Hidup Adalah Pilihan

Oleh : Ramlah

Manusia adalah mahluk yang diberikan kebebasan dalam arti yang seluas-luasnya. Coba perhatikan kedalam kehidupan yang kita jalani, hampir semua yang berhubungan dengan masalah manusia selalu memiliki lebih dari satu piliham, ya atau tidak, menolak atau menerima, mengikuti atau membuat jalan sendiri.
Ambil contoh kecil, saat akal menyakini keberadaan tuhan sang pencipta kehidupan mutlak didunia ini, manusia masih saja dihadapkan pada pilihan, beriman (mukmin) atau tidak beriman (atheis). Coba bayangkan, kalau dalamhal yang sangat pasti adanya saja manusia diberikan kekuatan untuk menolak, apalagi dalm hal-hal sepele lainnya. Tentu saja, manusia bisa berbuat menurut sekehendak hatinya.

Tentu, pilihan mempunyai akibat. Namun, akibatpun tidak mutlak diterima begitu saja oleh manusia. Ambil contoh, saat seorang penjahat mendapat hukuman dari pengadilan, ia masih juga diberikan kehendak umtuk menerima putusan hakim maupun menolak. Luar biasa temtunya mahluk yang bern ama manusia itu, dalam segala sendi kehidupannya ia selalu dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang notabene tentunya mengakui kebebasan hakikinya.
Kebebasan! Itu adalah anugrah terbesar yang dimiliki oleh manusia. Namun ternyata, tidak semua kebebasan itu dapat dinikmati oleh manusia. Namun ternyata, tidak semua kebebasan itu dapat dinikmati oleh manusia. Berlandaskan “demokrasi” sebuah pilihan dapat dipaksakan hanya karena disepakati oleh oran g banyak. Sangat riskan tentunya jikalau oran g (mayoritas) ternyata tidak memahami hakikat kebebasan ini. Inilah yang menjadi masalah.
Contoh lagi, sebuah Negara dapat dibumi hanguskan (ekspansi yang berakhir eksploitasi) hanya karena mayoritas Negara menyetujui keputusan sebuah Negara adikuasa yang menguasai perekonomian dan teknologi. Hal itu menimbulkan tanda Tanya besar, kemana kebebasan Negara tersebut? Dimana kehendak bebasnya untuk membangun Negara sendiri? kapan dibolehkan sebuah Negara menguasai teknologi nuklir saat Negara-negara mayoritas menolak kemajuan teknologi Negara tersebut?. Kalau contoh tersebut terlalu “melangit” , ada contoh lain, dalam sebuah pemilihan ketua organisasi, umumnya selalu dimintakan kesediaan. Namun, saat mayoritas suara tidak menghendaki adanya proses (dalam tata tertib pemilihan) kesediaan dan pembacaan visi dan misi (mungkin takut sang calon mengundurkan diri), maka san calon terpilih tanpa diakui sedikitpun kehendak bebasnya. Dalam hal ini, kedua contoh diatas sama-sam berakibat fatal. zholim.
Lalu, bagaimana hal itu dapat terjadi. Kekuatan kata-kata itu kuncinya. Seorang yang pandai mengolah kata tentunya akan mampumeyakinkan oran g lain untuk mengikuti kehendaknya. Pada zamn sozrates dahulu, oran g-oran tersebut diberi label “sophis”. Yaitu oran g-orang pandai yang menggunakan kepandaiannya untuk mengajak oramg lain setuju dengan keinginannya. Bagaimana mengatasinya? Seperti layaknya tokoh heroic yunani tersebut, kita harus menanyakan kembali hal-hal tersebut kepada manusia dengan terbuka, tanpa takut akan akibat dari pernyataan tersebut. Yakinlah, hati nurani tahu apa yang terbaik bagi manusia. Ia akan memberikan jawban yang mengndung kebenaran tanpa mengurangi sedikitpun kabar kebebasan manusia. Eureka !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: