Ketika kerudung di ganti dengan kresek

Oleh : Makhrus habibi

Ketika melihat film India, mereka rata-rata memakai kerudung, ketika melihat orang-orang timur tengah entah Islam, Kristen atau Nasrani mereka juga rata-rata memakai kerudung, bunda Maria juga memakai kerudung, para pendeta perempuan (aku lupa namanya) juga memakai kerudung, orang Yahudi ortodoks juga memakai kerudung, hal yang kemudian membikin bingung dalam mempersepsikan kerudung adalah apakah kerudung itu adalah sebuah budaya atau memang ajaran agama. Kenapa harus pake kerudung ??

Terlepas dari perdebatan apakah kerudung adalah budaya atau ajaran agama, penulis mencoba mengambil kesimpulan bahwa secara substansial keberadaaan fungsi kerudung tidak lain hanya sebatas untuk menutupi aurat (baca : organ yang bikin merangsang) ketika di pandang dalam perspektif agama, supaya orang yang melihatnya tidak terangsang atau yang memakainya tidak menjual ransangan, supaya tidak membikin otak lelaki tambah kotor atau mengantisipasi perbuatan-perbuatan anarkisme biologis, dengan kata lain hanya sebatas untuk jaminan keamanan bagi seorang perempuan, ketika perempuan mengumbar organ yang bikin merangsang yang pasti sama juga dia mengundang reaksi anarkhisme seksual (ngeri banget bahasanya) ada yang menggunakan cara yang soft dengan rayuan-rayuan mautnya, ada juga yang main kasar dengan memaksanya dan ada juga yang memang menjadikan sebuah ideologi (baca : freesex) untuk mengesahkan kebebasan menikmati keindahan. Ketika mata ini melihat yang indah-indah tentunya akan ada hasrat atau keinginan untuk merasakan keindahan tersebut. Sangat naluriah bagi manusia ketika melihat yang indah atau yang memikat maka kemudian mereka akan mempunyai kecenderungan untuk lebih tahu dan lebih tahu. entah dengan cara merasakan, secara langsung (membeli sate) atau tidak langsung (pake sabun, yang ini ma g sehat hoe) ketika sang pecinta lukisan sangat tertarik dengan sebuah lukisan, maka orang tersebut pasti akan membelinya ketika lukisan itu di jual dengan harga berapapun, karena dia suka, dan apakah dia salah ketika dia mencintai lukisan dan ingin memilikinya yang kemudian dia punyak kebebasan untuk menikmatinya kapan pun dia mau ??

Dalam perspektif penikmat keindahan (baca : organ seksi) sebenarnya indah atau tidak, seksi atau tidak, merangsang atau tidak sangat tergantung dari suasana pikirannya, sangat tergantung dari persepsinya, ketika otak ini sedang kotor maka apapun bentuk orangnya, apapun bentuk penutupnya, otak tetap kotor dan ngeres, dalam otak bukan lagi soal keindahan tetapi sudah bagaimana menikmati keindahan tersebut, ketika penikmat lukisan tahun bahwa karya lukisan di pameran sangat indah kemungkinan banyak mereka akan membelinya, tidak menjadi soal harga mahal atau murah karena sudah terlanjur suka (ini soal perasaan dan kepuasan kawan!!)

Kalau yang menjadi masalah adalah menutupi aurat dengan maksud untuk menutupi organ seksi supaya orang tidak berfikir kotor dan akhirnya jangan sampai berbuat yang kotor-kotor, apakah kerudung adalah satu-satunya perangkat untuk menutupi aurat, apakah kerudung adalah satu-satunya jalan untuk mengurangi otak kotor, mengurangi pikiran-pikiran yang lagi ngeres, kalau jawabannya bukan berarti bisa kita menyimpulkan bahwa kerudung adalah sebuah kebudayaan, sebuah budaya orang-orang timur tengah yang kemudian di bawa ke Asia kecil (india) dan mereka (orang india) mengikutinya. (gitu ya…??)

Secara substansial ketika kerudung berfungsi untuk mengantisipasi otak-otak yang kotor, mengurangi kekerasan-kekerasan penikmat keindahan perempuan dalam pespektif faham materialisme itu “iya” bahwa persepsi (baca : pengetahuan) itu berasal dari inderawi, ketika yang di lihat sudah tertutupi kerudung dan kerudung seharusnya (dalam paham ini) mereka tidak berfikiran kotor. Tetapi dalam perspektif faham idealisme, bahwa otak kotor itu berasal dari fikiran dan fikiran itu adalah alam ide yang lebih awal ada, artinya sebelum ada orang memakai kerudung, otak kotor sudah ada dalam alam ide, sehingga memakai atau tidak berarti sama saja, karena otak ini sudah membentuk persepsi-persepsi terhadap alam materiil. Apapun bentuknya kalau otak sudah kotor ya tetap kotor. Karena alam ide tidak terpengaruhi oleh alam materiil.

Ketika kerudung jadi produk pasar
Penduduk Indonesia mayoritas Islam, dan lebih banyak perempuannya, sampai saat ini kerudung tetap menjadi simbol kaum muslimat, dalam perspektif orang berdagang, jualan kerudung tentu sangat prospektif, pasar kerudung sangat potensial untuk menghasilkan laba sebanyak-banyaknya. Dan tentunya mereka (baca : Pengusaha) sudah membacanya bahkan berjualan kerudung di pasar.

Sehingga saat ini kita sering melihat berbagai iklan menayangkan orang-orang dengan memakai kerudung, berbagai artis dengan gosipnya tetapi memakai kerudung, penyanyi dengan lagu dangdutnya juga memakai kerudung, sinetron yang berbau seksual juga pake kerudung, dan banyak media-media lain yang selalu tidak lepas dari kerudung. Ada kerudung yang model inilah itulah, yang minimalis, yang islamis, yang gaul yang seksi dan yang-yang lainnnya

Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa ini menjadi sebuah trend (baca : budaya pop) apakah memang semua orang mulai sadar dengan Islamnya atau memang kerudung menambah seksi??

Dalam perspektif ilmu pemasaran, munculnya kerudung di berbagai media, ini adalah sebuah strategi penguatan pasar dalam rangka untuk membentuk konsumen tetap pasar kerudung. Ada yang menggunakan artis top, ada yang menggunakan da,i top, ada yang menggunakan artis gaul itu adalah sekian strategi untuk memaksimalkan semua segmen pasar. Dengan berbagai macam kerudung yang di ciptakan produsen mencoba untuk memasuki semua segeman pasar.

Sedangkan dalam perspektif analisa media, keberadaan sebuah trend /isu itu tidak bisa datang dengan sendirinya (an sich). Keberadaan isu pasti membawa sebuah maksud tertentu, dalam konteks ini kemudian (perpektif dagang) kita bisa membaca bahwa trend setter kerudung tidak datang dengan sedirinya, tidak datang atas kesadaran masyarakat akan kerudung tetapi lebih bermotiv profit oriented (mencari laba) yang kemudian tanpa sadar keberadaan kerudung tidak lebih sebagai barng pasar dan keberadaan dalil-dalilnya tidak jauh dari strategi memasuki pasar yang akhirnya berujung dengan profit.

Astaghfirulloh
Al hasil kerudung menjadi sebuah produk dagangan, bukan lagi berbicara soal menutupi aurat atau tidak, bukan lagi berbicara soal mengantisipasi para penikmat keindahan, tetapi hari ini berbicara soal kerudung (kontekstual) berarti sama dengan membantu orang menjual barang dagangannya.

Ketika dompet kempes dan sang cewek minta kerudung dan ternyata kerudung tidak ada yang murah harganya saya hanya bisa bilang Jancooook-Jancok, karena kalau tidak di belikan akan di anggap tidak Islami dan pada kemungkinan besar saat itu juga gw di putus … hanya dengan satu alasan gw di anggap orang muslim tapi tida tau Islam, memang hebat cewekku ini, di ajak menikmati keindahan dunia (terserah kawan-kawan mengartikan) dia oke banget tetapi masih konsisten memakai kerudung, apakah ini sterategi untuk menutupi bunga yang sudah layu atau memang dia mematuhi Ajaran dari keyakinannya.
Saya tidak bisa membayangkan ketika ada seorang anak kecil yang meminta kerudung kepada ayahnya, kalau tidak di turuti nanti di anggap Muslim yang tidak ngerti Islam, kalau di turuti berarti dia tidak bisa membayar sekolah anaknya, kok kerudung tambah bikin susah sih … (mungkin …)
Penulis hanya bisa mengandaikan alangkah indahnya ketika kerudung di ganti dengan plastik kresek (plastik kantongan warna hitam) selain murah, palstik kresek yang di gunakan sebagai kerudung tidak akan mengundang otak kotor, secara substansial berarti tepat menggantikan fungsi kerudung dan di bisa di beli oleh semua kalangan.
Entahlah …

Satu Balasan ke Ketika kerudung di ganti dengan kresek

  1. Abidin mengatakan:

    :mrgreen:

    Hampir sepakat, tapi gak tau ya! Masih ragu Bang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: