Selamat Jalan Pak Harto

Perpisahan memang akan selalu menimbulkan kepedihan. Orang yang selama ini dicerca, akhirnya hanya dikenang kebaikannya saja.
Bak pepatah : Harimau mati meninggalkan belang, orang mati meninggalkan budi.
Selamat jalan Pak Harto …
Meski tak tahu menahu tentang semua kelakuanmu pada bangsa-ku, kau tetap kuanggap sebagai pahlawan pembangunan negeriku. Semoga segala amal baik-mu diterima oleh-Nya. Semoga dosa-dosamu dihapuskan oleh-Nya. Semoga kau mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Beberapa dari kami berdoa untukmu, semoga kau bahagia di sana.
Selamat jalan Pak Harto …

Memperindah Hati

Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak orang yang menganggap keindahan adalah pangkal dari segala puji dan harga. Tidak usah heran kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani setiap saat karena sangat ingin memiliki tubuh yang indah. Tak sedikit juga orang berani membelanjakan uangnya berjuta bahkan bermilyar karena sangat rindu memiliki rumah atau kendaraan mewah.
Akan tetapi, apa yang terjadi? Tak jarang kita menyaksikan betapa terhadap orang-orang yang memiliki pakaian dan penampilan yang mahal dan indah, yang datang ternyata bukan penghargaan, melainkan justru penghinaaan. Ada juga orang yang memiliki rumah megah dan mewah, tetapi bukannya mendapatkan pujian, melainkan malah cibiran dan cacian. Mengapa keindahan yang tadinya disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah sebaliknya, padahal kunci keindahan yang sesungguhnya adalah jika sesorang merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan sebenarnya.
Rasulullah SAW pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi Allah sampai saat ini tidak pernah berkurang kemuliaannya. Rasulullah SAW tidak menggunakan singgasana dari emas yang gemerlap, ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, sampai detik ini sama sekali tidak pernah luntur pujian dan penghargaan terhadapnya, bahkan hingga kelak datang akhir zaman. Apakah rahasianya? Ternyata semua itu dikarenakan Rasulullah SAW adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya.
Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu!” (HR. Bukhari dan Muslim).
Boleh saja kita memakai segala apapun yang indah-indah. Namun, kalau tidak memiliki hati yang indah,demi Allah tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya. Karenanya jangan terpedaya oleh keindahan dunia. Lihatlah, begitu banyak wanita malang yang tidak mengenal moral dan harga diri. Mereka pun tidak kalah indah dan molek wajah, tubuh, ataupun penampilannya. Kendatipun demikian, mereka tetap diberi oleh Allah dunia yang indah dan melimpah.
Ternyata dunia dan kemewahan bukanlah tanda kemuliaan yang sesungguhnya karena orang-orang yang rusak dan durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah ruah oleh Allah. Kunci bagi orang-orang yang ingin sukses, yang ingin benar-benar merasakan lezat dan mulianya hidup, adalah orang-orang yang sangat memelihara serta merawat keindahan dan kesucian qalbunya.
Imam Al Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga golongan, yakni yang sehat (qolbun shahih), hati yang sakit (qolbun maridh), dan hati yang mati (qolbun mayyit).
Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih. Orang yang paling beruntung memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan semakin mengenal dia. Penguasa jagat raya alam semesta ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah titipan Allah semata. Tidak dinafkahkan di jalan Allah, pasti Allah akan mengambilnya jika Dia kehendaki. Semakin bersih hati, hidupnya akan selalu diselimuti rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman AS, tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, “Haadzaa min fadhli Rabbii, liyabluwani a-asykuru am afkuru.” (QS. An Naml [27] : 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur atas nikmat-Nya.
Suatu saat bagi Allah akan menimpakkan ujian dan bala. Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah, yang membuat seseorang semakin bermutu. Dengan persoalan akan menjadikannya semakin bertambah ilmu. Dengan persoalan akan bertambahlah ganjaran. Dengan persoalan pula derajat kemuliaan seorang hamba Allah akan bertambah baik, sehingga ia tidak pernah resah, kecewa, dan berkeluh kesah karena menyadari bahwa persoalan merupakan bagian yang harus dinikmati dalam hidup ini. Oleh karenanya, tidak usah heran orang yang hatinya bersih, ditimpa apapun dalam hidup ini, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam. Tidak pernah akan berguncang walaupun ombak badai saling menerjang. Ibarat karang yang tegak tegar, dihantam ombak sedahsyat apapun tidak akan pernah roboh. Tidak ada putus asa, tidak ada keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan dan keindahan hati. Ia amat yakin dengan janji Allah, “Laa yukalifullahu nafasan illa wus’ahaa.” (QS. Al Baqarah [2] : 286). Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Pasti semua yang menimpa sudah diukur oleh-Nya. Mahasuci Allah dari perbuatan zhalim kepada hamba-hamba-Nya. Ia sangat yakin bahwa hujan pasti berhenti. Badai pasti berlalu. Malam pasti berganti menjadi siang. Tidak ada satu pun ujian yang menimpa, kecuali pasti akan ada titik akhirnya. Ia tidak berubah bagai intan yang akan tetap kemilau walaupun dihantam dengan apapun jua. Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih. Nikmat datang tak pernah membuatnya lalai bersyukur, sementara sekalipun musibah yang menerjang, sama sekali tidak akan pernah mengurangi keyakinan akan curahan kasih sayang-Nya. Semua itu dikarenakan ia bisa menyelami sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang menimpa dirinya, sehingga tergapailah sang mutiara hikmah. Subhanallaah, sungguh teramat beruntung siapapun yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk memperindah qolbunya.***
(Dari : Managemen Qalbu, Abdullah Gymnastiar)

Muhabasabah Diri dan Perjalanan Waktu

(Dalam Menyongsong 1 Muharram)Oleh : Ikhwan Hadi

Dalam menyongsong Tahun baru Hiriah 1 Muharram dan awal tahun Masehi 2008 ini, kita berupaya tetap memelihara dan meningkatkan mutu kehidupan, yaitu dengan cara bermuhasabah lin-Nafsi atau instropeksi diri atas perjalanan waktu, baik waktu yang telah lewat, yang sedang berjalan, maupun waktu yang akan datang.

Muhasabah yang berarti mawas diri, merenung dan memikirkan atas semua perbuatan yang telah terlaksanakan atau yang sedang dijalani dalam konteks waktu untuk menyongsong kehidupan masa depan yang penuh harapan.

Ada ungkapkan yang menggambarkan tentang pentingnya waktu, seperti ungkapan al-waktu kassaif, waktu bagaikan pedang, apabila seseorang tidak mampu menggunakan pedang itu, tentu pedang itu yang akan memotong orang tersebut, orang yang tidak mampu memanfaatkan waktu dengan baik akan tergilas oleh perjalanan waktu, penyesalan akan tiba kemudian.

Disadari atau tidak bahwa waktu yang telah berlalu tidak akan dapat kembali, waktu yang sedang berjalan tidak bisa dihentikan, waktu yang akan datang pasti tiba tidak dapat dihindari, waktu yang akan tiba adalah proses masa tua dan jelang kematian yang berakhir kita menghadap Sang Pencipta,

Perjalanan waktu yang diputar atas hukum ilahi, sunnahtullah, ternyata mempunyai efek yang serius bagi kehidupan, waktu itu menyebabkan kita memperoleh umur dan kesempatan untuk melakukan sesuatu, untuk memplaning sesuatu. Dengan waktu yang tersedia, seseorang bisa berbuat baik, bisa menolong dan berbakti kepada orang tua, dengan waktu, seseorang dapat menunaikan ibadah dan amal kebaikan, Dengan waktu seseorang dapat menjalankan tugas dan menyelesaikan tepat waktunya.

Akan tetapi disatu sisi banyak orang yang melupakan kesempatan yang telah diberikan kepadanya. Rasulullah SAW pernah mengingatkan kepada kita semuanya, bahwa terdapat dua kenikmatan yang kebanyakan manusia terlena dan lupa bahkan mengabaikan terhadap keduanya, yaitu nikmat sehat dan kesempatan.

Untuk menganstipasi hal tersebut, muhasabah terhadap diri dan perjalan waktu menjadi sangat penting, agar dapat memanfaatkan waktu dan kesempatan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan, kondisi dan situasinya. Sahabat Umar Ibn Khothob pernah berpesan kepada kita .

KONSEP MUHASABAH

Dalam konsep Islam cara yang efektif kita bisa bermuhasabah, Ajaran Islam memberikan acuan dalam bermuhasabah, sebagaimana di dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Nabi bersabda :

“Tidaklah kedua kaki seseorang itu tergelincir (ke neraka) hingga ia akan ditanya : tentang umur, untuk apa dia habiskan, tentang ilmu, untuk apa ia gunakan, tentang harta benda, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia manfaatkan, tentang jasad ini, untuk apa jasad ini digunakan sehingga menua dan rapuh ini ?

Dalam hadits tersebut dapat kita peroleh petunjuk cara bermuhasabah yang baik, yaitu dengan melalui mengungkap pertanyaan-pertanyaan :untuk apa umur ini kita habiskan?, untuk apa ilmu yang kita peroleh kita manfaatkan?, dari mana harta benda yang kita peroleh dan untuk apa kita tasharufkan (kita gunakan)? dan untuk apa badan ini kita manfaatkan sehingga mencapai usia yang tua ini ?,

Dengan acuan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita berharap instropeksi diri kita mampu mendorong untuk meningkatkan mutu kehidupan kita. Memang kita mempunyai beberapa harapan, yaitu dengan muhasabah, tidak ingin kesalahan masa lalu terulang lagi,tidak ingin kebaikan yang kita lakukan pada masa lalu hilang musnah akibat kesalahan di masa kini, menginginkan perbuatan masa kini dan akan datang lebih baik daripada masa lalu.

Dengan kata lain, bermuhasabah itu untuk dua sasaran, yaitu (1) untuk menjaga amal kebaikan yang kita lakukan pada masa lalu tidak hilang musnah akibat kesalahan di masa kini dan (2) untuk dapat memanfaatkan waktu dan umur yang tersisa agar lebih baik dan lebih manfaat.

Yang pertama, dalam rangka untuk menjaga amal ibadah yang telah kita laksanakan agar tidak musnah dan hilang, maka Rasulullah SWT mengingatkan kepada kita bahwa terdapat enam hal yang dapat menghapuskan amal kebaikan. beliau bersabda :

“Enam hal dapat menghapus amal ibadah yang baik, yaitu sibuk dengan cacat orang lain, hati yang keras, cinta dunia, kurangnya rasa malu, panjang angan-angan, dan perbuatan dholim yang tidak berkesudahan” (HR. Imam Dailami)

Isytighal bi ‘uyubil-qolb, orang yang sibuk dengan cacat orang lain. yaitu orang yang senang mendengarkan orang bercerita mengungkapkan kejelekan orang lain, mencari-cari tambahan informasi kejelekan orang lain untuk dapat menghancurkan harga diri orang tersebut, senang menyebarkan kejelekan orang lain dan tidak berusaha menutupinya.

Qoswatul qolb, orang yang hatinya keras dapat dilihat dari cenderung meremehkan orang lain, sulit menerima nasehat kebenaran dari orang lain, marah apabila mendapat kritik perbaikan dari orang lain, dan selalu menganggap paling benar apa yang telah ia lakukan.

Hubb al-dunya, tanda-tanda orang yang mempunyai sikap cinta duniawi pekerjaan mencari harta benda mengalahkan ibadah kepada Allah SWT, cenderung kikir untuk kepentingan agama maupun sosial, semua perbuatan, amal ibadah diukur dengan nilai-nilai untung dan rugi secara materiil duniawi.

Qillah al-haya’, ciri-ciri orang yang tidak sedikit rasa malunya antara lain melakukan perbuatan kemungkaran atau kemaksiatan di hadapan orang lain, tidak merasa risih ketika ada orang yang mengetahui perbuatan buruknya, cenderung mengabaikan nasehat baik dari orang lain, dan melakukan sesuatu yang tidak memenuhi nilai kepatutan dan kepantasan yang berlaku di dalam masyarakat.

Thul al-amal, orang yang panjang angan-angan dapat dilihat dari sikap dan perilaku antara lain kurang merasa qona’ah terhadap suatu nikmat yang telah diperolehnya, kurang rasa syukur terhadap nikmat yang telah diperolehnya, ambisi mendapatkan sesuatu tidak dapat dikendalikan.

Dholim la yantahi, orang yang dholim bisa terjadi apabila seseorang tidak memenuhi hak-hak orang lain, tidak memberikan upah tepat waktunya, tidak memberikan imbalan yang sebanding dengan kewajiban yang ditunaikan. Menghiyanati amanat dan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Yang kedua, yaitu untuk dapat memanfaatkan waktu yang tersisa secara lebih baik dengan cara meninggalkan hal-hal yang tidak ada gunanya. Dalam hal ini Imam Nawawi mengemukakan, orang yang bisa meninggalkan perbuatan yang tidak berguna hanyalah orang yang berakal. dengan mengutip sabda Rasulullah SAW, tentang shuhuf Nabi Ibrahim, al. : “bagi orang berakal hendaknya mempunyai empat waktu :

“Yaitu waktu untuk bermunajat (curhat) kepada Tuhannya Yang Maha Mulia dan Maha Agung, (2) waktu untuk muhasabah (instropeksi) dirinya, (3) waktu untuk berfikir mencari hikmah pada ciptaan Allah SWT, dan (4) waktu untuk kosentrasi memenuhi hajat kehidupannya di dunia, mencari rizki untuk makan dan minum”.(Bukhori Muslim)

“Bagi orang yang berakal hendaklah ia memperhatikan kondisi zamannya, menghadapi keadaanya, menjaga lisannya, dan barangsiapa yang membandingkan ucapannya dengan amalnya, maka ia akan mengurangi ucapannya kecuali pada hal-hal yang tidak tidak ada gunanya”(Bukhori Muslim).

Akhirnya dalam menyongsong tahun baru 1 Muharamma 1429 ini kita awali dengan Muhasabah atau introkpeksi diri karena dengan hanya begitu dapat memperbaiki mutu hidup kita, dengan mengharapkan tahun ini lebih baik dari tahun yang lalu.