Titik-titik sebelum AIDS

Oleh Makhrus Habibi

Perkembangan tekhnologi telah membawa kita pada hitungan bukan jam lagi tetapi sudah memaki detik. Kemajuan tekhnologi telah membawa kita pada ketotalan untuk berkreasi dan berkreativitas, telah menembus ruang-ruang privasi dan ruang-ruang moralitas. Tekhnologi yang dalam hal ini adalah media masa (televisi) telah memaksa kita untuk memakai celana botol, memaksa kita untuk memakai standar-standar hidup para selebritis, memaksa kita untuk memasukkan baju layaknya eksekutif, memaksa kita memakai jas seperti vokalis nidji dengan setelan rembutnya, dan memaksa kita melihat agnes monica dengan vario-nya.

Para ahli komunikasi mengatakan, media massa sangat berpengaruh terhadap pembentukan realitas sosial. Komunikasi massa selalu mempunyai dampak pada diri seseorang atau sekelompok orang akibat dari pesan yang disampaikan kepadanya. Dampak kognitif berhubungan dengan pemikiran, dampak emosional berhubungan dengan perasaan (senang, sedih, marah, sinis dan sebagainya). Dampak kognitif juga mencakup niat, tekad, upaya, dan usaha yang berkecenderungan diwujudkan menjadi suatu kegiatan. Media massa tidak hanya memiliki dampak langsung terhadap individu, tetapi juga mempengaruhi kebudayaan dan pengetahuan kolektif serta nilai-nilai di dalam masyarakat. Media massa menghadirkan perangkat citra, gagasan dan evaluasi yang menjadi sumber bagi audience nya untuk memilih dan menjadikan acuan bagi pelakunya.


Hill dan Monks (1990) mengungkapkan bahwa remaja merupakan salah satu penilai yang penting terhadap badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia mengerti bahwa badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia mengerti bahwa badannya tadi menuruti persyaratannya, maka hal ini berakibat positif terhadap penialain dirinya. Bila ada penyimpangan-penyimpangan timbullah masalah-masalah yang berhubungan dengan penilaian diri dan sikap sosialnya.

Beranjak dari kondisi-kondisi diatas, remaja sering merasa kehilangan eksistensinya. Oleh karena itu, tidak heran kalau remaja tersebut berusaha mencari atau menunjukkan eksisensinya melalui bidang-bidang yang dikuasainya. Dalam pencapaian eksistensi diri ini, remaja tidak lepas dari pengaruh lingkungan sosialnya. Apabila ia berada di tengah-tengah lingkungan yang berpendidikan, ia cenderung mengambil suatu sikap atau tindakan dimana orang lain bisa melihat dirinya mampu dibidang akademis. Ia akan cenderung rajin belajar, memperkaya pengetahuan dari buku-buku yang tidak didapatkan di sekolah.

Umumnya, remaja lebih peka terhadap reaksi-reaksi lingkungan yang ada disekitarnya daripada sebelumnya. Baik itu dari media massa, televisi, film atau orang-orang disekitarnya dari media massa, televisi, film atau orang-orang disekitarnya. Informasi-informasi baru selalu menarik perhatiannya. Kecenderungan bereksperimen (coba-coba) juga cukup tinggi, karena memang remaja belum mempunyai pola atau konsep yang mantap tentang masa depannya. Semua yang baru ingin dicobanya. Kecenderungan ini lebih kuat lagi karena keadaan emosinya yang masih labil. Oleh karena itu, tidak heran kalau banyak remaja yang menurutkan emosinya. Yang ada dalam pikirannya hanya “pokoknya saya berhasil” “pokoknya saya mandiri” “pokoknya saya pengen punya pengalaman” dll. Dorongan-dorongan semacam itu tidak dibarengi dengan pertimbangan apakah hal ini cocok untuk dirinya, bagaimana seandainya kalau saya sudah benar-benar masuk kedalamnya dan pertimbangan jangka panjang lainnya.

Dalam kaitannya dengan tayangan iklan baik di televisi maupun majalah, yang banyak menawarkan produk-produk remaja, remaja akan mudah sekali untuk tertarik dan menjadi konsumtif demi penampilan mereka. Remaja putri akan menjadi lebih boros untuk membelanjakan uang sakunya untuk membeli parfume, bedak, lipgloss, dan lain-lain. Sedangkan remaja pria,akan membeli produk-produk mahal yang dapat menunjang penampilan dirinya didepan perempuan.

Gaya hidup yang ditawarkan dalam majalah remaja maupun dalam sinetronpun adalah gaya hidup hedonis sebagai remaja kota besar yang tertular dari gaya hidup Barat. Dan untuk menunjang gaya hidup itu, remaja didorong untuk mengkonsumsi barang-barang dengan merek-merek mancanegara yang harganya tidak murah. Mereka diajarkan untuk mengikuti perkembangan mode dunia, mulai dari fashion, gaya rambut, casting HP yang berganti-ganti, dan sebagainya. Melalui penyampaian gaya hidup mewah ini, remaja diajarkan untuk boros dan menjadi tidak kritis terhadap persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.

Bagi remaja putri, mereka dididik untuk menjadi perempuan yang menarik penampilannya dengan merawat wajah dan tubuhnya, yang kelak jika ia dewasa nanti akan mendapatkan seorang suami yang mapan dan tampan. Dan jika ia menikah nanti akan menjadi istri yang disayang suami karena terus menerus merawat tubuhnya dan ibu yang bertanggungjawab karena ia berhasil mengurus seluruh domestik keluarga dari mulai dapur sampai mendidik anak-anak. Stereotype perempuan yang hanya menjadi pendamping dan obyek pelengkap laki-laki, akan terus menerus diinternalisasikan dan diwariskan kepada generasi muda melalui tayangan iklan dan sinetron yang bias gender.

Lebih jauh dampaknya bagi remaja, melalui adanya berita-berita di media cetak yang sarat akan kalimat-kalimat yang vulgar dan melecehkan perempuan, akan mengajarkan mereka nilai-nilai budaya patriarki yang hanya melihat perempuan sebagai objek seksualitas. Akibatnya sejak usia remaja, sudah tertanam dalam pandangan mereka jika perempuan menarik adalah perempuan yang agresif dan seksi. Bahkan lebih jauh lagi tak jarang sinetron menghadirkan adegan-adegan yang lumayan indehoi tetapi sering orang bilang romantis, menghadirkan sekian kekerasan, menghadirkan sekian khayalan-khayalan, menghadirkan sekian penafsiran-penafsiran agama instan.

Dalam tulisan ini penulis hanya ingin membawa pada fakta sebagai refleksi hari AIDS sedunia tanggal 01 Desember bahwa kasus-kasus AIDS selalu terus meningkat dan terus meningkat, sampai saat ini sudah mencapai 190.000-200.000 kasus, yang terpenting dalam hal ini, 30% terjadi pada remaja. Sehingga kalau kita refleksikan, remaja Indonesia masih belum siap menerima tekhnologi, dengan kata lain, keberadaan tekhnologi masih hanya di fungsikan sebagai sebuah gaya hidup, sebagai sebuah arus pergeseran nilai-nilai baik di tingkatan orang tua maupun remaja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: