Kenangan

Gola gong, penulis seri lupus yg populer di zamannya itu berkata. “Mulailah menulis dari yg mudah”. Itu pesan yg beliau berikan, di jalan Mulawarman RT.25 Teritip. Di lantai 2 gedung WKP sebelah kanan.

Selanjutnya aku mendengar langsung sajak Hamid Jabar, atau begawan sastra yg melawan lekra, dia Taufik Ismail. Perjumpaan itu membangkitkan minat baca.

Majalah horison. Majalah annida, atau picisan seperti Wirosableng tapak nagageni, Wira W, perjalanan membaca berubah, dari sastra ke ilmiah, Majalah Islamia.

Minat sastra dan peminat baca itu di mulai dari lapangan di depan SMP 1 Bone Bone, yg berseberangan dgn desa Banyu Urip. Mewakili sekolah didepan publik untuk membaca puisi.

Chairul Anwar;
Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Aku Berkaca

Ini muka penuh luka
Siapa punya ?

Kudengar seru menderu
dalam hatiku
Apa hanya angin lalu ?

Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta

Ah…….!!

Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal ………….!!
Selamat tinggal …………….!


Profil Fb Penulis | Sumber Tulisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s