Melewati Zaman dan Pengetahuan

Karya : Makhrus Habibi

Aku masih hidup di zamanmu. Zaman yang sangat sulit ku mengerti. Tapi berupaya ku pahami. Karena aku begitu mencintaimu. (Naga Bonar 2)
Orang sering berbicara bahwa sekarang zamannya sudah maju, sering mereka mempersepsikannya dengan zaman modern, modernitas, dan modernisme, sekarang sudah bisa ngomong langsung dengan saudara yang ada di luar pulau, sekarang sudah bisa lihat secara langsung kejadian-kejadian di Jakarta, bisa melihat peperangan yang ada di Jalur Gaza, perundingan-perundingan tentang Global Warning di Nusa Dua Bali, bahkan bisa melihat belantara Papua dengan segala keindahannya, tidak ada batas waktu dan tempat itulah mungkin intinya dari zaman ini yang kebanyakan orang menamakannya zaman modern. Efektiv dan efisien yang menjadi prinsip dalam zaman modern ini telah memaksa kita untuk mengikutinya, kita tidak pernah bertanya apakah sebenarnya kita butuh atau tidak dengan prinsip tersebut, makanan siap saji, belajar dengan cepat, gaya baju yang minimalis (fashionable), kendaraan cepat, belajar agama kilat dan masih bayak produk-produk lainnya yang membuat sebuah trendsetter menjadi sebuah zaman yang instant.

Prinsip tersebut diatas juga membawa pada arah kemajun tekhnologi yang sangat pesat, kecepatan gerak dan kecepatan dalam mengakses informasi adalah sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi ketika menjadi pelaku-pelaku level nasional dan internasional, kemiskinan didefinisikan tidak hanya karena sulit makan dan sekolah serta sulit mendapat pelayanan kesehatan, tetapi kesulitan mendapatkan informasi sudah menjadi konsepsi pendefinisian kemiskinan pada saat ini. Adalah pada tingkatan kerja-kerja perusahaan besar, kecepatan gerak dan kecepatan mengakses informasi memang sangat dibutuhkan, baik dalam kerangka kecepatan dalam kerja perusahaan maupun efisien dalam pengelolaan modal, hal ini kemudian membawa arus kebudayaan, baik manusia sebagai bagian dari sistem ekonomi dunia, manusia sebagai bagian dari sistem sosial dunia, maupun manusia sebagai diri pribadi. Kita merasa butuh dengan koran pagi, kita merasa butuh dengan berita dari televisi, kita merasa butuh dengan sabun wangi, kita merasa butuh dengan pendidikan tinggi, kita merasa butuh handphone untuk berkomunikasi dan kita merasa butuh dan butuh. Kita tidak pernah menanyakan apakah merasa butuh itu adalah benar-benar kebutuhan atau hanya memang untuk menyesuaikan dengan arus zaman karena merasa bahwa kita adalah anak zaman.

Yang pasti zaman telah mengajak kita berjalan lebih cepat, dan seiring itu pula kita telah menjadi manusia yang lupa akan diri kita sendiri, kita menjadi manusia yang tidak sadar dengan apa yang kita lakukan, zaman telah memaksa kita untuk menonton televisi di malam hari, zaman yang telah memaksa kita untuk sehat dengan mandi pagi, zaman yang telah memaksa kita memakai parfum wangi, zaman yang telah memaksa kita untuk mencari uang dari pagi sampai sore hari, zaman yang telah memaksa kita untuk berpendidikan tinggi, zaman yang telah memaksa kita untuk adu gengsi sebagai sebuah perwujuadan eksistensi, zaman yang telah memaksa kita mempunyai HP sebagai alat komunikasi. Kita tidak pernah berani bertanya pada diri kita tentang kenapa kita merasa harus memiliki dan melakukannya. Kita baru tersadar bahwa selama ini ketidaksadaran telah mengisi hari-hari dengan aktivitas yang pada intinya tidak mempunyai visi-misi dan orientasi.

Tanpa kita sadari semua yang dilihat oleh mata, semua yang di dengar oleh telingan kita, dan semua yang telah di rasakan panca indra (sumber-sumber pengetahuan) telah membawa kita pada proses membentuk sebuah hukum-hukum, standarisasi-standarisasi, pengetahuan-pengetahuan di alam bawah sadar dari apa yang kita lihat dan apa yang kita rasakan. kehidupan sehari-hari kita telah terisi dengan aktivitas tidak sadar, terkadang kita tidak bisa memberikan beberapa alasan yang kuat atas keinginan kita, kenapa kita sarapan pagi ? kenapa kita memakai sepeda motor ? kenapa kita makan dengan ayam goreng ? kenapa kita sekolah dan kuliah ? kenapa kita mempunyai handphone yang berkamera ? kenapa kita berganti-ganti model baju (fashion) ? kenapa kita pacaran ? kenapa kita membutuhkan uang sekian juta ? kenapa kita kerja dari pagi sampai malam ? kenapa kita ini dan itu ?. kita merasa dikejar oleh tuntutan-tuntutan zaman, tuntutan keinginan yang telah kita ciptakan sendiri. Akhir cerita kita menjadi sebuah bangsa yang hanya repot memenuhi tuntutan dan sibuk memenuhi keinginan, kita menjadi bangsa yang selalu mengikuti arus kabekuan zaman, tanpa belum bisa befikir apa sebenarnya cita-cita keberadaan manusia baik secara komunal, maupun individual. Asal selebritis, dan asal british tidak lebih dari itu.

Bentukan-bentukan standarisasi di luar kesadaran ini kemudian akan membawa kita pada beberapa geneologi bahasa, ada tradisionalis, ada moderat, ada gaul ada kampungan, ada pintar ada bodoh, ada tampang gagah, macho, atau lain sebagainya, muncullah sebuah standarisasasi-satandarisasi (ukuran-ukuran) dalam mempersepsikan antara kecerdasan dengan kebodohan, antara moderat dengan tradisionalis, antara murid nakal dengan murid baik, antara siswa gaul dengan ketinggalan zaman. kita terbiasa mendengarkan apa yang mereka bicarakan, bukan apa yang mereka tidak bicarakan, kita sering membaca apa yang tersurat bukan apa yang tersirat.

Kita menjadi manusia yang telah dibentuk dengan ketidaksadaran, kita mengatakan ini dan itu tetapi tidak mempunyi argumentasi yang kuat kenapa ini dan kenapa itu. menjadi sebuah manusia yang kehilangan akal atau rasioanalnya, menentukan segalanya dengan suka dan tidak suka (like and dis like)
Sehingga dalam mengetahui sebuah arus pikiran (baca : Kebenaran subjektif) tentu bisa di lihat dari sumber pengetahuannya, bagaimana orang tersebut membentuk atau mempersepsikan tentang kebaikan dan keburukan, mempersepsikan kebenaran dan kesalahan bisa di lihat dari sinetron favoritnya, surat kabar yang dibacanya, bacaan bukunya, atau berapa jam dalam menonton televisi, berapa menit dalam membaca buku, berapa saat dalam merefleksikan dirinya, berapa lama dalam berfikir dan merenungnya.

Michael Foucult seorang filosof postmodernisme : Knowledge is power mencoba menguraikan bahwa pengetahuan adalah kekuatan, ketika anda bisa menguasai pengetahuan-pengetahuan yang kemudian bisa menentukan kebenaran-kebenaran maka anda bisa menggerakkan apa yang anda ingin gerakkan, dengan kata lain bahwa kebenaran-kebenaran yang telah kita persepsikan dalam otak ini sangat di pangaruhi oleh sumber-sumber pengetahuan, kalaupun dalam keseharian kita sangat sering menonton tv dengan sinetron dan beritanya maka kebenaran yang disampaikan tv adalah kebenaran yang kita persepsikan, dan begitu sebaliknya. Kalau anda punya obsesi untuk menguasai dunia pendidikan maka anda harus menciptakan pengetahuan yang bisa mengadakan sebuah kebenaran-kebenaran umum yang kemudian bisa dimasukkan dalam dunia pendidikan.

Ketika dulu orang mendefenisikan pacaran dengan hanya sebatas surat-suratan dengan sang idola sekarang sudah beda yang namanya pacaran ya KNPI (kissing, necking, petting dan …………), dulu kita mempersepsikan bahwa perempuan yang cantik itu adalah yang rada gemuk (baca : subur) tetapi sekarang perempuan yang cantik (baca : seksi) itu adalah yang kurus. Kebenaran sangat tergantung dari penguasa pengetahuan, dan jangkauan untuk mengkomunikasikan melalui media-medianya. Dengan kata lain bahwa keberadaan pengetahuan tidak bebas nilai (netral) keberadaan pengetahuan mempunyai maksud dan tujuan sehingga kebenaran-kebenaran yang dimunculkannya juga mempunyai orientasi.

Penulis tidak ingin menjawab atas pertanyaan-pertanyaan, tetapi bermaksud untuk menguraikan sekian permasalahan-permasalahan tentang kesadaran, ketidaksadaran dan pengetahuan, karena penulis yakin bahwa kita punya kebenaran masing-masing dalam memandang sesuatu. Baik-buruk saya, benar-salah dia tentu berbeda, karena pengalaman dan sumber pengetahuan kita berbeda
Apakah kita bisa dan berani untuk melampaoi zaman dan pengetahuan ? Sebuah pertanyaan reflektif bagai kaum muda dan semuanya, bahwa selama ini kita terkungkung oleh zaman yang sangat menyesakkan dan pengetahuan yang telah meracuni otak kita. Al hasil, tidak ada paksaan untuk mengikuti arus peradaban, tidak pula berdosa untuk meninggalkan arus zaman, siapa yang kuat dia yang akan menang (survivel of the fittes) kata Darwin, siapa yang menguasai pengetahuan dia yang akan bisa membentuk peradaban dan semuanya adalah pilihan kawan !!! terakhir semoga kita tersadarkan dengan ketidaksadaran kita selama ini.

Tulisan ini pernah di upload pada blog Al-Falah Connection di bulan November 2007, namun dirasa perlu untuk diterbitkan kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: