Mencintai Rasul Sebagai Benteng Menghadapi Aliran Sesat

Al-Qiyadah Al-Islamiyah tentu bukan kata yang asing di telinga kita. Sebulan terakhir ini kita mendengar kata ini disebut di televisi dan radio, ditulis di surat kabar, internet, koran dan tabloid, disebut dalam diskusi-diskusi kelompok masyarakat kita. Penyelewengan selalu menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Seperti halnya penyelewengan dalam masalah rumah tangga, penyelewengan ajaran agama menjadi hal yang dengan sangat cepat meroket, menempati chart tertinggi dalam setiap pembahasan. Majelis Ulama Indonesia telah menyatakan bahwa Al-Qiyadah merupakan aliran sesat. Hal ini dilakukan setelah pengkajian terhadap beberapa pokok dan sumber ajarannya. Hal utama aliran ini dinyatakan sesat karena telah mengingkari Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul terakhir. Ahmad Mozadeq sebagai pengembang ajaran ini mengklaim dirinya sebagai Rasul, setelah Muhammad. Pengakuan ini dituangkan dalam perubahan Syahadat mereka menjadi, “Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah, wa asyhadu anna Ahmad Mozadeq Rasullullah”. Bukankah ini adalah penghianatan terhadap ajaran Islam murni yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai khatamunnabiyyin (penutup para nabi)? Apakah kita siap menghadap kepada Allah sebagai pengkhianat Islam?
Ajaran sesat ini tentu menimbulkan kegeraman dari berbagai kalangan umat Islam. Terutama pada kalangan radikal seperti FPI dan berbagai forum religius yang akhirnya dengan berani mengambil sikap keras yang berujung tindakan kriminal pada setiap pengikut aliran sesat. Tak ayal lagi, pengrusakan dan penghakiman dilakukan oleh massa terhadap person-person yang dianggap ikut andil dalam penyebaran ajaran sesat ini.

Fenomena aliran sesat sebenarnya telah sejak lama membumi di tanah air kita ini. Beberapa diantaranya yang mencuat dan mendapat kecaman keras adalah aliran Ahmadiyah, Al-Qur’an Suci dan Al-Qiyadah. Mereka berkembang secara underground, dengan pengikut yang kadang tersebar di berbagai daerah. Hingga akhirnya ketika muncul ke permukaan, akan langsung mendapat kecaman keras dari umat Islam.
Beberapa pakar telah menyebutkan bahwa rata-rata aliran sesat yang muncul memiliki berbagai kesamaan, diantaranya adalah :
Aliran yang berkembang memiliki pemimpin yang kharismatik. Pemimpin yang mengaku sebagai nabi ini adalah orang yang sangat peduli terhadap sesamanya, apalagi terhadap kader rekrutannya. Hal ini memudahkan baginya untuk mempengaruhi dan mendoktrin setiap orang untuk masuk dan ikut dalam ajarannya. Beberapa pengikut aliran sesat berkata, sejarah penyebaran ajaran ini sama persis dengan sejarah yang terjadi pada masa Nabi Muhammad. Nabi mereka akan diusir, dikucilkan, dilempari batu. Sehingga dengan kharisma yang dimiliki, pemimpin akan tetap mampu mengembangkan ajarannya meskipun berbagai pihak, termasuk pemerintah, memberikan peringatan dan ancaman. Hal ini juga sebenarnya tidak terlepas dari kondisi masyarakat yang sedang mengalami tekanan. Baik itu tekanan ekonomi akibat desakan kebutuhan, tekanan psikologis akibat perubahan gaya hidup yang sangat cepat, ataupun tekanan akibat masalah politik negara yang berpengaruh pada semua lini hidup.
Orang yang direkrut menjadi anggota aliran sesat rata-rata memiliki tingkat pemahaman agama rendah. Ya, tentu saja hal itu benar. Bukankah Al-Qur’an telah memerintahkan kita untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah? Kaffah yang berarti ber-Islam dalam setiap gerakan. Islam dalam Aqidah, Islam dalam ekonomi, Islam dalam Pendidikan, Islam dalam pergaulan, dan Islam semuanya. Rasul telah meninggalkan dua pedoman hidup yang akan menyelamatkan kita dari kesesatan. Al-Qur’an dan Hadits. Pemahaman yang total terhadap sumber ajaran ini akan membawa kita kepada keselamatan, dunia dan akhirat. Sedangkan pemahaman yang setengah-setengah terhadap sumber ajaran ini tentu akan memberikan resiko sebaliknya. Muslim yang memiliki pengetahuan setengah-setengah tentang Islam akan sangat mudah untuk diselewengkan akidahnya. Dalam kasus Al-Qiyadah, kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut : bukankah telah sangat jelas dipaparkan bahwa setiap Rasul memiliki mu’jizat yang diberikan oleh Allah sebagai bukti bahwa ia benar-benar Rasul? Jika memang Ahmat Mozadeq adalah Rasul, apa mu’jizat yang dibawanya? Apakah mu’jizatnya lebih besar dibanding Al-Qur’an?
Dalam aliran sesat, terdapat pemusatan dan otoriterisasi kebijakan pada pemimpin. Pemimpin bebas memerintahkan apa saja bagi pengikutnya, sesuai yang dituangkan dalam Anggaran Dasarnya. Al-Qiyadah Al-Islamiyah telah mewajibkan pemeluknya untuk menyerahkan sebagian hartanya kepada pemimpin. Dengan dalih sebagai sedekah, pengikut menyerahkan beberapa kendaraan. Bahkan yang lucu, bagi pengikut yang berhasil mengajak 40 orang ke dalam aliran ini, akan mendapatkan sebuah sepeda motor. Apakah ini tidak lebih dari sekedar arisan? Keadaan ekonomi masyarakat rupanya tak pernah dapat dilepaskan dari masalah akidah. Sebagaimana yang pernah ditegaskan oleh Rasul :
“dan kefakiran itu lebih dekat kepada kekufuran”
Yang sangat menarik dari kajian aliran sesat ini adalah pandangan yang mengemukakan bahwa aliran sesat merupakan operasi intelijen yang dilakukan untuk memecah suara umat Islam dalam Pemilu yang akan diadakan beberapa tahun ke depan. Pada Pemilu sebelumnya, fenomena aliran sesat juga muncul bertubi-tubi. Bagaimana tidak, dengan munculnya aliran-aliran baru dalam Islam, umat akan bingung kemana mesti memberikan dukungan. Tentu saja hal ini dikhususkan bagi komunitas muslim yang tidak cukup memiliki pegangan kuat berpolitik. Bagi muslim yang hanya ber-Islam dalam KTP. Bagi muslim yang shalat mungkin hanya seminggu sekali, atau setahun dua kali. Dalam ruang lingkup yang universal, pecahnya suara umat akan berpengaruh pada posisi nomor satu di negeri ini, Presiden. Jika presiden kita bukan muslim, akankah ada wadah bagi setiap aspirasi yang diberikan warga muslim?
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah : Bagaimana menghindarkan diri dari berbagai ajaran sesat?
Selama kita berpegang pada rukun Iman dan rukun Islam, maka kita tidak akan pernah terjerumus dalam ajaran sesat yang tak jelas asal muasal dan ujungnya. Salah satu jalannya adalah dengan mencintai Rasulullah. Rasul yang kita percayai ajarannya, sehingga hati kita teguh dalam ber-Islam. Dengan mencintai Rasul, maka kita akan mendapatkan ketenangan dalam menjalankan ajaran Islam. Secara Kaffah.
Beberapa cara mencintai Rasul adalah sebagai berikut :
Meyakini dengan penuh tanggung jawab akan kebenaran Nabi Muhammad dan apa yang dibawa oleh beliau. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menandaskan tentang ciri orang bertaqwa:
“Dan orang-orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (Az-Zumar : 33).
Ikhlas mentaati Rasul Shallallaahu alaihi wa Sallam dengan melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam . Sebagaimana janji Allah :
“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (An-Nuur: 54).
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (An-Nisaa’: 65).
Mencintai beliau, keluarga, para sahabat dan segenap pengikutnya. Rasulullah bersabda:
“Tidaklah beriman seseorang (secara sempurna)sehingga aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Membela dan memperjuangkan ajaran Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam serta berda’wah demi membebaskan ummat manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari ke zhaliman menuju keadilan, dari kebatilan kepada kebenaran, serta dari kemaksiatan menuju ketaatan. Sebagaimana firman di atas :
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (Al-A’raaf: 157).
Meneladani akhlaq dan kepemimpinan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam dalam setiap amal dan tingkah laku, itulah petunjuk Allah:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah”. (Al-Ahzab:21).
Memuliakan dengan banyak membaca shalawat salam kepada beliau terutama setelah disebut nama beliau.
“Merugilah seseorang jika disebut namaku padanya ia tidak membaca shalawat padaku.” (HR. At-Tirmidzi)
Waspada dan berhati-hati dari ajaran-ajaran yang menyelisihi ajaran Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam seperti waspada dari syirik, tahayul, bid’ah, khurafat, itulah pernyataan Allah :
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi ajaran Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (An-Nur: 63).
Mensyukuri hidayah keimanan kepada Allah dan RasulNya dengan menjaga persatuan umat Islam dan menghindari perpecahan dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-shahihah. Itulah tegaknya agama:
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah karenanya”. (Asy-Syura: 13).
Sebagai kesimpulan dari artikel ini adalah : pemahaman yang total terhadap ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. adalah satu-satunya jalan menghindarkan diri dari kesesatan yang terjadi. Baik itu kesesatan secara parsial (sebagian) ataupun kesesatan secara universal (menyeluruh). Untuk mengenali sesuatu yang asli, kita tentu harus mengetahui sesuatu yang palsu. Begitu juga sebaliknya. Asli dan palsu dibedakan dari esensi yang dikandung, bukan dari kulit luar. Islam yang dibawa Rasul Muhammad Saw. adalah agama paripurna yang telah mengatur seluruh kepentingan umatnya, yang mengajak umatnya menjadi umat terbaik, yang mengajak umatnya memakmurkan bumi, yang meletakkan maslahah di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Mari kita buka hati untuk menerima Hidayah dari-Nya. Semoga Allah tetap memberikan kekuatan pada kita untuk tetap pada Islam yang benar, yang dibawa oleh Rasul junjungan kita 1600 tahun lalu. Semoga kita akan bertemu dengan Rasulullah di Padang Mahsyar dengan pengakuan sebagai umatnya, mendapatkan syafaatnya. Amin

Oleh : Muhammad Zainal Abidin
Penulis adalah Mahasiswa UIN Alauddin Makassar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: