Rencana Reuni Lebaran

DASAR PEMIKIRAN
Hal yang sangat menentukan dalam menciptakan masyarakat yang mandiri dan masyarakat yang sejahtera adalah peningkatan sumbe daya manusia. Lembaga pendidikan atau sejenisnya adalah faktor penentu dalam mensoal peningkatan sumber daya manusia, baik pada tingkatan generasi muda maupun pada tingkatan masyarakat pada umumnya. Sehingga dalam mendesign kemandirian dan kesejateraan masyarakat dalam konteks kabupaten Luwu Utara adalah sebuah keharusan untuk mengedepankan pendidikan. Sebuah andaian pembangunan daerah berbasis pendidikan, Karena keharusan dari fakta global adalah persaingan, baik pada tingkatan sumber daya manusia, maupun akses informasi. Tidak ada kata kecuali, memulai saat ini dengan hal-hal yang terkecil guna mewujudkan kemandirian dan kesejateraan masyarakat berbasis pendidikan
Al-Falah sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam mempunyai potensi besar dalam peningkatan kemandirian dan kesejateraan masyarakat melalui sistem pendidikannya dengan mencetak generasi-generasi muda yang tangguh dan bertaqwa (global thinking lokal acting). Selain telah meluluskan kader-kader yang berani bersaing, Al-Falah juga telah membuktikan diri dengan mendistribusikan kader-kadernya di perguruan-perguruan tinggi selevel nasional, mencetak para santri-santri yang telah mengabdi ke masyarakat, mencetak para pelaku-pelaku ekonomi mikro dan lain sebagainya.
Hal yang kemudian sangat urgen ke depannya adalah pola distribusi kader-kader Al-Falah yang dalam hal ini tentu membutuhkan jalinan komunikasi antar kader-kader Al falah yang masif dan strategis.
Untuk itu Reuni Kader/ alumni tentu menjadi hal yang sangat penting guna membangun komunikasi antar kader Al-Falah baik pada tingkatan lembaga Al-Falah sendiri, Pengajar, masyarakat sekitar maupun kader-kader secara personal

TUJUAN
Menjalin komunikasi antar kader Al-Falah, Dewan guru, dan masyarakat sekitar.
Adanya komunikasi yang strategis anyara kader Al-Falah dengan Al-Falah sebagai lembaga pendidikan.
Mendesign pola distribusi kader.

SEKILAS TENTANG ORGANISASI

  1. Al-Falah Connection adalah sebuah organisasi jaringan para alumni Al Falah yang berdomisili di berbagai daerah.
  2. Al-Falah melakukan kerja-kerja jaringan dalam rangka untuk penguatan Al falah sebagai kelembagaan dan kerja-kerja sosial dalam rangka untuk meningkatkan akses dan informasi di/untuk Al-Falah.
  3. Al-Falah Connection juga melakukan penguatan-penguatan kapasitasi personil dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat pengembangan akademik, pengembangan skill organisasi dan pengembangan skill profesi baik secara langsung (pelatihan-pelatihan, seminar, diskusi) maupun tidak langsung (pengadaan webblog).
  4. Al-Falah Connection sampai saat ini telah membentuk perwakilan-perwakilan di beberapa daerah (Palopo, Makassar, Surabaya, Malang-Jawa Timur, Tulungagung-Jawa Timur, Kediri-Jawa Timur, Nganjuk-Jawa Timur, Madiun-Jawa Timur, Yogyakarta, dan Bandung-Jawa Barat).
  5. Al-Falah Connection mempunyai anggota dari berbagai macam disiplin ilmu.
  6. Al-Falah Connection Beralamatkan di http://www.alfalahconnection.blogspot.com/ dan email : alfalahsmallville@yahoo.com

PELAKSANA DAN PELAKSANAAN
Agenda ini dilaksanakan oleh Al-Falah Connection yang dalam teknisnya dibentuk sebuah kepanitiaan
Agenda ini akan dilaksanakan pada :
Hari/tgl : Minggu, 22 Oktober 2007
Pukul : 09.00-16.00 WIB
Tempat : Halaman Parkir Ponpes Al Falah Lemahabang, Patoloan Bone-bone Kabupaten Luwu Utara.
Tema : Al-Falah Dalam Kebersamaan

SASARAN PESERTA
Acara ini akan di hadiri oleh :

  1. Semua Alumni Madrasah Tsanawiyah Al-Falah
  2. Semua Alumni Madrasah Aliyah Al-Falah
  3. Dewan Guru Al-Falah
  4. Tokoh Masyarakat
  5. Masyarakat Sekitar
FORMAT ACARA
Acara temu Alumni ini akan di bagai menjadi beberapa sesi

  1. Forum Temu Alumni
  2. Pameran Pendidikan

PENDANAAN DAN ANGGARAN BIAYA
Seluruh rangkaian acara ini memerlukan dana sekitar Rp. 10.000.000 (Sepuluh Juta Rupiah)
Biaya dari agenda ini akan diperoleh dari sumbangan para alumni-alumni Alfalah, Instansi Pemerintah Daerah, Sumbangan-sumbangan dari individu/lembaga yang halal dan tidak mengikat.
PENUTUP
Kami merasa sangat terhormat atas dukungan dari semua pihak, baik moril maupun materiil, langsung maupun tidak langsung, demi kelangsungan agenda ini. Semua ini kita niatkan benar-benar demi kemajuan pendidikan Luwu Utara pada umumnya.

KEPANITIAAN

Penanggung jawab :

  1. Mahrus Habibi
  2. Rahmat Hidayat
  3. Yunan Nawawi
  4. Ikhwan Hadi
  5. Abdul Musthofa
  6. M. Zainal Abidin

Organizing Commite

  1. Ketua : Ramlah
  2. Wakil Ketua : Mat Baharuddin
  3. Sekretaris : Dalam Konfirmasi
  4. Bendahara : Atik Nawangsari

Seksi

  1. Acara : Dalam Konfirmasi
  2. Dekdok : Dalam Konfirmasi
  3. Keskretariatan : Dalam Konfirmasi
  4. Konsumsi : Dalam Konfirmasi

Siapa Guru Favoritmu di Al-Falah?

Pertanyaan ini mestinya diajukan dulu, waktu kita masih sekolah di sana. Tapi sekarang juga gak papa.
Tentu masing-masing dari kita punya. Sesosok guru idola. Mungkin karena cara mengajarnya, karena gayanya, karena senyumnya. Hal ini juga bisa jadi karena kamu punya pengalaman yang baik bersama beliau. Tau gak, memiliki idola itu cukup mengasyikkan. Tiap kali
Makanya, jawab posting ini dengan meng-klik COMMENT di bawah ini.
Oke?

Lanjut …

Pojo’E Al-Falah

By: DoelThofa

Bismillahirrahmanirrahim

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah memberikan kita semua kesehatan sehingga kita dapat menikmati suatu kenikmatan yang tak ternilai harganya. Semoga kita tak lupa bersyukur kepada Nya.. Alhamdulillah….3 x.
Belakangan ini sekolah kita banyak mengalami permasalahan yang amat berat, semoga saja ini suatu ujian bukan suatu azab dari Allah. Amien… 3 x. sekarang ini sekolah kita kurang sekali suatu pembaharuan yang dapat membawa al-Falah menjadi yang terbaik, seperti harapan kita semua.
Selanjutnya untuk membuat yang terbaik untuk Al-Falah tercinta. kita butuh bibit-bibit unggul, yang dapat membuat perubahan sehingga semua harapan yang kita inginkan tercapai.
Kita dilahirkan dari bahan terpilih. Kita terbentuk setelah terjadi pembuahan suatu ovum oleh satu sperma tangguh, yang telah menyisihkan berjuta-juta sperma lainnya. Dan, Alhammdulillah… kita pemenangnya. Mari kita syukuri kemenangan itu……….. Banyak generasi al-Falah di luar sana yang mempunyai bibit-bibit unggul seperti (Alumni al-Falah) K’ Kroez, K’ Abied, K’ Rahmat, K’ Mizan, N’ K’ Ruri, serta KK’ yang lainnya, yang kini merencanakan suatu untuk ke depannya al-Falah sehingga mendapatkan pembaharuan yang berbeda dari yang lainnya. Sehingga al-Falah dapat seperti yang kita harapkan. Semoga semua yang direncanakan oleh generasi “Al-Falah Conecction” dapat terwujudkan.. amien 3 x. kami di sini hanya dapat membantu dengan doa untuk kalian semua (K’ Kroez, K’ Mizan, K’ Kartolo dan lain-lainnya).
Apa yang harus dibuat?


Suatu kelebihan dan kekurangan telah diberikan oleh Allah kepada kita semua… hanya kita yang dapat menjadikan semuanya itu menjadi baik.
Suatu Warisan yang mahal dan tak ternilai harganya yaitu kemampuan untuk berbuat apa pun yang baik. Apa yang bisa dilakukan orang lain, kita harus lebih bisa melakukannya, sehingga kita dapat berbuat lebih banyak yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa terutama bagi Agama kita. Amien.
Jika ingin berbuat yang lebih baik. Alangkah baiknya diawali semua itu pada diri kita sendiri. Coba lah itu semua pada diri sendiri… sehingga mencapai suatu keberhasilan… meskipun itu keberhasilan yang tertunda.


Generasi sekarang, banyak yang takut akan kegagalan dalam hidupnya tapi, dia belum bisa mengambil dari suatu kegagalan tersebut.
Salah satu cara untuk tidak membuat kegagalan di masa sekarang dan masa yang akan datang adalah jangan membuat keputusan sama sekali. Tetapi apalah artinya hidup jika tidak berani membuat keputusan, seharusnya kita slalu mengambil keputusan yang bijaksana….
Jadi jangan takut dengan kegagalan. Maka belajarlah engkau dari kegagalan sehingga engkau dapat sesuatu yang bermanfaat dari kegagalan tersebut.
Dalam membangun keSUKSESan kita harus mengenal diri kita sendiri?
Mengenal Diri Kita Sendiri
Di dalam tubuh ini ada akal, jasad, dan qolbu. Akal membuat orang bisa bertindak lebih efektif dan efisien dalam melakukan apa yang ia inginkan. Sedangkan tubuh bertugas melakukan apa yang diperintahkan oleh akal. Sebagai contoh, apabila akal menginginkan tubuh mampu berkelahi, maka tubuh akan berlatih agar menjadi kuat. Sayangnya, tidak sedikit orang yang cerdas, orang yang begitu gagah perkasa, tapi tidak menjadi mulia, bahkan sebagian diantaranya membuat kehinaan karena berbuat jahat. Mengapa? Sebab ada satu yang membimbing akal dan tubuh yang belum diefektifkan, itulah qolbu.
Kita ambil contoh lain, sebuah mikrofon bisa menjadi alat provokasi kejahatan, bisa juga jadi alat dakwah dan menyampaikan ilmu, sebuah mikrofon bisa juga menjadi alat bantu berbicara sehingga menjadi fasih, itulah fungsi mikrofon. Artinya, yang menentukan isi dari bahasa yang keluar darinya adalah qolbu. Dalam hal ini Rasulullah SAW menyebutkan bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging yang jika ia baik maka baik pula yang lainnya, sebaliknya yang apabila ia jelek maka jeleklah semuanya. Dan yang dimaksud daging itu ialah Qolbu.
Jadi, yang terpenting dari manusia ternyata bukan kecerdasannya saja, tapi yang membimbing cerdasnya otak menjadi benar, yang membimbing kuatnya fisik menjadi benar. Disitulah fungsi qolbu. Oleh karenanya, menjadi cerdas belum tentu mulia, kecuali kecerdasannya dipakai untuk berbuat kebenaran. Menjadi kuat belum tentu mulia, kecuali kekuatannya di jalan yang benar.
Dengan diri ini, kita wajib berpikir dan melakukan suatu tindakan yang benar, sehingga kita dituntut terus untuk Berpikir, berpikir, dan berpikir baru berbicara. Mendengar, mendengar dan mendengar, baru mengajukan pertanyaan yang bermanfaat, kemudian kita mengerjakan dan merealisasikannya ke dalam kehidupan.

Kita Butuh Generasi yang Lebih…….
Mana Mass……… Ayo………Semanga’-semanga’
Mental Baja
Untuk merealisasikan semua itu kita butuh mental. Tanpa suatu mental dalam diri, kita tak dapat berbuat sesuatu yang bermanfaat dengan tanpa hasil yang maksimal. Dengan menanamkan dalam diri kita sebuah mental yang kuat, kita dapat bertahan dan meraih semua creativitas yang akan membawa kita ke dunia yang lebih baik. Maka, Teruslah pertahankan mental positif. Jangan setengah-setengah. Didiklah mental itu setinggi-tingginya dan teruslah ke depan yaitu tujuan kita, yang penting bukan tujuan yang nggak jelas… ingat kita selalu berbuat yang bermanfaat jika ingin produktif. ….
Giat & Tekun

Banyak generasi sekarang ini, perjalanan hidupnya selalu dibayangi dengan sesuatu yang tak jarang orang punya, yaitu kemalasan. Sifat ini semua orang punya, tapi banyak yang memakai sifat ini sebagai kebutuhan sehari-hari, bukan untuk dihindari tapi malah di pakai tiap hari… sehingga membuat kita jauh dari sukses. ..
Jarak antara kita dan sukses harus dipupuk dengan jembatan pengembangan, yaitu pembentangan kekuatan yang ada pada diri kita. Jembatan jangan di rusak secara sengaja oleh kemalasan, keminderan, dan ketakutan untuk menyebaranginya. Sekarang kita buang jauh-jauh itu semua. Mulai dari diri sendiri, kita jadikan diri ini orang yang giat dan tekun, serta jangan lupa berdoa kepada Nya.
Apabila kita yakin terhadap kemampuan diri yang tak sombong, dan terus bertahan pada kehidupan produktif hingga sukses. Kalau boleh, kita diilustrasikan memiliki mobil mewah, tetapi malas menyetirnya. Lalu, menunggu orang lain membantu mengemudikan inilah yang sering terjadi pada kebanyakan orang yang tak sukses (Karena hidup menunggu pemberian orang, akibatnya hidup kurang kreatif) Nah…sekarang kita ngomognya udah sukses … bila suatu generasi dari kampung yang udah mencapai kesuksesan di negara lain yaitu selain tanah kelahirannya, ia selalu terbawa oleh suatu sifat kemewahan sehingga ia lupakan awalnya (sombong)
Seringkali, Kita merasa iri dengan kesuksesan orang lain. Padahal, hal pertama yang harus kita tanyakan “Sudah produktifkah waktu kita pergunakan?” Jika belum, sekaranglah saatnya.
PENUTUP
Buatlah semua itu menjadi yang terbaik bagi kita semua… dan janganlah engkau berhenti sampai di sini saja. Dan bertahanlah engkau dengan suatu kepercayaan diri akan mampu menyingkirkan kesukaran masalah, serta hambatan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, banyak juga orang tidak mampu mencapainya. Kita harus yakin bahwa kita bisa sukses.
Sebagai akhir suatu perjalanan janganlah lupa engkau bersyukur kepada Nya… alhamdulillah.. karena ridha dan rahmat Nya kita dapat menjadi suatu generasi yang sukses…
SUCCESS FOR AL-FALAH CONNECTION
Alhamdulillah Ya.. Allah
Amien……..amien..amien.
Dunia berharap………..
Ada berapa banyak orang seperti mereka. ……
Dan dunia menunggu yang seperti mereka……………

Tips Shalat Khusyu’

Shalat shubuhku kali ini ternyata berjalan 1 jam tanpa merasa lelah! Dan sepanjang shalat aku menangis. Saya yakin, yakin sekali, Anda juga akan merasakannya. Seperti juga telah dirasakan banyak orang yang mengikuti petunjuk sederhana ini.
Kemarin saya ke Gramedia untuk mencari buku-buku kata-kata mutiara dan buku Marwah Daud yang berjudul HMMD. Buku-buku kata mutiara sudah didapatkan, buku HMMD nya tidak ada. Sambil melihat-lihat buku best seller, mata saya menangkap judul yang tengah saya cari. Pelatihan Shalat Khusyu’. Buku relatif tipis dengan harga lumayan mahal, 50 ribu. Gambarnya orang sedang sholat di tepi danau, dengan nuansa sampul putih dan biru air. Ada cetakan emas tulisan “Best Seller” di sampulnya. Penulisnya Abu Sangkan, nama yang rasanya pernah dengar, entah dimana. Mungkin karena kata Sangkan Paraning Dumadi (Yang Dianggap -Sumber- Datangnya Kejadian), adalah sebutan bagi Allah dalam masyarakat Jawa. Ternyata nama Abu Sangkan karena dia punya anak dinamai Sangkan paraning Wisesa (sumber datangnya kebijaksanaan -mungkin begitu).
Buku itu saya baca sehabis Isya’ hingga larut malam. Selesai jam 11 malam. kalimat pertama yang mengesankan saya adalah komentar Marwah Daud, yang meyakini bahwa karunia terbesar dalam hidup ini bukanlah kakayaan dan jabatan, tapi adalah diberi karunia shalat yang khusyu’. Dia yakini ini berdasar surat Qur’an Surat Al Mukminun 1-2, “Telah beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu mereka yang khusyu’ dalam sholatnya.”

