Kebahagiaan …

Akhir-akhir ini kita sering mendengar kisah-kisah, meski tidak unik tetapi menarik, yang menampakkan paradoks kehidupan. Ada kisah-kisah perkawinan penuh senyum berdampingan dengan perceraian dalam dendam. Ada kisah lahirnya anak selebritis diiringi sukacita berbarengan dengan berita mayat-mayat bayi di tumpukan sampah. Ada juga kisah kenikmatan seks rombongan beriringan dengan cerita tangis kepasrahan penggemar Arifin Ilham atau Pendeta Lumoindong. Ada kisah mahamurah Bunda Teresa beriringan dengan cerita kebengisan George W. Bush. Betapa riuhnya dunia tempat kita tinggal. Penuh pertentangan. Seribu satu kelakuan muncul dari mahluk berjenis manusia. Dari tujuh not nada bertunaslah jutaan lagu. Mungkin itulah yang menjadi alasan Socrates (470-399 SM) lebih suka membincangkan soal manusia daripada alam semesta seperti yang dilakukan filsuf-filsuf Yunani sebelumnya. Kalau boleh berspekulasi, semua yang dilakukan manusia, entah diakui atau tidak, adalah upaya memperoleh kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan.
Setiap orang ingin bahagia. Itu pasti. Manusia berupaya mengalami kebahagiaan. Ada yang percaya bahwa kebahagiaan bisa dicari dalam harta. Orang bekerja keras membanting tulang, mengumpulkan uang, atau menipu untuk memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya. Kekayaan dianggap puncak yang harus dicapai untuk menikmati matahari terbit yang indah. Semakin banyak yang dimiliki, semakin bahagialah ia. Ada pula yang percaya sebaliknya; meninggalkan harta adalah sumber kebahagiaan. Ada orang yang menanggalkan semua hartanya, tidak bekerja, dan pergi ke tempat-tempat sunyi menjadi pertapa. Kekayaan dianggap jurang gelap nan dalam dan bisa membinasakan kebahagiaannya sebagai manusia fana. Semakin sedikit kebutuhan akan kekayaan, semakin bahagialah ia. Benarkah kebahagiaan ada atau tidak ada dalam sesuatu di luar diri kita, ataukah ia berada dalam diri kita dan menunggu untuk ditemukan? Kebahagian merupakan tujuan akhir dari segala upaya yang dilakukan manusia. Kebahagian berharga pada dirinya sendiri. Ketika orang sudah mencapai kebahagiaan, yang lain menjadi tidak perlu lagi. Tapi apa sebenarnya kebahagiaan itu?
Belajar Filsafat kali ini akan membahas tentang kebahagiaan, sebuah tema yang sudah sekuno filsafat itu sendiri. Para filsuf, mulai dari Budha, Socrates, hingga Kierkegaard mencari kebahagiaan. Begitu pula saya, teman saya, sepupu saya, dan Anda. Saya punya teman. Dia cantik, pintar, memraktekkan agamanya, dan gaul. Tidak sedikit teman laki-laki yang mendekatinya. Ada juga yang langsung mengajaknya menikah. Dia belum bergeming dan tidak memilih salah satu. “Kenapa pilih-pilih begitu?” tanya saya suatu kali. “Tidak adakah satupun dari mereka yang memenuhi kriteriamu?”.
Ada yang sudah mapan, bekerja di suatu bank ternama di Bandung. Ada juga seorang ahli teknik di Danone-Aqua. Dia ingin masa depan yang bahagia. Tentu saja. Semua orang juga ingin. Dia percaya kebahagiaan bisa diperoleh dari keluarga yang harmonis, suami yang setia, anak yang baik, penghidupan yang layak, dan mertua yang tidak cerewet. Dia percaya kebahagiaan ada di ‘luar sana’; di luar dirinya.

Bila kita cermati semua ajaran agama dan filsafat yang pernah mampir ke dunia ini, maka kita akan menemukan bahwa kebahagiaan tidak ada ‘di luar sana’ secara murni. Ada andil dari pemahaman kita sendiri tentangnya. Socrates, misalnya, bilang bahwa kebahagiaan adalah keadaan ketika kita mencapai diri yang sempurna. Kesempurnaan ini diraih dengan mencapai pemahaman akan ‘yang baik’; dan kita mencapai ‘jiwa yang baik’ (eudaimonia)1. Eudaimonia sering diterjemahkan sebagai kebahagiaan; kebahagiaan dalam arti luas; keadaan jiwa manusia yang melampaui perasaan subjektif seperti senang atau gembira.

