Ibu Rohaya (Guru)

Saat itu beliau masih single. Sudah berumur. Mengajar bahasa indonesia. “Lha kenapa juga belajar lagi bahasa Indonesia, kan sudah orang Indo”

Bahkan sebagian percakapan dan keributan di kelas juga mengunakan bilingual. Bahasa Jawa dan Indonesia. Sebagai biang ribut, beliau senang kalo aku tidak masuk kelas.

Namun sayangnya, aku termasuk murid tersayang. Bagimana tidak, seingat ingatku selama sekolah di Al Falah hanya sekali bolos, “Kelas cukup tenang, si zzzxxx tidak sekolah”. Ujar intel kelas menginfomasikan. Nah, kan adanya sama tiadanya tetap di perbincangkan.

Harus di akui beliaulah orang pertama yg meminta siswa di kelas untuk membuat sebuah karangan cerita. Cerita tentang naik gunung yg aku tulis.

Episode kehidupan selanjutnya bisa berubah dengan cepat, bahkan jurusan sekolah dan kuliah kadang tidak sama dgn pekerjaan.

Menulis buku antologi, juara cerpen bahkan juara tulisan ilmiah populer dari kementrian lingkungan hidup pernah aku dapatkan.

Bahkan karir pekerjaanku sendiri tidak lepas dari menulis.

So. Ada hal kecil kadang yg selalu menginspirasi kehidupan kita. Moment sederhana itu akan selalu di bawa. Aku yakin, guru guru yang ikhlas, marahpun bisa jadi berkah, sebab ketika guru marah ia tidak baper, justru mendoakan agar muridnya berubah. Bukan benci namun prihatin.

Eh terus gimana bu Rohaya,….
Dia menikah. Menjadi keluarga bahagia. Tinggal di kampung sebelah.


Profil Fb Penulis | Sumber Tulisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s