Pernah Dengar Kata Santri Salafiy atau Santri Modern?

Pada dasarnya dalam dunia per “Pondok” an, Pondok itu dibagi menjadi 2 macam atau dua jenis, yaitu yang di sebut dengan “Pondok Modern” dan “Pondok Salafiyah“. Udah pada tau belum perbedaan dari kedua jenis pondok pesantren tersebut?

Oke, mari kita mulai membahasa salah satu dulu, dari sebutan Pondok Salafiyah dulu yah … Baca lebih lanjut

Melewati Zaman dan Pengetahuan

Karya : Makhrus Habibi

Aku masih hidup di zamanmu. Zaman yang sangat sulit ku mengerti. Tapi berupaya ku pahami. Karena aku begitu mencintaimu. (Naga Bonar 2)
Orang sering berbicara bahwa sekarang zamannya sudah maju, sering mereka mempersepsikannya dengan zaman modern, modernitas, dan modernisme, sekarang sudah bisa ngomong langsung dengan saudara yang ada di luar pulau, sekarang sudah bisa lihat secara langsung kejadian-kejadian di Jakarta, Baca lebih lanjut

Ketika kerudung di ganti dengan kresek

Oleh : Makhrus habibi

Ketika melihat film India, mereka rata-rata memakai kerudung, ketika melihat orang-orang timur tengah entah Islam, Kristen atau Nasrani mereka juga rata-rata memakai kerudung, bunda Maria juga memakai kerudung, para pendeta perempuan (aku lupa namanya) juga memakai kerudung, orang Yahudi ortodoks juga memakai kerudung, hal yang kemudian membikin bingung dalam mempersepsikan kerudung adalah apakah kerudung itu adalah sebuah budaya atau memang ajaran agama. Kenapa harus pake kerudung ?? Baca lebih lanjut

Skema REDD dan Climate Justice

Oleh-oleh dari Bali, oleh : Rahmat Hidayat
Berbagai macam cara dan perkara tentang penyelamatan bumi dari pemanasan global ini sudah banyak dilakukan baik dari LSM, aktivis lingkungan, pemerintah, para ahli, hingga para artis. Begitu menakutkannya dampak perubahan iklim tersebut, sehingga berbagai seruan yang seragam bahwa bumi harus segera diselamatkan dari bencana perubahan iklim ini.REDD yang menyilaukan
Berbagai proyek mitigasi (pengurangan) gas rumah kaca pun ditawarkan. Solusi-solusi mulai dari mekanisme pembangunan bersih atau Clean Development Mechanism (CDM) hingga pencegahan deforestasi atau Avoided Deforestation (AD) yang mengacu pada pencegahan atau pengurangan hilangnya hutan dengan maksud untuk menurunkan emisi gas yang akan mengakibatkan pemanasan global, yang mana hal ini kemudian menjadi isu kunci dalam setiap debat kebijakan tentang perubahan iklim.
Badan ilmiah dari konvensi kerja kerangka kerja PBB untuk perubahan iklim (United Nation Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) telah membuat laporan tantang bagaimana mancapai target penurunan emisi dari deforestasi (Reduced Emissions from Deforestations/RED) yang telah disampaikan pada konferensi negara-negara pihak (COP) kemarin di Bali. Para pendukung RED menginginkan insentif bagi konservasi hutan menjadi instrumen perdagangan Protokol Kyoto pada fase berikutnya (2012).
Dengan adanya mekanisme semacam ini Bank Dunia berusaha menjadi badan Internasional utama yang memimpin inisiatif global RED. Pada pertengahan 2007, badan ini meminta kelompok negara-negara industri anggota G8 untuk memberi dukungan politik dan pendanaan terhadap rencana baru Bank Dunia yaitu fasilitas kemitraan karbon hutan atau Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) yang akan menjadi skema percontohoan untuk mengurangi emisi dari deforestasi dilima negara tropis.
Ide dasar dari AD adalah negara-negara utara membayar negara-negara selatan untuk mengurangi penggundulan hutan dalam wilayah negara mereka. Salah satu usulan adalah dengan memberi bantuan keuangan untuk kepentingan tersebut.
Kemudian semakin di sadari bahwa deforestasi khususnya di hutan tropis, menyumbang antara 18 sampai 20% dari seluruh gas CO2 global pertahun dan dibeberapa negara seperti Brazil, angkanya diatas 75% dari CO2 tahunan yang berasal dari aktivitas manusia. Sebagai konsekuensinya, berkembanglah kesepakatan internasional bahwa kebijakan-kebijakan dimasa depan untuk memerangi perubahan iklim harus mengurangi deforestasi dinegara-negara tropis..?

Beberapa pendukung dari AD kemudian bukan saja mengusung tentang pencegahan deforestasi, namun juga penurunan emisi dari pencegahan degradasi hutan yakni yang dikenal sebagai Reduced Emission from Degradation and Deforestations (REDD), dan Indonesia adalah salah satu negara yang ikut mendukung REDD ini. Posisi negara seperti Indonesia yang telah memiliki hutan gundul dan kerusakan hutan yang parah akibat industri kayu juga mendukung kegiatan penanaman kembali dan pemulihan dibawah skema pencegahan deforestasi. Dengan adanya skema ini diharapkan konstribusi emisi dari deforestasi khususnya pada hutan hujan tropis yang mencapai 20% dari total emisi karbon di atmosfir dapat dikurangi.

Berbicara tentang REDD seperti yang dikatakan oleh Tom Griffiths dan Forest People Programme menggambarkan bahwa REDD adalah sebagai suatu proposal yang menawarkan kewajiban membayar bagi negara-negara utara kepada negara-negara selatan guna mengurangi penggundulan hutannya, dibawah sistem global perdagangan karbon, menjual karbon yang tersimpan dihutan mereka kepada negara-negara utara sehingga industri-industri di utara dapat melakukan pencemaran seperti biasa.
Memang skema REDD ini sangat menyilaukan mata karena dengan dijanjikan kempensasi dana hingga US$3,75 miliar (Rp33,75 triliun) pertahun dari negara-negara maju dan diharapkan mampu menyelesaikan masalah kerusakan hutan, lewat program proyek REDD tersebut. Akan tetapi pertanyaannya apakah mekanisme REDD ini dapat menjadi solusi yang tepat ?Mengapa mempersoalkan skama REDD?
Pertanyaan mendasar yang kemudian muncul adalah siapa yang diuntungkan dari skema REDD ini?
Mekanisme yang ditawarkan oleh REDD mungkin akan menggiurkan bagi para aparat pemerintah dengan adanya dana kompensasi tersebut, apalagi dengan adanya otonomi khusus yakni adanya hak khusus yang diberikan pemerintah daerah untuk dapat mengelola hutannya sendiri. Persoalan yang muncul adalah banyak dari proposal AD yang tidak secara jelas lembaga apa, kelompok atau perorangan yang akan menerima pembayaran kompensasi dibawah skema RED internasional.
Sedang dalam hal ini Indonesia mengajukan proposal menyatakan bahwa dana kompensasi bisa dibagikan kepada otoritas pengelola kawasan lindung, perusahaan kayu ”bersertifikat”, yang menerapkan manajemen hutan lestari (sustainable forest management/SFM), inisiatif memberantas illegal logging/ penebangan liar, skema pembayaran jasa lingkungan (payment for envireomental service/PES) dan manajemen hutan berbasis masyarakat, walaupun proposal Indonesia tidak menjelaskan secara terperinci kelompok mana atau orang yang akan menerima dana dan inisiatif-inisiatif tersebut.
Dengan sedikitnya skema AD yang kongkrit dalam pelaksanaannya, sampai saat ini masih sangat jauh program AD dan RED ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat ditingkat lokal.
Setidaknya ada beberapa masalah dalam skema REDD yang dapat dipersoalkan, pertama berlangsungnya program REDD di Indonesia hanya akan membuat adanya broker karbon ditengah-tengah pemerintah daerah pemilik hutan apalagi dengan adanya otonomi daerah yang mana hak pemerintah daerah untuk mengelola hutan. Beberapa hasil kajian, sejumlah calo atau broker karbon sudah menembus taraf gubernur terkait proses REDD. Selain itu belum adanya mekanisme dan proses sertifikasi yang jelas akan menjadi celah yang bisa dimanfaatkan para broker tersebut untuk mendapatkan keuntungan.
Kedua, mengutip dari M. Riza Damanik, mekanisme REDD ini menawarkan kepada negara-negara yang memiliki hutan untuk menjaga dan mengunci hutannya dengan imbalan imbalan uang. Resiko yang akan muncul dana-dana REDD ini akan dipakai oleh negara untuk melengkapi lembaga perlindungan hutan dengan sejumlah mobil jeep, walky talky, persenjataan, helikopter dan GPS dengan pendekatan ”senjata dan penjaga” dengan cara ini mengukuhkan kontrol negara dan swasta atas hutan. Kalo melihat tawaran ini tentunya sangat banyak yang dirugikan karena hal ini akan membatasi akses dan partisipasi masyarakat lokal terhadap hutan, belum lagi mayarakat yang tinggal diskitar hutan dan penghidupannya mengandalkan dari hasil hutan, bila akses terhadap hutan mereka dibatasi maka akan dikemanakan mereka.
Dalam kasus Indonesia sebagai negara kepulauan, dimana pemerintah sedang berencana untuk mengalokasikan 37,5 juta hektar hutan yang tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua, tentu akan menjadi ancaman serius bagi mereka yang tinggal disekitar kawasan hutan tersebut. Tentunya ancaman tidak hanya merugikan dalam aspek finansial semata, namun juga pada aspek ketersediaan dan kedaulatan rakyat Indonesia atas suatu wilayah hutan tertentu.
Ketiga, proposal REDD justru membuka kesempatan kepada pengusaha kehutanan untuk turut mendapat insentif dari mekanisme yang ditawarkan yakni berlandas kepada kekuatan legal formal yang dimiliki atas suatu konsesi kawasan hutan tertentu (seperti HPH, HTI dan perkebunan) melalui itikad pengurangan atau penghentian pemanfaatan kawasan konsesi hutan yang dimiliki oleh setiap pengusaha. Dengan begini, bukan masyarakat disekitar hutan yang mendapat keuntungan dari REDD, tapi justru mereka para pengusaha yang mendapatkan keistimewaan dari REDD dalam hal finansial, dan sekaligus terbebas dari tanggung-jawab mutlak terhadap kerusakan hutan dan lahan yang telah dilakukan sebelumnya.
Beberapa contoh kasus dapat kita lihat yang terjadi di Uganda dan Ekuador misalnya, telah terjadi penyingkiran ribuan komunitas lokal dari hutan akibat privatisasi hutan oleh perusahaan-perusahaan dari negara maju yang dipelopori oleh pemerintah setempat dengan mengatasnamakan konservasi yang bertujuan penyelamatan iklim global. Dan yang terakhir dampak dari skema REDD yakni mengabaikan fungsi ekosistem hutan, fungsi hutan dipakai untuk penyerap karbon semata dan menyederhanakan fungsi hutan yang lebih luas seperti hutan adalah sebagai tangkapan air, sebagai ruang hidup, sebagai tempat tinggal masyarakat ada, hingga fungsi sosio-kultural yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat.

Mengusung Climate Justice
Skema baru yang ditawarkan seperti REDD ini tentunya bukannya akan memberikan solusi yang baik, solusi ini tidak proporsional satu sisi negara maju menikmati kenyamanan hidup dengan mengkonsumsi bahan bakar fosil dan praktek-praktek industri yang menghasilkan emisi karbon lebih banyak, sementara negara-negara kepulauan kecil, perempuan, generasi muda, komunitas pesisir, komunitas lokal, masyarakat adat, kelompok nelayan, masyarakat miskin, khususnya di negara berkembang harus berjuang lebih keras untuk menghadapi dampak perubahan iklim, analogi yang sederhana mungkin seperti ini negara maju yang buang air besar di toilet lalu negara berkembanglah seperti (Indonesia) yang harus membersihkan isi toiletnya dan dibayar dengan uang receh.
Kemudian pertanyaan yang mucul adalah dimanakah letak suatu keadilan? Sebuah ketidakadilan bila penduduk lokal yang selama ini memanfaatkan hutan secara lestari harus tersingkir dari sumber-sumber kehidupannya bahkan dikorbankan pula hak hidupnya atas nama konservasi dan penyelamatan iklim bumi. Dimana hak-hak masyarakat adat ketika hak-hak atas hutan sebagai tempat penghidupan meraka bila harus dibatasi oleh pihak swasta dan pemerintah.
Seharusnya yang perlu diusung oleh negara Indonesia sebagai tuan rumah COP 13 UNFCCC kemarin adalah suatu gerakan reduksi emisi karbon yang berkeadilan (climate Justice). Apa yang menjadi tujuan climate justice? Telah kita ketahui juga bahwa model-model yang diterapkan selama ini dalam memerangi pemanasan global dan adanya upaya global yang dilakukan selama 12 tahun terakhir untuk mengurangi dampak pemanasan global ternyata adalah suatu bukti kegagalan dan belum lagi mekanisme REDD yang sangat merugikan masyarakat, dengan adanya skema REDD ternyata hanya menguntungkan untuk pihak-pihak swasta atau perorangan semata terutama dari negara-negara maju.
Oleh karena itu, perlu adanya evaluasi kritis yang harus dilakukan seperti evaluasi terhadap model ekonomi politik global yang didukung oleh beragam instrumen politis multilateral. Maka dari itu perlunya keadilan iklim disini dalam proses UNFCCC yang berlangsung di Bali kemarin adalah untuk memahami konteks tersebut dan untuk memberikan sejumlah argumen kunci sebagai solusi dari masalah diatas. Selain itu Keadilan iklim menegaskan bahwa upaya-upaya penanganan perubahan iklim yang dilakukan tidak membahayakan komunitas lokal dalam lingkup yang luas, menghormati hak masyarakat adat dan hak-hak generasi muda.
Setidaknya ada 4 fokus area yang di perhatikan dari climate justice: Pertama, human Security, pada dasarnya masalah penanganan perubahan iklim ini tidak boleh membahayakan masyarakat luas dan harus selaras dengan deklarasi mengenai HAM. Mengacu pada hal ini dengan adanya skema REDD harus dicermati lebih seksama apakah hal ini dapat mengancam aspek human security. Seperti yang sudah dijelaskan diatas tentang dampak dari mekanisme REDD. Mengacu data yang dikemukan oleh Walhi pelanggaran HAM terhadap penduduk lokal dalam proyek konservasi lahan juga telah sering terjadi. Setidaknya telah terjadi 356 konflik yang melibatkan penduduk lokal, negara, perusahaan perkebunan dan kehutanan sepanjang tahun 2003 hingga 2007 yang tersebar di 27 provinsi.
Kedua, utang termasuk utang ekologis, tanpa menyelesaikan masalah utang, keadilan Iklim sulit untuk diwujudkan. Pengakuan atas prinsip hutang ekologis, yaitu bahwa pemerintah negara industri dan perusahaan lintas negara lah yang sebenarnya berhutang kepada dunia atas pencemaran yang dilakukan. Selain itu industri bahan bakar fosil dan industri ekstraktif harus bertanggung jawab secara hukum untuk seluruh dampak yang terkait dengan produksi gas rumah kaca dan polutan.
Ketiga masalah produksi dan konsumsi, akar dari masalah perubahan iklim dan masalah lingkungan lainnya adalah masalah adalah praktek produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan, khususnya terjadi terutama di negara-negara Utara, dan juga kaum elit di negara-negara Selatan. Selain itu peran perusahaan-perusahaan lintas negara yang menerapkan pola produksi dan konsumsi serta gaya hidup yang tidak berkelanjutan, baik ditingkat nasional dan internasional yang sangat besar harus dibatasi. Perlu dilakukan moratorium eksplorasi dan eksploitasi bahan bakar fosil; moratorium konstruksi pembangkit tenaga nuklir; penghentian penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir; serta moratorium konstruksi skema pembangkit listrik tenaga air skala besar.
Keempat, land tenure (hak Atas Lahan), diperlukan model sosial-ekonomis yang menjamin hak-hak mendasar untuk mendapatkan udara bersih, tanah, air, makanan, dan ekosistem yang sehat. Bukannya mengusir masyarakat dari tanah tempat bergantung hidup dengan alasan mengurangi emisi. Demikian juga hak Masyarakat Adat untuk memiliki keputusan sendiri, dan hak mereka untuk mengatur lahan, termasuk lahan, wilayah, dan sumber daya bawah permukaan (sub-surface), serta hak untuk perlindungan atas segala aksi atau tindakan yang bisa menghancurkan atau merusak wilayah dan cara hidup mereka harus diakui.
Memang sangat membingungkan ketika berbicara dan mempromosikan tentang pencegahan deforestasi yang dilakukan oleh kepala-kepala negara dan para delegasi pemerintah di UNFCCC tanpa mereka menyinggung atau memberi keprihatianan-keprihatinan kepada masalah-masalah dan dampak skema dari REDD yang disebutkan diatas. Pendek kata upaya dari mitigasi melalui mekanisme REDD ini perlu dan harus tetap secara jelas melibatkan partisipasi masyarakat adat dan para pemangku hutan yang sangat berpotensi terkena dampak.

Penulis adalah mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional tingkat akhir dan Alumni Green Student Movement (GSM) Walhi Institute

Titik-titik sebelum AIDS

Oleh Makhrus Habibi

Perkembangan tekhnologi telah membawa kita pada hitungan bukan jam lagi tetapi sudah memaki detik. Kemajuan tekhnologi telah membawa kita pada ketotalan untuk berkreasi dan berkreativitas, telah menembus ruang-ruang privasi dan ruang-ruang moralitas. Tekhnologi yang dalam hal ini adalah media masa (televisi) telah memaksa kita untuk memakai celana botol, memaksa kita untuk memakai standar-standar hidup para selebritis, memaksa kita untuk memasukkan baju layaknya eksekutif, memaksa kita memakai jas seperti vokalis nidji dengan setelan rembutnya, dan memaksa kita melihat agnes monica dengan vario-nya.

Para ahli komunikasi mengatakan, media massa sangat berpengaruh terhadap pembentukan realitas sosial. Komunikasi massa selalu mempunyai dampak pada diri seseorang atau sekelompok orang akibat dari pesan yang disampaikan kepadanya. Dampak kognitif berhubungan dengan pemikiran, dampak emosional berhubungan dengan perasaan (senang, sedih, marah, sinis dan sebagainya). Dampak kognitif juga mencakup niat, tekad, upaya, dan usaha yang berkecenderungan diwujudkan menjadi suatu kegiatan. Media massa tidak hanya memiliki dampak langsung terhadap individu, tetapi juga mempengaruhi kebudayaan dan pengetahuan kolektif serta nilai-nilai di dalam masyarakat. Media massa menghadirkan perangkat citra, gagasan dan evaluasi yang menjadi sumber bagi audience nya untuk memilih dan menjadikan acuan bagi pelakunya.


Hill dan Monks (1990) mengungkapkan bahwa remaja merupakan salah satu penilai yang penting terhadap badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia mengerti bahwa badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia mengerti bahwa badannya tadi menuruti persyaratannya, maka hal ini berakibat positif terhadap penialain dirinya. Bila ada penyimpangan-penyimpangan timbullah masalah-masalah yang berhubungan dengan penilaian diri dan sikap sosialnya.

Beranjak dari kondisi-kondisi diatas, remaja sering merasa kehilangan eksistensinya. Oleh karena itu, tidak heran kalau remaja tersebut berusaha mencari atau menunjukkan eksisensinya melalui bidang-bidang yang dikuasainya. Dalam pencapaian eksistensi diri ini, remaja tidak lepas dari pengaruh lingkungan sosialnya. Apabila ia berada di tengah-tengah lingkungan yang berpendidikan, ia cenderung mengambil suatu sikap atau tindakan dimana orang lain bisa melihat dirinya mampu dibidang akademis. Ia akan cenderung rajin belajar, memperkaya pengetahuan dari buku-buku yang tidak didapatkan di sekolah.

Umumnya, remaja lebih peka terhadap reaksi-reaksi lingkungan yang ada disekitarnya daripada sebelumnya. Baik itu dari media massa, televisi, film atau orang-orang disekitarnya dari media massa, televisi, film atau orang-orang disekitarnya. Informasi-informasi baru selalu menarik perhatiannya. Kecenderungan bereksperimen (coba-coba) juga cukup tinggi, karena memang remaja belum mempunyai pola atau konsep yang mantap tentang masa depannya. Semua yang baru ingin dicobanya. Kecenderungan ini lebih kuat lagi karena keadaan emosinya yang masih labil. Oleh karena itu, tidak heran kalau banyak remaja yang menurutkan emosinya. Yang ada dalam pikirannya hanya “pokoknya saya berhasil” “pokoknya saya mandiri” “pokoknya saya pengen punya pengalaman” dll. Dorongan-dorongan semacam itu tidak dibarengi dengan pertimbangan apakah hal ini cocok untuk dirinya, bagaimana seandainya kalau saya sudah benar-benar masuk kedalamnya dan pertimbangan jangka panjang lainnya.

Dalam kaitannya dengan tayangan iklan baik di televisi maupun majalah, yang banyak menawarkan produk-produk remaja, remaja akan mudah sekali untuk tertarik dan menjadi konsumtif demi penampilan mereka. Remaja putri akan menjadi lebih boros untuk membelanjakan uang sakunya untuk membeli parfume, bedak, lipgloss, dan lain-lain. Sedangkan remaja pria,akan membeli produk-produk mahal yang dapat menunjang penampilan dirinya didepan perempuan.

Gaya hidup yang ditawarkan dalam majalah remaja maupun dalam sinetronpun adalah gaya hidup hedonis sebagai remaja kota besar yang tertular dari gaya hidup Barat. Dan untuk menunjang gaya hidup itu, remaja didorong untuk mengkonsumsi barang-barang dengan merek-merek mancanegara yang harganya tidak murah. Mereka diajarkan untuk mengikuti perkembangan mode dunia, mulai dari fashion, gaya rambut, casting HP yang berganti-ganti, dan sebagainya. Melalui penyampaian gaya hidup mewah ini, remaja diajarkan untuk boros dan menjadi tidak kritis terhadap persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.

Bagi remaja putri, mereka dididik untuk menjadi perempuan yang menarik penampilannya dengan merawat wajah dan tubuhnya, yang kelak jika ia dewasa nanti akan mendapatkan seorang suami yang mapan dan tampan. Dan jika ia menikah nanti akan menjadi istri yang disayang suami karena terus menerus merawat tubuhnya dan ibu yang bertanggungjawab karena ia berhasil mengurus seluruh domestik keluarga dari mulai dapur sampai mendidik anak-anak. Stereotype perempuan yang hanya menjadi pendamping dan obyek pelengkap laki-laki, akan terus menerus diinternalisasikan dan diwariskan kepada generasi muda melalui tayangan iklan dan sinetron yang bias gender.

Lebih jauh dampaknya bagi remaja, melalui adanya berita-berita di media cetak yang sarat akan kalimat-kalimat yang vulgar dan melecehkan perempuan, akan mengajarkan mereka nilai-nilai budaya patriarki yang hanya melihat perempuan sebagai objek seksualitas. Akibatnya sejak usia remaja, sudah tertanam dalam pandangan mereka jika perempuan menarik adalah perempuan yang agresif dan seksi. Bahkan lebih jauh lagi tak jarang sinetron menghadirkan adegan-adegan yang lumayan indehoi tetapi sering orang bilang romantis, menghadirkan sekian kekerasan, menghadirkan sekian khayalan-khayalan, menghadirkan sekian penafsiran-penafsiran agama instan.

Dalam tulisan ini penulis hanya ingin membawa pada fakta sebagai refleksi hari AIDS sedunia tanggal 01 Desember bahwa kasus-kasus AIDS selalu terus meningkat dan terus meningkat, sampai saat ini sudah mencapai 190.000-200.000 kasus, yang terpenting dalam hal ini, 30% terjadi pada remaja. Sehingga kalau kita refleksikan, remaja Indonesia masih belum siap menerima tekhnologi, dengan kata lain, keberadaan tekhnologi masih hanya di fungsikan sebagai sebuah gaya hidup, sebagai sebuah arus pergeseran nilai-nilai baik di tingkatan orang tua maupun remaja.

Pemanasan Global ”Tragedi Peradaban

(Refleksi Konferensi Perubahan Iklim /COP-13 di Bali, 3-14 Desember 2007)


Oleh : Makhrus Habibi

Konferensi Perubahan Iklim bulan Desember di Bali salah satu agendanya adalah Pengurangan emisi dari deforestasi, Pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim (Climate Change) belum menjadi mengedepan dalam kesadaran multi pihak. Pemanasan global (Global Warming) telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif). Tidak banyak memang yang memahami dan concern pada isu perubahan iklim. Sebab banyak yang mengatakan, memang dampak lingkungan itu biasanya terjadi secara akumulatif. Pada titik inilah masalah lingkungan sering dianggap tidak penting oleh banyak kalangan, utamanya penerima mandat kekuasaan dalam membuat kebijakan.

Perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming), pemicu utamanya adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan enerji fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Canada, Jepang, China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negera-negar utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrilisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Selain kerusakan hutan Indonesia yang tahun ini tercatat pada rekor dunia ”guinnes record of book” sebagai negara tercepat yang rusak hutannya.
Menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah lembaga dibawah PBB, tetapi kuasanya melebihi PBB. Menyatakan pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi, yaitu 10. selanjutnya adalah ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30 persen dan melelehnya Gleser (gunung Es) di Himalaya dan Kutub Selatan. Secara general yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el nino) di seluruh dunia. Serta meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis. Jika ini kita kaitkan dengan wilayah Indonesia tentu sangat terasa, begitu juga dengan kota-kota yang dulunya dikenal sejuk dan dingin makin hari makin panas saja. Contohnya di Jawa Timur bisa kita rasakan adalah Kota Malang, Kota Batu, Kawasan Prigen Pasuruan di Lereng Gunung Welirang dan sekitarnya, juga kawasan kaki gunung Semeru. Atau kota-kota lain seperti Bogor Jawa Barat, Ruteng Nusa Tenggara, adalah daerah yang dulunya dikenal dingin tetapi sekarang tidak lagi.

Meningkatnya suhu ini, ternyata telah menimbulkan makin banyaknya wabah penyakit endemik “lama dan baru” yang merata dan terus bermunculan; seperti leptospirosis, demam berdarah, diare, malaria. Padahal penyakit-penyakit seperti malaria, demam berdarah dan diare adalah penyakit lama yang seharusnya sudah lewat dan mampu ditangani dan kini telah mengakibatkan ribuan orang terinfeksi dan meninggal. Selain ancaman ratusan Desa di pesisir Jatim yang bisa tenggelam akibat naiknya permukaan air laut, indikatornya serasa makin dekat saja jika kita tengok naiknya gelombang pasang di minggu ketiga bulan mei 2007 kemarin. Mulai dari pantai Kenjeran, pantai popoh Tulungagung, Ngeliyep Malang dan pantai lain di pulau-pulau Indonesia.

Untuk negara-negara lain meningkatnya permukaan air laut bisa dilihat dengan makin tingginya ombak di pantai-pantai Asia dan Afrika. Apalagi hal itu di tambah dengan melelehnya gleser di gunung Himalaya Tibet dan di kutub utara. Di sinyalir oleh IPCC hal ini berkontribusi langsung meningkatkan permukaan air laut setinggi 4-6 meter. Dan jika benar-benar meleleh semuanya maka akan meningkatkan permukaan air laut setinggi 7 M pada tahun 2012. Dan pada 30 tahun kedepan tentu ini bisa mengancam kehidupan pesisir dan kelangkaan pangan yang luar biasa, akibat berubahnya iklim yang sudah bisa kita rasakan sekarang dengan musim hujan yang makin pendek sementara kemarau semakin panjang. Hingga gagal panen selain soal hama, tetapi akibat kekuarangan air di tanaman para ibu-bapak petani banyak yang gagal.

Situasi ini tentu saja tidak hanya akan dirasakan oleh dunia, tetapi bisa juga terjadi dan akan sangat mengancam Indonesia. Sebab dengan meningkatnya permukaan air laut, desa-desa pesisir Indonesia tentu akan langsung merasakan dampaknya. Mulai dengan makin panjangnya jeda untuk tidak melaut bagi nelayan, saat angin barat. Yang tentunya ini akan berimplikasi langsung pada ekonomi keluarga mereka, maupun mengancam tenggelamnya lebih dari 4000 Desa-desa pesisir Indonesia. Apalagi Indonesia sebagai negara kepulauan, tentu akan sangat dirugikan dengan ancaman tenggelamnya pulau-pulaunya, terutama pulau-pulau kecil yang ratusan jumlahnya.

The Day After Tomorrow. Sebuah film yang menggambarkan tenggelamnya kota-kota besar di pesisir yang di sertai dengan runtuhnya patung Liberty di Kota New York AS pada tahun 2020. Tentunya situasi yang kita hadapi saat ini bukan lagi manifest film tersebut, tetapi ini kenyataan yang kita hadapi saat ini Lantas jika demikian. Sebenarnya apa yang di butuhkan oleh dunia kecil “lokal” dan kita sebagai individu penghuni planet bumi? adalah revolusi gaya hidup, sebab dengan demikian akan mengurangi penggunaan energi baik listrik, bahan bakar, air yang memang menjadi sumber utama makin berkurangnya sumber kehidupan.

Selain itu perlunya melahirkan konsesus yang membawa komitmen dari semua negara untuk menegakkan keadilan iklim. Seperti yang sudah dilakukan oleh Australia yang mempunyai instrumen keadilan iklim, melalui penegakan keadilan iklim dengan membentuk pengadilan iklim (Climate Justice). Dimana sebuah instrumen yang mengacu pada isi protokol kyoto yang menekankan pada kewajiban pada negara-negara utara untuk membayar dari hasil pembuangan emisi karbon mereka untuk perbaikan mutu lingkungan hidup bagi negara-negara selatan.

Dalam praktek yang lain saatnya kita mulai menggunakan energi bahan bakar alternatif yang tidak hanya dari bahan energi fosil, misalnya untuk kebutuhan memasak. Menggunakan energi biogas (gas dari kotoran ternak) seperti yang dilakukan komunitas merah putih di Kota Batu. Desentraliasasi energi memang harus dilakukan agar menghantarkan kita pada kedaulatan energi dan melepas ketergantungan pada sentralisasi energi yang pada akhirnya harganya pun makin mahal saja.

Sedangkan untuk para pengambil kebijakan harusnya mengeluarkan policy yang jelas orientasinya untuk mengurangi pemanasan global. Misalnya menetapkan jeda tebang hutan di seluruh Indonesia agar tidak mengalami kepunahan dan wilayah kita makin panas. Menghentikan pertambangan mineral dan batubara seperti di Papua, Kalimantan, Sulawesi, hal ini bisa dilakukan dengan bertahap mulai dari meninjau ulang kontrak karyanya terlebih dahulu. Selanjutnya kebijakan progressive dengan mempraktekkan secara nyata jeda tebang dan kedaulatan energi harus dilakukan jika kita tidak mau menjadi kontributor utama pemanasan global.

Di tingkatan pemuka agama, bagaiman kemudian bisa menafsirkan teologi-teologi yang ramah lingkungan

Iklim memang mengisi ruang hidup kita baik secara individu maupun sosial, maka tidak mungkin menegakkan keadilan iklim tanpa melibatkan kesadaran dan komitmen semua pihak. Bahwa tidak bisa dibantah, kita hidup dalam ekosistem dunia “perahu” yang sama, sehingga jika ada bagian yang bocor dan tidak seimbang, sebenarya ini merupakan ancaman bagi seluruh isi perahu dan penumpangnya. Maka merevolusi gaya hidup kita untuk tidak makin konsumtif sangat mendasar dilakukan sekarang juga oleh seluruh umat manusia. Sebab dengan begitu kita bisa menempatkan apa yang kita butuhkan bisa ditunda tidak, yang harus kita beli membawa manfaat atau tidak dan apakah yang kita beli bisa digantikan oleh barang yang lain yang ramah lingkungan? Selamat hari lingkungan hidup sedunia. Mari bertindak nyata untuk masa depan bersama.

Mencintai Rasul Sebagai Benteng Menghadapi Aliran Sesat

Al-Qiyadah Al-Islamiyah tentu bukan kata yang asing di telinga kita. Sebulan terakhir ini kita mendengar kata ini disebut di televisi dan radio, ditulis di surat kabar, internet, koran dan tabloid, disebut dalam diskusi-diskusi kelompok masyarakat kita. Penyelewengan selalu menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Seperti halnya penyelewengan dalam masalah rumah tangga, penyelewengan ajaran agama menjadi hal yang dengan sangat cepat meroket, menempati chart tertinggi dalam setiap pembahasan. Majelis Ulama Indonesia telah menyatakan bahwa Al-Qiyadah merupakan aliran sesat. Hal ini dilakukan setelah pengkajian terhadap beberapa pokok dan sumber ajarannya. Hal utama aliran ini dinyatakan sesat karena telah mengingkari Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul terakhir. Ahmad Mozadeq sebagai pengembang ajaran ini mengklaim dirinya sebagai Rasul, setelah Muhammad. Pengakuan ini dituangkan dalam perubahan Syahadat mereka menjadi, “Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah, wa asyhadu anna Ahmad Mozadeq Rasullullah”. Bukankah ini adalah penghianatan terhadap ajaran Islam murni yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai khatamunnabiyyin (penutup para nabi)? Apakah kita siap menghadap kepada Allah sebagai pengkhianat Islam?
Ajaran sesat ini tentu menimbulkan kegeraman dari berbagai kalangan umat Islam. Terutama pada kalangan radikal seperti FPI dan berbagai forum religius yang akhirnya dengan berani mengambil sikap keras yang berujung tindakan kriminal pada setiap pengikut aliran sesat. Tak ayal lagi, pengrusakan dan penghakiman dilakukan oleh massa terhadap person-person yang dianggap ikut andil dalam penyebaran ajaran sesat ini.

Fenomena aliran sesat sebenarnya telah sejak lama membumi di tanah air kita ini. Beberapa diantaranya yang mencuat dan mendapat kecaman keras adalah aliran Ahmadiyah, Al-Qur’an Suci dan Al-Qiyadah. Mereka berkembang secara underground, dengan pengikut yang kadang tersebar di berbagai daerah. Hingga akhirnya ketika muncul ke permukaan, akan langsung mendapat kecaman keras dari umat Islam.
Beberapa pakar telah menyebutkan bahwa rata-rata aliran sesat yang muncul memiliki berbagai kesamaan, diantaranya adalah :
Aliran yang berkembang memiliki pemimpin yang kharismatik. Pemimpin yang mengaku sebagai nabi ini adalah orang yang sangat peduli terhadap sesamanya, apalagi terhadap kader rekrutannya. Hal ini memudahkan baginya untuk mempengaruhi dan mendoktrin setiap orang untuk masuk dan ikut dalam ajarannya. Beberapa pengikut aliran sesat berkata, sejarah penyebaran ajaran ini sama persis dengan sejarah yang terjadi pada masa Nabi Muhammad. Nabi mereka akan diusir, dikucilkan, dilempari batu. Sehingga dengan kharisma yang dimiliki, pemimpin akan tetap mampu mengembangkan ajarannya meskipun berbagai pihak, termasuk pemerintah, memberikan peringatan dan ancaman. Hal ini juga sebenarnya tidak terlepas dari kondisi masyarakat yang sedang mengalami tekanan. Baik itu tekanan ekonomi akibat desakan kebutuhan, tekanan psikologis akibat perubahan gaya hidup yang sangat cepat, ataupun tekanan akibat masalah politik negara yang berpengaruh pada semua lini hidup.
Orang yang direkrut menjadi anggota aliran sesat rata-rata memiliki tingkat pemahaman agama rendah. Ya, tentu saja hal itu benar. Bukankah Al-Qur’an telah memerintahkan kita untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah? Kaffah yang berarti ber-Islam dalam setiap gerakan. Islam dalam Aqidah, Islam dalam ekonomi, Islam dalam Pendidikan, Islam dalam pergaulan, dan Islam semuanya. Rasul telah meninggalkan dua pedoman hidup yang akan menyelamatkan kita dari kesesatan. Al-Qur’an dan Hadits. Pemahaman yang total terhadap sumber ajaran ini akan membawa kita kepada keselamatan, dunia dan akhirat. Sedangkan pemahaman yang setengah-setengah terhadap sumber ajaran ini tentu akan memberikan resiko sebaliknya. Muslim yang memiliki pengetahuan setengah-setengah tentang Islam akan sangat mudah untuk diselewengkan akidahnya. Dalam kasus Al-Qiyadah, kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut : bukankah telah sangat jelas dipaparkan bahwa setiap Rasul memiliki mu’jizat yang diberikan oleh Allah sebagai bukti bahwa ia benar-benar Rasul? Jika memang Ahmat Mozadeq adalah Rasul, apa mu’jizat yang dibawanya? Apakah mu’jizatnya lebih besar dibanding Al-Qur’an?
Dalam aliran sesat, terdapat pemusatan dan otoriterisasi kebijakan pada pemimpin. Pemimpin bebas memerintahkan apa saja bagi pengikutnya, sesuai yang dituangkan dalam Anggaran Dasarnya. Al-Qiyadah Al-Islamiyah telah mewajibkan pemeluknya untuk menyerahkan sebagian hartanya kepada pemimpin. Dengan dalih sebagai sedekah, pengikut menyerahkan beberapa kendaraan. Bahkan yang lucu, bagi pengikut yang berhasil mengajak 40 orang ke dalam aliran ini, akan mendapatkan sebuah sepeda motor. Apakah ini tidak lebih dari sekedar arisan? Keadaan ekonomi masyarakat rupanya tak pernah dapat dilepaskan dari masalah akidah. Sebagaimana yang pernah ditegaskan oleh Rasul :
“dan kefakiran itu lebih dekat kepada kekufuran”
Yang sangat menarik dari kajian aliran sesat ini adalah pandangan yang mengemukakan bahwa aliran sesat merupakan operasi intelijen yang dilakukan untuk memecah suara umat Islam dalam Pemilu yang akan diadakan beberapa tahun ke depan. Pada Pemilu sebelumnya, fenomena aliran sesat juga muncul bertubi-tubi. Bagaimana tidak, dengan munculnya aliran-aliran baru dalam Islam, umat akan bingung kemana mesti memberikan dukungan. Tentu saja hal ini dikhususkan bagi komunitas muslim yang tidak cukup memiliki pegangan kuat berpolitik. Bagi muslim yang hanya ber-Islam dalam KTP. Bagi muslim yang shalat mungkin hanya seminggu sekali, atau setahun dua kali. Dalam ruang lingkup yang universal, pecahnya suara umat akan berpengaruh pada posisi nomor satu di negeri ini, Presiden. Jika presiden kita bukan muslim, akankah ada wadah bagi setiap aspirasi yang diberikan warga muslim?
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah : Bagaimana menghindarkan diri dari berbagai ajaran sesat?
Selama kita berpegang pada rukun Iman dan rukun Islam, maka kita tidak akan pernah terjerumus dalam ajaran sesat yang tak jelas asal muasal dan ujungnya. Salah satu jalannya adalah dengan mencintai Rasulullah. Rasul yang kita percayai ajarannya, sehingga hati kita teguh dalam ber-Islam. Dengan mencintai Rasul, maka kita akan mendapatkan ketenangan dalam menjalankan ajaran Islam. Secara Kaffah.
Beberapa cara mencintai Rasul adalah sebagai berikut :
Meyakini dengan penuh tanggung jawab akan kebenaran Nabi Muhammad dan apa yang dibawa oleh beliau. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menandaskan tentang ciri orang bertaqwa:
“Dan orang-orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (Az-Zumar : 33).
Ikhlas mentaati Rasul Shallallaahu alaihi wa Sallam dengan melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam . Sebagaimana janji Allah :
“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (An-Nuur: 54).
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (An-Nisaa’: 65).
Mencintai beliau, keluarga, para sahabat dan segenap pengikutnya. Rasulullah bersabda:
“Tidaklah beriman seseorang (secara sempurna)sehingga aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Membela dan memperjuangkan ajaran Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam serta berda’wah demi membebaskan ummat manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari ke zhaliman menuju keadilan, dari kebatilan kepada kebenaran, serta dari kemaksiatan menuju ketaatan. Sebagaimana firman di atas :
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (Al-A’raaf: 157).
Meneladani akhlaq dan kepemimpinan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam dalam setiap amal dan tingkah laku, itulah petunjuk Allah:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah”. (Al-Ahzab:21).
Memuliakan dengan banyak membaca shalawat salam kepada beliau terutama setelah disebut nama beliau.
“Merugilah seseorang jika disebut namaku padanya ia tidak membaca shalawat padaku.” (HR. At-Tirmidzi)
Waspada dan berhati-hati dari ajaran-ajaran yang menyelisihi ajaran Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam seperti waspada dari syirik, tahayul, bid’ah, khurafat, itulah pernyataan Allah :
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi ajaran Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (An-Nur: 63).
Mensyukuri hidayah keimanan kepada Allah dan RasulNya dengan menjaga persatuan umat Islam dan menghindari perpecahan dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-shahihah. Itulah tegaknya agama:
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah karenanya”. (Asy-Syura: 13).
Sebagai kesimpulan dari artikel ini adalah : pemahaman yang total terhadap ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. adalah satu-satunya jalan menghindarkan diri dari kesesatan yang terjadi. Baik itu kesesatan secara parsial (sebagian) ataupun kesesatan secara universal (menyeluruh). Untuk mengenali sesuatu yang asli, kita tentu harus mengetahui sesuatu yang palsu. Begitu juga sebaliknya. Asli dan palsu dibedakan dari esensi yang dikandung, bukan dari kulit luar. Islam yang dibawa Rasul Muhammad Saw. adalah agama paripurna yang telah mengatur seluruh kepentingan umatnya, yang mengajak umatnya menjadi umat terbaik, yang mengajak umatnya memakmurkan bumi, yang meletakkan maslahah di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Mari kita buka hati untuk menerima Hidayah dari-Nya. Semoga Allah tetap memberikan kekuatan pada kita untuk tetap pada Islam yang benar, yang dibawa oleh Rasul junjungan kita 1600 tahun lalu. Semoga kita akan bertemu dengan Rasulullah di Padang Mahsyar dengan pengakuan sebagai umatnya, mendapatkan syafaatnya. Amin

Oleh : Muhammad Zainal Abidin
Penulis adalah Mahasiswa UIN Alauddin Makassar

Ketika kerudung di ganti dengan kresek

Ketika melihat film India, mereka rata-rata memakai kerudung, ketika melihat orang-orang timur tengah entah Islam, Kristen atau Nasrani mereka juga rata-rata memakai kerudung, bunda Maria juga memakai kerudung, para pendeta perempuan (aku lupa namanya) juga memakai kerudung, orang Yahudi ortodoks juga memakai kerudung, hal yang kemudian membikin bingung dalam mempersepsikan kerudung adalah apakah kerudung itu adalah sebuah budaya atau memang ajaran agama. Kenapa harus pake kerudung ??
Terlepas dari perdebatan apakah kerudung adalah budaya atau ajaran agama, penulis mencoba mengambil kesimpulan bahwa secara substansial keberadaaan fungsi kerudung tidak lain hanya sebatas untuk menutupi aurat (baca : organ yang bikin merangsang) ketika di pandang dalam perspektif agama, supaya orang yang melihatnya tidak terangsang atau yang memakainya tidak menjual ransangan, supaya tidak membikin otak lelaki tambah kotor atau mengantisipasi perbuatan-perbuatan anarkisme biologis, dengan kata lain hanya sebatas untuk jaminan keamanan bagi seorang perempuan, ketika perempuan mengumbar organ yang bikin merangsang yang pasti sama juga dia mengundang reaksi anarkhisme seksual (ngeri banget bahasanya) ada yang menggunakan cara yang soft dengan rayuan-rayuan mautnya, ada juga yang main kasar dengan memaksanya dan ada juga yang memang menjadikan sebuah ideologi (baca : freesex) untuk mengesahkan kebebasan menikmati keindahan. Ketika mata ini melihat yang indah-indah tentunya akan ada hasrat atau keinginan untuk merasakan keindahan tersebut. Sangat naluriah bagi manusia ketika melihat yang indah atau yang memikat maka kemudian mereka akan mempunyai kecenderungan untuk lebih tahu dan lebih tahu. entah dengan cara merasakan, secara langsung (membeli sate) atau tidak langsung (pake sabun, yang ini ma g sehat hoe) ketika sang pecinta lukisan sangat tertarik dengan sebuah lukisan, maka orang tersebut pasti akan membelinya ketika lukisan itu di jual dengan harga berapapun, karena dia suka, dan apakah dia salah ketika dia mencintai lukisan dan ingin memilikinya yang kemudian dia punyak kebebasan untuk menikmatinya kapan pun dia mau ??

Dalam perspektif penikmat keindahan (baca : organ seksi) sebenarnya indah atau tidak, seksi atau tidak, merangsang atau tidak sangat tergantung dari suasana pikirannya, sangat tergantung dari persepsinya, ketika otak ini sedang kotor maka apapun bentuk orangnya, apapun bentuk penutupnya, otak tetap kotor dan ngeres, dalam otak bukan lagi soal keindahan tetapi sudah bagaimana menikmati keindahan tersebut, ketika penikmat lukisan tahun bahwa karya lukisan di pameran sangat indah kemungkinan banyak mereka akan membelinya, tidak menjadi soal harga mahal atau murah karena sudah terlanjur suka (ini soal perasaan dan kepuasan kawan!!)
Kalau yang menjadi masalah adalah menutupi aurat dengan maksud untuk menutupi organ seksi supaya orang tidak berfikir kotor dan akhirnya jangan sampai berbuat yang kotor-kotor, apakah kerudung adalah satu-satunya perangkat untuk menutupi aurat, apakah kerudung adalah satu-satunya jalan untuk mengurangi otak kotor, mengurangi pikiran-pikiran yang lagi ngeres, kalau jawabannya bukan berarti bisa kita menyimpulkan bahwa kerudung adalah sebuah kebudayaan, sebuah budaya orang-orang timur tengah yang kemudian di bawa ke Asia kecil (india) dan mereka (orang india) mengikutinya. (gitu ya…??)
Secara substansial ketika kerudung berfungsi untuk mengantisipasi otak-otak yang kotor, mengurangi kekerasan-kekerasan penikmat keindahan perempuan dalam pespektif faham materialisme itu “iya” bahwa persepsi (baca : pengetahuan) itu berasal dari inderawi, ketika yang di lihat sudah tertutupi kerudung dan kerudung seharusnya (dalam paham ini) mereka tidak berfikiran kotor. Tetapi dalam perspektif faham idealisme, bahwa otak kotor itu berasal dari fikiran dan fikiran itu adalah alam ide yang lebih awal ada, artinya sebelum ada orang memakai kerudung, otak kotor sudah ada dalam alam ide, sehingga memakai atau tidak berarti sama saja, karena otak ini sudah membentuk persepsi-persepsi terhadap alam materiil. Apapun bentuknya kalau otak sudah kotor ya tetap kotor. Karena alam ide tidak terpengaruhi oleh alam materiil.

Ketika kerudung jadi produk pasar
Penduduk Indonesia mayoritas Islam, dan lebih banyak perempuannya, sampai saat ini kerudung tetap menjadi simbol kaum muslimat, dalam perspektif orang berdagang, jualan kerudung tentu sangat prospektif, pasar kerudung sangat potensial untuk menghasilkan laba sebanyak-banyaknya. Dan tentunya mereka (baca : Pengusaha) sudah membacanya bahkan berjualan kerudung di pasar.
Sehingga saat ini kita sering melihat berbagai iklan menayangkan orang-orang dengan memakai kerudung, berbagai artis dengan gosipnya tetapi memakai kerudung, penyanyi dengan lagu dangdutnya juga memakai kerudung, sinetron yang berbau seksual juga pake kerudung, dan banyak media-media lain yang selalu tidak lepas dari kerudung. Ada kerudung yang model inilah itulah, yang minimalis, yang islamis, yang gaul yang seksi dan yang-yang lainnnya
Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa ini menjadi sebuah trend (baca : budaya pop) apakah memang semua orang mulai sadar dengan Islamnya atau memang kerudung menambah seksi??
Dalam perspektif ilmu pemasaran, munculnya kerudung di berbagai media, ini adalah sebuah strategi penguatan pasar dalam rangka untuk membentuk konsumen tetap pasar kerudung. Ada yang menggunakan artis top, ada yang menggunakan da,i top, ada yang menggunakan artis gaul itu adalah sekian strategi untuk memaksimalkan semua segmen pasar. Dengan berbagai macam kerudung yang di ciptakan produsen mencoba untuk memasuki semua segeman pasar.
Sedangkan dalam perspektif analisa media, keberadaan sebuah trend /isu itu tidak bisa datang dengan sendirinya (an sich). Keberadaan isu pasti membawa sebuah maksud tertentu, dalam konteks ini kemudian (perpektif dagang) kita bisa membaca bahwa trend setter kerudung tidak datang dengan sedirinya, tidak datang atas kesadaran masyarakat akan kerudung tetapi lebih bermotiv profit oriented (mencari laba) yang kemudian tanpa sadar keberadaan kerudung tidak lebih sebagai barng pasar dan keberadaan dalil-dalilnya tidak jauh dari strategi memasuki pasar yang akhirnya berujung dengan profit. Astaghfirulloh
Al hasil kerudung menjadi sebuah produk dagangan, bukan lagi berbicara soal menutupi aurat atau tidak, bukan lagi berbicara soal mengantisipasi para penikmat keindahan, tetapi hari ini berbicara soal kerudung (kontekstual) berarti sama dengan membantu orang menjual barang dagangannya.
Ketika dompet kempes dan sang cewek minta kerudung dan ternyata kerudung tidak ada yang murah harganya saya hanya bisa bilang Jancooook-Jancok, karena kalau tidak di belikan akan di anggap tidak Islami dan pada kemungkinan besar saat itu juga gw di putus……, hanya dengan satu alasan gw di anggap orang muslim tapi tida tau Islam, memang hebat cewekku ini, di ajak menikmati keindahan dunia (terserah kawan-kawan mengartikan) dia oke banget tetapi masih konsisten memakai kerudung, apakah ini sterategi untuk menutupi bunga yang sudah layu atau memang dia mematuhi Ajaran dari keyakinannya.
Saya tidak bisa membayangkan ketika ada seorang anak kecil yang meminta kerudung kepada ayahnya, kalau tidak di turuti nanti di anggap Muslim yang tidak ngerti Islam, kalau di turuti berarti dia tidak bisa membayar sekolah anaknya, kok kerudung tambah bikin susah sih…….. (mungkin….)
Penulis hanya bisa mengandaikan alangkah indahnya ketika kerudung di ganti dengan plastik kresek (plastik kantongan warna hitam) selain murah, palstik kresek yang di gunakan sebagai kerudung tidak akan mengundang otak kotor, secara substansial berarti tepat menggantikan fungsi kerudung dan di bisa di beli oleh semua kalangan.
Entahlah………………

Makhrus habibi

Masyarakat Madani Indonesia


Masyarakat madani jika dipahami secara sepintas merupakan format kehidupan alternatif yang mengedepankan semangat demokrasi dan menjunjung tinggi nilai-nilai hak manusia. Hal ini diberlakukan ketika negara sebagai penguasa dan pemerintah tidak bisa menegakkan demokrasi dan hak-hak asasi manusia dalam menjalankan roda kepemerintahannya. Di sinilah kemudian konsep masyarakat madani menjadi alternatif pemecahan, dengan pemberdayaan dan penguatan daya kontrol masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang pada akhirnya nanti terwujud kekuatan masyarakat sipil yang mampu merealisasikan dan menegakkan konsep hidup yang demokratis dan menghargai hak-hak asasi manusia.
Sosok masyarakat madani bagaikan barang antik yang memiliki daya tarik amat mempesona. Kehadirannya yang mampu menyemarakkan wacana politik kontemporer dan meniupkan arah baru pemikiran politik, bukan dikarenakan kondisi barangnya yang sama sekali baru, melainkan disebabkan tersedianya momentum kondusif bagi pengembangan masyarakat yang lebih baik.
Berbicara mengenai kemungkinan berkembangnya masyarakat madani di Indonesia diawali dengan kasus-kasus pelanggaran HAM dan pengekangan kebebasan berpendapat, berserikat dan kebebasan untuk mengemukakan pendapat di muka umum kemudian dilanjutkan dengan munculnya berbagai lembaga-lembaga non pemerintah yang mempunyai kekuatan dan bagian dari social control. Sejak zaman Orde Lama dengan rezim Demokrasi Terpimpinnya Soekarno, sudah terjadi manipulasi peran serta masyarakat untuk kepentingan politis dan terhegemoni sebagai alat legitimasi politik. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan kegiatan dan usaha yang dilakukan oleh anggota masyarakat dicurigai sebagai kontra-revolusi. Fenomena tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa di Indonesia pada masa Soekarno pun mengalami kecenderungan untuk membatasi gerak dan kebebasan publik dalam mengeluarkan pendapat.

Sampai pada masa Orde Baru pun pengekangan demokrasi dan penindasan hak asasi manusia kian terbuka seakan menjadi tontonan gratis yang bisa dinikmati oleh siapapun untuk segala usia. Hal ini dapat dilihat dari berbagai contoh kasus pada masa orde baru berkembang. Misalnya kasus pemberedelan lembaga pers, seperti AJI, DETIK dan TEMPO. Fenomena ini merupakan sebuah fragmentasi kehidupan yang mengekang kebebasan warga negara dalam menyalurkan aspirasi di muka umum, apalagi ini dilakukan pada lembaga pers yang nota bene memiliki fungsi sebagai bagian dari social control dalam menganalisa dan mensosialisasikan berbagai kebijakan yang betul-betul merugikan masyarakat.
Selain itu, banyak sekali terjadi pengambilalihan hak tanah rakyat oleh penguasa dengan alasan pembangunan, juga merupakan bagian dari penyelewengan dan penindasan hak asasi manusia, karena hak atas tanah yang secara sah memang dimiliki oleh rakyat, dipaksa dan diambil alih oleh penguasa hanya karena alasan pembangunan yang sebenarnya bersifat semu. Di sisi lain, pada era orde baru banyak terjadi tindakan-tindakan anarkisme yang dilakukan oleh masyarakat sendiri. Hal ini salah satu indikasi bahwa di Indonesia – pada saat itu – tidak dan belum menyadari pentingnya toleransi dan semangat pluralisme.
Melihat itu semua, maka secara esensial Indonesia memang membutuhkan pemberdayaan dan penguatan masyarakat secara komprehensif agar memiliki wawasan dan kesadaran demokrasi yang baik serta mampu menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia. Untuk itu, maka diperlukan pengembangan masyarakat madani dengan menerapkan strategi pemberdayaannya sekaligus agar proses pembinaan dan pemberdayaan itu mencapai hasilnya secara optimal.
Dalam hal ini, menurut Dawam ada tiga (3) strategi yang salah satunya dapat digunakan sebagai strategi dalam memberdayakan masyarakat madani di Indonesia.
Strategi yang lebih mementingkan integrasi nasional dan politik. Strategi ini berpandangan bahwa sistem demokrasi tidak mungkin berlangsung dalam masyarakat yang belum memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang kuat. Bagi penganut paham ini pelaksanaan demokrasi liberal hanya akan menimbulkan konflik, dan karena itu menjadi sumber instabilitas politik. Saat ini yang diperlukan adalah stabilitas sebagai landasan pembangunan, karena pembangunan – lebih banyak yang terbuka terhadap perekonomian global – membutuhkan resiko politik yang minim. Dengan demikian persatuan dan kesatuan bangsa lebih diutamakan dari demokrasi.
Strategi yang lebih mengutamakan reformasi sistem politik demokrasi. Strategi ini berpandangan bahwa untuk membangun demokrasi tidak usah menunggu rampungnya tahap pembangunan ekonomi. Sejak awal dan secara bersama-sama diperlukan proses demokratisasi yang pada esensinya adalah memperkuat partisipasi politik. Jika kerangka kelembagaan ini diciptakan, maka akan dengan sendirinya timbul masyarakat madani yang mampu mengontrol terhadap negara.
Strategi yang memilih membangun masyarakat madani sebagai basis yang kuat ke arah demokratisasi. Strategi ini muncul akibat kekecewaan terhadap realisasi dan strategi pertama dan kedua. Dengan begitu strategi ini lebih mengutamakan pendidikan dan penyadaran politik, terutama pada golongan menengah yang makin luas.
Ketiga model strategi pemberdayaan masyarakat madani tersebut dipertegas oleh Hikam bahwa di era transisi ini harus dipikirkan prioritas-prioritas pemberdayaan dengan cara memahami target-target grup yang paling strategi serta penciptaan pendekatan-pendekatan yang tepat dalam proses tersebut. Untuk keperluan itu, maka keterlibatan kaum cendekiawan, LSM, ormas sosial dan keagamaan dan mahasiswa adalah mutlak adanya, karena merekalah yang memiliki kemampuan dan sekaligus aktor pemberdayaan tersebut.
Konsepsi ini dipercaya lagi dengan opini Hannah Arrendt dan Juergen Habermas yang menekankan ruang publik yang bebas (the free public sphere). Karena adanya ruang publik yang bebaslah, maka individu (warga negara) dapat dan berhak melakukan kegiatan secara merdeka dalam menyampaikan pendapat, berserikat, berkumpul serta mempublikasikan penerbitan yang berkenaan dengan kepentingan yang lebih luas. Dan institusionalisasi dari ruang publik ini adalah ditandai dengan lembaga-lembaga volunteer, media massa, sekolah, partai politik, sampai pada lembaga yang dibentuk oleh negara tetapi berfungsi sebagai lembaga pelayanan masyarakat.

KARAKTERISTIK Masyarakat MADANI
Penyebutan karakteristik masyarakat madani dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa dalam merealisasikan wacana masyarakat madani diperlukan prasyarat-prasyarat yang menjadi nilai universal dalam penegakan masyarakat madani. Prasyarat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain atau hanya menjadi salah satunya saja, melainkan merupakan satu kesatuan yang integral menjadi dasar dan nilai bagi eksistensi masyarakat madani. Karakteristik tersebut antara lain adalah Free Public Sphere, Demokratis, Toleransi, Pluralisme, Keadilan Sosial (Social Justice) dan Berkeadaban.
FREE PUBLIC SPHERE
Yang dimaksud dengan free public sphere adalah adanya ruang publik yang bebas sebagai sarana dalam mengemukakan pendapat. Pada ruang publik yang bebas lah individu dalam posisinya yang setara mampu melakukan transaksi-transaksi wacana dan praksis politik tanpa mengalami distorsi dan kekhawatiran. Aksentuasi prasyarat ini dikemukakan oleh Arendt dan Habermas. Lebih lanjut dikatakan bahwa ruang publik secara teoritis bisa diartikan sebagai wilayah dimana masyarakat sebagai warga negara memiliki akses penuh terhadap setiap kegiatan publik. Warga negara berhak melakukan kegiatan secara merdeka dalam menyampaikan pendapat, berserikat, berkumpul serta mempublikasikan informasi kepada publik.
Sebagai sebuah prasyarat, maka untuk mengembangkan dan mewujudkan masyarakat madani dalam sebuah tatanan masyarakat, maka free public sphere menjadi salah satu bagian yang harus diperhatikan. Karena dengan menafikan adanya ruang publik yang bebas dalam tatanan masyarakat madani, maka akan memungkinkan terjadinya pembungkaman kebebasan warga negara dalam menyalurkan aspirasinya yang berkenaan dengan kepentingan umum oleh penguasa yang tiranik dan otoriter.
DEMOKRATIS
Demokratis merupakan satu entitas yang menjadi penegak wacana masyarakat madani, dimana dalam menjalani kehidupan, warga negara memiliki kebebasan penuh untuk menjalankan aktivitas kesehariannya, termasuk dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Demokratis berarti masyarakat dpat berlaku santun dalam pola hubungan interaksi dengan masyarakat sekitarnya dengan tidak mempertimbangkan suku, ras dan agama. Prasyarat demokratis ini banyak dikemukakan oleh para pakar yang mengkaji fenomena masyarakat madani. Bahkan demokrasi merupakan salah satu syarat mutlak bagi penegakan masyarakat madani. Penekanan demokrasi (demokratis) di sini dapat mencakup sebagai bentuk aspek kehidupan seperti politik, sosial, budaya, pendidikan, ekonomi dan sebagainya.
TOLERAN
Toleran merupakan sikap yang dikembangkan dalam masyarakat madani untuk menunjukkan sikap saling menghargai dan menghormati aktivitas yang dilakukan oleh orang lain. Toleransi ini memungkinkan akan adanya kesadaran masing-masing individu untuk menghargai dan menghormati pendapat serta aktivitas yang dilakukan dalam kelompok masyarakat lain yang berbeda. Toleransi – menurut Nurcholis Madjid – merupakan persoalan ajaran dan kewajiban melaksanakan ajaran itu. Jika toleransi menghasilkan adanya tata cara pergaulan yang “enak” antara berbagai kelompok yang berbeda-beda, maka hasil itu harus dipahami sebagai “hikmah” atau “manfaat” dari pelaksanaan ajaran yang benar.
Azyumardi Azra pun menyebutkan bahwa masyarakat madani (civil society) lebih dari sekedar gerakan-gerakan pro demokrasi. Masyarakat madani juga mengacu ke kehidupan yang berkualitas dan tamaddun (civility). Civilitas meniscayakan toleransi, yakni kesediaan individu-individu untuk menerima pandangan-pandangan politik dan sikap politik yang berbeda.
PLURALISME
Sebagai sebuah prasyarat penegakan masyarakat madani, maka pluralisme harus dipahami secara mengakar dengan menciptakan sebuah tatanan kehidupan yang menghargai dan menerima kemajemukan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Pluralisme tidak bisa dipahami hanya dengan sikap mengakui dan menerima kenyataan masyarakat yang majemuk, tetapi harus disertai dengan sikap yang tulus untuk menerima kenyataan pluralisme itu sebagai bernilai positif, merupakan rahmat Tuhan.
Menurut Nurcholis Madjid, konsep pluralisme ini merupakan prasyarat bagi tegaknya masyarakat madani. Pluralisme menurutnya adalah pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine engagement diversities within the bonds of civility). Bahkan pluralisme adalah juga suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan (check and balance).
Lebih lanjut Nurcholis mengatakan bahwa sikap penuh pengertian kepada orang lain itu diperlukan dalam masyarakat yang majemuk, yakni masyarakat yang tidak monolitik. Apalagi sesungguhnya kemajemukan masyarakat itu sudah merupakan dekrit Allah dan design-Nya untuk umat manusia. Jadi tidak ada masyarakat yang tunggal, monolitik, sama dan sebangun dalam segala hal.
KEADILAN SOSIAL
Keadilan dimaksudkan untuk menyebutkan keseimbangan dan pembagian yang proporsional terhadap hak dan kewajiban setiap warga negara yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Hal ini memungkinkan tidak adanya monopoli dan pemusatan salah satu aspek kehidupan pada satu kelompok masyarakat. Secara esensial, masyarakat memiliki hak yang sama dalam memperoleh kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah (penguasa).
KESIMPULAN

Di Indonesia tema masyarakat madani mengalami penerjemahan yang berbeda-beda dengan sudut pandang yang berbeda pula, seperti masyarakat madani sendiri, masyarakat sipil, masyarakat kewargaan, masyarakat warga, dan civil society (tanpa dijelaskan).
Untuk itu marilah kita jangan salah mengartikan semua masyarakat yang disebutkan di atas, tetapi marilah kita mencoba mengartikan dengan sebaik-baiknya.

Posted By : Bidin

Kekerasan dalam Pendidikan dan Warisan Kolonial

(oleh Rahmat Hidayat)

“…pendidikan harus menanamkan tanggung jawab, kehormatan, tetapi tanpa menjadi beo atau bebek; anak harus dipimpin supaya berdiri sendiri…”
(Driyakara, 2006:422)

Di tengah budaya masyarakat Indonesia, hukuman fisik adalah suatu yang sangat wajar dan masih banyak para orang tua atau para pendidik yang dalam memberikan hukuman fisik. Seorang teman yang menceritakan pengalaman traumatisnya, dari pengalamannya seorang teman yang pernah mendapatkan hukuman fisik, pada suatu hari saat guru mengajarkan suatu pelajaran tertentu, sang murid disuruh maju kedepan untuk mengerjakan soal yang diberikan oleh guru, setelah mengerjakan soal dan diperiksa oleh guru ternyata jawabannya salah semua, tanpa berpikir panjang guru langsung memberi hukuman dengan memukulkan kayu rotan dipunggungnya. Dari pengalaman diatas hanya sebagian kecil saja yang terjadi di Indonesia.
Suatu data menyebutkan sepanjang kwartal pertama 2007 terdapat 226 kasus kekerasan terhadap anak di sekolah. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan kwartal yang sama tahun lalu yang berjumlah 196. Ketua Umum Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Seto Mulyadi mengatakan selama Januari-April 2007 terdapat 417 kasus kekerasan terhadap anak. Rinciannya, kekerasan fisik 89 kasus, kekerasan seksual 118 kasus, dan kekerasan psikis 210 kasus. Dari jumlah itu 226 kasus terjadi di sekolah, ujar Seto Mulyadi dalam diskusi di Jakarta.
Dan kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kekerasan fisik masih saja terjadi?dan bagaimana dampaknya terhadap anak?
pandangan penulis hukuman fisik yang adalah warisan budaya colonial, sejarah pendidikan colonial sangat berpengaruh, yakni pendidikan colonial disini membangun pola pendidikan tradisional yang melegitimasikan aksi hukuman fisik, berupa suatu tindakan yang menyakiti secara fisik dengan tujuan untuk menekan perilaku negatif seorang anak atau orang lain. Dengan menggunakan metode itu dipercaya bahwa perilaku positif anak akan terbentuk. Warisan ini dapat di identifikasi pada saat penjajahan belanda yang banyak sekali menggunakan hukuman fisik sebagai bentuk hukuman yang paling mujarab. Tipologi pendidikan warisan belanda semcam ini sampai sekarang bahkan masih aktif digunakan secara terbuka di tengah masyarakat. Hal ini dapat kita ketahui juga lebih lanjut dengan melihat bahwa pada kenyataanya identitas-identitas budaya yang dijajah dan penjajah secara konstan bercampur atau bersilangan. Dengan melihat ungkapan dari Frantz Fanon seorang pakar tentang kolonailisme mengatakan bahwa kolonalisme diartikan sebagai penonmanusiawian (dehumanization) rakyat di daerah koloni. Orang-orang yang dijajah tidak diperlakukan sebagai manusia, tetapi lebih kepada benda. Jelasalah bahwa ternyata begitu besar pengaruh dari kolonialisme. Colonial jaman belanda kental dengan perbudakan yakni dengan melihat adanya legitimasi majikan untuk menghukum budak bila melakukan kesalahan, adanya nilai superior dan inferior dalam pengambilan keputusan seorang majikan tidak memperhitungkan nilai-nilai demokratis. Budaya majikan disini jelas mempunyai kewibawaan dan status social yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Kalau melihat realiatas sekarang akar kekerasan tersebut masih ada, seperti dengan halnya guru menghukum muridnya, posisi orang tua dalam mendidik anak dalam keluarga, golongan ningrat yang melakukan kekerasan terhadap budak dan pejabat pemerintahan menekan rakyatnya, yang juga memiliki legitimasi untuk menerapkan penghakiman dan distribusi sanksi sepihak tanpa proses demokrasi.
Dalam proses pendidikan tampaklah sebuah proses pemberian hak khusus kepada segolongan masyarakat tertentu (guru, orang tua atau yang dituakan). Driyarkara menyebutkan sebagai kecenderungan pendidikan yang stato-centris, dimana guru dijadikan sebagai pengontrol (controleur). Apa yang dilakukan anak akan menjadi benar bilamana sesuai dengan yang diharapakan orang lebih dewasa. Kalau melihat pemikiran dari Eric Fromm yang mengatakan bahwa “ketakutan” sebagai akar dari kekerasan”, jadi jelaslah bahwa akar kekerasan dalam pendidikan ialah ketakutan yang muncul dari dalam diri seorang pendidik ketika secara eksistensial berhadapan dengan seorang anak didiknya. Jadi dalam bahasa sederhananya para pendidik harus ditakuti oleh muridnya, mahasiswa harus takut ke dosen, guru harus ditakuti oleh mudirdnya.

Dampaknya terhadap psikologis
Pengalaman masa lalu adalah salah satu tipologi psikologis dari seorang anak, jadi pengalaman masa lalu yang pernah didapatkan seorang anak baik kekerasan fisik, kekerasan mental, dan beberapa pengalaman pahit dialami semasa kecil akan terus berdampak pada saat dewasa. Dalam bukunya A Child Caled It, Dave Pelzer mengungkapkan tentang bagaimana kondisi psikologis dirinya merupakan pembentukan berdasarkan pengalaman psikologisnya di masa kanak-kanak. Dave menceritakan bagaimana kisah-kisah kekerasan yang dialaminya semasa kecil telah membentuknya sebagai pribadi yang “pincang”. Kekeresan selalu “melahirkan kekerasan”. Disadari atau tidak apa yang dilakukan dalam pendidikan tradisional telah membentuk psikologi sosial masyarakat Indonesia yang saat ini masih banyak dengan tindakan kekerasan dalam komunitas sekolah seperti perilaku guru terhadap murid, kakak kelas terhadap adik kelas (senior dan junior), dll.
Dampak yang akan muncul dari kekerasan akan melahirkan pesimisme dan apatisme dalam sebuah generasi. Selain itu terjadi proses ketakutan dalam diri anak untuk menciptakan ide-ide yang inovatif dan inventif. Kepincangan psikologis ini dapat dilihat pada gambaran anak-anak sekolah saat ini yang cenderung pasif dan takut berbicara dimuka kelas. Sedangkan dalam keluarga, anak yang sering diberi hukuman fisik akan mengalami gangguan psikologis dan akan berperilaku lebih banyak diam dan selalu menyendiri selain itu terkadang melakukan kekerasan yang sama terhadap teman main atau ke orang lain.

Peran orang tua dan guru
Kurikulum apapun yang mencoba membangun generasi yang proaktif dan optimis tidak akan pernah efektif mencapai tujuannya apabila system hukuman fisik masih diimplementasikan dalam dunia pendidikan sekolah. Untuk itu ada solusi yang akan ditawarkan. Yakni adanya reposisi orang tua dalam mendidik anak dalam keluarga dan guru dalam mendidik murid di sekolah. Reposisi ini berupa perubahan signifikan pada paradigma masyarakat yang masih sering menggunakan hukuman fisik dalam mendidik. Selain itu juga perubahan untuk mulai menempatkan guru ataupun orang tua dalan posisi setara dengan pribadi seorang anak. Dengan membiarkan anak melakukan ekspresi dan melakukan keunikan-keunikannya sendiri maka akan membentuk mental yang bagus dan tidak apatis, keunikan anak disini tidak harus dipahami sebagai suatu kesalahan, melainkan suatu perkembangan anak itu sendiri. Kesadaran anak juga harus dibangun dengan sering mengajak berdialog dan menciptakan komunikasi yang hangat, dan bukan memberikan perintah-perintah dan larangan. Yang terpenting adalah membangun kepribadian untuk sering berpendapat dan mendengarkan pendapat-pendapat mereka. Dan sadarilah masa depan negeri ini ada ditangan anak-anak kita dan oleh karena itu peran orang tua dan guru sangat besar dalam menciptakan kepribadian seorang anak.