Bagaimana kebahagiaan ini tercapai? Sekali lagi Socrates menjawab: “Dengan memiliki keutamaan berupa pengetahuan tentang ‘yang baik’”. Keselarasan antara mengenal dan berperilaku baik merupakan jalan satu-satunya mencapai kebahagiaan. Teman saya langsung ngotot. “Tidak; tidak mungkin benar. Buktinya para pejabat itu tahu bahwa orang miskin itu sengsara, tapi tetap saja mereka menerapkan kebijakan yang menyengsarakan orang miskin!” Ya, teman saya benar juga. Banyak orang tahu tentang ‘yang baik’, tapi mereka tidak menerapkan dalam kehidupan mereka. Mereka tahu bahwa menipu bukan ‘yang baik’, tapi mereka melakukannya. Keberatan seperti ini ada benarnya, tetapi maksud Socrates dengan ‘mengetahui yang baik’ adalah mengetahuinya secara eksistensial, bukan secara teoritis. Artinya, ‘mengetahui’ itu melibatkan seluruh aspek dan dimensi kepribadian manusia. Contoh dalam kartun adalah ketika tokoh digambarkan dinaungi awan berisi bola lampu dan diriingi suara ‘ting!”. Orang yang bahagia adalah orang yang tahu tentang ‘yang baik’ dan berusaha mencapainya sesederhana apapun.

Jadi, kebahagiaan berada di dalam diri kita sekaligus berada di ‘luar sana’. Orang yang bergantung pada sesuatu ‘di luar sana’ untuk bisa bahagia, rasanya tidak akan pernah bahagia karena tidak semua yang ‘di luar sana’ bisa kita miliki.

Meski Socrates tidak punya sekolah, banyak orang yang kemudian mengaku sebagai muridnya dan menyatakan bahwa mereka menjalankan filsafatnya. Dua di antara yang terkenal adalah Kaum Sinis dan Hedonis. Suatu hari Socrates sedang jalan-jalan di sudut Athena diikuti beberapa orang ‘muridnya’. Ketika melewati sebuah toko kelontong, Socrates berucap: “Hmm, ternyata banyak nian yang tidak aku perlukan”. Ucapan sinis inilah yang membuat Diogenes dari Sinope (412-323 SM) menerapkan ajaran “dengan sesedikit mungkin material yang dibutuhkan, maka kita akan mencapai kebahagiaan”.

Diogenes yang juga dikenal sebagai Diogenes dalam Tong, konon pernah dikunjungi oleh Alexander Agung. Sang Kaisar bertanya: “Dio, adakah yang engkau inginkan dariku?”. Dari dalam tongnya, Diogenes menjawab, “Ya, bergeserlah ke samping, Anda menghalangi cahaya mentari”. Antisthenes (?), seorang dari filsuf Sinis pernah bilang: “Aku takut pada harta-kekayaan karena ia menciptakan ketidaksetaraan; ketaksetaraan menimbulkan kecemburuan; dan kecemburuan memunculkan kebencian; dan kebencian menurunkan derajat kemanusiaan manusia.” Bagi Diogenes dan kaum Sinis lainnya, keterikatan pada barang-barang materi telah merusak kealamiahan manusia dan karenanya menjauhkan manusia dari kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kelepasan dari ketergantung terhadap sesuatu ‘di luar sana’; terutama materi. Sepanjang hidupnya konon Diogenes cuma punya satu mantel, tongkat, kantong roti, dan tong tempat tinggal.

Pendapat bersebrangan datang dari orang yang juga mengaku sebagai murid Socrates, yaitu Aristippus (435-355 SM), filsuf dari Kyrene, Afrika Utara. Socrates pernah mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan diperoleh dengan mengetahui ‘yang baik’. Filsafat adalah upaya untuk mengetahui ‘yang baik’ tersebut. Oleh Aristippus ‘yang baik’ diterjemahkan sebagai ‘yang nikmat’. Segala sesuatu yang nikmat bagi tubuh adalah baik. Orang bahagia adalah orang yang mengupayakan kenikmatan dalam hidupnya. Mengejar kenikmatan merupakan upaya (actus) yang dilandasi oleh pemahaman tentang yang nikmat (praxis). Rasio manusia bertugas untuk memperhitungkan pemaksimalan kesenangan dan peminimuman kesusahan (badani). Kalau kita pikir-pikir, bisa jadi pemikirannya benar. Selama ini tidak sedikit orang yang mengupayakan kenikmatan badani dengan mengumpulkan kekayaan, lalu membelanjakannya untuk makanan lezat, minuman enak, seks, tamasya, atau ke spa. Orang berlomba-lomba memperoleh kenikmatan. Bahkan barang terlarang pun dibeli jika itu memberi kenikmatan. Tetapi apakah benar kebahagiaan bisa diperoleh dari itu semua? Jawabannya jauh dari abad ke-19 di Denmark. Søren Kierkegaard (1813-1855), filsuf eksistensialis itu bilang “ya, bisa”. Kenikmatan badani atau oleh Kierke disebut sebagai kenikmatan estetik merupakan satu dari beberapa sumber kebahagiaan manusia. Tetapi, kenikmatan estetik itu sifatnya sangat terbatas. Selagi sumber kenikmatan itu ada, maka bahagialah ia. Sumber kenikmatan seperti tamasya, minuman enak, makanan lezat, tidak bertahan lama. Ketika tubuh sakit, maka lenyaplah segala kenikmatan itu. Ketika tidak lagi mempunyai uang untuk membeli ‘kebahagiaan’ itu, sengsaralah kita. Selain itu, kita akan selalu mencari dan terus mencari lagi sesuatu yang baru dan dianggap menyenangkan. Intinya, ketergantungan kepada sesuatu di luar diri; apalagi berupa materi, bukanlah sumber kebahagiaan sejati.

Kembali ke ajaran kaum Sinis, maksud ajaran mereka tentang ketidakterikatan pada materi pada intinya bukan berarti kita tidak boleh mempunyai dan menikmati materi; tetapi tidak terikat dengan yang kita punyai tersebut. Dalam ajaran agama mungkin ini yang disebut ikhlas. Semuanya milik Allah. Semua ada dan tiada karena Allah. Ketika kita terikat, maka sama saja seperti kita melekatkan stiker ke betis. Cabutlah stiker itu, maka sakitlah betis kita karena ada yang tercerabut, yaitu bulu. Muhammad, nabi Islam dari Arab, konon pernah bilang: janganlah mencintai atau membenci seseorang (juga sesuatu) seratus persen. Cukuplah lima puluh persen saja. Sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa jadi orang yang paling kita cintai menjadi orang yang paling membuat kita menderita; dan sebaliknya.

Aristoteles (384-324 SM), salah seorang murid Plato yang terkenal, mengajukan pendapat bahwa kebahagiaan adalah tujuan terakhir hidup manusia. Apabila kita sudah bahagia, maka kita tidak memerlukan apa-apa lagi. Kalau sudah bahagia, tidak masuk akal jika kita masih mencari sesuatu yang lain. Kebahagiaan itulah yang baik dan bernilai pada dirinya sendiri. Berkaitan dengan kenikmatan estetik di atas, keterbatasan sumber kenikmatan dan efek terus mencari ‘yang lain’ untuk bisa bahagia menunjukkan bahwa kebahagiaan yang diperoleh dari kenikmatan badani bersifat semu. Ketika ketika percaya bahwa kita akan bahagia dengan mempunyai sebuah mobil mewah, maka ketika kita tidak memilikinya maka kita akan sengsara. Itu namanya kebahagiaan bersyarat. Rumusnya adalah: bila ada X maka bahagia. Ketergantungan pada X, sesuatu yang kita anggap membahagiakan, justru bagi Budha Gautama adalah sumber kesengsaraan. “Keinginan adalah sumber penderitaan”, ajar Budha pada muridnya Kasyapa (Kalimat ini pernah menjadi sepenggal lirik lagunya Iwan Fals).

Lalu, jika kebahagiaan tidak kita gantungkan pada sesuatu ‘di luar sana’, apalagi berupa kenikmatan materi, apa yang mesti kita lakukan? Apakah kita akan mengikuti Budha dengan cara melenyapkan keinginan? Bila sumber kebahagiaan berada dalam diri kita sendiri, bagaimana kita memunculkannya? Apakah dengan mengetahui sebanyak mungkin hal dan menganalisisnya untuk menemukan ‘kebahagiaan’ kita sendiri? Tetapi dengan semakin banyak tahu, bukankah kita akan semakin punya banyak pertanyaan; dan setiap pertanyaan adalah kegelisahan dan tidak akan menentramkan? Ada satu novel Jepang. Oleh kawan saya dianggap bukan karya sastra bermutu. Judulnya Musashi, karya Eiji Yoshikawa. Dalam novel tersebut Musashi, tokoh utamanya, mengalami perubahan yang cukup radikal sepanjang perjalanan hidupnya. Perubahan tersebut dipicu oleh perubahan-perubahan cara pandangnya tentang berbagai hal; terutama pandangannya tentang diri dan hidup yang dijalani. Ia ingin mengikuti “Jalan Pedang” untuk mencapai kebahagiaan. Mulanya dia beranggapan bahwa menjadi yang terkuat akan menghantarnya menuju hidup bahagia. Dia lewati jalan hidupnya dengan menantang hampir semua jagoan pedang. Beberapa perguruan dikalahkannya. Namun, perjumpaan-perjumpaannya dengan berbagai orang dan peristiwa yang mengajari hidup dan kehidupan telah menghantarnya pada pemahaman bahwa Jalan Pedang sejati adalah kemampuan tidak menggunakan pedang alam pertarungan dengan lawan; dan lawan yang paling tangguh adalah diri sendiri. Oleh karena itu, hidup bahagia bisa dicapai dengan menerapkan perilaku rendah hati, kejujuran, dan mengikuti alam.

Mungkin semua kesimpulan Musashi terdengar klise dan biasa-biasa saja karena kita sudah tahu semua itu dari pelajaran agama dan pendidikan moral yang kita dapat sejak kita kecil. Tetapi, pengetahuan kita tentang hal tersebut masih bertaraf ‘pengetahuan teoritis’. Pengetahuan teoritis akan ‘yang baik’ tidak serta merta membuat kita berperilaku ‘baik’. Buktinya berapa puluh kali para pejabat negara kita mengikuti Diklat yang pasti salah satu kuliahnya adalah tentang moral Pancasila. Nyatanya negara kita adalah negara terkorup di Asia Tenggara. Jadi, yang penting justru bukan kesimpulan itu sendiri, tetapi bagaimana orang mengetahuinya secara eksistensial lewat seluruh hidup yang dijalani; lewat kisah-kisah yang dialami. Ada sebuah pepatah: “pengalaman adalah guru terbaik”. Pepatah ini tidak keliru, tetapi hanya separuh benar. Hanya pengalaman yang diolah, dipikirkan, dan dihidupi saja yang bisa menjadi guru terbaik sehingga, sebenarnya, kitalah guru terbaik itu sendiri. Olah karena itu Socrates berpesan: “Hidup yang tidak pertanyakan adalah hidup yang sia-sia”.

Jangan bergurau Pak Socrates! Kalau kita selalu mempertanyakan hidup ini, kita akan kebanjiran pertanyaan yang mau tidak mau akan mengurangi kesempatan kita menikmati hidup yang singkat ini! Bukankah memusingkan untuk menjawab dari pengalaman sendiri “untuk apa hidup?”? Lebih baik kita copy-paste saja jawaban yang sudah ada. Misalnya jawaban ustad terkenal atau dari buku orang sukses. Bisa juga dari buku-buku panduan manajemen (qalbu, emotional & spiritual quotien, dkk.). Atau, mungkin lebih baik tidak usah ditanyakan saja. Hidup kita singkat. Belum lagi berbagai kesibukan seperti pacaran, belanja, kuliah, kursus bahasa Prancis di CCF, atau makan bareng teman-teman di warung sea-food.

Waktu seusia anak kelas 5 SD, saya, seperti sebagian anak kampung lainnya, pernah menjadi gembala domba. Sepulang sekolah saya menggiring domba ke padang rumput sementara bapak mengumpulkan rumput. Betapa
nyamannya menjadi domba. Tidak perlu sekolah dan diteror PR setiap hari. Si domba lahir dan menyusu pada ibunya, lalu setelah beberapa minggu ia belajar mencari makan. Dia belajar memilih rumput yang enak supaya sehat dan gemuk. Dia belajar mengunyahnya sesuai tradisi. Ketika sudah ahli mencari rumput dan mengunyahnya, domba itu belajar juga mencari pasangan kawin dan ‘menikmati’ seks. Mula-mula ditolak. Tapi lama-lama dapat juga. Domba pun kawin dengan domba betina pilihannya. Istrinya hamil dan melahirkan anak. Anaknya beranjak remaja dan sudah bisa mencari makan sendiri. Kini si domba sudah dewasa dan menjelang ajal, entah dijagal untuk dimakan dagingnya atau mati karena penyakit. Sejak dijinakkan 10.000 tahun lalu, mungkin hampir semua domba menjalani hidupnya seperti domba saya. Mereka menjalani hidup seadanya. Hidupnya mengalir; benar-benar mengalir seperti air sungai Nil. Tidak pernah berhenti dan merenung sejenak. Tidak ada “pengalaman”, tidak pula pertanyaan. Begitu tentram hidupnya. Begitulah cara domba saya mengalami ‘kebahagiaan’.

Zorosastro Wardoyo
Sindikat Belajar Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: