Kopla (Bahasa Jawa)

Peringatan jangan lakukan ini. Kekoplaan itu di awali dari dialog. “Mengapa harus sekolah, apa juga gunanya”. Ditambah kalimat sangah, toh dengan sekolah juga masih begini begini aja.

Pertanyaan lain mendasar tentang filsafat berkembang, “Kenapa harus hidup, dan untuk apa juga hidup”. Gejalanya, awan yg atas berasa bergerak. Serasa menakutkan. Njeglek, tidak sekolah. Kopla tidak menemukan jawaban.

Sesudah seminggu lewat pak Kyai bertandang kerumah, dua minggu tidak sekolah, alias mbambong edan. Saya tidak bertemu beliau hanya bapak. Bapak aslinya orang daratan rendah, alias pinggir pantai. Keras dll.

Ya….Ya….akhirnya sekolah lagi. Sampai tamat. Sampai Magister (S2).

Benar benar kelakuan…..

Satu hal kawan. Jangan lupakan ini. Doa, ridho dan berkah dari guru itu penting. Kalaupun kamu ‘nakal’ pasti ada sembuhnya, habiskan nakalmu dan ganti dengan kesholehan.

Pertama kali pondok, ortu datang membawaku menghadap pak Kyai sepuh, menyerahkan anaknya. Dan meminta doa. Itu mungkin yg membawaku baik baik saja, berpindah dari satu kota atau pulau di nusantara ini.

15 feb 2019


Profil Fb Penulis | Sumber Tulisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s