama setelah disebut nama beliau.
“Merugilah seseorang jika disebut namaku padanya ia tidak membaca shalawat padaku.” (HR. At-Tirmidzi)
Waspada dan berhati-hati dari ajaran-ajaran yang menyelisihi ajaran Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam seperti waspada dari syirik, tahayul, bid’ah, khurafat, itulah pernyataan Allah :
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi ajaran Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (An-Nur: 63).
Mensyukuri hidayah keimanan kepada Allah dan RasulNya dengan menjaga persatuan umat Islam dan menghindari perpecahan dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-shahihah. Itulah tegaknya agama:
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah karenanya”. (Asy-Syura: 13).
Sebagai kesimpulan dari artikel ini adalah : pemahaman yang total terhadap ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. adalah satu-satunya jalan menghindarkan diri dari kesesatan yang terjadi. Baik itu kesesatan secara parsial (sebagian) ataupun kesesatan secara universal (menyeluruh). Untuk mengenali sesuatu yang asli, kita tentu harus mengetahui sesuatu yang palsu. Begitu juga sebaliknya. Asli dan palsu dibedakan dari esensi yang dikandung, bukan dari kulit luar. Islam yang dibawa Rasul Muhammad Saw. adalah agama paripurna yang telah mengatur seluruh kepentingan umatnya, yang mengajak umatnya menjadi umat terbaik, yang mengajak umatnya memakmurkan bumi, yang meletakkan maslahah di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Mari kita buka hati untuk menerima Hidayah dari-Nya. Semoga Allah tetap memberikan kekuatan pada kita untuk tetap pada Islam yang benar, yang dibawa oleh Rasul junjungan kita 1600 tahun lalu. Semoga kita akan bertemu dengan Rasulullah di Padang Mahsyar dengan pengakuan sebagai umatnya, mendapatkan syafaatnya. Amin

Oleh : Muhammad Zainal Abidin
Penulis adalah Mahasiswa UIN Alauddin Makassar

Filsafat dan Pemikiran Modern

Alat Barat Hegemoni Dunia Ketiga dan Bangsa Indonesia


Oleh : Makhrus Habibi

1800-1840
Frucrbach menulis buku Das Wessen des Christentum (1841), berisi filsafat materialisme yang menempatkan manusia sebagia bagian dari benda. Ia diprotes gereja karena memutarbalikkan tafsir Bibel pada Genesis 1:26 menjadi manusia mencipta Allah menurut citranya.
Thomas Stanford Raffles menulis buku The History of Java berdasar sumber-2 historiografi.
Sasradiningrat, Patih Su-rakarta terbitkan buku undang-2 bagi pejabat berjudul Angger Sadasa (1817), Danurejo, Patih Yogya, terbitkan buku hukum berjudul Angger Arubiru (1822), Pakubu-wana VII keluarkan kitab KUHP berjudul Nawala Pradata Dalem (1831).

1840-1850
August Comte menulis buku berjudul Cours de Philosophie Positive, berisi konsep pemikiran yang membagi jaman perkembangan manusia menjadi tiga tahap:
1. Tahap Teologis,
2. Tahap Metafisis,
3. Tahap Positif.
Gagasan Comte ini menjadi dasar bagi filsafat positivisme. Di Hindia Belanda WR. van Hoevell menulis De Emancipate der Slaven in Nederlandsch Indie (1848), yang membela nasib bangsa Indonesia dibawah sistem perbudakan dan monopoli Belan-da. Buku-2 berisi ajaran fil safat moral yang ditulis Pakubuwana IV berjudul Wulang Reh, Mangku negara IV berjudul Serat Wedhatama, dan kitab-2 pengajaran moral yang di tulis antara abad 16 hingga 17 dijadikan bahasan kalangan intelektual Belan- da.

1850-1860
Buku Charles Darwin berjudul On The Origin of The Species (1859) yang memuat teori evolusi diterbitkan. Lalu 1862-1896 terbit 10 jilid buku Herbert Spencer berjudul A System of Synthetic Philosophy (1862-1896). Disini lahir pemikiran positif yang sekuler-materialistik yang menolak semua fenomena agama dan sesuatu yang bersifat metafisik.
Douwes Dekker menulis Max Havelaar (1860) yang meng-ecam sistem penjajahan Belanda di Indonesia.
FW. Junghuhn dalam tulisan filosofis berjudul Lichten Schaduw beelden uit de Binnenlanden van Java (1867), yang mengungkap keunggulan nilai-2 luhur petani Jawa dibanding agama bangsa kulit putih. Ranggawarsita menulis ajaran filsafat moral dan metafisika dalam sejumlah buku: Serat Wirid Hi dayat Jati, Paramasastra, Serat Pustaka-raja, Suluk Suksma Lelana, Serat Kalathida, dsb.

1860-1890
Karl Marx dan Engel menerbitkan buku Das Kapital (1867), yang intinya tak berbeda dengan pemikiran Darwin dan Spencer. Dasawarsa itu berbagai konsep pemikiran bersifat rasional, sekuler, materialistik, positivistik marak di Eropa. Sekolah-2 untuk anak-2 Belanda seperti ELS, MULO, HBS, OSVIA dibentuk. Sejumlah anak pejabat bumi putra dengan sistem kolusi bisa sekolah. Ada yang dikirim ke Eropa. Konsep-2 pemikiran Eropa mempengaruhi pemikiran anak-2 Belanda dan anak-2 elit pribumi Muncul elit priyayi didikan sekolah Eropa seperti: Cipto Mangunkusumo, Muhammad Musa, Wahidin Sudirohusodo, Condrone-goro, Joyodiningrat, Tirto Adisuryo, Soetomo, Suwardi Suryaningrat, Cokroaminoto, dsb.

1890-1920
Konsep nation-state dimunculkan Ernest Renan. Di Eropa muncul nation-state seperti Perancis dan Jerman.
Wilhelmina, Ratu Belanda, mem berlakukan politik etis untuk Indonesia. Memberikan kesempatan kepada anak-2 pribumi untuk men-dapat didikan Eropa yang modern yaitu rasional, sekuler, materia-listik, dan positivistik.
Revolusi Soviet pecah 1917. Tsar dan keluarga dibantai. Kaum komunis dibawah W.I Lenin bangkit dan menye-barkan Marxisme ke dunia. Sekolah-2 untuk anak-2 pejabat bumi putera seperti HIS, AMS, STOVIA, MOSVIA dibentuk. Untuk anak-2 orang biasa disediakan Tweede School selama tiga tahun dengan pelajaran membaca, menulis, berhitung. Epistemologi Ilmu didominasi oleh aliran positivistik yang memandang kebenaran melalui fakta-2 yang ada dan didukung oleh hukum-2 yang mengaturnya. Dalam perkembangannya, positi-vistik berkembang menjadi dua aliran besar: struktural fungsional dan struktural konflik yang saling bertentangan. Gagasan organisasi mo- dern dan konsep nation state mulai dikenal di Indonesia. Organisasi ke daerahan bersifat nasionalis dan sosialis mulai muncul seperti: Sarekat Priyayi (1905), Budi Utomo (1908), SDI (1909), SI (1911), Muhammadiyah (1912), ISDV (1914) . Lewat ISDV, Sneevlit menyebarkan paham sosialis- demokrasi kepada pribumi. Paham sosialis komunis mulai di kenal pribumi di tengah maraknya paham kapitalis.

1920-1930
Selama dekade ini, paradigma posi tivistik menciptakan tradisi analitik-empirik dalam keilmuan. Prinsip verifikasi (uji kebenaran) dan
tautologis (mengungkap fakta dengan metode matematika dan logika) dipandang superior dibanding kebe naran agama dan metafisik. Inilah yang disebut natural science. Berseberangan dengan paradigma positivis, muncul eksistensialisme yang dibangun Husserl dan dikembangkan Heidegger, Sarte, Nietzsche, dsb. Paradigma positivistik masuk ke Indonesia melalui lembaga-2 sekolah formal dan imperialisasi budaya lewat media massa.
Bas Veth dalam Het Leven in Nederlandsch Indie (1900) dan MH Szekely-Lulofs dalam roman berjudul Rubber (1931), meng-gambarkan pribumi Indonesia sebagai keturunan kera. Positivisme tampaknya mulai menjadi mainstream bernalar orang-2 Belanda dan Indo-Belanda di Indonesia. Kalangan intelektual pri bumi terlibat konflik baik bidang politik maupun sastra antara kubu kalangan modern dan tradisional. Kalangan intelek muslim pun mulai bangkit mengecam tradisi-2 yang dianut kalangan tradisional.
Mereaksi perkembangan paradigma positivistik di lingkungan umat Islam, lahir organisasi kaum tradisional yang dinamai NU (1926) yang memiliki paradigma metafisis.

1930-1950
Paradigma positivistik makin me mapankan diri, terutama setelah bom atom dijatuhkan di Jepang sebagai bukti kehebatan produk materi dan iptek. Di AS mulai diformalkan positivistik dengan paradigma strukturalisme fungsional. Pendekatan ini, membentuk sistem dunia yang melahirkan teori dependensi (ketergantungan). Pemerintah militer Jepang menduduki Indonesia dan mendidik kader-2 muda di bidang kemiliteran. 1943 dibentuk PETA, 1944 dibentuk Hizbullah. Sejumlah Kyai dan tokoh pemuda berpendidikan madrasah dan pesantren, diangkat menjadi komandan batalyon dan komandan kompi. Tahun 1948, di bawah PM Moh. Hatta, diterap-kan peraturan bahwa aparat negara wajib memiliki latar belakang pendidikan sekolah yang dibuktikan dengan ijazah. Tokoh-2 berlatar madrasah dan pesantren muncul sebagai pemimpin nasional baik dipentas politik maupun militer pada tingkat lokal maupun nasional. Tetapi akibat kebijakan Moh. Hatta, mereka yang tidak punya ijazah sekolah tersingkir. Dan untuk seterusnya, syarat utama menjadi abdi negara adalah wajib memiliki latar pendidikan sekolah formal.

1950-1960
Terjadi perang dingin antara blok AS yang menganut paradigma struktural fungsional dengan blok Uni Soviet yang menganut struktural konflik. Soekarno menolak terlibat dalam perang dingin. Sebaliknya, membangun wacana sendiri menggalang negara-2 non-blok dan NEFO (New Emerging Force). Tindakan Soekarno ini membuat AS dan Soviet marah. Kedua adikuasa itu merasa terganggu manuver-2 politiknya. Soekarno menyatukan
kelompok Islam tradisional (NU), nasionalis (PNI) dan komunis (PKI) dalam satu barisan –NASAKOM- Sebaliknya membubarkan partai kaum strukturalis (PSI/Masyumi) yang bekerja sama dengan AS dalam pemberontakan PRRI /Permesta

1960-1980
AS terlibat langsung dalam perang Vietnam. Legitimate knowledge dari pendekatan struktural mulai dikritik keras:
1. Implementasi iptek mengaburkan hubungan antara kemajuan (progress) dengan kesinambungan (endless),
2. Struk-tur pengetahuan hanya didominasi ilmu alam dengan kemajuan (progress) sebagai ukuran utama,
3. Perbedaan substansial mencip- takan hierarki pengetahuan menjadi sektorisasi dan restruk- turisasi disiplin akademik yang dikotomis. Soekarno jatuh akibat peristiwa G-30-S/PKI. Di bawah rezim Orba-nya Soeharto, teori developmentalisme Rostow yang strukturalis fungsional digunakan sebagai dasar pembangunan, digabungkan dengan konsep Repelita-nya Lenin. Imperialisme budaya AS melalui USIA (United State Informa-tion Agency) mendominasi pemikiran rakyat Indonesia lewat sekolah-2 formal, media massa cetak elektronik. Lembaga-2 pendidikan formal dimaksudkan hanya sebagai pencetak tenaga-2 buruh murah dan efisien. Ekonomi kerakyatan yang tumbuh dalam bentuk koperasi-2 terpinggirkan oleh masuknya modal asing. Tradisi berpikir bebas dan sekaligus menyampaikan pendapat dari kalangan mahasiswa, diberangus dengan NKK/BKK dan Sistem SKS dalam belajar.
Tafsir monosentris menjadi bagian integral dari pengetahuan yang di-kembangkan di sekolah-2 formal sehingga nyaris tidak satupun sarjana Indonesia memiliki wacana independen. Semua ber-kiblat ke Barat.

1980-1990
Proses produksi dunia meningkat cepat. Arus barang, jasa, modal, tenaga kerja melintasi batas-2 negara dan terdistribusi ke Eropa dan Asia khususnya Jepang.
Terjadi liberalisasi dalam tata perdagangan global.
Konsep struktural konflik yang diterapkan di negara-2 komunis mengalami kegagalan ditandai am-bruknya Uni Soviet dan runtuhnya tembok Berlin. Konsep globalisasi mulai didengungkan, dimana empire dunia tidak lagi terbagi antara rulling country dengan colony, melainkan bersifat global tanpa batas kedaulatan. Nation-state telah berakhir. Dunia berada dalam cengkraman Empire Global ! Sistem pendidikan formal yang menganut pendekatan Schooling System banyak dikritik karena tidak mampu melahirkan lulusan berkualitas. PTN dan PTS hanya bisa menjadi legitimator pemberi ijazah formal. Di tengah krisis ekonomi dunia, modernisasi di negara-2 dunia ketiga gagal.
Dengan alasan globalisasi, sekolah-2 internasional akan tumbuh di Indonesia. Persaingan di dunia pendidikan berlangsung secara ketat. Di dalam proses survival of the fittest, akan banyak sekolah lokal yang akan gulung tikar, kalah bersaing dengan seko lah-2 unggul yang berorientasi bisnis. Fenomena pengangguran dari para alumnus sekolah makin besar dari tahun ke tahun. Urbanisasi makin meningkat. Intelektualitas merosot. Kepercayaan tak berda-sar pada superioritas pengetahuan Barat makin kuat mencekam akibat kuatnya konsep sekolah dan hegemoni budaya lewat media massa cetak dan elektronik yang ber-kembang. Penduduk Indo nesia banyak memiliki gelar formal master, doktor dan professor, tetapi hanya berkedudukan sebagai koordinat ilmuwan Barat. Nyaris tidak satu pun ilmuwan-2 Indonesia menghasilkan karya monumental dan menjadi kiblat dalam ilmu penge-tahuan.

1990-2005
Perusahaan transnasional berkembang pesat. Industrialisasi modern yang dibangun pemilik kapital dunia tumbuh di negara-2 pinggiran. Empire yang berkuasa adalah “pasar global” dengan ideologi neo-liberalisme. Akumulasi modal milik ‘pasar global’ tersebar di seluruh dunia melalui investasi langsung dan porto folio. Melalui politik isu tunggal, demokratisasi dan civil society keberadaan negara mulai digugat. Melalui kalangan kampus, LSM-2, ‘pasar global’ memanfaatkan superioritas ideologi Barat merepro-duksi konstruksi ideologi Demokrasi, Good Governance, Civil Society, HAM, Gender, Privatisasi… Ditengah ketidakmampuan sistem pendidikan formal melahirkan lulusan berkualitas, dibuka sekolah-2 asing berkualitas internasional yang mahal tak terjangkau kalangan bawah. Sekolah-2 itu bakal menggilas sekolah-2 lokal. Konsep nation-state benar-2 punah, baik sebagai realita maupun sebagai gagasan ideal. Lulusan-2 yang lahir adalah koloborator-2 ‘pasar global’ yang sangat patuh kepada tuannya. Bangsa ini adalah the heart of darkness yang dijajah kekuasaan neo liberalisme dengan kewajiban utama mensuplai bahan mentah kepada ‘pasar global’ dan kemudian menengadahkan tangan meminta sedekah belas kasihan dalam bentuk grant dan JPS… Ketundukkan kepada superrioritas Barat makin kuat. Kemampuan sub-sistem Indonesia sebagai negara pinggiran (peri phery) makin lemah menjadi ketergantungan pada negara inti (core). Seluruh asset di negara-2 pinggiran akan diambil-alih oleh ‘pasar global’ lewat pemanfaatan peran negara dalam regulasi financial. Bahkan seluruh tanah dan mata air di negara-2 pinggiran akan dimiliki ‘pasar global’ untuk pengembangan bisnis. Di tengah keterpurukan itulah, penduduk negara-2 ping-giran hanya bisa bangga dengan gelar-2 formal sebagai simbol superioritas Ba-rat, meski hakekatnya tuna makna, sebab penyandangnya hanya orang-2 bermental kacung, jongos, pelayan, budak bangsa asing.

2005-2015
Negara-2 G 8 yang berkuasa atas pasar global bertemu dan merancang strategi baru untuk menguasai dunia dengan tatanan baru yang lebih memperkuat kedudukan mereka. Skenario baru pasca komunisme mulai digelar. Jika selama era perang dingin komunisme dijadikan “setan dunia”, maka dengan teori Huntington “Islam” digiring menjadi “Setan Dunia” lewat aksi terorisme, kekerasan, kekisruhan, radikalisme, dsb. Aksi-aksi kekerasan dan radikalisme Islam makin lama makin marak dan Sistematis. Kaki tangan empire dengan berkedok Islam akan membuat kisruh dunia sampai muncul antipati warga dunia terhadap ajaran Islam sebagaimana antipati ter-hadap komunisme di masa lampau…
Wallahu’alam ………
Catatan :
Diolah dari berbagai sumber

Gerakan Mahasiswa

Keluar dari Kepungan Kampus Sebagai ”Menara Gading”*
Oleh : Moh. Hasanuddin Wahid & Romy Faslah**
Panggung-Panggung Mitologi Gerakan Mahasiswa

Adalah Hariman Siregar (2001), salah seorang tokoh Malari (Malapetaka 15 Januari 1974), menyatakan bahwa gerakan mahasiswa merupakan pilar ke-5 demokrasi setelah, eksekutif, legislatif, yudikatif, dan media massa (institusi pers sebagai pencipta opini publik). Salah satu alasan yang diajukannya adalah realitas bahwa mahasiswa di dunia ketiga (khususnya Indonesia) yang selalu tampil menjadi benteng terakhir demokrasi. Ketika otoritarianisme negara memuncak, dan lembaga-lembaga demokrasi yang ada tak lagi efektif memainkan perannya, maka mahasiswa mampu tampil sebagai kekuatan pendobrak yang menyedikan dirinya menjadi bumper perubahan. Apa yang terjadi pada angkatan ’28 (sumpah pemuda yang mengantarkan Indonesia merdeka 1945), angkatan ’66 (menghancurkan komunisme dan rezim Orde Lama), dan ’98 (meruntuhkan rezim otoriter orde Baru) kemarin adalah bukti tak terbantahkan. Apa yang diungkapkan Hariman di atas, memang nyata adanya, dan sudah sering diungkapkan pula oleh para cendekia ataupun para tokoh gerakan mahasiswa itu sendiri. Namun, semuanya juga mengakui bahwa gerakan mahasiswa itu berhenti pada tataran pendobrakan saja, selebihnya selalu di take over oleh para politisi, parpol ataupun kekuatan politik-strategis lainnya, karenanya mahasiswa akan selalu ditinggalkan begitu saja. Puja-puji atas kiprah mahasiswa itu cukup dihadiahi dengan sanjungan bahwa mahasiswa adalah agent of change, suaranya mewakili jeritan hati terdalam dari masyarakat tertindas dan independen serta tidak memiliki tendensi politik (gerakan mahasiswa identik dengan gerakan moral). Ada juga yang kemudian memposisikan mahasiswa sebaiknya menjalankan fungsi kontrol saja atas sistem, sebab posisi terbaik mahasiswa terhadap negara adalah “oposisi”, tak lebih dari itu. Jika mahasiswa ingin terlibat lebih jauh dalam proses-proses pengambilan keputusan, maka cukuplah bagi mahasiswa menggabungkan diri dengan parpol-parpol yang ada, itupun kalau mahasiswa mau, kalau tidak ya kembali saja ke kampus, atau tetap aktif dalam pergerakan dengan melakukan advokasi serta terlibat kembali dalam proses pemberdayaan masyarakat, sudah sampai disitu saja diskursus tentang gerakan mahasiswa. Kalau masih saja penasaran, lalu apalagi kemudian yang menarik untuk diperbincangkan tentang mahasiswa, selain dari semua hal di atas ? Bagi mahasiswa, tentunya masih banyak hal-hal yang menarik diperbincangkan selain sejumlah hal di atas. Ketika mahasiswa tak lagi “dibutuhkan perannya” untuk menangani persoalan besar berskala nasional, maka gerakan mahasiswa hanya akan disibukkan dengan isu yang case by case, bernuansa lokal dan tidak ada lagi isu sentral yang sanggup mengerakkkan seluruh elemen mahasiswa kembali turun jalan. Pada kondisi seperti ini, aksi-aksi mahasiswa hanya bersifat melempar persoalan ke permukaan agar menjadi opini publik tanpa ada upaya serius untuk menindaklanjuti hal tersebut. Lihat saja, demo mahasiswa masalah dugaan KKN-nya mantan Presiden soeharto, kegagalan pemerintah memenuhi anggaran pendidikan 20% dalam APBN kasus penyelewengan di BPPN, pengelolaan Blok Cepu oleh Exxon Mobile, penambangan Freeport, kenaikan BBM, impor beras dan proteksi atas petani, korupsi dana bencana, kasus bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo, dan lain sebagainya.
Menjadikan Kampus sebagai Kantong Perubahan
Pandangan konservatif tentang kampus selalu menempatkan kampus sebagai “rumah kehidupan ilmiah” dengan karakteristik utama liberasi pemikiran, bergagas, kreatifitas, argumentatif, dan melihat jauh ke depan sembari mencari manfaat praktis dari suatu ide ataupun penemuan. Gambaran klasik ini mewakili kehidupan kampus di negara berkembang khususnya di Indonesia yang sangat bertumpu pada kehidupan akademik. Sekalipun kehidupan kampus di Indonesia telah berlangsung lebih dari 13 dekade, namun pandangan di atas telah menggiring dialektika intelektual kampus dengan lingkungannya (masyarakat dan pihak-pihak yang berkepentingan atasnya) pada dua kemungkinan pokok. Pertama, kampus mengambil prakarsa lewat penawaran karya, gerakan reformasi dan restorasi kondisi masyarakat hingga pada gerakan politik, dan kedua, kampus bersikap pasif, menunggu stimulus dari luar, tempat penampungan dan memberikan reaksi atas inisiatif pihak luar dengan konsekuensi kampus dijadikan arena pertarungan kekuatan politik atau partner tak sederajat oleh birokrasi negara dalam bingkai etatisme negara. Keduanya membawa implikasi dan konsekuensi tersendiri. emungkinan pertama akan meletakkan kampus sebagai salah satu lokomotif perubahan, penyedia resources bagi masyarakat dalam membangun bangsa. Gerak nafas kampus akan selalu mewarnai laju perubahan yang diinginkan. Konsekuensinya, semua pihak harus mengakui peran politik mahasiswa dan para akedemikus. Politik kampus adalah politik moral yang sangat berbeda dengan kekuatan politik praktis lainnya. Arief Budiman mempersonifikasikan peran itu dengan sosok “resi”, yakni sebagai pihak yang selalu mengabarkan kepada rakyat banyak adanya ketidakadilan, kesewenang-wenangan serta meng-influence rakyat untuk bergerak bersama melakukan pengatasan, dan ketika huru-hara tersebut tertangani, maka segenap elemen kampus tersebut kembali lagi ke pertapaannya (kampus) untuk melanjutkan tugas utamanya menuntut ilmu dan memperoduksi agen-agen perubahan yang siap bertarung di tengah arasy global. Sedangkan kemungkinan kedua akan mengakibatkan kampus harus bersedia memberikan sebagian ruang dirinya untuk diintervensi oleh berbagai kekuatan politik yang ada. Besar kecilnya pengaruh politik itu akan sangat tergantung dengan kekuatan kampus dalam menanamkan paradigma dan etos kepada seluruh civitas akademika agar tidak mudah terprovokasi oleh tipu-daya politik. Realitas kampus seperti di atas itulah, mesti diperhatikan benar oleh seluruh aktifis mahasiswa, sebab tanpa kampus, mahasiswa juga akan kehilangan eksistensi dan perannya. Oleh karena itu, menjadikan kampus sebagai kantong perjuangan adalah sebuah keharusan yang tak terbantahkan. Seluruh aktifis mahasiswa mesti mengingat benar bahwa masa depan sebagian besar rakyat Indonesia diliputi oleh ketidakpastian, karenanya tanpa melalui jalan menjadi mahasiswa, masa depan bangsa ini kian jauh lebih parah lagi. Hal ini melukiskan betapa sangat strategisnya posisi menjadi mahasiswa. Minimal ada tiga alasan, mengapa mahasiswa harus menjadikan kampus sebaga basis gerakannya, pertama, kampus senantiasa berupaya merealisasikan peranannya sebagai pembaharu dan pelopor (perangsang) bagi perbaikan kondisi kehidupan masyarakat. Siapapun tidak akan menyangkal, jika gagasan-gagasan perubahan di Indonesia (hampir) selalu dimotori atau lahir dari dalam kampus, baik mulai zaman pergerakan nasional, hingga reformasi kemarin. Inilah yang menyebabkan keterlibatan kampus dalam kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan keindonesiaan demikian kental. Terlebih, berbagai tawaran / usaha-usaha pembaharuan tersebut selalu terkait dengan struktur kekuasaan, perubahan sosial dan perbaikan taraf hidup masyarakat Indonesia. Kedua, realitas bahwa kampus merupakan ladang resources intelektual, agamawan, pekerja sosial, politisi, dan sebagainya, sehingga di kampus banyak sekali tersedia stock kepemimpinan dan keahlian. Ratusan tokoh dan pemimpin bangsa Indonesia lahir dari kawah candradimuka kampus. Bahkan, beberapa pentolan angkatan ’66 dan ’98 mengatakan hal yang sama, bahwa perubahan besar bangsa ini selalu dimulai dari kampus. Lebih lanjut mereka meyakini, bahwa “kematian” kehidupan kampus adalah awal kehancuran bangsa. Agak berlebihan memang, namun pernyataan itu lahir dari salah satu sebuah paradigma pedagogik yang cukup mencengangkan, bahwa jika sebuah masyarakat menginginkan kemajuan, kesejahteraan, keadilan bahkan kejayaan, maka dirikanlah kampus. Ketiga, watak kemandirian kampus yang tumbuh dari budaya ilmiah dan cara berfikir kritis, memberi energi besar warga kampus untuk menilai realitas di sekitanya. Sementara itu pemerintah (state) sebagai centrum aktifitas kehidupan masyarakat, juga tak lepas dari perhatian kampus. Kondisi inilah yang kemudian menjadikan kampus seringkali mesti berhadapan dengan kebijakan pemerintah, karenanya birokrasi (khususnya di negara berkembang) cenderung melakukan intervensi ke dalam kampus. Intervensi itu akan semakin membesar dan kadangkala memasung kehidupan kampus, jika kemudian kampus melahirkan gerakan kritis yang berusaha memperbaiki kehidupan masyarakat, akibat keteledoran kebijakan pemerintah. Bahkan, mulai dari Orde Lama, Orde Baru hingga sekarang ini, kampus belum pernah bebas dari intervensi politik, baik dari kelas penguasa ataupun dari kelompok kepentingan lainnya. Posisi dan peran strategis kampus inilah yang oleh mahasiswa mesti tidak boleh sia-siakan. Mahasiswa dengan idealisme dan elan perubahan yang dimiliki harus bisa menjadi “nafas kehidupan” kampus di manapun ia berada. Tak mudah mewujudkan hal itu, perlu usaha keras yang sistemik dan terorganisir serta kerjasama “sehati” dari seluruh civitas akademika maupun organisasi intra dan ekstra kampus.
Strategi operasional pengembangan gerakan mahasiswa di kampus memang selama ini cukup beragam, tergantung local condition dan local culture dimana perguruan tinggi tersebut berada. Oleh karena itu, disamping terus konsisten menerapkan strategi pengembangan di atas, mahasiswa harus mulai memperhatikan dan menimbang beberapa hal berikut ini. Pertama, yang mesti dilakukan aktifis mahasiswa adalah men-dekonstruksi kembali ontologi (hakikat) perguruan tinggi di Indonesia, posisi dan perannya dalam bangunan besar Indonesia Raya, eksistensi dan urgensinya terhadap kapitalisme global, serta relasinya dengan kekuasaan dan demokrasi. Salah satu hal yang cukup menggelisahkan banyak mahasiswa adalah tumbuhnya kesadaran baru bahwa kampus tidak lebih hanyalah menjadi alat (media) bagi negara dan kekuatan global untuk menyediakan tenaga terdidik (ahli) bagi ‘seribu’ proyek buatan mereka. Namun, hampir mayoritas masyarakat kampus juga mengerti, bahwa kampus juga merupakan kantong utama “pencipta tokoh” yang sanggup merubah bangsa ini menjemput keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan senafas dengan cita-cita perjuangan nasional yang termaktub dalam Pancasila dan preambule UUD negara kita. Oleh karena itu, jika aktifis mahasiswa mampu melakukan gerakan massal untuk menggelorakan “ontologi kampus” seperti pemikiran yang terakhir, dengan kembali membuka free public sphere (ruang publik bebas) dimana seluruh masyarakat kampus khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya memposisikan kampus sebagai pusat pembebasan, perubahan, transformasi dan demokratisasi dan bukan sebagai “budak” negara ataupun “kekuasaan modal”. Langkah sederhana untuk memulainya adalah membangun kritisisme kampus dengan mengintegrasikan kepentingan serta kebutuhan kampus dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Strategi-taktis operasionalnya adalah dengan menginstruksikan seluruh mahasiswa untuk membuka dialog intensif yang kualitatif dengan segenap civitas akademika. Baik itu untuk membedah muatan kurikulumnya, model pengajaran, peningkatan skill mahasiswa, hingga master plan kampus tersebut ke depan. Sembari itu, aktifis mahasiswa harus terlibat intens dalam mendekatkan masyarakat sekitar kampus dengan kampus, sehingga ini akan melunturkan prejudice mitos “menara gading”. Hambatan lain dari perguruan tinggi adalah rendahnya semangat research (penelitian) apapun jenisnya, jika mahasiswa menyediakan resources peneliti muda yang bekerja sama dengan pihak di luar kampus dalam melakukan penelitian-penelitian kecil, maka hal ini akan semakin merekatkan hubungan (image building) mahasiswa (kampus) dengan publik luas. Kedua, aktifis mahasiswa mesti merebut “ruang publik” di kampus dengan melakukan pembongkaran beban historis, kejumudan tradisi, dan konservatisme perguruan tinggi. Kemandirian kampus dalam era otonomi daerah dan perdagangan global merupakan prasyarat utama tegaknya integritas kampus dalam upaya pemanusiaan manusia (humanisasi). Jika, aktifis mahasiswa mampu mengkonsolidasikan segenap potensi yang dimiliki untuk mulai membuka selubung konservatisme, beban sejarah dan tradisi yang menghinggapi kampus, maka hal ini menjadi pintu masuk bagi aktifis mahasiswa untuk memperoleh simpati dari segenap civitas akademika.
Untuk ini, aktifis mahasiswa bisa berangkat dari hal-hal kecil yang mampu mengurai satu-persatu problematik kampus, tanpa bermaksud mengintervensi kedaulatan dan kebijakan kampus. Hal kecil ini bisa berupa partisipasi aktif kader kampus di seluruh kegiatan kampus, disiplin dalam kuliah, memanfaatkan (memenuhi) perpustakaan, menjaga kebersihan (keasrian) kampus hingga civitas akademika merasa bahwa mahasiswa adalah bagian tidak terpisahkan dari kampus. Karena itu, pemahaman (apresiasi) yang tinggi atas local historis maupun local culture kampus akan memudahkan aktifis mahasiswa memerankan hal-hal kecil yang sederhana, bukan dengan hal-hal besar yang terlalu makro dan tidak ada hubungannya (dampak kongkrit) sama sekali dengan kampus. Ketiga, mahasiswa harus menjadi motor perubahan dan demokratisasi kampus. Tidak bisa disangkal penggerak utama proses perubahan sistem pemerintahan dari otoriter menjadi demokratis pada tahun 1998 adalah mahasiswa dan kalangan intelektual kampus. Karena itu, kampus sebagai lembaga pendidikan –tempat pengembangan wacana dan intelektualitas– harus mampu memberikan contoh bagaimana kultur dan praktek demokrasi yang baik dan santun diterapkan. Artinya, sebelum mahasiswa (kampus) menyuarakan demokrasi, maka institusi kampus itu sendiri harus sudah demokratis. Karena itu, semua upaya perguruan tinggi dalam menerapkan sistem pendidikan, pembelajaran, pembinaan dan keorganisasian, baik di tingkat mahasiswa maupun rektorat (birokrasi kampus) harus berdasarkan nilai-nilai demokrasi. Alangkah tidak bijak apabila kampus justru menjadi tempat pelanggengan budaya otoriter dengan memberlakukan kebijakan yang monolitik dan anti-demokrasi. Keempat, aktifis mahasiswa menyiapkan “kelompok strategis” sebagai pelopor dan pengobar semangat perubahan di kampus, sekaligus melakukan pembenahan aspek spiritual, kognitif, mental dan perilaku mahasiswa demi memperluas sayap gerakan di perguruan tinggi masing-masing. Apa yang telah terurai di atas, tidak akan pernah bisa dilakukan, jika disebuah kampus tersebut mahasiswanya tidak memiliki tradisi gandrung membaca, gandrung wacana (intelektual), gandrung kuliah, gandrung berorganisasi, gandrung penelitian, gandrung pengabdian masyarakat dan kalau di UIN Malang adalah gandrung sholat jama’ah dan puasa sunnah Senin-Kamis???
Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thorieq

Analisis Drastisnya Kenaikan Ketidaklulusan Siswa SMA dalam UN

Oleh : Muhammad Zainal Abidin
Mahasiswa Semester 6 Jurusan Pendidikan Matematika
UIN Alauddin Makassar

Mengapa tingkat ketidaklulusan Ujian Nasional siswa SMA tahun ini naik secara drastis?
Menurut hemat penulis, ada beberapa hal yang dapat menyebabkan hal ini, diantaranya adalah hal-hal sebagai berikut …

  1. Tradisi guru memberi bantuan jawaban kepada murid yang ternyata malah menimbulkan perasaan tidak Percaya Diri siswa dalam mengerjakan soal Ujian. Hal ini bisa berakibat pada keragu-raguan siswa pada jawabannya sendiri. Yang parah, jika ternyata siswa mengganti jawabannya yang benar dengan jawaban dari guru yang belum tentu benar. Hahaha… Komunitas Air Mata Guru telah membuktikan banyaknya kecurangan dalam hal ini. Bukankah dalam mempertahankan kebenaran dan kejujuran ini adalah sesuatu yang teramat sulit bagi siswa-siswa Indonesia yang sudah lekat dengan tradisi MENCONTEK? Apalagi persen kelulusan sangat mempengaruhi Image sekolah bersangkutan. Bagaimana ternyata jika SMA favorit tak mampu meluluskan 100% siswanya? Nah, hal ini menjadi alasan utama kepala sekolah dan guru-guru melakukan tindakan curang..
  2. Adanya kesalahan dalam PAKET SOAL. Dua jenis paket soal yang diberikan kepada siswa (Paket untuk siswa yang bernomor ganjil dan genap) tentunya kadang menimbulkan kerancuan. Situasi ujian yang tak relax sama sekali memungkinkan pihak Panitia Ujian salah dalam memberikan paket. Bisa jadi,siswa yang harusnya mendapatkan paket ganjil malah mendapatkan paket soal genap, atau sebaliknya. Yang lucu, jika siswa paket ganjil mencontek jawaban dari paket genap. Yaaa… hasilnya, OTOMATIS, jawabannya salah semua.
  3. Ketidakmampuan siswa melingkari jawaban pada lembar ujian komputer dengan sempurna. Komputer yang melakukan Scanning terhadap lembar jawaban menentukan kriteria lingkaran yang dapat dikenali, sedikit teledor saja, akan berakibat fatal. Itu menurut ahli komputer. Apalagi jika siswa yang bersangkutan mengisi jawaban seadanya, tanpa memperhatikan lingkaran yang dibuat sudah total atau belum
  4. Pensil 2B. Faktor ini belum tentu pasti. Saya sempat mendengarkan pembicaraan seorang penjual Alat Tulis Kantor, katanya, salah satu penyebab tingginya tingkat ketidaklulusan adalah karena pensil 2B memang bukanlah pilihan yang sempurna
  5. Standar nilai yang LEBIH TINGGI dari tahun sebelumnya tentu saja berakibat buruk pada psikologi siswa. Belum lagi bagi siswa yang pada malam sebelum Ujian Patah Hati. Hahaha… Bisa berabE jadinya! Padahal nilai 5,0 adalah standar rendah untuk kenaikan Kelas. Siswa dengan nilai MERAH ini tidak akan bisa naik ke level kelas yang lebih tinggi.
  6. Nasib… Kali!!! Guru-guru di SMA lebih sayang pada siswanya. Kalau tidak bisa tahun ini, Insya Allah tahun depan masih ada. Atau yang mau cepat, Paket C saja. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.

Belajar Efektif Dengan Teori Stephen R. Covey

Menjelang Ujian Akhir Semester, kadang kita bakal ngelakoni rutinitas SKS (Sistem Kebut Semalaman), tapi bagi teman-teman yang memang rajin sejak awal sih gak bakal ada masalah. So.. Kamu-kamu yang pengen belajar lebih efektif, berikut ini adalah 7 (tujuh) langkah yang dapat kamu lakukan dan kembangkan sendiri yang diadaptasi dari buku Seven Habits of Highly Effective People karangan Steven Covey.
Bertanggung jawab atas dirimu sendiri.
Tanggung jawab merupakan tolok ukur sederhana di mana kamu sudah mulai berusaha menentukan sendiri prioritas, waktu dan sumber-sumber terpercaya dalam mencapai kesuksesan belajar.

Pusatkan dirimu terhadap nilai dan prinsip yang kamu percaya.
Tentukan sendiri mana yang penting bagi dirimu. Jangan biarkan teman atau orang lain mendikte kamu apa yang penting.

Kerjakan dulu mana yang penting.
Kerjakanlah dulu prioritas-prioritas yang telah kamu tentukan sendiri. Jangan biarkan orang lain atau hal lain memecahkan perhatianmu dari tujuanmu.

Anggap dirimu berada dalam situasi “co-opetition” (bukan situasi “win-win” lagi).
“Co-opetition” merupakan gabungan dari kata “cooperation” (kerja sama) dan “competition” (persaingan). Jadi, selain sebagai teman yang membantu dalam belajar bersama dan banyak memberikan masukkan/ide baru dalam mengerjakan tugas, anggaplah dia sebagai sainganmu juga dalam kelas. Dengan begini, kamu akan selalu terpacu untuk melakukan yang terbaik (do your best) di dalam kelas.

Pahami orang lain, maka mereka akan memahamimu.
Ketika kamu ingin membicarakan suatu masalah akademis dengan guru/dosenmu, misalnya mempertanyakan nilai matematika atau meminta dispensasi tambahan waktu untuk mengumpulkan tugas, tempatkan dirimu sebagai guru/dosen tersebut. Nah, sekarang coba tanyakan pada dirimu, kira-kira argumen apa yang paling pas untuk diberikan ketika berada dalam posisi guru/dosen tersebut.

Cari solusi yang lebih baik.
Bila kamu tidak mengerti bahan yang diajarkan pada hari ini, jangan hanya membaca ulang bahan tersebut. Coba cara lainnya. Misalnya, diskusikan bahan tersebut dengan guru/dosen pengajar, teman, kelompok belajar atau dengan pembimbing akademismu. Mereka akan membantumu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

Tantang dirimu sendiri secara berkesinambungan.
Dengan cara ini, belajar akan terasa mengasyikkan, dan mungkin kamu mendapatkan ide-ide yang cemerlang.

Membaca dan Membaca …

Perubahan adalah suatu keniscayaan. Tak ayal setiap insan pasti akan berubah. Perubahan dalam diri dapat terjadi karena adanya beberapa hal, antara lain komunikasi dengan dunia luar, adanya transmisi sosial, perkembangan fisik dan mental atau karena tekanan yang mengharuskan kita melakukan penyetimbangan dalam diri kita, yakni dengan berubah. Masalahnya, ke arah manakah perubahan yang terjadi pada diri kita. Ke arah positif kah? Negatif kah? Atau perubahan kita hanya dengan jalan di tempat, melihat orang lain berubah, mengikuti arus. Jika kita adalah orang yang berubah ke arah positif, bersyukurlah kita. Tapi, jika yang terjadi justru perubahan yang negatif, maka kita mesti bersegera berbenah diri, mengingat kembali : Apa tujuan kita diciptakan Yang Kuasa di dunia ini? Atau kita justru berada pada golongan terakhir, diam di tempat (yang dikatakan oleh Rasul sebagai orang yang merugi).
Pesan pertama yang disampaikan Ilahi kepada Rasul kita adalah perintah membaca. Membaca bisa diinterpretasikan dalam arti yang seluas-luasnya. Belajar, berkomunikasi, memahami kekuasaan Tuhan lewat ciptaan-Nya, tanda-tanda-Nya di alam, dinamika sosial, bencana, dan semuanya. Tapi sudahkah kita memahami pesan ini?
Rasul yang ummi-pun ternyata justru mendapatkan perintah yang benar-benar merupakan sesuatu yang baru. Apa yang harus ku baca, sedangkan aku adalah orang yang ummi? Setelah Jibril mengulang pesan Tuhan untuk ketiga kalinya, barulah Rasul mengerti makna dari kata ‘’Iqra’’. Mestinya dari pengalaman pertama kerasulan Nabi kita, kita dapat mengambil pelajaran, perubahan adalah suatu keniscayaan. Jika hari ini kita adalah orang yang ummi, maka kita harus bersegera belajar untuk berubah. Pahami semua situasi, baca kondisi, baca keadaan dan baca pula kekurangan kita. Tak juga harus berubah secara spontan, semua tetap membutuhkan waktu agar diri kita tidak tersentak kaget, seperti tubuh yang tiba-tiba tidak mendapatkan makanan setelah sehari mendapatkan tiga piring nasi lengkap dengan sayur-mayurnya.
Mahasiswa tak pernah akan ada bedanya dengan siswa SMA jika dia tak melakukan aktivitas rutin intelek, membaca. Membaca adalah jendela dunia, itulah istilah yang paling sering terucap ketika orang membahas masalah baca. Yuppp..bahkan lebih dari itu. Kita hanya akan bisa menulis ketika kita telah membaca. Bagaimana mungkin kita bisa menulis sementara otak yang menjadi tumpuan bagi kerangka pikir malah kosong blong. Ya kuncinya, membaca. Apalah artinya mahasiswa jika kita hanya termasuk dalam golongan mahasiswa yang gak hobi baca.
Istiqamah adalah kunci kesuksesan dalam mengarahkan diri pada perubahan menuju kebaikan. Meskipun sedikit, perubahan yang tahap demi tahapnya kita lalui dengan penuh keistiqamahan akan membawa keberhasilan dalam diri kita. Sebuah pepatah Barat menyatakan bahwa ‘’Kesuksesan adalah 1% jenius dan 99% keringat’’. Jadi bagi kamu-kamu yang merasa bahwa dirinya tak pernah mampu untuk berubah, JANGAN TAKUT … Yakinkan dalam hati, bahwa perubahan merupakan kunci menuju kesuksesan. Niatkan dengan sebenar-benarnya, kemudian langkah-langkah kecil menggapai tujuan yang telah ditetapkan di awal. Jika di awal semester hingga semester ini kamu-kamu tetap menjadi mahasiswa yang tak pernah gemar membaca, tips ini mungkin bisa kamu jadikan sebagai acuan :

  1. Untuk memulai hobi membaca, carilah buku cerita ringan yang paling ngetrend, yang paling banyak diceritakan oleh teman-teman se-kampus. Kamu sudah baca ini belum? Bagaimana menurut kamu? Haa… misalnya yang sudah up to date sejak dua bulan lalu adalah novel dwilogi pembangun motivasi diri DI ATAS SAJADAH CINTA karya Habiburrahman El-Sirazi. Kalau kamu sudah baca novel Islami ini, kamu pasti bakal ngerasa bahwa membaca adalah sesuatu yang asyik. Kepuasan yang didapatkan sama seperti ketika kita menonton Spiderman 3, sama seperti ketika menonton Pirrates of Carribian, sama dengan menonton Sinetron Intan, sama dengan makan pisang goreng di depan Toko Sejahtera. Sama … sama …
  2. Setelah ada sedikit rasa pada buku, carilah teman yang punya hobi membaca buku. Kutu Buku juga gak papa. Yang biasanya pake’ kacamata tebel seperti pantat botol. Bukankah Rasul pernah berkata Kalau mau tahu seperti apa akhlak seseorang, lihatlah dahulu temannya. Hal ini juga seiring dengan kajian psikologi perkembangan bahwa perubahan yang terjadi dalam diri seseorang lebih dominan merupakan pengaruh dari lingkungan sekitar. Hal ini juga terjadi pada hobi-hobi yang muncul setelah kita bergaul bersama orang-orang tertentu. Jika kita selalu bersama dengan Ustadz, Insya Allah kita akan terbiasa untuk mengkaji masalah agama, membahas perkembangan komunitas ikhwan dan akhwat (haha …). Kalau kita selalu bergaul dengan anak-anak Punk, pengikut alirannya Funky Kopral, yakinkan hati bahwa dalam sebulan ke depan celana panjang yang kita pakai adalah celana Levis jenis mbotol, Rambut kita akan sejenis dengan rambut landak pada bagian tengahnya saja, kacamata kita akan sebesar kacamatanya Vokalis NAIF. Begitu pula ketika kita selalu bergaul dengan si Kutu Buku. Tidak tersindirkah kita jika tiap ada kesempatan si dia selalu membaca buku, membahas masalah yang penting, sementara kita hanya duduk bengong aja? Insya Allah kita akan berubah. Insya Allah … Amin
  3. Kalau perlu beli buku motivasi tentang nikmatnya membaca, misalnya ANDAI BUKU ADALAH SEBUAH PIZZA, QUANTUM LEARNING, ASYIKNYA BELAJAR, dll. Buku-buku ini kan sudah pada menjamur semua. Hal yang paling sering terjadi adalah kita merasa langsung malas membaca buku karena melihat tebalnya buku yang lebih dari tebalnya es kue, hurufnya kecil-kecil lagi. Mungkin dengan memilih jenis bacaan yang sesuai dan buku yang menarik, minat kita tidak akan segitu cepatnya pudar.
  4. Pahami keadaan kamu ketika membaca. Ingat, masing-masing orang mempunyai gaya belajar dan membacanya sendiri-sendiri. Ada yang bisa memahami bacaan ketika diiringi dengan musik, ada yang paham ketika mendengarkannya dari orang lain, ada juga yang paham membaca saat tengah malam. Nah, hal ini hanya akan kamu sadari karena kamu sering membaca, sehingga kamu bisa membedakan mana jenis belajar yang bermakna bagi kamu, dan mana yang tidak. Oke … beberapa tips di atas mungkin bisa kamu coba saat ini. Penulis memohon maaf jika terjadi kerancuan dalam beberapa bahasan di atas. Intinya, blog ini adalah tempat yang kembali menjadikan penulis sebagai orang yang belajar menulis. Tempat berkreativitas. Bagi kamu-kamu yang ingin tulisannya dimuat di blog ini, silakan email saja ke alamat yang tertera di atas.
  Jangan takut, tak pernah ada kata terlambat untuk mencoba.
Yang penting : KITA BERPROSES.

Makassar, 3 Juni 2007
M. Zainal Abidin
(Penulis adalah mahasiswa Semester 6, pada Tadris Pendidikan Matematika, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, yang juga merupakan administrator pada blog alfalahconnection ini).