Pengumuman UAN MA 2009: 100% LULUS

Alhamdulillah..
Hari ini tepat pukul 10.00 Waktu Al-Falah pengumuman hasil UAN Madrasah Aliyah dilaksanakan. Hasilnya seluruh siswa berhasil lulus, melampaui standar kelulusan.
Hal ini tentu menjadi surprize bagi seluruh civitas akademika yang telah menunggu sejak bulan lalu.
Setelah ini, apalagi?
Be d’Bess..
😆

Pendidikan Gratis di MA Al-Falah*)

Setelah MTs. Al-Falah gratis biaya pendidikan sejak beberapa tahun lalu, kini giliran Madrasah Aliyah Al-Falah yang akan mendapatkannya.
Perjuangan untuk mendapatkan dana dari Pemda cukup berat. Pasalnya Pemda ternyata awalnya hanya mengalokasikan dana buat SMA saja.
Tapi entah bagaimana beritanya kini. Masih simpang siur Bro.. Katanya dapat, katanya nggak..
Lha wong sama-sama gratis aja, hampir bisa dikatakan bahwa Aliyah akan kalah saing dengan SMA (dalam hal kuantitas siswa). Apalagi kalo SMA gratis dan Aliyah berbayar?!
Dengan hanya memberikan dana gratis bagi SMA, sama saja akan mematikan madrasah aliyah.
Al-Falah memang mesti fokus ke nilai jualnya pada masyarakat, agar tak kehilangan peminat!
Yo to Bro?!
😆

*) Masih dalam konfirmasi berita. Tanya pemda untuk info selengkapnya

Hasil Try Out MA Al-Falah Mengecewakan!

Sejak Rabu sampai Jumat, 18 s/d 20 Maret 2009, Panitia Try Out MA Al-Falah menggelar ujian percobaan untuk mengetahui bayangan nilai siswa di ujian nasional bulan depan.
Sayangnya, nilai yang diperoleh siswa sangat jauh dari predikat memuaskan. Alih-alih lulus, untuk 6 mata pelajaran yang diujikan pada UN, tak satu pun siswa yang dinyatakan berhasil melampaui batas minimal 5,25 pada semua mata pelajaran. Ada yang Bahasa Indonesianya lulus, tapi Fisikanya tidak. Ada yang Bahasa Inggrisnya bagus, tapi sosiologinya tidak.
Padahal, UN tahun ini mensyaratkan standar minimal 5,25 pada 6 mata pelajaran yang diujikan.
Yang lebih menggetarkan hati lagi adalah pengawas ujian tahun ini berasal dari pihak independen, dosen dari sejumlah kampus di Makassar.
Kata anak” kelas 3 IPA dan IPS : “Mohon doanya Kak, takut ka’ tidak lulus bah…”

Oke, met belajar aja, masih banyak waktu..
😆

Kuliah tu Asyik Gak?

Ini pertanyaan yang bisa jadi muncul di benak banyak siswa SMA yang sebentar lagi akan selesai di level sekolah menengah.
Tentunya ada beberapa ketakutan dan kebingungan, kemana mereka akan melangkahkan kaki. Kuliah adalah salah satu alternatif.
Jika pertanyaan ini diajukan kepada saya, saya akan menjawab : Asyik banget. Banyak teman, jadwal bebas, pakaian gak seragam, kiriman sisa minta.
Tapi juga mesti berhati-hati dengan lingkungan.
Eh, kalau pertanyaan ini diajukan pada KOPRAL, ROMEO ataupun MARKIDING, Kuyakin mereka juga akan menjawab kuliah itu asyik. Terbukti hingga kini mereka belum mau mengakhiri status sebagai mahasiswa.

:mrgreen:

ICC Community

Berlabelkan ICC (Islamic Conversation Club) beberapa siswa Madrasah Aliyah Al-Falah menyatukan tekad buat belajar bahasa Inggris bersama. Ini mungkin satu”x meeting club bahasa Inggris yang pernah didirikan di Al-Falah. Heran juga, 6 taon belajar bahasa Inggris kok bisanya cuma Yes sama No aja. ICC fokus ke percakapan, jadinya bisa terasa langsung efeknya.
Metodenya nyante, antara yang belajar dan yang diajar seperti teman aja. Jadinya gak terkesan kaku gitu.
Akhir Agustus tahun lalu ICC Community resmi berdiri. Programnya banyak, diantaranya meeting mingguan rutin (Senin dan Rabu), Spending Night, bikin buku panduan, sticker, ID Card, juga baju kaos untuk nunjukin kekompakan. Tak lupa English Camp yang jadi target utama.
Alhamdulillah, hingga hari ini sudah 85% program kerja terlaksana. Bee.. aplaus dong!
🙂
Apalagi setelah kedatangan K’ Ramlah, S.Pd.I dari kawah Condrodimukonya STAIN Palopo. Buih, ICC makin rame.
😆
Ini mohon doanya semua, biar ade” makin bagus percakapannya.
Hayo, siapa lagi yang mau gabung? hayo.. hayo..
🙂

Kekerasan dalam Pendidikan dan Warisan Kolonial

(oleh Rahmat Hidayat)

“…pendidikan harus menanamkan tanggung jawab, kehormatan, tetapi tanpa menjadi beo atau bebek; anak harus dipimpin supaya berdiri sendiri…”
(Driyakara, 2006:422)

Di tengah budaya masyarakat Indonesia, hukuman fisik adalah suatu yang sangat wajar dan masih banyak para orang tua atau para pendidik yang dalam memberikan hukuman fisik. Seorang teman yang menceritakan pengalaman traumatisnya, dari pengalamannya seorang teman yang pernah mendapatkan hukuman fisik, pada suatu hari saat guru mengajarkan suatu pelajaran tertentu, sang murid disuruh maju kedepan untuk mengerjakan soal yang diberikan oleh guru, setelah mengerjakan soal dan diperiksa oleh guru ternyata jawabannya salah semua, tanpa berpikir panjang guru langsung memberi hukuman dengan memukulkan kayu rotan dipunggungnya. Dari pengalaman diatas hanya sebagian kecil saja yang terjadi di Indonesia.
Suatu data menyebutkan sepanjang kwartal pertama 2007 terdapat 226 kasus kekerasan terhadap anak di sekolah. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan kwartal yang sama tahun lalu yang berjumlah 196. Ketua Umum Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Seto Mulyadi mengatakan selama Januari-April 2007 terdapat 417 kasus kekerasan terhadap anak. Rinciannya, kekerasan fisik 89 kasus, kekerasan seksual 118 kasus, dan kekerasan psikis 210 kasus. Dari jumlah itu 226 kasus terjadi di sekolah, ujar Seto Mulyadi dalam diskusi di Jakarta.
Dan kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kekerasan fisik masih saja terjadi?dan bagaimana dampaknya terhadap anak?
pandangan penulis hukuman fisik yang adalah warisan budaya colonial, sejarah pendidikan colonial sangat berpengaruh, yakni pendidikan colonial disini membangun pola pendidikan tradisional yang melegitimasikan aksi hukuman fisik, berupa suatu tindakan yang menyakiti secara fisik dengan tujuan untuk menekan perilaku negatif seorang anak atau orang lain. Dengan menggunakan metode itu dipercaya bahwa perilaku positif anak akan terbentuk. Warisan ini dapat di identifikasi pada saat penjajahan belanda yang banyak sekali menggunakan hukuman fisik sebagai bentuk hukuman yang paling mujarab. Tipologi pendidikan warisan belanda semcam ini sampai sekarang bahkan masih aktif digunakan secara terbuka di tengah masyarakat. Hal ini dapat kita ketahui juga lebih lanjut dengan melihat bahwa pada kenyataanya identitas-identitas budaya yang dijajah dan penjajah secara konstan bercampur atau bersilangan. Dengan melihat ungkapan dari Frantz Fanon seorang pakar tentang kolonailisme mengatakan bahwa kolonalisme diartikan sebagai penonmanusiawian (dehumanization) rakyat di daerah koloni. Orang-orang yang dijajah tidak diperlakukan sebagai manusia, tetapi lebih kepada benda. Jelasalah bahwa ternyata begitu besar pengaruh dari kolonialisme. Colonial jaman belanda kental dengan perbudakan yakni dengan melihat adanya legitimasi majikan untuk menghukum budak bila melakukan kesalahan, adanya nilai superior dan inferior dalam pengambilan keputusan seorang majikan tidak memperhitungkan nilai-nilai demokratis. Budaya majikan disini jelas mempunyai kewibawaan dan status social yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Kalau melihat realiatas sekarang akar kekerasan tersebut masih ada, seperti dengan halnya guru menghukum muridnya, posisi orang tua dalam mendidik anak dalam keluarga, golongan ningrat yang melakukan kekerasan terhadap budak dan pejabat pemerintahan menekan rakyatnya, yang juga memiliki legitimasi untuk menerapkan penghakiman dan distribusi sanksi sepihak tanpa proses demokrasi.
Dalam proses pendidikan tampaklah sebuah proses pemberian hak khusus kepada segolongan masyarakat tertentu (guru, orang tua atau yang dituakan). Driyarkara menyebutkan sebagai kecenderungan pendidikan yang stato-centris, dimana guru dijadikan sebagai pengontrol (controleur). Apa yang dilakukan anak akan menjadi benar bilamana sesuai dengan yang diharapakan orang lebih dewasa. Kalau melihat pemikiran dari Eric Fromm yang mengatakan bahwa “ketakutan” sebagai akar dari kekerasan”, jadi jelaslah bahwa akar kekerasan dalam pendidikan ialah ketakutan yang muncul dari dalam diri seorang pendidik ketika secara eksistensial berhadapan dengan seorang anak didiknya. Jadi dalam bahasa sederhananya para pendidik harus ditakuti oleh muridnya, mahasiswa harus takut ke dosen, guru harus ditakuti oleh mudirdnya.