Silahkan baca sendiri isi dan tipsnya, tulisan ini bukan tentang itu, tapi tentang pengalaman saya ketika shalat subuh tadi pagi.
Setiap Ramadhan saya merasa ketinggalan kereta. Demikian pula dengan kereta I’tikaf 10 hari terakhir. Lagi-lagi luput, tiba-tiba sudah malam ke 22. Maka saya niatkan untuk tahajud dengan menerapkan metode sederhana sholat khusyu’.
Gagal. Saya bangun dengan malas sehingga sahur selesai saat masuk imsak. Ketika ambil wudlu, ternyata sudah masuk subuh. Akhirnya saya mencoba menerapkannya pada sholat sunnah sebelum saya ke masjid (baru hari ini pingin ke masjid, biasanya malas). Niat saya shalat sunnah di rumah, lalu segera ke masjid.
Gagal juga! Shalat sunnah saya terlalu lama sehingga (sambil masih shalat) terdengar masjid sudah memulai shubuhnya. Ya sudah saya lanjutkan terus sunnah saya. Pelan-pelan. Sambil sangat rileks, seperti tips dalam buku itu. Subhanallah! Shalat sunnah ini begitu enaknya, hingga lama seperti seakan shalat wajib. Shalatnya terganggu ketika ponsel berbunyi karena ada SMS masuk. Bunyi terus-menerus mengingatkan saya bahwa ada message yang belum dibaca. Duh, kesal rasanya hati harus mempercepat shalat hanya untuk mematikan handphone.
Lalu saya mulai shalat shubuh. Dengan sedikit kurang yakin bahwa akan mendapat kenikmatan seperti shalat sunnah tadi. Saya menyantaikan diri. Rileks. Satu prinsip utama dalam kiat buku itu adalah, jangan ‘mencari’ khusyu’, cukup siapkan diri untuk ‘menerima’ khusyu’ itu, karena khusyu’ bukan kita ciptakan tapi ‘diberi langsung’ oleh Allah sebagai hadiah nikmat kita menemuiNya. Tips yang sangat sederhana, tapi ini bagi saya adalah lompatan paradigma!
Maka saya bersikap rileks. Kepala hingga pinggang dikendorkan, jatuh laksana kain basah yang dipegang ujungnya dari atas. Berat badan mengumpul di kaki yang kemudian serasa keluar akarnya, mengakar ke bumi. Berdiri santai, senyaman kita berdiri. Abu Sangkan menggambarkan laksana pohon cemara, meluruh atasnya, kokoh akarnya sehingga luwes tertiup angin namun tak roboh.
Bersikap rileks menyiapkan diri kita untuk siap ‘menerima’ karunia khusyu’, karena khusyu’ itu diberi bukan kita ciptakan.
Lalu saya mulai bertakbir, Allahu Akbar. Dan selanjutnya saya baca dengan pelan-pelan. Karena bacaan shubuh harus diucapkan agak keras, maka saya rendahkan suara saya. Pelan sesuai tips buku itu, rendah suara karena -jujur- saya agak malu kalau suara saya terdengar istri saya yang sedang tiduran. Rasanya seperti baru belajar sholat lagi. Saya berdiri lama, banyak berhenti kalau memang sedang tidak ingin baca. Saya meresapi kesendirian dan berusaha menangkap kehadiran Tuhan yang sesungguhnya amat dekat dengan kita, namun kita tumpul untuk merasakannya. Saya sedang menemuiNya sekarang. Saya, ruh saya tepatnya. Badan fisik ini hanyalah alat yang mengantar ruh ini berjumpa kembali dengan yang dicintainya, ialah Allah yang meniupkan ruh ini dahulu ke dalam badan fisik.
Break sebentar. Pernah sholat di belakang imam yang ‘ngebut’ sholatnya? Saya pernah, dan jujur saya kesal. Baru mau selesai Al Fatihah, eh dia sudah ruku’. Saya mau ruku’ eh dia sudah berdiri I’tidal. Dan seterusnya. Saya kesal karena irama kecepatan sholat kami berbeda. Dia – menurut saya- terlalu cepat.
Ternyata demikian halnya dengan sholat kita sendiri. Ketika kita sholat, selain badan fisik kita ini sholat pula ruh kita. Ruh inilah yang benar-benar ingin sholat -kembali menemui Tuhannya- sementara badan fisik ini sarana kita mengantarnya dengan gerakan dan bacaan. Ruh kita ini sesungguhnya ingin sholat dengan tenang, santai, tuma’ninah. Sayangnya badan kita ‘ngebut’, jadilah ruh kita itu jengkel sejengkel-jengkelnya karena selalu ketinggalan gerakan badan. Maka tips sederhana dari buku itu adalah jika ruku’, tunggu, tunggu hingga ruh ikut mantap dalam ruku’ itu. Saat I’tidal, tunggu, tunggu hingga ruh mu ikut mantap I’tidal. Demikian pula saat sujud, duduk antara dua sujud, juga duduk tasyahud. Tunggu, tunggu hingg ruh mu ikut sujud, ikut duduk, ikut tasyahud.
Berikan kesempatan ruh kita -sebut saja “aku” yang sejati- untuk mengambil sikap sholatnya. Dia agak lamban, namun sholat ini utamanya untuk ‘aku” kita itu, bukan untuk badan fisik kita.
Maka saya shalat dengan sangat pelan. Santai. kalau sedang malas baca, saya diam saja. menikmati kepasrahan saya hadir menemui Tuhan. Saya baca bacaan sholat dengan pelan. Saya mencoba berdialog, dan itulah memang esensi sholat.
Esensi sholat adalah doa, berdialog dengan Allah secara langsung.
