Muhabasabah Diri dan Perjalanan Waktu

(Dalam Menyongsong 1 Muharram)Oleh : Ikhwan Hadi

Dalam menyongsong Tahun baru Hiriah 1 Muharram dan awal tahun Masehi 2008 ini, kita berupaya tetap memelihara dan meningkatkan mutu kehidupan, yaitu dengan cara bermuhasabah lin-Nafsi atau instropeksi diri atas perjalanan waktu, baik waktu yang telah lewat, yang sedang berjalan, maupun waktu yang akan datang.

Muhasabah yang berarti mawas diri, merenung dan memikirkan atas semua perbuatan yang telah terlaksanakan atau yang sedang dijalani dalam konteks waktu untuk menyongsong kehidupan masa depan yang penuh harapan.

Ada ungkapkan yang menggambarkan tentang pentingnya waktu, seperti ungkapan al-waktu kassaif, waktu bagaikan pedang, apabila seseorang tidak mampu menggunakan pedang itu, tentu pedang itu yang akan memotong orang tersebut, orang yang tidak mampu memanfaatkan waktu dengan baik akan tergilas oleh perjalanan waktu, penyesalan akan tiba kemudian.

Disadari atau tidak bahwa waktu yang telah berlalu tidak akan dapat kembali, waktu yang sedang berjalan tidak bisa dihentikan, waktu yang akan datang pasti tiba tidak dapat dihindari, waktu yang akan tiba adalah proses masa tua dan jelang kematian yang berakhir kita menghadap Sang Pencipta,

Perjalanan waktu yang diputar atas hukum ilahi, sunnahtullah, ternyata mempunyai efek yang serius bagi kehidupan, waktu itu menyebabkan kita memperoleh umur dan kesempatan untuk melakukan sesuatu, untuk memplaning sesuatu. Dengan waktu yang tersedia, seseorang bisa berbuat baik, bisa menolong dan berbakti kepada orang tua, dengan waktu, seseorang dapat menunaikan ibadah dan amal kebaikan, Dengan waktu seseorang dapat menjalankan tugas dan menyelesaikan tepat waktunya.

Akan tetapi disatu sisi banyak orang yang melupakan kesempatan yang telah diberikan kepadanya. Rasulullah SAW pernah mengingatkan kepada kita semuanya, bahwa terdapat dua kenikmatan yang kebanyakan manusia terlena dan lupa bahkan mengabaikan terhadap keduanya, yaitu nikmat sehat dan kesempatan.

Untuk menganstipasi hal tersebut, muhasabah terhadap diri dan perjalan waktu menjadi sangat penting, agar dapat memanfaatkan waktu dan kesempatan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan, kondisi dan situasinya. Sahabat Umar Ibn Khothob pernah berpesan kepada kita .

KONSEP MUHASABAH

Dalam konsep Islam cara yang efektif kita bisa bermuhasabah, Ajaran Islam memberikan acuan dalam bermuhasabah, sebagaimana di dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Nabi bersabda :

“Tidaklah kedua kaki seseorang itu tergelincir (ke neraka) hingga ia akan ditanya : tentang umur, untuk apa dia habiskan, tentang ilmu, untuk apa ia gunakan, tentang harta benda, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia manfaatkan, tentang jasad ini, untuk apa jasad ini digunakan sehingga menua dan rapuh ini ?

Dalam hadits tersebut dapat kita peroleh petunjuk cara bermuhasabah yang baik, yaitu dengan melalui mengungkap pertanyaan-pertanyaan :untuk apa umur ini kita habiskan?, untuk apa ilmu yang kita peroleh kita manfaatkan?, dari mana harta benda yang kita peroleh dan untuk apa kita tasharufkan (kita gunakan)? dan untuk apa badan ini kita manfaatkan sehingga mencapai usia yang tua ini ?,

Dengan acuan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita berharap instropeksi diri kita mampu mendorong untuk meningkatkan mutu kehidupan kita. Memang kita mempunyai beberapa harapan, yaitu dengan muhasabah, tidak ingin kesalahan masa lalu terulang lagi,tidak ingin kebaikan yang kita lakukan pada masa lalu hilang musnah akibat kesalahan di masa kini, menginginkan perbuatan masa kini dan akan datang lebih baik daripada masa lalu.

Dengan kata lain, bermuhasabah itu untuk dua sasaran, yaitu (1) untuk menjaga amal kebaikan yang kita lakukan pada masa lalu tidak hilang musnah akibat kesalahan di masa kini dan (2) untuk dapat memanfaatkan waktu dan umur yang tersisa agar lebih baik dan lebih manfaat.

Yang pertama, dalam rangka untuk menjaga amal ibadah yang telah kita laksanakan agar tidak musnah dan hilang, maka Rasulullah SWT mengingatkan kepada kita bahwa terdapat enam hal yang dapat menghapuskan amal kebaikan. beliau bersabda :

“Enam hal dapat menghapus amal ibadah yang baik, yaitu sibuk dengan cacat orang lain, hati yang keras, cinta dunia, kurangnya rasa malu, panjang angan-angan, dan perbuatan dholim yang tidak berkesudahan” (HR. Imam Dailami)

Isytighal bi ‘uyubil-qolb, orang yang sibuk dengan cacat orang lain. yaitu orang yang senang mendengarkan orang bercerita mengungkapkan kejelekan orang lain, mencari-cari tambahan informasi kejelekan orang lain untuk dapat menghancurkan harga diri orang tersebut, senang menyebarkan kejelekan orang lain dan tidak berusaha menutupinya.

Qoswatul qolb, orang yang hatinya keras dapat dilihat dari cenderung meremehkan orang lain, sulit menerima nasehat kebenaran dari orang lain, marah apabila mendapat kritik perbaikan dari orang lain, dan selalu menganggap paling benar apa yang telah ia lakukan.

Hubb al-dunya, tanda-tanda orang yang mempunyai sikap cinta duniawi pekerjaan mencari harta benda mengalahkan ibadah kepada Allah SWT, cenderung kikir untuk kepentingan agama maupun sosial, semua perbuatan, amal ibadah diukur dengan nilai-nilai untung dan rugi secara materiil duniawi.

Qillah al-haya’, ciri-ciri orang yang tidak sedikit rasa malunya antara lain melakukan perbuatan kemungkaran atau kemaksiatan di hadapan orang lain, tidak merasa risih ketika ada orang yang mengetahui perbuatan buruknya, cenderung mengabaikan nasehat baik dari orang lain, dan melakukan sesuatu yang tidak memenuhi nilai kepatutan dan kepantasan yang berlaku di dalam masyarakat.

Thul al-amal, orang yang panjang angan-angan dapat dilihat dari sikap dan perilaku antara lain kurang merasa qona’ah terhadap suatu nikmat yang telah diperolehnya, kurang rasa syukur terhadap nikmat yang telah diperolehnya, ambisi mendapatkan sesuatu tidak dapat dikendalikan.

Dholim la yantahi, orang yang dholim bisa terjadi apabila seseorang tidak memenuhi hak-hak orang lain, tidak memberikan upah tepat waktunya, tidak memberikan imbalan yang sebanding dengan kewajiban yang ditunaikan. Menghiyanati amanat dan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Yang kedua, yaitu untuk dapat memanfaatkan waktu yang tersisa secara lebih baik dengan cara meninggalkan hal-hal yang tidak ada gunanya. Dalam hal ini Imam Nawawi mengemukakan, orang yang bisa meninggalkan perbuatan yang tidak berguna hanyalah orang yang berakal. dengan mengutip sabda Rasulullah SAW, tentang shuhuf Nabi Ibrahim, al. : “bagi orang berakal hendaknya mempunyai empat waktu :

“Yaitu waktu untuk bermunajat (curhat) kepada Tuhannya Yang Maha Mulia dan Maha Agung, (2) waktu untuk muhasabah (instropeksi) dirinya, (3) waktu untuk berfikir mencari hikmah pada ciptaan Allah SWT, dan (4) waktu untuk kosentrasi memenuhi hajat kehidupannya di dunia, mencari rizki untuk makan dan minum”.(Bukhori Muslim)

“Bagi orang yang berakal hendaklah ia memperhatikan kondisi zamannya, menghadapi keadaanya, menjaga lisannya, dan barangsiapa yang membandingkan ucapannya dengan amalnya, maka ia akan mengurangi ucapannya kecuali pada hal-hal yang tidak tidak ada gunanya”(Bukhori Muslim).

Akhirnya dalam menyongsong tahun baru 1 Muharamma 1429 ini kita awali dengan Muhasabah atau introkpeksi diri karena dengan hanya begitu dapat memperbaiki mutu hidup kita, dengan mengharapkan tahun ini lebih baik dari tahun yang lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: