Toleransi Ala Pak Kyai

Halaman luas depan rumah pak kyai berlantai semen. Si sebah timur, belakang rumah Ahtob ada gudang, dan di belakang rumah itu tempat aku tinggal.

Pintu kamarku dan gudang hanya pelemparan batu. Gudang itu adalah penyimpanan coklat, komoditas paling jaya di masanya, presidennya masih orang pare pare kala itu. Di masa Habibi itulah aku masih duduk di MTs Al Falah.

Gudang coklat dan halaman luas itu dimanfaatkan oleh orang Bali, panggil saja pak Komang (?, Koreksi jika salah), ia punya motor butut Yamaha yg sesekali kami pinjam untuk ke pasar.

Pak komang tinggal di sukamaju, setiap hari ia datang dan keliling seputaran Bone bone untuk membeli langsung coklat dari petani. Dari petani ia jemur di halaman depan rumah pak Kyai, dan setelah sore ia simpan di gudang.

Sesekali penganut Agama Hindu asal Bali itu Bercakap akrab dan Kyai Ahmad Shodiq. Bisa akrab…?. Emang masalah..?

Pelajaran moral dan toleransi itu yg sebenarnya hikmah yg di pertontonkan. Kita bisa berteman dengan siapa saja, berbisnis dgn orang yg berbeda. Menjalin toleransi tanpa sengketa hati. Bersih niat tanpa jahat. Dan itu tanda ketakwaan.

Dah itu aja….

Mks, 9 feb 2019


Profil Fb Penulis | Sumber Tulisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s