Kita sebenarnya diberi kesempatan untuk mengadu. Kita adukan semua persoalan kita kepada Allah. Kita adukan semua kebingungan kita, pekerjaan, rizki, kesehatan, cinta, dan semua apapun. Kita mengadu, dan kita pasrah menunggu dijawab. Dan pasti Allah menjawabnya langsung. Ruh bisa merasakannya, namun kalau dia dipaksa tertinggal-tinggal oleh gerakan badan, maka dia tidak sempat menikmati pertemuan dengan Allah itu.
Saat ruku’ saya ruku’ lama, sambil menarik regang kaki dan punggung saya. Nikmati saja seperti menikmati peregangan bila senam. Saat sujud, saya tumpukan kepala sebagai tumpuan utama. Nikmat rasanya ‘terpijat’ dahi ini oleh gerak sujud. Saat ruh telah ikut sujud, saya baca dengan penghayatan, “Subhana robbiyal a’laa wa bi hamdih” (Maha Suci Engkau yang Maha Tinggi dan Maha Terpuji). Rasanya nikmat sekali sujud lama.
Lalu, lalu saya duduk setelah sujud. Saya baca sepotong-sepotong bacaannya, sesuai tips buku itu. Robbighfirlii (Ya Tuhan ampunilah aku). Lalu saya diam. Tiba-tiba keluar sendiri air mata, saya menangis karena menyadari betapa dalam makna kalimat pengaduan ini. Kita minta secara langsung untuk dimaafkan . Ruh kita meminta secara langsung, dan Allah menjawabnya. Saya menangis. Ruh saya, kita yang sejati, menangis. War hamnii (dan sayangilah aku), air mata itupun tumpah. Wajburnii. Diam. War fa’nii. Diam. Saya tak terlalu yakin arti yang saya baca. Tapi saya makin menangis. Warzuqnii (beri rizki padaku -Ya Allah), air mata saya tumpah, betul-betul saya tiba-tiba sadar bahwa selama ini saya mengejar-ngejar rizki tapi tidak serius mengakui itu dariNya, lalu saat ini saya sedang memintanya langsung! Wahdinii (tunjukilah aku -karena aku sedang bingung dan tak tahu). Diam, saya menangis. Wa’aafinii (dan sehatkan aku -aku yang sedang sakit pilek). Wa’fuannii (dan maafkan aku- yang banyak dosa ini). Saya duduk lama sekali. Sambil mengusap air mata yang bercucuran.
Shalat shubuh dua rakaat ini panjang. Ditutup dengan tasyahud yang menggetarkan. Apalagi ketika membaca “Assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillahisshoolihiin” (keselamatan mohon dikaruniakan kepada kami -para ruh yang sedang menemuiMu- dan atas ruh-ruh ahli-ahli ibadah yang sholih). Saya menangis terus-menerus, sehingga berulang kali mengusap lendir yang keluar dari hidung.
Setelah shalat, sesuai dengan tips buku itu, saya mulai berdoa dengan meratap. Saya ucapkan hanya, “Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah…”, sambil mengangkat tangan setinggi wajah seperti seorang pengemis yang meminta-minta. Berkali-kali, hingga hati saya siap berdoa. Saya ingat buku Al Ghazali dulu saya baca, sekitar 15 tahun lalu, yang berjudul Rahasia Shalat. Salah satu poin yang saya ingat adalah, kalau kita ingin dekat Allah maka kita harus sungguh-sungguh memanggilnya laksana seorang anak kecil yang ketakutan karena ada ular atau bahya, lalu memanggil-manggil ayahnya, “Ayah… Ayah… Ayah…”, maka ayahnya pasti datang dengan seruan itu dan melindungi anak tersebut. Demikianlah kalau kita ingin bebas dari maksiat, kata Al Ghazali, maka kita harus panggil dengan betul-betul ketakutan akan maksiat tersebut, kita panggil pelindung kita dengan sungguh-sungguh seakan anak kecil memanggil-manggil ayahnya, maka akan dilindungi kita dari maksiat tersebut.
Lalu saya berdoa, dengan masih terus menangis. Saya merasa mengadu dan masih mengadu di depan Tuhan secara langsung. Saya mengikhlaskan apapun jawaban dari doa saya tersebut.
Saya bahagia bisa merasakan sholat seperti itu. Tidak akan tergantikan dengan uang dan kemewahan dunia lainnya.
Sungguh pengalaman yang menakjubkan. Cerita berhalaman-halaman tidak akan mampu melukiskan hal itu. Silahkan coba sendiri, rasakan sendiri, menagislah mengadu kepada Allah sendiri. Saya cuman mau berbagi cerita, dengan kekahwatiran saya kehilangan rasa yang sama di sholat berikutnya (insya Allah mudah-mudahan tidak akan hilang).
Problem yang sekarang muncul, tampaknya akan sulit lagi saya menikmati sholat kilat, di belakang imam yang irama sholatnya lebih cepat dari saya. Apakah saya perlu sholat sendiri dulu beberapa waktu ini?
Buku itu berjudul Pelatihan Shalat Khusyu’ : Shalat sebagai meditasi tertinggi dalam Islam. Abu Sangkan, Penerbit Baitul Ihsan (masjidnya Bank Indonesia), cetakan kelima Mei 2005 (cetakan pertamanya Agustus 2004). Websitenya : http://www.dzikrullah.com

Refleksi 17 Agustus

Merdeka!!! Merdeka!!!
Dirgahayu RI ke 62. Semoga Kita benar-benar menjadi warga yang merdeka!
Dengan Kemerdekaan ini, Al-Falah Connection juga melakukan perubahan. Salah satunya dengan tampilan site yang baru. Semoga hal ini bisa menambah semangat untuk saling Keep in Touch.