Dampaknya terhadap psikologis
Pengalaman masa lalu adalah salah satu tipologi psikologis dari seorang anak, jadi pengalaman masa lalu yang pernah didapatkan seorang anak baik kekerasan fisik, kekerasan mental, dan beberapa pengalaman pahit dialami semasa kecil akan terus berdampak pada saat dewasa. Dalam bukunya A Child Caled It, Dave Pelzer mengungkapkan tentang bagaimana kondisi psikologis dirinya merupakan pembentukan berdasarkan pengalaman psikologisnya di masa kanak-kanak. Dave menceritakan bagaimana kisah-kisah kekerasan yang dialaminya semasa kecil telah membentuknya sebagai pribadi yang “pincang”. Kekeresan selalu “melahirkan kekerasan”. Disadari atau tidak apa yang dilakukan dalam pendidikan tradisional telah membentuk psikologi sosial masyarakat Indonesia yang saat ini masih banyak dengan tindakan kekerasan dalam komunitas sekolah seperti perilaku guru terhadap murid, kakak kelas terhadap adik kelas (senior dan junior), dll.
Dampak yang akan muncul dari kekerasan akan melahirkan pesimisme dan apatisme dalam sebuah generasi. Selain itu terjadi proses ketakutan dalam diri anak untuk menciptakan ide-ide yang inovatif dan inventif. Kepincangan psikologis ini dapat dilihat pada gambaran anak-anak sekolah saat ini yang cenderung pasif dan takut berbicara dimuka kelas. Sedangkan dalam keluarga, anak yang sering diberi hukuman fisik akan mengalami gangguan psikologis dan akan berperilaku lebih banyak diam dan selalu menyendiri selain itu terkadang melakukan kekerasan yang sama terhadap teman main atau ke orang lain.

Peran orang tua dan guru
Kurikulum apapun yang mencoba membangun generasi yang proaktif dan optimis tidak akan pernah efektif mencapai tujuannya apabila system hukuman fisik masih diimplementasikan dalam dunia pendidikan sekolah. Untuk itu ada solusi yang akan ditawarkan. Yakni adanya reposisi orang tua dalam mendidik anak dalam keluarga dan guru dalam mendidik murid di sekolah. Reposisi ini berupa perubahan signifikan pada paradigma masyarakat yang masih sering menggunakan hukuman fisik dalam mendidik. Selain itu juga perubahan untuk mulai menempatkan guru ataupun orang tua dalan posisi setara dengan pribadi seorang anak. Dengan membiarkan anak melakukan ekspresi dan melakukan keunikan-keunikannya sendiri maka akan membentuk mental yang bagus dan tidak apatis, keunikan anak disini tidak harus dipahami sebagai suatu kesalahan, melainkan suatu perkembangan anak itu sendiri. Kesadaran anak juga harus dibangun dengan sering mengajak berdialog dan menciptakan komunikasi yang hangat, dan bukan memberikan perintah-perintah dan larangan. Yang terpenting adalah membangun kepribadian untuk sering berpendapat dan mendengarkan pendapat-pendapat mereka. Dan sadarilah masa depan negeri ini ada ditangan anak-anak kita dan oleh karena itu peran orang tua dan guru sangat besar dalam menciptakan kepribadian seorang anak.

Hasil Pengumuman UAN 2007

Makassar, Tribun — Sekitar 2.600 siswa kelas III sekolah menengah atas (SMA) di Sulawesi Selatan (Sulsel) tidak lulus di ujian nasional (UN) yang digelar Mei lalu.
Ketua Panitia UN Sulsel 2007, Abdul Jabbar, mengungkapkan hal tersebut di Makassar, Selasa (12/6). Hasil tersebut diperoleh dari badan standar UN di Jakarta, dan sudah dibagikan ke seluruh kabupaten/kota.
“Tapi, hasil tersebut masih harus dikonversi dengan nilai lain di sekolah masing-masing. Jadi ini baru angka UN dan bukan kelulusan dari sekolah,” kata Jabbar.
Angka kelulusan UN di Sulsel mencapai 95 persen dari sekitar 47.426 siswa peserta UN. Hasil ini lebih baik bila dibandingkan dengan tingkat kelulusan UN secara nasional yang hanya 90 persen.
Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Jeneponto meraih tingkat kelulusan di UN tahun ini. Dari 1.354 peserta UN di Sidrap, hanya sembilan siswa yang tidak memenuhi standar atau tingkat kelulusan di atas 95 persen.
Sedangkan di Kabupaten Jeneponto hanya 11 siswa yang nilainya tidak mencapai standar UN dari 1.490 peserta UN.
Sementara di Makassar, tingkat kelulusan UN sekitar 95 persen atau 1.062 peserta tidak mencapai nilai standar dari 18.965 peserta UN.
Menurut Jabbar, tingkat kelulusan tahun inilebih baik meski standar nilai UN dinaikkan menjadi 5,0. Dia menambahkan, penentuan lulus tidaknya siswa tergantung pada kebijakan sekolah masing-masing, pasalnya, meski siswa tersebut nilainya memenuhi standar tapi perilakunya tidak, maka akan tidak lulus juga.
Hal ini sesuai dengan buku petunjuk UN, yang tidak hanya menilai dari nilai standar namun perilaku siswa tersebut.
Untuk pengumuman hasil UN tersebut, menurut Jabbar terserah dari pihak sekolah kapan ingin mengumumkannya, sehingga pengumuman UN SMA/MA/SMK nantinya tidak akan dilaksanakan secara serentak, yang penting pelaksanaannya paling lambat pada 16 Juni mendatang.
“Mungkin saja besok (hari ini), karena hasil tersebut sudah ada di semua sekolah kabupaten/kota. Selama pihak sekolah sudah merekap semua nilai, mereka sudah dapat mengumumkan nilai UN siswa,” jelas Jabbar.
Untuk hasil UN tingkat sekolah menengah pertama (SMP), hasilnya baru akan diterima dari pusat pada 16 Juni mendatang.
Sedangkan Kepala Badan Standar Pendidikan Nasional Yunan Yusuf mengatakan hasil ujian nasional telah dikirimkan ke daerah. “Seminggu yang lalu telah dikirim, diserahkan ke daerah kapan diumumkan,” katanya.

Yunan tidak mau memastikan jumlah siswa yang lulus ujian nasional. “Kami tidak dalam posisi mengumumkan, tapi kalau dipersentasikan jumlah kelulusan ada di angka 90-an persen,” tambahnya.

Ujian Akhir
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Makassar Suardi mengatakan, pihaknya belum berani mengumumkan persentase kelulusan di setiap sekolah.
Alasannya, masing-masing sekolah masih melakukan rekapitulasi nilai antara nilai mata pelajaran yang diujikan pada ujian nasional (UN) dan nilai yang diujikan pada ujian sekolah (US).
“Kita belum memastikan kelulusannnya. Sebab, bisa saja persentase kelulusan akan meningkat karena dipengaruhi oleh nilai ajian akhir siswa yang bersangkutan,” kata Suardi.
Sedang Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Makassar Mahmud BM mengatakan, meski persentase kelulusan SMA di kota Makassar belum diumumkan, namun dia menggambarkan, ada sebuah sekolah yang 100 siswanya tidak lulus UN.
“Saya tidak bisa sebutkan. Yang jelas persentase kelulusan tiap sekolah di Makassar bervariasi. Mulai dari 70 persen, 75 persen, 95 persen, dan hanya sedikit sekolah yang meluluskan siswanya hingga 100 persen. Bahkan ada sekolah unggulan yang siswanya tidak lulus,” ujarnya.

Pengawas Independen
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Prof Dr Mansyur Ramly menilai salah satu tingginya angka ketidaklulusan disebabkan karena efektifnya tim pengawas independen melaksanakan tugasnya melakukan pengawasan di lapangan.
Namun, kata Mansyur, tingginya ketidaklulusan bukan berarti nilai rata-rata UN menurun. Sebab, di sisi lain, nilai rata-rata UN meningkat dari tahun sebelumnya.
“Ini menunjukkan bahwa mutu penyelenggaraan UN dan mutu siswa kita semakin membaik. Kenyataan ini akan memotivasi siswa untuk lebih giat belajar pad atahun depan,” katanya.
Mansyur memberikan tanggapan itu seusai mengikuti rapat di kantor Wapres RI tentang kebijakan UN tahun 2008 bersama deputi wapres bidang kesra dan dirjen dikdasme.
“Selain membicarakan masalah UN, kita juga mempersiapkan kebijakan UN untuk sekolah dasar dan madrasyah ibtidaiyah (SD/MI) tahun 2008. Setelah itu saya menggelar rapat dengan mendiknas tentang rancangan peraturan pemerintah (RPP) pendanaan pendidikan,” katanya.

BAGAIMANA DENGAN AL-FALAH?
Info terbaru menyebutkan bahwa Delapan orang dari 57 total Siswa Aliyah tidak berhasil lulus dalam ujian nasional ini. Dari total 57 siswa tersebut, terdapat 2 orang siswa dari Jurusan IPA (Total siswa IPA adalah 24 orang) dan 6 orang siswa dari Jurusan IPS (Total siswa IPS adalah 33 orang), ternyata tidak lulus. Meski info tersebut dapat dipercaya, tapi tidak disebutkan mereka gagal memenuhi target standar pada mata pelajaran apa.

Ini info taon 2007, tapi yang taon 2008 Lulus semua eui!

Saluutt

:mrgreen:

Belajar Efektif Dengan Teori Stephen R. Covey

Menjelang Ujian Akhir Semester, kadang kita bakal ngelakoni rutinitas SKS (Sistem Kebut Semalaman), tapi bagi teman-teman yang memang rajin sejak awal sih gak bakal ada masalah. So.. Kamu-kamu yang pengen belajar lebih efektif, berikut ini adalah 7 (tujuh) langkah yang dapat kamu lakukan dan kembangkan sendiri yang diadaptasi dari buku Seven Habits of Highly Effective People karangan Steven Covey.
Bertanggung jawab atas dirimu sendiri.
Tanggung jawab merupakan tolok ukur sederhana di mana kamu sudah mulai berusaha menentukan sendiri prioritas, waktu dan sumber-sumber terpercaya dalam mencapai kesuksesan belajar.

Pusatkan dirimu terhadap nilai dan prinsip yang kamu percaya.
Tentukan sendiri mana yang penting bagi dirimu. Jangan biarkan teman atau orang lain mendikte kamu apa yang penting.

Kerjakan dulu mana yang penting.
Kerjakanlah dulu prioritas-prioritas yang telah kamu tentukan sendiri. Jangan biarkan orang lain atau hal lain memecahkan perhatianmu dari tujuanmu.

Anggap dirimu berada dalam situasi “co-opetition” (bukan situasi “win-win” lagi).
“Co-opetition” merupakan gabungan dari kata “cooperation” (kerja sama) dan “competition” (persaingan). Jadi, selain sebagai teman yang membantu dalam belajar bersama dan banyak memberikan masukkan/ide baru dalam mengerjakan tugas, anggaplah dia sebagai sainganmu juga dalam kelas. Dengan begini, kamu akan selalu terpacu untuk melakukan yang terbaik (do your best) di dalam kelas.

Pahami orang lain, maka mereka akan memahamimu.
Ketika kamu ingin membicarakan suatu masalah akademis dengan guru/dosenmu, misalnya mempertanyakan nilai matematika atau meminta dispensasi tambahan waktu untuk mengumpulkan tugas, tempatkan dirimu sebagai guru/dosen tersebut. Nah, sekarang coba tanyakan pada dirimu, kira-kira argumen apa yang paling pas untuk diberikan ketika berada dalam posisi guru/dosen tersebut.

Cari solusi yang lebih baik.
Bila kamu tidak mengerti bahan yang diajarkan pada hari ini, jangan hanya membaca ulang bahan tersebut. Coba cara lainnya. Misalnya, diskusikan bahan tersebut dengan guru/dosen pengajar, teman, kelompok belajar atau dengan pembimbing akademismu. Mereka akan membantumu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

Tantang dirimu sendiri secara berkesinambungan.
Dengan cara ini, belajar akan terasa mengasyikkan, dan mungkin kamu mendapatkan ide-ide yang cemerlang.