Teori Marxis Dalam Hubungan Internasional

Posting 31 Juli 2007
By Rahmat Hidayat
BAB I
PENDAHULUAN

Deskripsi singkat artikel Stephen Hobden dan Richard Wyn Jones

1. Berlanjutnya Relevansi Marxisme
Berakhirnya Perang Dingin, runtuhnya Partai Komunis di Rusia dan Eropa Timur, serta menyebarnya kapitalisme menyebabkan komunisme dianggap tidak lagi relevan dan hanya tinggal sejarah. Akan tetapi, ada dua hal yang membuat Marxisme tetap eksis sebagai sebuah pemikiran, bahkan mengalami kebangkitan kembali atau renaissance, yaitu: (1) perpecahan Blok Timur dan runtuhnya Uni Soviet, yang memungkinkan berkembang kembalinya gagasan-gagasan Marx yang terlepas dari paham Leninisme (Marxisme-Leninisme) yang berbeda baik dalam hal konsep maupun praktiknya (konsep ‘vanguard party’, ‘democratic centralism’, dan ‘command economy’ tidak ada dalam pemikiran asli Marx), (2) teori sosial Marx masih menyediakan analisis yang penting mengenai dunia yang kita huni, yaitu analisis mengenai kapitalisme sebagai metode produksi atau mode of production.
Berikut adalah istilah-istilah dalam Marxisme:
• Kapitalisme: metode produksi kapitalis. Dalam analisis Marxis, metode ini mencakup sekumpulan hubungan sosial yang bersifat spesifik dalam periode sejarah tertentu yang juga bersifat spesifik. Bagi Marx, terdapat tiga karakteristik utama kapitalisme, yaitu: (1) dalam kapitalisme, segala sesuatu memiliki harga masing-masing, termasuk waktu bekerja seseorang, (2) semua kebutuhan produksi (pabrik, bahan mentah) dikuasai atau dimiliki oleh satu kelas, yaitu kelas kapitalis, dan (3) untuk dapat bertahan, para buruh harus menjual tenaga kerja mereka kepada kelas kapitalis, dan karena kelas kapitalis mengontrol sumber daya dan hubungan produksi, mereka juga mengendalikan keuntungan yang dihasilkan dari tenaga kerja para buruh tersebut.
• Sumber daya atau kekuatan produksi: elemen-elemen yang dikombinasikan dalam proses produksi, mencakup tenaga kerja, peralatan, dan teknologi yang tersedia selama periode sejarah tertentu.
• Hubungan produksi: Hubungan produksi menghubungkan dan mengatur sumber daya (means of production) dalam proses produksi. Hubungan produksi mencakup hubungan teknis dan institusional dalam proses produksi, serta struktur yang lebih luas yang mengatur sumber daya produksi dan produk akhir proses tersebut .
Salah satu kekuatan Marx adalah analisisnya mengenai krisis. Penjelasan ortodoks mengenai kapitalisme menyatakan bahwa pasar bebas akan bergerak menuju ekuilibrium dan bersifat stabil. Sebaliknya, Marx berpendapat bahwa di dalam kapitalisme terdapat bawaan guncangan dan kesadaran manusia yang mengancam. Selain analisisnya mengenai kapitalisme, elemen lain dalam pemikiran Marxis, yaitu kepercayaan bahwa kapitalisme akan digantikan oleh sosialisme merupakan analisis Marx yang terbukti prematur.
Jika dibandingkan dengan realisme dan liberalisme, pemikiran Marxis menyediakan pandangan yang kurang familiar mengenai hubungan internasional. Teori Marxis bertujuan untuk menyingkap kebenaran mendasar yang tersembunyi dalam politik dunia. Lebih jauh lagi, kaum Marxis berargumen bahwa upaya untuk memahami politik dunia harus didasarkan pada pemahaman yang lebih luas mengenai proses yang berlangsung dalam kapitalisme global. Mereka berargumen bahwa kapitalisme global bertujuan untuk mempertahankan kemakmuran kaum yang berkuasa di atas penderitaan kaum miskin yang tidak memiliki kekuasaan.

2. Elemen-Elemen Esensial dalam Teori Marxis mengenai Politik Dunia
Warisan pemikiran Marx telah ditafsirkan dalam berbagai cara yang seringkali bertentangan satu sama lain. Beberapa aliran yang dipengaruhi oleh pemikiran Marx, baik secara langsung maupun tidak langsung antara lain world-system theory, Gramnscianisme, critical theory, dan Neo-Marxisme. Kesemua teori tersebut berbagi pandangan Marx bahwa dunia sosial harus dianalisis sebagai sebuah totalitas. Elemen kunci lain yang memusatkan perhatian pada saling keterhubungan dan konteks adalah konsep materialis mengenai sejarah. Argumen ini menyatakan bahwa perubahan historis merupakan refleksi dari perkembangan ekonomi masyarakat. Perkembangan ekonomi merupakan penggerak sejarah yang efektif. Dinamika pusat yang diidentifikasi oleh Marx adalah ketegangan antara sumber daya produksi (means of production) dan hubungan produksi (relations of productions) yang membentuk basis atau dasar ekonomi (economic base) dalam masyarakat tertentu. Institusi-institusi legal, politis, dan kultural merupakan refleksi dari pola kekuasaan dan kontrol dalam bidang ekonomi. Hal ini digambarkan dalam model base-superstructure berikut ini:
Kelas memainkan peran penting dalam analisis Marxis. Pemikiran Marxis berpandangan bahwa masyarakat secara sistematis rawan terhadap konflik kelas. Lebih jauh lagi, Marx berpendapat bahwa seluruh sejarah masyarakat merupakan sejarah perjuangan kelas. Dalam masyarakat kapitalis, konflik terjadi antara kelas borjuis (kapitalis) dan proletar (buruh). Hal yang penting untuk diingat adalah elemen-elemen esensial yang telah disebutkan di atas masih berada dalam perdebatan dalam hal penafsiran dan pelaksanaannya.

3. World-System Theory
World-system theory bermula dari upaya sistematik pertama untuk menerapkan pemikiran Marx dalam lingkup internasional. Teori ini mengkritik imperialisme yang dikemukakan oleh para pemikir seperti Hobson, Luksemburg, Bukharin, Hilferding, dan Lenin pada awal abad ke-20. Karya yang paling berpengaruh dalam perdebatan ini adalah pamflet yang ditulis oleh Lenin yang berjudul Imperialism, the Highest Stage of Capitalism. Lenin berargumen bahwa kapitalisme telah memasuki tahap tertinggi dan terakhir seiring dengan berkembangnya monopoli kapitalisme serta munculnya konsep core dan periphery. Dengan berkembangnya konsep core dan periphery ini, tak ada lagi keselarasan kepentingan di antara seluruh pekerja. Jadi, menurut Lenin, pembagian struktural antara core dan periphery menentukan sifat hubungan di antara kaum borjuis dan proletar di setiap negara.
Terdapat dua elemen penting dalam pendekatan world-system mengenai politik dunia, yaitu: (1) politik domestik dan internasional bertempat dalam kerangka ekonomi dunia kapitalis dan (2) negara bukan satu-satunya aktor penting dalam politik dunia. Kelas sosial juga memainkan peran yang signifikan. Lebih jauh lagi, tempat negara dan kelas-kelas dalam struktur ekonomi dunia kapitalis membatasi perilaku mereka dan menentukan pola-pola interaksi dan dominasi di antara mereka. Raul Prebisch berargumen bahwa negara-negara dalam periphery menjadi semakin miskin relatif terhadap negara-negara dalam wilayah core. Pemikiran ini dikembangkan lebih lanjut oleh Andre Gunder Frank dan Henrique Fernando Cardoso.

4. Elemen Kunci dari Wallerstein’s World-System Theory
Immanuel Wallerstein merupakan tokoh world-system theory yang terpenting. Bentuk organisasi sosial yang dominan menurut Wallerstein adalah world-system, yang terbagi ke dalam dua tipe, yaitu world-empire dan world economy. Perbedaan mendasar di antara keduanya adalah pembuatan keputusan mengenai distribusi sumber daya. Dalam world-empire, sistem politik yang terpusat menggunakan kekuasaannya untuk mendistribusikan sumber daya dari daerah periphery ke daerah core/inti. Dalam world-economy, hal itu dilakukan melalui pasar sebagai media dengan banyak pusat kekuasaan yang bersaing satu sama lain.
World-system yang modern adalah salah satu contoh dari world-economy. Sistem tersebut merupakan sistem kapitalis. Wallerstein mendefinisikan kapitalisme sebagai ‘sistem produksi yang menjual produk di sebuah pasar untuk mendapatkan keuntungan dan appropriation. Ia berargumen bahwa sistem itu sendiri memiliki awal, pertengahan, dan akhir. Wallerstein menambahkan satu zone ekonomi yang dinamakan semi-periphery. Menurutnya, zona tersebut memiliki peran pertengahan dalam world-system yang menampilkan karakteristik inti dan periphery tertentu.
Menurut para teoris world-system, ketiga zona tersebut berhubungan satu sama lain dalam hubungan yang menjadikan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Ketiga zona tersebut membentuk dimensi spasial dalam world-economy. Untuk memahami dinamika interaksi di antara ketiganya, kita harus memusatkan perhatian pada dimensi temporal dari penggambaran Wallerstein mengenai world-economy, yaitu ritme siklis, kecenderungan sekular, kontradiksi, dan krisis. Ritme siklis berkaitan dengan kecenderungan dunia kapitalis untuk menjalani periode ekspansi dan kontraksi yang berulang. Kecenderungan sekular mengacu pada pertumbuhan atau kontraksi jangka panjang dalam world-economy. Salah satu kontradiksi yang dihadapi oleh kapitalisme adalah krisis underconsumption. Untuk memaksimalkan keuntungan, kaum kapitalis menekan upah buruh sedemikian rupa hingga mereka tidak lagi dapat membeli hasil produksi. Hal ini akan menimbulkan krisis underconsumption. Bagi Wallerstein, krisis dalam world-system tertentu menandai akhir sistem itu dan penggantiannya dengan sistem lain. Ia berargumen bahwa world-system modern pada saar ini tengah mengalami krisis.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Marxisme
Ekonom dan filsuf ekonomi politik jerman abad ke dua puluh dalam banyak hal mewakili kritik mendasar liberalsime eknomi. Kami melihat pandangan kaum ekonomi lliberal memandang perokonomian sebagai postive sum game dengan keuntungan bagi semua. Marxmenolak pandangan tersebut. Malahan ia melihat perekonomian sebagai tempat eksploitais manusia dan perbedaan kelas. Marx dengan demikian mengambil pendapat zero sum dari merkantilisme dan memakainya pada hubungan kelas selain hubungan Negara. Kaum marxis sepakat dengan kaum merkantilis bahwa politik dan ekonomi sangat berkaitan: keduanya menolak pandangan kaum liberal tantang bidan gekonomi yang berjalan dengan hukumnya sendiri. Tetapi sementara kaum merkantilis melihat ekonomi sebagai alat politik, kaum marxis menempatkan yang pertama dan politik yang kedua.
Meskipun perekonomian kapitalis yang dikendalikan oleh kaum borjuis bersifat eksploitatif terhadap buruh, Marx tidak melihat pertumbuhan kapitalisme sebagai peristiwa negative atau kemunduran. Sebaliknya kapitalisme, berarti kemajuan bagi Marx dalam dua hal. Yang pertama, kapitalsime menghancurkan hubungan produksi sebelumnya seperti feodealisme, yaitu hubungan produksi yang bahkan lebih eksploitatif, dengan para buruh petani dalam kondisi yang menyerupai perbudakan. Kapitalisme merupakan langkah maju dalam hal bahwa buruh bebas menjual kekuatan kerjanya dan memperoleh imbalan yang terbaik. Kedua, dan yang paling penting bagi Marx, kapitalisme membuka jalan bagi revolusi sosial dimana alat-alat produksi akan ditempatkan dalam kontrol sosial bagi keuntungan kaum proletar, yang merupakan mayoritas terbesar. Hal itu merupakan tujuan revolusioner yang disasar pemikiran ekonomi Marxis.
Kaum borjuis yang mendominasi perekonomian kapitalis melalui kendali alat produksi juga akan cenderung mendominasi dalam bidang politik. Hal ini membawa kita pada kerangka kerja kaum Marxis bagi studi EPI. Yang pertama, Negara tidak otonom, mereka digerakkan oleh kepentingan kelas yang berkuasa, dan Negara kapitalis terutama digerakkan oleh kepentingan kaum borjuisnya. Hal ini berarti bahwa perjuangan antar Negara, termasuk peperangan seharusnya dilihat dalam konteks persaingan ekonomi diantara kelas kapitalis dari negara yang berbeda.
Bagi kaum Marxis, konflik kelas lebih mendasar dibanding konflik antar negara. Kedua, sebagai suatu sistem ekonomi, kapitalisme bersifat ekspansif, selalu mencari pasar baru dan lebih menguntungkan. Disebabkan kelas-kelas batas negara konflik tidak terbatas pada negara-negara, bahkan meluas ke seluruh dunia dalam gelombang kapitalisme. Oleh karena itu analisis kaum Marxis juga harus jelas tentang sejarah. Kejadian-kejadian harus selalu dianalisis dalam konteks sejarah. Sebagai contoh, terdapat interdependensi ekonomi yang tertinggi antar negara sekitar perang dunia pertama; juga terdapat interdependensi ekonomi yang tinggi antar banyak negara saat ini. Teori EPI saat ini yang berdasarkan pada kerangka Marxisme adalah analisis Immanuel Wallerstain tentang perkembangan sejarah perekonomian negara kapitalis. Wallerstain memberikan banyak tekanan pada perekonomian dunia dan cenderung mengabaikan politik internasional. Ia mempercayai perekonomian dunia sebagai pembangunan yang tidak seimbang yang telah menghasilkan hirarki dan wilayah core semi periphery, dan periphery. Yang kaya dalam wilayah core (Eropa Barat, Amerika Utara dan Jepang) digerakkan atas penderitaan wilayah periphery (Dunia ketiga).
Ada beberapa unsur dalam teori kelas Marx yang perlu diperhatikan. Pertama, tampak betapa besr peran segi struktural dibandingkan segi kesadaran dan moralitas. Pententangan antara buruh dan majikan bersifat obejektif yang ditentukan oleh kedudukan mereka masing-masing dalam proses produksi. Kedua kepentingan kelas pemilik dan kelas buruh secaraobjektif bertentangna, mereka juga mengambil sikap dasar yang berbeda terhadap perubahan sosial. Ketiga, dengan demikian menjadi jelas mengapa bagi Marx kemajuan dalam usunan masyarakat hanya tercapai melalaui revolusi sosial.
Teori Marxis pada evolusi dari kapitalisme didasari adanya perubahan ekonomi dan konflik kelas: kapitalisme pada abad kesembilan belas muncul di Eropa dari adanya sistem feodal. Dalam pandangan Marxis menjelaskan perbedaan dari yang lain sperti liberalisme dan realisme. Dalam pandangan liberalis ketergantungan ekonomi adalah satu kemungkinan untuk menjelaskan kerjasama internasional, tapi hanya satu antara banyak faktor. Dan dalam pandangan realis dan neorealis, faktor ekonomi adalah sau unsur dari kekuatan, atau satu komponen dari struktur internasional. Dalam pandangan marxis yang lain, ekonomi adalah asusmi faktor yang terpenting.
Marx menolak ide bahwa tujuan pasar mencapai keseimbangan dan menjaga kontradiksi selaras antara kemampuan kapitalis untuk memproduksi barang dengan kemampuan konsumen unutuk membelinya dalam ekonomi kapitalis. Melebarnya kesenjangan antara produksi dan konsumsi menyebabkan fluktuasi ekonomi dan depresi, dan kelangkaan dalam krisis ekonomi semakin intensif yang pada akhirnya mendorong proletar yang tertindas memberontak melawan sistem. Kemudian Marx menyatakan, dalam kapitalisme faktor struktural menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi perjuangan kelas daripada keharmonisan dan kerjasama ekonomi dan politik.
Kontribusi kaum Marxis lainnya baru-baru ini, oleh Robert Cox, kurang ekonomistis meskipun titik awalnya sama : analisis sejarah tentang fase-fase utama perkembangan kapitalis global. Menurut Cox, kita berada di dalam proses perubahan jauh dari tatanan dunia. Pasca 1945 yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Transformasi mendasar berlangsung dalam tiga bidang utama. Pertama, terdapat globalisasi ekonomi yang menghubungkan apa yang biasa menjadi perekonomian nasional bersama dalam jaringan global yang padat. Perekonomian dunia semakin global, tetapi juga semakin hirarkis, sebab kekuatan ekonomi dikonsentrasikan di wilayah core. Kedua, negara-negara berkurang arti pentingnya dibanding kekuatan ekonomi poltik, non teritorial, seperti perusahaan trans nasional. Hal itu mungkin menyebabkan berakhirnya sistem negara bangsa westphalia; paling tidak kepemerintahan internasional oleh negara tertantang dan mungkin berkurang oleh semakin otonomnya kekuatan-kekuatan. Ketiga, tatanan yang lebih sama dan demokratik adalah memungkinkan, menegaskan bahwa pemerintah yang didukung oleh mayoritas umumnya dapat memperoleh kembali kendali atas perekonomian bagi manfaat tujuan kesejahteraan.

2. Marxisme, Lenin, dan Konflik Kelas
Pusat dari teori Marx adalah konflik kelas. Marx berpendapat, bahwa kapitalisme dan produksi kapitalis secara mendasar disebabkan oleh kepercayaan yang besar pada properti privat dan kompetisi demi keuntungan. Keistimewaan utama dari produksi kapitalis dalam ekonomi industri yang baru muncul adalah pembagian masyarakat antara kapitalis yang memiliki faktor produksi dan pekerja yang hanya memiliki fisik. Menurut teori ini, kapitalis berusaha memaksimalkan keuntungan dari pasar dan pekerja, serta membayar pekerja dengan upah rendah yang tidak sesuai dengan yang dihasilkan.
Menurut Marx, keuntungan yang diperoleh dalam ekonomi kapitalis berasal dari surplus value yang dihasilkan dari perbedaan antara banyaknya upah yang dibayarkan pada pekerja dan nilai yang dihasilkan oleh pekerja. Marx beranggapan penyebab konflik utama dalam masyarakat kapitalis tidak hanya cara dan faktor produksi tetapi juga cara dan faktor distribusi dari surplus modal.
Marx menolak ide bahwa tujuan pasar mencapai keseimbangan dan menjaga kontradiksi selaras antara kemampuan kapitalis untuk memproduksi barang dengan kemampuan konsumen unutuk membelinya dalam ekonomi kapitalis. Melebarnya kesenjangan antara produksi dan konsumsi menyebabkan fluktuasi ekonomi dan depresi, dan kelangkaan dalam krisis ekonomi semakin intensif yang pada akhirnya mendorong proletar yang tertindas memberontak melawan sistem. Kemudian Marx menyatakan, dalam kapitalisme faktor struktural menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi perjuangan kelas daripada keharmonisan dan kerjasama ekonomi dan politik.
Lebih jauh, Klasik Liberal melihat ekonomi dan politik sebagai konsep yang berbeda secara analitik dan terpisah dari cara kerja pasar. Formulasi Marx berhenti pada proposisi bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan, dan bahwa politik tidak sama sekali bebas dari faktor ekonomi yang berkembang di masyarakat. Aspek ekonomi dan politik dalam ekonomi pasar adalah pusat isu distribusi modal berbasis kelas, dan distribusi yang berasal dari pasar secara analitik dan praktek tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dimana mereka dijalankan. Konstruk kewenangan politik (negara) mendominasi pengeluaran institusi untuk tujuan pengawasan dan pencabutan sumber daya dari masyarakat. Agama berlaku sebagai racun yang membutakan rakyat dari perbedaan ini.
Marx dan kaum sosialis kontemporernya percaya bahwa kapitalisme dan laju internasionalisasi ekonomi pasar kapitalis yang didorong oleh keuntungan dan akumulasi kesejahteraan akan menyebabkan ‘revolusi proletar’ diseluruh dunia yang berakhir pada jatuhnya kapitalisme. Tentu saja, Marx tidak percaya bahwa akan diperlukan pergerakan politik, walau hal itu akan terjadi sesuai dengan hukum ekonomi yang telah ditemukannya.
Dalam Manifesto of The Communist Party Marx dan Engels menyatakan bahwa sejarah masyarakat sampai saat ini adalah sejarah perjuangan kelas, semua yang terlibat didalamnya berdiri dalam oposisi yang konstan satu dengan yang lain, tidak terinterupsi, terbuka dan tertutup, perjuangan yang setiap saat berakhir, baik dalam revolusi rekonstitusi masyarakat, atau kejatuhan kelas yang bertentangan. Indikasinya sangat jelas, bagaimanapun peristiwa masa depan akan membuktikan sebaliknya, dan nasionalisme tentu salah satu diantaranya.
Disamping isu solidaritas proletar melawan kapitalisme, pada awal abad ke-20, sosialis dan Marxis, Vladimir I Lenin, memperhatikan PD I sebagai perjuangan diantara kapitalis demi wilayah kolonial, sumber daya, dan pasar. Dalam pandangan ini, nasionalisme dan imperialisme membawa sosialis untuk memodifikasi teori Marxis agar sesuai dengan teori ekonomi politik. Hal ini dapat dilihat dalam Imperialism The Highest Stage of Capitalism, Lenin mentransformasikan teori ekonomi politik domestik Marx menjadi teori ekonomi politik internasional. Pada awal abad ini, kapitalisme telah menciptakan teknologi yang lebih maju dan canggih dan lebih berorientasi global. Perluasan produksi konsumen sama baik dengan pedagangan dan transaksi modal diantara kapitalis, dan antara kapitalis dengan negara berkembang melalui kolonisasi dan pembentukan kekaisaran. Hal ini telah merubah ekonomi global yang didominasi oleh industri yang besar dan kuat dan monopoli keuangan dan kepercayaan. Lenin berpendapat bahwa monopoli kapitalisme dan imperialisme dipengaruhi dua kondisi mendasar; munculnya operasi monopolistik dan kompetisi untuk memperoleh bahan mentah diseluruh dunia, yang tidak terhindarkan membawa pada konflik militer internasional dan ‘perjuangan bagi ruang kepentingan ekonomi’.
Bentuk imperialisme ini adalah tingkatan tertinggi dari kapitalisme, dimana masyarakat kapitalis akan mengurangi ekonomi domestik dengan jalan ekspansi. Dan imperialisme akan berusaha mengurangi kompetisi di pasar global. PD I menurut Lenin merupakan manifestasi yang paling jelas dari kompetisi diantara kekuatan imperialis. Persaingan ekonomi diantara negara kapitalis tidak dapat diatasi dengan cara damai sehingga perang tidak terhindarkan.
Tidak semua Marxis setuju dengan Lenin. Karl Kautsky menyatakan bahwa kapitalisme tidak secara otomatis membawa konflik, tetapi dapat berkembang melalui fase yang berbeda dimana kekuatan kapitalis menjaga kesejajaran ekonomi dan ideologi mereka untuk waktu yang lama dan mengembangkannya menjadi ultraimperialisme yang lebih luas. Menurut Kautsky. Kerjasama diantara negara kapitalis adalah mungkin dan dominasi kapitalis dalam sistem dunia tidak selalu berakhir pada perang. Kesuksesan Revolusi Bolshevik dan kreasi Uni Soviet muncul untuk melegitimasi teori Lenin tentang imperialisme sebagai teori ekonomi politik internasional Marxis yang bersifat orthodoks.

3. Neo Marxisme
• Bill Warren: Imperialisme dan bangkitnya kapitalisme Dunia Ketiga
Dalam bukunya, Commnunist Manifesto, Marx memandang kapitalisme sebagai tahapan penting dalam perkembangan manusia. Menurut Lenin, imperialisme menandai fase di mana kapitalisme tidak lagi memainkan fungsi progresif, melainkan merupakan tahapan tertinggi dari kapitalisme. Pandangan ini disangkal oleh Bill Warren. Menurutnya, imperialisme bukan merupakan tahap tertinggi dari kapitalisme, melainkan awal atau perintisnya. Lebih jauh lagi, Warren berargumen bahwa kolonialisme telah meningkatkan kesejahteraan material di seluruh dunia yang mencakup perawatan kesehatan, pendidikan, dan akses terhadap barang-barang konsumsi yang lebih baik. Oleh karena itu, Warren berpendapat bahwa kita tidak boleh bersikap anti-kapitalisme. Imperialisme harus dilihat sebagai awal menyebarluasnya kapitalisme ke seluruh dunia yang mengarah pada dunia kapitalis global.
• Justin Rosenberg: Kapitalisme dan hubungan sosial global
Justin Rosenberg adalah tokoh Hubungan Internasional. Fokus dari analisis Rosenberg adalah karakter sistem internasional dan hubungannya dengan hubungan-hubungan sosial yang terus berubah. Rosenberg menyediakan kritik terhadap realisme. Ia mengajukan teori hubungan internasional alternatif yang sensitif terhadap perubahan dalam politik dunia. Menurut Rosenberg, kedaulatan dan anarki dapat dipahami melalui metode Marxisme. Kedaulatan mencerminkan cara di mana negara menjadi terpisah dari proses produksi di bawah kapitalisme, dengan perannya yang menjadi semakin politis. Ia juga menyimpulkan bahwa anarki merupakan kondisi dalam hubungan kapitalis dan bukan bawaan dalam hubungan internasional. Pemikiran Warren merupakan tantangan terhadap teori dependensi dan world-system theory.

4. Teori Dependensia dan “World System”
Dalam paragraf ini lebih kepada pembahasan tentang teori ketergantungan. Banyak para penstudi yang juga akhirnya memberikan kontribusi tentang teori ketergantungan. Hal ini juga karena Marxis banyak menyinggung tentang negara-negara yang bergantung kepada negara kaya karena adanya struktur dalam system dunia. Tidak hanya sebatas, pemikiran Marxis juga pada akhirnya menyebabkan timbulnya para penstudi-penstudi lain dimana mereka juga memberikan pemikiran terhadap teori kergantungan dan system dunia.
Penstudi hubungan internasional Marxis telah mengembangkan teori ketergantungan (dependency theory) untuk menjelaskan kekurangan dari dunia ketiga. Ini terlihat setelah perang dunia kedua, negara Amerika Latin melihat adanya ketidakseimbangan pertumbuhan dalam negaranya, dimana negara-negara pemilik modal akan menghasilkan penghasilan yang baik terhadap pasarnya. Tapi ini adalah bukan yang diharapkan. Penstudi mendefinisikan dependensi adalah situasi dimana akumulasi dari modal tidak dapat menopang dikondisi internalnya. Negara yang bergantung terhadap negara lain harus meminjam kepada negara pemilik untuk menghasilkan produksi yang baik, dan hutang luar negerinya harus mengurangi akumulasi dari surplus. (dependensi adalah bentuk dari interdepedensi internasional, dimana negara kaya harus memberikan pinjaman uang hanya kepada negara miskin sebagai kebutuhan penjaman tersebut, akan tetapi interdepedensi ini dengan keseimbangan kekuatan).
Teori dependensia menemukan akar penyebab keterlambatan pembangunan pada kebergantungan yang besar dari negara-negara Amerika Latin kepada negara-negara industri seperti Amerika Serikat. Kebergantungan ini telah memperparah keterlambatan pembangunan karena mekanisme eksploitasi yang dilakukan negara-negara center ke negara-negara periphery, baik secara langsung maupun melalui media negara-negara semi periphery dan kelas-kelas komprador domestik. Proposal untuk aksinya tentu saja dengan memutuskan atau mengurangi rantai kenergantungan negara-negara berkembang pada negara-negara industri.
Berbeda dengan transformasi Marxisme dari leninis dan Maois, kebanyakan literatur berorientasi Marxis atau neo-Marxis selama paruh kedua abad ke-20 memberi kontribusi besar bagi teori imperialisme. Teori dependensi telah menjadi satu yang paling mempengaruhi school of thought IPE terbaru. Sebagai suatu varian pemikiran struktural Marxis-Leninis, teori dependensi mencoba menjelaskan ketidaksesuaian yang lebar antara industrialisasi, kesejahteraan negara-negara utara dan kemiskinan, negara-negara miskin di selatan. Thesis utamanya bahwa dalam hubungan utara-selatan, negara kaya (core) berdasarkan sejarah memindahkan negara berkembang (periphery) kepada posisi subordinat melalui eksploitasi sumber daya, termasuk manusia dan bahan mentah.
Dialog utara-selatan menjadi isu penting dalam hubungan internasional. Menurut teori dependensi, situasi darurat secara luas diakibatkan oleh fakta bahwa negara kapitalis barat berkembang secara bertahap dari pertanian ke industri dewasa dan masyarakat modern melaui suatu periode lebih dari satu abad. Dalam kemerdekaan pemimpin dan institusi di negara berkembang dapat mengatur pengaruh ekonomi dan politik yang cukup untuk menyelaraskan pembangunan ekonomi dan modernisasi sesuai langkah yang diinginkan.
Ketegangan utara-selatan semakin memburuk dengan fakta bahwa negara-negara yang memasuki sistem internasional terperangkap ditengah perjuangan ideologi dan kekuasaan yang kuat antara kapitalisme (AS) dan komunisme (US). Lebih jauh, pandangan ekonomi internasional tidak terbukti lebih ramah bagi negara baru merdeka, seperti negara utara yang telah mempertahankan supremasinya melebihi semua organisasi dan hukum internasional, dan negara berkembang tidak punya pilihan, selain menjalankannya.
Teori dependensi menekankan pada peran pemerintah dan MNC serta konsekuensi merugikan dalam operasi mereka bagi sebagian besar populasi di negara berkembang. Mereka mencatat bahwa pemerintah dan MNC negara industrialis utara mendominasi institusi politik dan ekonomi negara berkembang melalui sogokan dan pemilihan elit dan modal lokal, kemudian mengabadikan hubungan ketergantungan melaui investasi dalam industri ekstraktif, fasilitas produksi, teknologi rendah dan buruh yang murah. Hal ini mengakibatkan negara barat semakin maju dan negara berkembang semakin miskin dan tergantung pada modal dan teknologi negara Utara.

MARXISM/DEPENDENCY TEHORY
Key actors Social classes, transnational elites, multinational Corporations.
View the individual Actions determined by economic class
View of the state An agent of the structure of international capitalisme and the excuting agent of the bourgeouisie
View of the international system Highly stratified; dominated by international capitalist system
Belief about change Radical change is sought
Major Theorists Hobson, Marx, Wallerstein, Lenin
Kritik terhadap teori ini mencatat, bahwa ketidakberuntungan negara kurang berkembang tidak dapat dibebankan pada persoalan baru yang dihadapi mereka. Kesalahan manajemen ekonomi oleh pemimpin nasional dan kepentingan bank memainkan peranan penting. Pendukung perdagangan bebas menyatakan bahwa keuntungan dari pertumbuhan perdagangan dan upah, serta berlimpahnya barang konsumsi akan secara bertahap menyaring negara kurang berkembang dalam pasar terbuka.
Teori dependensi menekankan bahwa sistem kapitalis dunia secara esensial didasarkan pada hubungan asimetris, dengan menjadi subordinat, negara kapitalis kaya tidak secara nyata menindas negara miskin. Kemudian, sebab utama dependensi dan masalah besar yang diasosiasikan dengan negara berkembang terintegrasi secara global dengan ekonomi kapitalis dunia yang berkembang dibawah kekuasaan negara industrialis barat.
Studi tentang kebergantungan structural berkembang lebih lanjut dengan suatu penemuan World System Theory, yang kemudian secara intensif dipelajari di Amerika Utara. Kemiskinan dan pemiskinan negara-negara dunia ketiga dipahami dalam konteks yang lebih luas daripada sekedar dalam konteks hubungan antara suatu negara berkembang dengan negara-negara industri. Sistem dunia yang kapitalis dengan mekanisme negara-negara kapitalis pusat terhadap kapitalis pinggiran menjadi mapan saat ini melalui proses sejarah yang cukup panjang. Sistem ini bagaimanapun menuntut setiap negara, termasuk negara-negara dunia ketiga (kapitalis pinggiran), untuk menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip kapitalisme global. Keterlambatan pembangunan di negara-negara dunia ketiga justru disebabkan oleh keterikatan mereka terhadap system dunia yang kapitalis ini; mereka yang belum siap dipaksa harus bersaing dalam konteks dunia yang kapitalis.
Pendekatan dependensia dan world system theory mendapat sambutan luas di negara-negara Asia dan Afrika. Pendekatan-pendekatan ini dipelajari luas dan dikembangkan sesuai dengan karakteristik masing-masing negara. Teori ini merupakan cabang dari Marxisme. Dasar pemikiran dari pendekatan capitalist world-economy adalah bahwa ekonomi dunia kontemporer dapat dijelaskan dengan baik melalui konteks sejarah evolusi kapitalisme dan asal-usul sistem ekonomi modern sejak abad ke-16. Selama berabad-abad, “world system” modern mengalami perubahan dari masyarakat agrikultural yang terisolasi secara geografis menjadi masyarakat industri dan jaringan perdagangan dan institusi keuangan yang berteknologi tinggi serta fasilitas produksi yang dikuasai oleh kekuatan kapitalis besar. Menurut pandangan ini, tidak ada perubahan yang terjadi dalam sistem ekonomi internasional sampai akhir abad 20 kecuali hanya kelanjutan sistem kapitalis dunia dengan dalilnya mengenai ekspansi dan eksploitasi. Perubahan yang terjadi hanyalah pada tingkat kompleksitas struktural yang terlibat.
Menurut Immanuel Wallerstein, sistem kapitalis dunia, yang dibentuk sekitar tiga abad lalu, terdiri dari beberapa komposisi dasar, termasuk didalamnya pasar global tunggal; sejumlah kecil pelaku utama; negara kapitalis kuat yang mendominasi pasar global; dan pembagian sistem dunia menjadi negara “core” dan “periphery”. Negara core terdiri dari negara kapitalis besar di kawasan Eropa Barat, Amerika Utara dan Jepang. Negara peripheral adalah negara berkembang di kawasan Amerika Latin, Afrika dan Asia. Wallerstein menyatakan bahwa hubungan antara core dan periphery adalah eksploitasi, dimana core membentuk pondasi struktural ekonomi dunia modern menurut sudut pandang mereka sendiri, mendominasi dan mengarahkan pembangunan ekonomi dan politik di periphery. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga kelangsungan status quo dan hak-hak istimewanya didalam sistem melalui perdagangan bilateral dan multilateral dan kesepakatan keuangan serta kekuatan militer jika diperlukan.
Untuk itu, gerakan sosial maupun perjuangan kelas yang ada umumnya bertujuan melakukan demokratisasi dan keadilan ekonomi berskala nasional dalam jangka waktu panjang tanpa memecahkan masalah ketimpangan dunia. Apalagi jika perjuangan kelasnya berskala lebih kecil, seperti pada tingkat pabrik dan kota industri. Gerakan sosial ataupun perjuangan kelas yang bertujuan untuk merebut suatu negara, jika berhasil, lambat-laun harus berjuang demi mengejar ketinggalan ekonomi, lambat-laun akan mengorbankan tujuan perjuangan kelas semula, dan bahkan akan menjadi semakin represif. Perjuangan kelas skala nasional harus ditinggalkan dan menggalang gerakan anti system dengan perjuangan kelas berskala global. Salah satu yang diajukannya adalah strategi untuk mengarahkan energi gerakan pada sumber surplus ekonomi, penyedotan surplus ekonomi global dengan jalan mengurangi tingkat laba, dan secara global memperhatikan persoalan pemerataan.

Perkembangan dalam World-System Theory
World-system theory telah menjadi sub-bidang kaji dalam teori Marxis dan Hubungan Internasional. Christopher Chase-Dunn lebih menekankan peran sistem antarnegara daripada Wallerstein. Sementara itu, Frank dan Gills berpendapat bahwa world-system theory merupakan hasil dari world-system yang jauh lebih tua, yang didasarkan pada Timur Tengah.
• Gramscianisme
Gramsci mempertanyakan mengapa revolusi di Eropa Barat sulit untuk dilakukan. Jawabannya mengenai pertanyaan ini berkisar di seputar konsep hegemoni. Hegemoni adalah istilah dalam hubungan internasional yang menggambarkan negara yang paling berkuasa atau yang paling dominan dalam sistem internasional. Menurut Gramsci, sistem kapitalis Eropa dipertahankan tidak hanya melalui koersi, namun juga melalui persetujuan atau consent yang diciptakan oleh hegemon. Menurut Gramsci, ideologi yang dominan telah ‘mengendap’ dalam masyarakat sehingga dianggap sebagai common sense. Proses ini bertempat dalam masyarakat sipil, yaitu jaringan institusi dan praktik dalam masyarakat yang menikmati sejumlah otonomi dari negara di mana kelompok dan individu mengekspresikan diri mereka pada satu sama lain dan pada negara. Dengan analisisnya ini, Gramsci menempatkan superstruktur pada posisi yang penting. Ia menggunakan istilah historical bloc untuk menggambarkan hubungan yang saling menguatkan dan berbalasan di antara hubungan sosial-ekonomi (base) dan praktik-praktik politik-kultural (superstructure). Masyarakat dapat diubah hanya bila posisi hegemon tersebut diganti.
• Robert Cox: Analisis mengenai ‘World Order’
Sebuah kalimat terkenal dari Robert Cox berbunyi: “Teori selalu ditujukan untuk seseorang dan suatu tujuan”. Dengan kata lain, pengetahuan tidak pernah menjadi objektif dan abadi seperti yang diklaim oleh kaum realis. Robert Cox menyediakan kritik bagi realisme dan neo-realisme. Menurutnya, realisme dan neo-realisme ditujukan untuk melayani kepentingan elit-elit yang berkuasa dan bertujuan untuk melegitimasi status quo. Cox membedakan antara problem solving theory yang menerima parameter dari order yang telah ada dan critical theory yang berupaya untuk menentang order yang ada dengan cara mencari, menganalisis, dan mendukung proses sosial yang dapat mengarah pada perubahan emansipatoris.
Cox menerapkan konsep hegemoni Gramsci ke dalam lingkup internasional dengan berargumen bahwa hegemoni adalah sesuatu yang penting untuk mempertahankan stabilitas dan keberlangsungan seperti halnya dalam level domestik. Dalam analisis Cox mengenai dua hegemon (AS dan Inggris), gagasan hegemonik yang mereka gunakan adalah perdagangan bebas. Cox mempertahankan pandangan Marxis bahwa kapitalisme adalah sistem yang secara bawaan tidak stabil dan memiliki kontradiksi-kontradiksi yang tidak dapat dihindari.

• Critical Theory

“Contemporary critical theory in english- lenguange international relations may best be understood as today;s manifestations of long standing democratic impulse in the academic studi of international affairs.
-Craig N, Murphy-

Jika Gramsci memusatkan perhatian pada ekonomi politik internasional, critical theory memusatkan perhatian pada masyarakat internasional dan keamanan internasional. Tokoh critical theory dalam hubungan internasional antara lain Andrew Linklater. Critical theory berkembang dari karya Frankfurt School. Tokoh-tokoh generasi pertama critical theory antara lain Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse.
Teori ini dikembangkan lebih lanjut oleh Jurgen Habermas. Pusat perhatian critical theory, dalam istilah Marxisme klasik, nyaris seluruhnya bersifat superstruktural. Para pemikir Frankfurt School berargumen bahwa kaum buruh telah terserap ke dalam sistem dan tidak lagi merupakan ancaman bagi sistem tersebut. Kontribusi critical theory yang paling besar adalah konsep mereka mengenai emansipasi. Menurut para tokoh critical theory generasi pertama, emansipasi berarti rekonsiliasi dengan alam. Generasi selanjutnya, terutama Habermas, menekankan proses dialog dan komunikasi dalam proses emansipasi. Menurut Habermas, partisipasi tidak boleh dibatasi oleh batasan negara berdaulat tertentu. Ia juga menyatakan bahwa Menurut Andrew Linklater, emansipasi dalam hubungan internasional berarti semakin terkikisnya signifikansi etis dan moral negara. Menurutnya, Uni Eropa merupakan contoh pemerintahan post-Westphalian. Elemen yang penting dalam metode critical theory dinamakan immanent critique.

BAB III
KESIMPULAN
Teori Marxis dalam Hubungan Internasional dan Globalisasi
Dalam kesimpulan ini dapat dijelaskan bahwsannya globalisasi adalah proses di mana transaksi sosial mengenai berbagai jenis hal semakin meningkat tanpa hubungan dengan batas-batas negara. Globalisasi ditandai oleh semakin menyatunya perekonomian nasional, kesadaran global mengenai saling ketergantungan ekologis, membludaknya jumlah perusahaan, gerakan-gerakan sosial, dan para pelaku antarpemerintah yang beroperasi dalam skala global, serta revolusi komunikasi yang membantu perkembangan kesadaran global. Menurut teori Marxis, dunia telah lama didominasi oleh satu perekonomian tunggal dan kesatuan politik, yaitu sistem kapitalis global. Jadi, kaum Marxis tidak menganggap globalisasi sebagai sesuatu yang baru, melainkan sebagai kecenderungan jangka panjang dari perkembangan kapitalisme. Lebih jauh lagi, globalisasi sering dijadikan alat ideologis untuk membenarkan pengurangan hak-hak dan prinsip kesejahteraan para buruh. Menurut Marx dan Engels globalisasi bukan sja mnegasilkan hubungan antar negara akan tetapi adanya dinamika internal dan dominasi kapitaslis dari sistem produksi.
Yang pertama kali menafsirkan pemikiran Marx dalam lingkup internasional adalah Lenin dengan karyanya, Imperialisme, The Highest Stage of Capitalism. Lenin menyebutkan bahwa negara-negara dapat memainkan peran sebagai kelas-kelas. Ia membagi negara-negara ke dalam core yang terdiri dari negara-negara kapitalis (dianalogikan dengan kelas borjuis dalam masyarakat) dan periphery yang terdiri dari negara-negara berkembang (kelas proletar). Lenin berargumen bahwa kapitalisme telah memasuki tahap tertinggi dan terakhir seiring dengan berkembangnya monopoli kapitalisme serta munculnya konsep core dan periphery. Dengan berkembangnya konsep core dan periphery ini, tak ada lagi keselarasan kepentingan (harmony of interests) di antara seluruh pekerja. Jadi, menurut Lenin, pembagian struktural antara core dan periphery menentukan sifat hubungan di antara kaum borjuis dan proletar di setiap negara. Dengan penganalogian ini, aspek internasional mulai masuk ke dalam pemikiran Marxis.
Marxisme dalam Hubungan Internasional mengemuka pada tahun 70-an dalam bentuk neo-Marxisme yang didorong oleh pengalaman-pengalaman empiris di Amerika Latin. ECLA menyelidiki keterbelakangan yang terjadi di Amerika Latin dan ketergantungan negara-negara di kawasan tersebut kepada Amerika Utara. Teori yang menjelaskan hal ini kemudian disebut sebagai teori dependencia yang menyatakan bahwa terdapat ketergantungan negara-negara periphery terhadap core. Teori ini berargumen bahwa ekonomi negara-negara Dunia Ketiga dikondisikan dan disubordinasikan terhadap pembangunan ekonomi, ekspansi, dan kontraksi kemajuan ekonomi negara-negara kapitalis.
Untuk memperhitungkan argument Marxis dalam pendekatan hubungan internasional direfleksikan pada proses dimana adanya kesatuan perlombaan antar manusia dan penekanan terhadap peranan kapitalisme dan perkembangan ini. Dominananya pemikiran ini di analisis untuk menggantikan tempat alienasi, eksploitasi dan menjauhkan dari sistem kebebasan dan kerjasama universal. Interpretasi Marxis sebagai pengaruh terlegitimasi dengan luas mengatasi adanya resistensi, khususnya dari kaum realis dan neo realis. Kaum realis menyangkal bahwa kapitalis akan menyatukan dunia dalam kebiasan dalam prediksi Marxis dan menolak adanya klaim revolusi proletariat dapat muncul dalam pembagian dunia dalam nation state. Marxis, mengalah pada metode tradisional yaiut diplomasi untuk memelihara bertahan hidup dan keamanan dari nation state menguatkan kembali pandangan realis. Tranformasi dari system internasional Marxis telah mentranformasi dari aksi sebagai agent dari tranformasi system internasional Marxis menjadi instrumen yang direproduksi kembali. Batas perselisihan antara China dan Soviet, Invasi Vietnam ke Kamboja dan perang antar China dan Vietnam adalah bentuk kegagalan Marxis untuk membuat pentingnya system internasional Negara.
Marxis juga dipengaruhi oleh pendekatan yang radikal dari ekonomi politik internasional, termasuk teori ketergantungan, dengan berargumen bahwa analisis interdepedensi terlalu distribusi tidak sejajar untuk kesejahteraan dari kapitalis system dunia. Studi dari ketidak sejajaran inilah yang menjadi saluran untuk izin masuk pendekatan Marxis kedalam studi hubungan internsional.
Selain itu Robert Cox juga berusah menggantikan hubungan internasional yang kovensional teori yang memfokuskan kepada interaksi antara kekuatan kelas, Negara dan tatanan dunia itu adalah ambisi yang di gunakan disiplin ilmu materialisme sejarah. Kehadiran dan perkembangan industrialisasi pada abad ke-19, selain menciptakan lapangan pekerjaan yang besar, juga membawa kesengsaraan bagi masyarakat dimana pabrik-pabrik didirikan. Kesenjangan secara sosial ekonomi terjadi antara mereka yang memiliki kekuasaan modal dan politik dengan mereka yang memiliki keuangan terbatas. Kondisi ini membuat Karl Marx, penteori ekonomi-politik sosialis yang paling berpengaruh pada abad itu, mengkritik keberadaan kapitalisme dan mengembangkan teori ekonomi politik saintifiknya sendiri untuk menjelaskan perubahan yang terjadi dalam industrialisasi baru di Eropa. Teorinya didasarkan bagi tujuan perjuangan kelas antara proletar (kaum pekerja) dan borjuis (pemilik faktor produksi).
Dunia ketiga bukannya tidak menyadari bahwa suatu ketergantungan (Dependensi) telah berlangsung di negara-negara mereka sehubungan dengan proses modernisasi dan industrialisasi. Persoalannya ialah bagaimana cara yang harus ditempuh agar fenomena ketergantungan itu dapat dieleminasi sedemikian rupa. Berkaitan dengan ini, studi berpikir Marxian mengenai model ketergantungan, menentang konsep-konsep dan tata ekonomi yang ditawarkan kapitalisme-liberalisme.
Pencarian konsep, teori dan model yang paling cocok secara general untuk pembangunan di Dunia Ketiga sukar dilakukan, dan mungkin tidak pernah dapat ditemukan karena perbedaan-perbedaan visi dan kerangka berpikir di Dunia Ketiga. Secara parochial konsep industrialisasi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi geografis banyak dijadikan acuan atau yang direkomendasikan sebagai bahan temuan para pakar Ekonomi Politik baik oleh negara maju maupun negara berkembang, untuk membekali keyakinan para pengambil keputusan di negara-negara berkembang.
Karena sifatnya yang lebih ambisius, teori-teori global lebih rentan ketimbang teori-teori dengan penerapan sederhana. Kita berurusan dengan hubungan-hubungan antara wilayah maju dan wilayah terbelakang. Dari seluruh pendekatan yang diuji di atas, Wallerstein dengan World System Theory nya sangat holistik dan luar biasa ekonomistik dalam lingkup penanganannya atas hubungan-hubungan antara politik dan ekonomi. Ia cenderung memperlakukan proses-proses politik domestik ditentukan secara eksternal atau pencerminan kepentingan-kepentingan ekonomi domestik, dan melakukannya secara mekanis dan pukul rata. Namun ia memperkenalkan kembali politik (dan negara-bangsa) sebagai faktor penentu dalam perhitungan penjagaan system pertukaran tak setara yang dianggap juga menghasilkan mereka.
Sebagai bahan kesimpulan penutup yang terakhir, bahwasannya dalam perkembangan pemikiran marxis akhirnya melahirkan pemikir-pemikir yang mengembangkan teori-teori dari Marxis, seperti yang telah dijelaskan diatas sepeti, Rober Cox dengan teori critical theorinya, Gramsci dengan Hegemoninya, Immanuel Wallerstain dengan world system theory-nya, dan masih banyak lagi pemikir-pemikir yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
• Baylis, John and Smith, Steve. 2005. The Globalization Of World Politics. 3th Edition. Oxford University Press. New York.
• Jackson, Robert and Georg, Sorensen. 1999. Introduction to International Relations. Oxford University Press Inc. New York.
• Mingst, Karent. 1999. Essential of International relations. First Edition. W.W. Norton and Company, Inc. New York.
• Pearson, S.Frederic dan Payaslian, Simon,1999. International Political Economi: Conflict and Cooperation in the Global System. McGraw Hill College, Boston.
• Joshua S. Goldstein. 2002. International Relations: Brief Edition. Longaman. New York.
• Fakih, Mansour. 2001. Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
• Chan, Steve. 1978. Beyond the North – West: Africa and the East, dalam R.J.A. Groom & M. Light. Frances Pinter, Ltd.. London.
• Burchil, Scott dan Linklat er, Andrew. 1996. Theory Of Internastional Relations. Macmilan Press. New York.
• Suseno Magnis, Fransz. 2005. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionism. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
• Wyn Jones, Richard. 2001. Critical Theory and World Politics. Lynne Reinner Publisher,Inc
. London

Kenangan Masa Orientasi..

Banyak cara mendidik yang pernah kita rasakan. Dari yang paling ekstreme (dengan cara pukul, sabet, tendang), sampai ke cara yang paling elegan (senyum, sentuh, ajari). Kita tentu dapat menilai, cara mana yang sebenarnya lebih mendidik.
Jika dahulu, saat kita baru terdaftar sebagai siswa baru, ada kegiatan yang dinamakan MOS (Masa Orientasi Siswa/ Santri), sampai saat ini pun Adik-Adik kita tak lepas dari kegiatan tersebut. Padahal, kalau kita ingat-ingat, mungkin dari total kegiatan yang dilakukan, hanya maksimal 10% pelajaran baik yang dapat kita ambil dari MOS (kala itu).
Ada pasal yang saya ingat hingga kini :
Pasal satu, SENIOR TIDAK PERNAH BERSALAH
Terus dilanjutkan dengan …
Pasal dua, JIKA SENIOR BERSALAH, KEMBALI KE PASAL SATU.
Lho????

Apa gak lucu? Jelas-jelas pasal satu mengatakan bahwa tidak pernah terjadi kesalahan pada diri Kakak Senior, kok di pasal dua malah ada penyangkalan bahwa senior bisa saja bersalah? Kacau dah!
Kejadian lucu tidak hanya berhenti di sini. Dalam beberapa hari kegiatan MOS, siswa baru diharuskan memakai pakaian yang lain dari lainnya, juga ini … 75% HAK MANUSIANYA DICABUT, kata pembina kala itu. Yang tidak dicabut hanya hak untuk bernafas. Ngomong dikit disuruh push-up. Nyela dikit dapat guling. Apalagi kalau ada yang kentut, bah!!! Bakal dijemur sampe’ kering pokoknya. Sampe’ bisa jadi SALE.
Bisa jadi, kejadian kala itu hanyalah imbas dari sistem balas dendam. Senior menginginkan perploncoan yang pernah ia rasakan, juga dirasakan oleh adik-adiknya. Bukan niat untuk mendidik adik-adik dengan tulus.
Bayangin aja, buat apa adik-adik dijemur siang-siang bolong? (ngelatih fisik katanya, yang ada malah kulit gosong, kena radiasi matahari langsung, bisa kena kanker kulit malah).
Buat apa juga adik-adik disuruh bawa tas yang terbuat dari kantong semen? (biar bisa ngerasakan penderitaan hidup rakyat miskin, katanya! Padahal pembayaran sekolah melunjak tiap taonnya).
Buat apa juga adik-adik diperintah bikin surat cinta? (Ni surat ditujukan pada seniornya yang paling disukai). Wah, ini kan diskriminasi. Pan kasian dengan senior yang gak dapat surat dari seorangpun. Apa dia gak merasa patah hati. Haha …

Jadi ingat, sebuah tulisan :
Apabila kita ingin menghancurkan seseorang, merusak dia sepenuhnya, atau memberi hukuman yang paling menyakitkan, sehingga pembunuh paling kejam pun gentar dan takut untuk menghadapinya, yang perlu kita lakukan hanyalah MEMBERINYA PEKERJAAN YANG TAK BERGUNA, SIA-SIA DAN IRASIONAL (Fyokor Dostoyevsky)

Dari semua kenangan itu, memang semua berkesan. Tapi nilai pendidikan yang didapat hanya sedikit. Apa sebabnya?
Karena :
Anak-anak lebih memerlukan teladan daripada kritik
(Joseph Joubert)

Bukankah yang terjadi selama ini adalah kita mengajari mereka dengan menyalahkan tanpa memberi solusi? Bukankah yang terjadi selama ini juga kita menganggap mereka sebagai botol kosong yang selalu ingin diisi? Kita tidak pernah menempatkan mereka berposisi sebagai nuklir yang siap meledak karena letupan kecil. Kita bahkan mungkin tidak melaksanakan sebuah sistem pendidikan yang memanusiakan manusia.
Kini, tiba lagi masanya bagi Adik-adik kita masuk ke dunia baru. Bagi yang telah menamatkan sekolah di SMP, dia akan masuk ke dunia putih abu-abu. Bagi yang telah menamatkan sekolahnya di level SMU, kini tiba saat masuk dunia kampus. Dunia penuh kebebasan, dunia yang penuh dengan dinamika sosial yang lebih menjanjikan daripada masa mereka dahulu. Itu anggapan sementara. Tapi apakah mereka akan sepenuhnya merasakan happy ending setelah tahu kehidupan sebenarnya dalam dunia kampus?
Para senior sebenarnya bisa membantu mereka menghadapi masa transisi dengan cara yang lebih baik. Diantaranya adalah dengan melaksanakan sebuah taaruf yang lebih bijak pada lingkungan baru. Jika tahun kemarin Ospek sudah tidak dimuati lagi dengan kekerasan, maka tahun ini adalah kesempatan memberikan muatan religi yang lebih pada kegiatan sejenis. Ada beberapa contoh masa pengenalan yang sebenarnya perlu diacungi jempol. Beberapa jurusan di UI mengadakan ESQ Training sebagai pengisi masa Ospek. Beberapa sekolah juga mengadakan Pesantren Kilat. Ini tentu lebih bermakna bagi adik-adik daripada kegiatan MOS ataupun Ospek yang selama ini menjadi momok bagi sebagian orang. Ajang berbuat kekerasan, berbuat irasional, gak masuk akal.
Kini saatnya kita menyadari, pendidikan hanya akan berhasil ketika didapatkan dengan kebebasan, bukan dengan paksaan.
Makassar, akhir Juli 2007
M. Zainal Abidin

Term of Reference Outbond 2007

Posting 16 Juli 2007

Latar Belakang

  • Latar belakang anggota Al-Falah Connection yang masih belum punya landasan yang kuat baik dalam tingkatan emosional, persamaan pandangan maupun tujuan.
  • Perbedaan cara pandang yang dilatar belakangi oleh perbedaan kultur, kampus dan orientasi pribadi dan pengetahuan (keilmuan) memerlukan sebuah ikatan yang kuat, apakah itu ikatan kekeluargaan, emosional, gagasan, gerakan dan tujuan.
  • Keberadaan Al-Falah Connection yang masih sebatas ajang kangen dan gojlok-gojlokan memerlukan sebuah kesapakatan bersama seluruh anggota baik pada wilayah mimpi (visi dan misi) organisasi, rencana strategis dan kerja-kerja connection sampai pada pola komunikasi.
  • Keberadaan Al-Falah Connection yang masih sangat terbatas, baik pada tingkatan supra struktur maupun basis struktur
Tujuan Kegiatan
  • Agenda ini akan di jadikan ritual wajib bagi anggota Al falah connection
  • Analisa diri anggota
  • Menyamakan asumsi dan persepsi
  • Penguatan emosional anggota
  • Penguatan Institusi
  • Merumuskan rencana strategis tahunan
Target Kegiatan
  • Kesamaan emosional, gagasan dan gerakan
  • Seluruh anggota dapat menempatkan diri sesuai dengan potensinya di Al-Falah Connection pada kerja-kerja conecction
  • Tumbuhnya kesadaran untuk bergerak dan berkomunikasi
Proses Kegiatan

Acara ini akan dilaksanakan selama tiga hari yang akan di isi oleh materi :

  • Analisa diri (Peserta di harapkan mampu menemukan kesadaran akan jati dirinya sebagai manusia yang harus bergerak, dan menemukan potensi dirinya sampai pada berangan-angan dua tahun ke depannya)
  • Diskusi (Pada sesi ini membahas seluruh apa yang ada dalam angan-angan anggota (global, nasional, lokal, personal, komunal dan mainstream wacana) sampai kemudian akan ada kesamaan asumsi dan persepsi dan kesadaran untuk bergerak yang selanjutnya kan menemukan sebuah rencana strategis kerja-kerja connection)
  • Perencanaan Program kerja (Sesi ini akan membahas rencana strategi program baik jangka panjang maupun jangka pendek)
  • Bai’at (Pada sesi ini akan dilakukan peneguhan komitmen untuk bersama dan bergerak di Al-Falah Connection sekaligus sebagai sesi ritual pada acara ini).
JADWAL KEGIATAN

Jum’at, 20 Juli 2005
07.00-12.00 Chek Peserta, Sowan Bareng ke Gedong, Mantenan Ke adiknya Mbak Qoriin
12.00-16.00 Chek in ke Lokasi + Sowan ke juru kunci
16.00-20.00 Istirahat, sholat jamaah dan makan bareng
20.00-24.00 Refleksi bersama dan diskusi
24.00-00.00 Mancal Kemol

Sabtu, 21 Juli 2007
07.00-12.00 Jalan-jalan Cari angin seger
12.00-13.00 Masak, Makan Bersama, sholat berjamaah
13.00-17.00 Evaluasi diri dan evaluasi organisasi
17.00-19.00 Ritual
19.00-24.00 Menyamakan persepsi dan asumsi, Menyusun strategi (pendek, menengah dan panjang), Menyusun program kerja
24.00-00.00 Bobok

Minggu, 22 Juli 2007
05.00-12.00 Jalan-jalan; Masak Bareng; Persiapan chek out; Sowan ke juru kunci; Chek out
12.00-17.00 Pulang; Silaturrahmi ke Jayan; Ngopi Bareng; Pulang dw-dw

ESTIMASI DANA KEGIATAN


* Transportasi Peserta

  • Bandung : 70.000 x 2 = 140.000
  • Jogyakarta : 40.000 x 2 = 80.000
  • Madiun : 20.000 x 2 = 40.000
  • Tulungagung : 10.000 x 2 = 20.000
  • Malang : 20.000 x 6 = 120.000

* Transportasi Ke Lokasi (15.000 x 7) = 105.000 x 2 = 210.000
* Konsumsi

  • Beras 5 Kg @ 5.000 = 25.000
  • Minyak gas 2 liter @ 5.000 = 10.000
  • Rokok 1 Slop @ 50.000 = 50.000
  • 1 Kantong Lentera @ 5.000 = 5.000
  • 1 Paket Bumbu Dapur @ 20.000 = 20.000

* Sekretariat

  • Spidol @ 5.000 x 1 = 5.000
  • Plano @ 1.000 x 10 = 10.000

Jumlah Total 730.000 (Tujuh Ratus Tiga Puluh Ribu Rupiah)

Pemanasan Global ”Tragedi Peradaban”

(Refleksi Hari Lingkungan Hidup seDunia 5 Juni 2007)
Pada tanggal 5 Juni 2007, negara-negara seluruh dunia umumnya memperingatnya sebagai hari lingkungan hidup. Pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim (Climate Change) belum menjadi mengedepan dalam kesadaran multi pihak. Pemanasan global (Global Warming) telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif). Tidak banyak memang yang memahami dan concern pada isu perubahan iklim. Sebab banyak yang mengatakan, memang dampak lingkungan itu biasanya terjadi secara akumulatif. Pada titik inilah masalah lingkungan sering dianggap tidak penting oleh banyak kalangan, utamanya penerima mandat kekuasaan dalam membuat kebijakan. Perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming), pemicu utamanya adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan enerji fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Canada, Jepang, China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negera-negar utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrilisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Selain kerusakan hutan Indonesia yang tahun ini tercatat pada rekor dunia ”guinnes record of book” sebagai negara tercepat yang rusak hutannya. Menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah lembaga dibawah PBB, tetapi kuasanya melebihi PBB. Menyatakan pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi, yaitu 10. selanjutnya adalah ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30 persen dan melelehnya Gleser (gunung Es) di Himalaya dan Kutub Selatan. Secara general yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el nino) di seluruh dunia. Serta meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis. Jika ini kita kaitkan dengan wilayah Indonesia tentu sangat terasa, begitu juga dengan kota-kota yang dulunya dikenal sejuk dan dingin makin hari makin panas saja. Contohnya di Jawa Timur bisa kita rasakan adalah Kota Malang, Kota Batu, Kawasan Prigen Pasuruan di Lereng Gunung Welirang dan sekitarnya, juga kawasan kaki gunung Semeru. Atau kota-kota lain seperti Bogor Jawa Barat, Ruteng Nusa Tenggara, adalah daerah yang dulunya dikenal dingin tetapi sekarang tidak lagi. Meningkatnya suhu ini, ternyata telah menimbulkan makin banyaknya wabah penyakit endemik “lama dan baru” yang merata dan terus bermunculan; seperti leptospirosis, demam berdarah, diare, malaria. Padahal penyakit-penyakit seperti malaria, demam berdarah dan diare adalah penyakit lama yang seharusnya sudah lewat dan mampu ditangani dan kini telah mengakibatkan ribuan orang terinfeksi dan meninggal. Selain ancaman ratusan Desa di pesisir jatim yang bisa tenggelam akibat naiknya permukaan air laut, indikatornya serasa makin dekat saja jika kita tengok naiknya gelombang pasang di minggu ketiga bulan mei 2007 kemarin. Mulai dari pantai kenjeran, pantai popoh tulungagung, Ngeliyep Malang dan pantai lain di pulau-pulau Indonesia. Untuk negara-negara lain meningkatnya permukaan air laut bisa dilihat dengan makin tingginya ombak di pantai-pantai Asia dan Afrika. Apalagi hal itu di tambah dengan melelehnya gleser di gunung Himalaya Tibet dan di kutub utara. Di sinyalir oleh IPCC hal ini berkontribusi langsung meningkatkan permukaan air laut setinggi 4-6 meter. Dan jika benar-benar meleleh semuanya maka akan meningkatkan permukaan air laut setinggi 7 M pada tahun 2012. Dan pada 30 tahun kedepan tentu ini bisa mengancam kehidupan pesisir dan kelangkaan pangan yang luar biasa, akibat berubahnya iklim yang sudah bisa kita rasakan sekarang dengan musim hujan yang makin pendek sementara kemarau semakin panjang. Hingga gagal panen selain soal hama, tetapi akibat kekuarangan air di tanaman para ibu-bapak petani banyak yang gagal. Situasi ini tentu saja tidak hanya akan dirasakan oleh dunia, tetapi bisa juga terjadi dan akan sangat mengancam Indonesia. Sebab dengan meningkatnya permukaan air laut, desa-desa pesisir Indonesia tentu akan langsung merasakan dampaknya. Mulai dengan makin panjangnya jeda untuk tidak melaut bagi nelayan, saat angin barat. Yang tentunya ini akan berimplikasi langsung pada ekonomi keluarga mereka, maupun mengancam tenggelamnya lebih dari 4000 Desa-desa pesisir Indonesia. Apalagi Indonesia sebagai negara kepulauan, tentu akan sangat dirugikan dengan ancaman tenggelamnya pulau-pulaunya, terutama pulau-pulau kecil yang ratusan jumlahnya. Sinyal tentang ini sebenarnya sudah di beberkan oleh film The Day After Tomorrow. Sebuah film yang menggambarkan tenggelamnya kota-kota besar di pesisir yang di sertai dengan runtuhnya patung Liberty di Kota New York AS pada tahun 2020. Tentunya situasi yang kita hadapi saat ini bukan lagi manifest film tersebut, tetapi ini kenyataan yang kita hadapi saat ini Lantas jika demikian. Sebenarnya apa yang di butuhkan oleh dunia kecil “lokal” dan kita sebagai individu penghuni planet bumi? Dalam diskusi yang mengemuka di workshop ini adalah revolusi gaya hidup, sebab dengan demikian akan mengurangi penggunaan enerji baik listrik, bahan bakar, air yang memang menjadi sumber utama makin berkurangnya sumber kehidupan. Selain itu perlunya melahirkan konsesus yang membawa komitmen dari semua negara untuk menegakkan keadilan iklim. Seperti yang sudah dilakukan oleh Australia yang mempunyai instrumen keadilan iklim, melalui penegakan keadilan iklim dengan membentuk pengadilan iklim (Climate Justice). Dimana sebuah instrumen yang mengacu pada isi protokol kyoto yang menekankan pada kewajiban pada negara-negara utara untuk membayar dari hasil pembuangan emisi karbon mereka untuk perbaikan mutu lingkungan hidup bagi negara-negara selatan. Dalam praktek yang lain saatnya kita mulai menggunakan enerji bahan bakar alternatif yang tidak hanya dari bahan energi fosil, misalnya untuk kebutuhan memasak. Menggunakan energi biogas (gas dari kotoran ternak) seperti yang dilakukan komunitas merah putih di Kota Batu. Desentraliasasi energi memang harus dilakukan agar menghantarkan kita pada kedaulatan energi dan melepas ketergantungan pada sentralisasi energi yang pada akhirnya harganya pun makin mahal saja. Sedangkan untuk para pengambil kebijakan harusnya mengeluarkan policy yang jelas orientasinya untuk mengurangi pemanasan global. Misalnya menetapkan jeda tebang hutan di seluruh Indonesia agar tidak mengalami kepunahan dan wilayah kita makin panas. Menghentikan pertambangan mineral dan batubara seperti di Papua, Kalimantan, Sulawesi, hal ini bisa dilakukan dengan bertahap mulai dari meninjau ulang kontrak karyanya terlebih dahulu. Selanjutnya kebijakan progressive dengan mempraktekkan secara nyata jeda tebang dan kedaulatan energi harus dilakukan jika kita tidak mau menjadi kontributor utama pemanasan global. Iklim memang mengisi ruang hidup kita baik secara individu maupun sosial, maka tidak mungkin menegakkan keadilan iklim tanpa melibatkan kesadaran dan komitmen semua pihak. Bahwa tidak bisa dibantah, kita hidup dalam ekosistem dunia “perahu” yang sama, sehingga jika ada bagian yang bocor dan tidak seimbang, sebenarya ini merupakan ancaman bagi seluruh isi perahu dan penumpangnya. Maka merevolusi gaya hidup kita untuk tidak makin konsumtif sangat mendasar dilakukan sekarang juga oleh seluruh umat manusia. Sebab dengan begitu kita bisa menempatkan apa yang kita butuhkan bisa ditunda tidak, yang harus kita beli membawa manfaat atau tidak dan apakah yang kita beli bisa digantikan oleh barang yang lain yang ramah lingkungan? Selamat hari lingkungan hidup sedunia. Mari bertindak nyata untuk masa depan bersama
Semoga, anda—para orang tua dan anak muda — sempat menonton film ini.
Surat dari Che Guevara, untuk Kawan-kawan Muda

Kami percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang sangat panjang, sangat sulit. Sulit, tetapi jelas tidak berarti mustahil, bahwa suatu kemenangan revolusi di suatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja. (Che Guevara)

Kalau aku boleh memilih untuk berjuang, mungkin saat ini aku ingin tinggal bersama kalian. Melewati jalanan yang padat lalu lintas, dengan iring-iringan spanduk yang panjang, kalian ketuk nurani para penguasa. Kaum yang berbaju megah, berkendaraan bagus dan punya mobil mengkilap. Kalian pertaruhkan segalanya, kesempatan untuk hidup senang, kemapanan pekerjaan, dan sekolah yang kini kian mahal. Buang segala teori sosial yang ternyata tak bisa membaca kenyataan. Keluar kalian dari training-training yang pada akhirnya tidak membuat kita paham dan mau membela orang miskin. Kupilih tinggal serta berjuang di hutan karena di sana aku kembali mendengar rintih dan suara orang yang hidupnya menderita.
Andaikan aku masih diberi kesempatan untuk kembali ke negerimu pastilah aku enggan untuk duduk di kursi. Akan aku habiskan waktuku untuk mengelilingi kotamu yang padat dengan orang miskin. Akan kusapa setiap anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk mendapat uang receh. Akan aku datangi para nelayan yang kini lautnya dipenuhi oleh pipa-pipa gas perusahaan asing. Akan kubantu para buruh bangunan yang menghabiskan waktunya untuk memanggul alat-alat berat. Dan akan kutemani para buruh pabrik yang masih saja diancam oleh PHK. Tentu aku akan mendatangimu anak muda, yang resah dengan kenaikan BBM atau proyek pendidikan yang kian hari kian mahal. Kurasa aku tidak bisa istirahat jika tinggal di negerimu. Kalau aku boleh memilih untuk melawan, mungkin sekarang ini aku akan duduk bersama kalian. Aku akan bilang kalau perjuangan bukan saja melalui tulisan, puisi, buku, apalagi setajuk proposal! Perjuangan butuh keringat, pekikan suara, dan dentuman kata-kata. Kita bukan melawan seekor siput tapi buaya yang akan menerkam jika kita lengah. Hutan rimba mengajariku untuk tidak mudah percaya pada mulut-mulut manis. Hutan rimba mendidikku untuk tidak terlalu yakin dengan janji. Aku sudah hapal mana tabiat srigala dan mana watak kelinci. Kalau kau baca tulisanku, mustinya kau bisa meyakini, kalau kekuasaan hanya bisa bertahan selama kita mematuhinnya. Kekuasaan bisa bertahan selama mereka mampu menebar ketakutan. Dan aku sejak dulu dididik untuk selalu sangsi dan curiga pada penguasa! Kalau aku bisa memilih, mungkin sekarang aku ingin berjalan dengan kalian. Menonton orang-orang pandai berdebat di muka televisi atau aktivis yang melacurkan keyakinannya. Ngeri aku menyaksikan orang-orang pandai yang berbohong dengan ilmunya. Sederet angka dibuat untuk membuat orang percaya bahwa si miskin makin hari makin berkurang. Menonton aktivis senior yang kini juga berebut untuk duduk jadi penguasa. Katanya: di dalam kekuasaan tidak ada suara rakyat maka kita mengisinya. Aku bilang, itulah para pembual yang yakin jika perubahan bisa muncul karena kita duduk di belakang meja. Demokrasi acapkali berangkat dari dalil yang naif seperti itu. Aku sayangnya tak lagi bisa memilih, untuk berdiri dan berbincang dengan kalian semua. Anak muda, aku telah tuliskan puluhan karya untuk menemanimu. Dibungkus dengan sampul wajahku, yang tampak belia dan mungkin tampan, aku tuangkan pesan kepada kalian. Keberanian yang membuat kalian akan tahan dalam situasi apapun! Hutan melatihku untuk percaya kalau kemapanan, kenikmatan badaniah, apalagi kekayaan hanya menjadi racun bagi tubuh kita. Kemapanan membuat otakmu makin lama makin bebal. Kau hanya mampu mengunyah teori untuk disemburkan lagi. Kemapanan membuat hidupmu seperti seekor ular yang hanya mampu berjalan merayap. Kekayaan akan membuat tubuhmu seperti sebatang bangkai. Hutan melatihku untuk menggunakan badanku secara penuh. Kakiku untuk lari kencang bila musuh datang dan tanganku untuk mengayun pukulan jika aku diserang. Anak muda, nyali sama harganya dengan nyawa. Jika itu hilang, niscaya tak ada gunanya kau hidup! Keberanian itu seperti sikap keberimanan. Jika kau peroleh keberanian maka kau memiliki harga diri. Sikap bermartabat yang membuatmu tidak mudah untuk dibujuk. Hutan membuatku selalu awas dengan ketenangan, kedamaian, dan cicit suara burung. Hutan melatihku untuk sensitif pada suara apa saja. Jangan mudah kau terpikat oleh kedudukan, pengaruh, dan ketenaran. Kedudukan yang tinggi akan membuatmu seperti manusia yang diatur oleh mesin. Kutinggalkan jabatan menteri karena hidupku menjadi lebih terbatas dan ruang sosialku dipenuhi oleh manusia budak, yang bergerak kalau disuruh. Apalagi ketenaran hanya akan mendorongmu untuk selalu ingin menyenangkan semua orang, membuat lumpuh energi perlawananmu. Ingat, racun segala perubahan ketika dirimu merasa nyaman. Rasa nyaman yang kini kusaksikan di sekelilingmu. Anak-anak muda yang puas menjadi pekerja upahan sambil menyita tanah sesamanya. Ada anak muda yang duduk di parlemen malah minta tambahan gaji! Anak muda yang lain dengan tenaganya menyumbangkan diri untuk menjadi preman bagi kekuasaan bandit. Bahkan pendidikan hukum mereka gunakan untuk membela kaum pengusaha ketimbang orang miskin. Anak-anak muda yang banyak lagak ini memang tidak bisa dibinasakan. Mereka hidup karena ada kemiskinan, keculasan kekuasaan, dan lindungan proyek lembaga donor. Aku enggan untuk berjumpa dengan anak muda yang hanya mengandalkan titel, keperkasaan, dan kelincahan berdebat. Aku ragu apakah mereka mampu serta sanggup untuk melawan arus. Arus itulah yang kini menenggelamkan nyali kita semua. Murah sekali harga seorang aktivis yang dulu lantang melawan, tapi kini duduk empuk jadi penguasa. Murah sekali harga idealisme seorang ilmuwan yang mau menyajikan data bohong tentang kemiskinan. Murah sekali harga seorang penyair yang mau rame-rame mendukung pencabutan subsidi. Aku gusar memandang negerimu, yang tidak lagi punya ksatria pemberani. Seorang kstaria yang mau hidup dalam kesunyian dan dengan gagah meneriakkan perlawanan. Tulisan adalah senjata sekaligus bujukan yang bisa menghanyutkan kesadaran perlawanan. Kau harus berani mempertahankan nyalimu untuk selalu bertanya pada kemapanan, kelaziman, dan segala bentuk pidato yang disuarakan oleh para penguasa. Yang kauhadapi sekarang ini adalah sistem yang kuncinya tidak terletak pada satu orang. Kau berhadapan dengan dunia pendidikan yang menghasilkan ilmu tentang bagaimana jadi budak yang baik. Kau kini bergulat dengan teman-temanmu sendiri yang bosan hidup berjuang tanpa uang. Kau sebal dengan parlemen yang dulu ikut kau pilih, tetapi kini tambah membuat kebijakan yang menyudutkan rakyat. Kau perlahan-lahan jadi orang yang hanya mampu melampiaskan kemarahan tanpa mampu untuk merubah. Kau kemudian percaya kalau pemecahannya adalah melalui mekanisme, partisipasi, dan dukungan logisistik yang mencukupi. Kau diam-diam tak lagi percaya dengan revolusi. Kau yakin perubahan bisa berjalan kalau dijalankan dengan berangsur-angsur dan membuat jaringan. Gerakanmu lama-lama mirip dengan bisnis MLM. Saudaraku yang baik! Hukum perubahan sosial sejak dulu tidak berubah. Kau perlu dedikasikan hidupmu untuk kata yang hingga kini seperti mantera: lawan! Lawanlah dirimu sendiri yang mudah sekali percaya pada teori perubahan sosial yang hanya cocok untuk didiskusikan ketimbang dikerjakan. Lawanlah pikiranmu yang kini disibukkan oleh riset dan penelitian yang sepele. Kemiskinan tak usah lagi dicari penyebabnya tapi cari sistem apa yang harus bertanggung jawab. Ajak pikiranmu untuk membaca kembali apa yang dulu kukerjakan dan apa yang sekarang dikerjakan oleh gerakan sosial di berbagai belahan dunia. Gabungkan dirimu bukan dengan LSM, tapi bersama-sama orang miskin untuk bekerja membuat sistem produksi. Tak ada yang bermartabat dari seorang anak muda, kecuali dua hal: bekerja untuk melawan penindasan dan melatih dirinya untuk selalu melawan kemapanan. Resist info

Berkumpul dan Berserikatlah

14 Juli 2007
Makhrus Habibi

Bertemulah dengan banyak orang. Kemudian berkumpul dan berserikatlah. Agar unek-unek-mu “bersenggama” dengan unek-unek sedulur-mu. Dengan begitu retak-retak, jebol-jebol, bolong-bolong dan banyaknya kekurang-kekuranganmu itu lambat laun tertutup. Sekali-kali jangan berkesadaran bahwa kau tidak membutuhkan orang lain dan merasa sudah cukup dengan diri sendiri. Engkau bukan pertapa seperti Budha yang menghabiskan masa kesadarannya dibelantara langit-langitnya semadinya sendiri. Ketahuilah seikat sapu lidi itu mulanya cuma sebatang, yang cuma terasa panas jika dipai untuk mencambuk punggungmu. Paling-paling kulit arimu terkelupas sedikit, njleret, atau mungkin cuma bolot-mu yang ngglodoki. Namun jika lidi itu ada segenggam, menjadi lain jika dicambukkan ke punggungmu. Mak gedebuk, dari punggungmu bisa muncul gundukan daging baru, rasanya seperti di gepuk sebatang linggis sebesar lengannya anak umur tiga tahun.
Aku melihatmu malam-malam wira-wiri, muter-muter, seperti kelelawar menerobos wilayah yang tak sanggup dipotret mata. Aku tahu kau ketemu dengan banyak temanmu. Bersendau gurau dan berkali-kali ada ide di antara kamu “semua kurang lengkap jika malam tidak atau tanpa minum anggur memabukkan atau pil setan”. Dan malammu habis, larut dalam irama syaraf dan nadi serta aliran darahmu yang tidak normal. Aku merindukanmu ada kesempatan untuk bicara yang mungkin lebih ada faedahnya. Tentang akar-akar penggangguran, tentang irama nasip wong cilik yang susah melulu, tentang budaya yang mungkin dan perlu kita jaga, pertahankan dan kembangkan, tentang mahalnya sekolah, tentang mungkin pekerjaan yang bisa diwujudkan di antara mesin-mesin ekonomi raksasa miliknya konglomerat dalam dan luar negeri yang menyingkirkanmu dari kampungmu sendiri tapi kau tidak menyadari.

Aku tahu kau sudah berkumpul dan berserikat, namun perkumpulanmu dan perserikatanmu itu di bawah naungan departemen permendeman dan departemen keangkaramurkaan. Perkumpulan dan perserikatan yang mungkin memberi arti jika di situ kamu bicara tentang hak-hak kamu sebagai kamu, dia sebagai dia dan mereka sebagai mereka. Namun seluruhnya mesti bergerak dan bahu membahu seperti serentak dan kompaknya organ-organ di tubuh manusia ini. Ada tangan yang berfungsi selayaknya tangan, kaki, mata, hidung, telinga dan lain sebagainya. Berkumpul dan berserikatlah seperti sapu lidi. Agar dapat menyisihkan sampah. Sampah-sampah yang berupa keresahan hidup karena tidak punya uang, tidak bisa menyekolahkan anak, tidak atau belum menemukan cara untuk memperoleh pekerjaan, tidak atau belum mengerti ini dan itu tentang sesuatu yang penting untuk di ketahui dal lain-lain.

Saudara-saudara mungkin sudah atau selalu bertemu dengan banyak orang dan berkumpul dengan saudara-saudara yang lainnya. Di warung kopi, di perempatan gang, di gardu post kampling, di pasar, di trotoar, trotoar, di mushola-mushola, masjid-masjid, dan di berbagai tempat lainnya. Namun mengapa dari tempat itu tidak atau belum lahir atau kalaupun sudah ada kenapa tidak maksimal ide di perkumpulan dan perserikatan itu menjadi lebih banyak faedahnya bagi banyak orang untuk kehidupan ini dan kehidupan setelah ini?

Refleksi Sejarah Gerakan Mahasiswa

14 Juli 2007
Makhrus Habibi
Tulisan ini berangkat dari kegaduhan penulis dan sekaligus catatan kaki dari proses dan prosesi menjadi mahasiswa sekaligus aktiv di dunia pergerakan yang sampai saat ini masih menjalani proses tersebut. Berangkat dari berbagai reflkesi konsolidasi selama aktiv di organ intra kampus yang bertepatan dengan momentum penguatan konsolidasi BEM Nusantara yang berawal dari Tulungagung Jawa Timur, kemudian di Malang, Surabaya, Bandung, Salatiga, Jogja, Riau, Bali dan terakhir di Jakarta, ada sebuah catatan kecil tentang keberadaan gerakan mahasiswa saat ini. Mengawali dengan logika dasar organisasi mahasiswa bahwa keberadaan sebuah organisasi kemahasiswaan baik intra maupun ekstra adalah sebagai ruang ekspresi mahasiswa baik dari pada wilayah bakat, minat maupun operasionalisasi wacana, berbagai macam corak tentang sistem kenegaraan mahasiswa menjadi sebuah eksperimentai gagasan-gagasan idealitas ala mahasiswa, dari konsep senat mahasiswa, Republik Mahasiswa, keluarga besar mahasiswa sampai pada sistem federasi ala mahasiswa, menjadi sebuah dialektika proses pencarian tata negara dalam tahap percobaan yaitu di kampus. Keberadaan organisasi intra kampus tidak lebih sebagai ruang dialektika dan proses mahasiswa, keberadaan organisasi ekstra kampus tidak lebih karena ada kesamaan baik tujuan, emosional maupun gerakan. Gerakan-gerakan jalanan, transformasi gagasan, pendampingan tidak terlepas dari aktivitas mahasiswa, atas nama rakyat, atas nama keadilan, atas nama kebenaran, atas nama bangsa dan atas nama-nama lainnya selalu menjadi bahan orasi di jalanan dan di kertas-kertas yang sering mereka namankan alat perjuangan. Itu adalah masa lalu, itu adalah kenangan yang selalu menjadi sejarah untuk mengingatkan generasi selanjutnya, hanya sebatas di kenang bahwa itu bagus untuk di kenang atau memang dalam rangka untuk selalu menjaga spirit gerakan mahasiswa, terserah dari mahasiswa sendiri, itulah jawaban yang pragmatis dan praktis. Menjadi egent of change atau problem of change, kawan yunan nawawi selalu menanyakan pertanyaan tersebut. Apakah saya yang bodoh dalam menyikapi realitas, gaya pemikiran yang tidak berpijak pada realitas, atau memang mereka yang ternyata kucing garong, tidak lebih sebagai penguasa-penguasa kecil yang suka omong kosong, bohong di sana dan bohong disini. Tong-tong kosong….

Nasionalisasi asset sebagai gagasan awal yang selalu di usung pada tiap pertemuan BEM Nusantara, menjadi sebuah hal yang sangat berat di perjuangkan di Jakarta, kenyataan berbicara lain, kawan-kawan lebih asyik menghadiri undangan dari presiden ketimbang berdemonstrasi di jalan yang panas, kawan-kawan bebas tertawa dan terbahak-bahak karena berfoto ria dengan mereka-mereka dari pada berteriak atas nama rakyat. Ada yang beralasan bahwa inilah Jakarta, ada yang beralasan bahwa nanti tidak bisa pulang, ada yang beralasan bahwa inilah politik dan ada yang masih komitmen menjaga konsistensi gerakan dan banyak pula yang diam seribu bahasa. Kenapa??? Keadaan telah memaksa sekian orang, sekian mahasiswa, sekian remaja untuk tidak hanya mencukupi kebutuhannya tetapi juga mencukupi segala keinginannya, dengan kata lain KEMAKAN IKLAN. Design global tidak hanya pada wilayah pertarung ekonomi bahwa mereka menguasai saham-saham perusahaan besar, tetapi juga menguasai lembaga pendidikan yang kemudian memunculkan BHMN, menguasai kultur masyarakat yang kemudian membawa mainstream gaya hidup yang instan, menguasai pengetahuan yang kemudian mucul standarisasi ilmiah, menguasai negara yang kemudian memunculkan UU otonomi daerah, menguasai personal yang kemudian muncul egoisme, menguasai budaya yang kemudian muncul budaya pop dan menguasai-menguasai lainnya. Orang bilang itulah fakta bumi di mana kita berpijak, tidak pernah ada dalam kamus global kata-kata bergerak tetapi harus di gerakkan. Secepat apa dan sejauh mana kita bergerak ternyata tetap by design global. Pertanyaan yang sederhana kemudian muncul adalah kita harus ngapain hoi……??? Selanjutnya saya tidak akan menyelesaikan tulisan ini, saya buat sedemikian mbulet supaya orang yang membacanya jadi orang ruwet, dan berangkat dari hal yang ruwet itulah maka harapan saya kita akan berani. Berani bergerak, berani menjual gagasan, berani bertarung dan berani berargumentasi untuk menjadi manusia yang merdeka, sebelum bangunlah raganya lagu Indonesia Raya mendahuluinya dengan bangunlah JIWANYA.

Mimpi Buruk Anak-Anak Muda

14 Juli 2007
Makhrus Habibi

Bagi anak-anak sekolah, hal yang paling menyenangkan adalah ketika lulus dalam ujian. Karena kelulusan sekolah telah dicitrakan sedemikian rupa untuk menunjukkan tingkat kecerdasan dan keberhasilan dalam dunia pendidikan di tanah air. Ukuran dari keberhasilan sebuah lembaga pendidikan adalah seberapa tinggi mereka mencapai nilai ujian (UAN), seberapa persen mereka mencapai angka kelulusan, sehingga peristiwa 8 (delapan) murid MA Al falah yang tidak lulus pasti di anggap fatal oleh lembaga. Pada perspektif ilmu manajemen dalam kerangka untuk membangun image (branding) mungkin bisa di katakan ia, karena hal ini mencerminkan ada beberapa hal yang salah dalam pengelolaannya, baik pada tingkatan manejerial sebuah lembaga maupun manajerial dalam memproses anak didik. Tetapi dalam perspektif idealitas pendidikan tentu memunculkan tanda tanya besar ??Benarkah? Ada yang mengekspresikan kegembiraan karena kelulusan meraka dengan coret-coret di baju mereka, konvoi, pesta sex, aktivitas sosial, ada yang berjalan kaki pulang ke kampung halaman, bahkan ada yang sampai bernadzar puasa 7 hari dan masih banyak lainnya aktivitas untuk mengekspresikan kegembiraan tersebut. Sedangkan pada sisi lain, Bagaimana dengan anak sekolah yang tidak lulus? Ada jutaan anak SMP dan SMA tidak lulus dan harus mengulang lewat ujian susulan. Andaikata itu terjadi pada diri kita, sebuah standarisai pendidikan yang sampai tahun ini masih terus di gugat, masih terus mengorbankan masa depan berjuta-juta anak pada tiap tahunnya, berjalan lancar bebas hambatan. Ada yang menyikapinya dengan demonstrasi, ada yang menyikapinya dengan keterpaksaan dan tidak sedikit juga yang menyikapinya dengan membimbing jawaban kepada peserta ujian yang dalam kasus ini ada sebuah kesepakatan bersama, barangsiapa yang melaporkan akan di keluarkan dari sekolah atau di alih tugaskan (kasus gerakan Air Mata Ibu. Medan) Ini memang sudah di set sedemikian rupa oleh negara, itulah asumsi penulis, Kalaupun mereka bodoh atau pintar? Siapa yang berani menjamin kebodahan dan kecerdasan mereka? Karena bodoh dan cedas bukan ujian nasional ukurannya. Kenyataan dari sistem pendidikan kita telah mengabaikan kecerdasan-kecerdasan lain pada diri siswa, ada kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, sosial dan lain sebagainya, sehingga sangat wajar ketika mainstream yang dibawa ini akan membawa sistem evaluasi yang positivis (matematik) karena diantaranya dengan melalui UAN. Landasan filosofisnya saja sudah salah apalagi sistem evaluasinya. Apa sesungguhnya hakikat sekolah itu? Kenapa banyak orang yang gila dan tergila-gila atau bahkan di buat gila? Gila karena terbuai idealisme sekolah, kucuran dana sekolah oleh negara, dan lain sebagainya. Apakah kita berkesimpulan bahwa sekolahan itu satu-satunya pintu menuju dunia realis/nyata yang terhampar di Indonesia? Apa sebenarnya dunia pendidikan dan sekolah itu? Dalam benak kolektif-kesadaran kita bersama, teronggok disana secara angkuh bahwa sekolah adalah satu-satunya tempat atau tempat berproses untuk memperoleh pengetahuan dan satu-satunya jalan menuju dunia nyata. Untuk dapat memperoleh uang, memperoleh status, memperoleh kerja ini-itu dan lain-lain. Demikiankah sekolah itu? Apakah dengan tidak disekolah tertutup akal, hati dan kesadaran kita bahwa sesungguhnya ada banyak tempat yang kita disana dapat memperoleh yang namanya ilmu dan pengetahuan sebagai bekal untuk lebih mengenal dari dekat dan sedekat-dekatnya kenyataan keseharian keindonesiaan. Kenyataan ekonomi, politik, budaya, seni, dan hiruk-pikuk susah senangnya hidup di Indonesia.Tapi bagaimanapun juga pendidikan sudah kadung menjadi kenyataan tersendiri yang saling kait mengait dengan kenyataan-kenyataan sosial lainnya yang menjadi penopang kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun pendidikan atau sekolah yang bertipe bagaimanakah yang benar-benar dapat bukan sekedar dapat memberikan nilai guna, namun lebih dari itu sekolah adalah ruang untuk mencipta dan memproses terbentuknya karakter dan budaya bagi keberlangsungan perkembangan dan ketahanan mental, spiritual, akal budi, skil, dan daya semangat hidup anak-anak muda lulusan sekolahan itu? Setidaknya melalui tulisan ini kita berefleksi kembali pada diri masing-masing, dalam menjawab pertanyaan sederhana di atas untuk apa kita kuliah dan dan apakah kuliah hanya satu-satunya jalan untuk menitih masa depan? Kita mencoba kemblai menggugah kesadaran-kesadaran diri tentang hakikat lembaga pendidikan…

Ayo Bela Nelayan Jakarta dengan SMS-mu

Tolak Reklamasi Pantura Jakarta
Menjelang berakhirnya masa jabatan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, rencana reklamasi Pantai Utara (Pantura) Jakarta kembali mencuat. Proyek yang menelan biaya kurang lebih sebesar Rp3,499 triliun itu sempat terganjal Keputusan Menteri (Kepmen) Negeara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2003 yang menyatakan ketidaklayakan lingkungan dari proyek reklamasi Pantura Jakarta.

Pantai Utara (Pantura) Jakarta terbentang sepanjang 32 kilometer. Bagian yang akan direklamasi adalah sejauh 1,5 kilometer dari bibir pantai ke arah laut dengan kedalaman maksimal mencapai 8 meter. Reklamasi itu dimulai dari sebelah Timur perbatasan Cilincing dengan Kabupaten Bekasi hingga sebelah Barat perbatasan Penjaringan dengan Kabupaten Tangerang. Rencananya, di lahan baru tersebut selain diperuntukan bagi pembangunan kawasan komersial berupa industri, fasilitas kegiatan pariwisata, perkantoran, dan sarana transportasi, akan dibangun pula kompleks perumahan mewah yang berkapasitas 750.000 jiwa. Dampak Lingkungan Hidup dari Reklamasi Pantura Jakarta

Reklamasi Pantura Jakarta akan menimbun perairan di kawasan itu seluas 2.700 ha dengan bahan material sebanyak 330 juta m3. Akibatnya, ekosistem pesisir yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu di kawasan tersebut pun terancam punah. Kehancuran itu antara lain berupa hilangnya berbagai jenis pohon bakau di Muara Angke, punahnya ribuan jenis ikan, kerang, kepiting, dan berbagai keanekaragaman hayati lainnya.

Tidak hanya mengancam keberlanjutan ekosistem di kawasan pesisir, reklamasi Pantura Jakarta juga dipastikan akan meningkatkan dan memperparah potensi banjir di Jakarta. Hal itu dikarenakan reklamasi tersebut akan mengubah bentang alam (geomorfologi) dan aliran air (hidrologi) di kawasan Jakarta Utara. Perubahan itu antara lain berupa tingkat kelandaian, komposisi sedimen sungai, pola pasang surut, pola arus
laut sepanjang pantai, dan merusak kawasan tata air seluas 10.000 ha (Herdianto WK, 2006).

Dampak Sosial Reklamasi Pantura Jakarta


Dari sisi sosial, rencana reklamasi Pantura Jakarta tersebut diyakini juga akan membuat 125.000 nelayan tergusur dari sumber kehidupannya. Penggusuran itu dilakukan karena kawasan komersial mensyaratkan pantai sekitarnya bersih dari bagang-bagang (perangkap ikan) nelayan. Penggusuran ini membuat nelayan yang sudah miskin menjadi semakin miskin. Ratusan ribu anak nelayan pun akan terancam putus sekolah. Ratusan ribu balita juga akan tidak terjamin kesehatannya, dan ratusan ribu orang dipastikan akan kehilangan pekerjaannya (Walhi Jakarta, 2006).

Ayo Bela Nelayan Jakarta

Untuk itu, ungkapkanlah penolakan Anda terhadap rencana proyek reklamasi Pantura Jakarta melalui SMS ke:

1. Kepala BPLHD DKI Jakarta, Bp.Ir.Budirama Hp. 0813 141 53354

2. Ketua Komisi D (Bidang Pembangunan) DPRD DKI Jakarta, Bp. Sayogo Hp. 0816 1875 845 atau 0811 846 769

3. Wakil Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Muhayar Hp 0811 105 332

4. Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Tubagus Hp. 0815 1300 5024

5. Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Arkeno Hp. 0855 7800 434

6. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) DKI Jakarta, Sarwono Kusumaatmaja Hp. 0812 8016 033

Salam,
KAUKUS LINGKUNGAN HIDUP JAKARTA

Yang Berbahaya di Lingkungan Kita

1. BEKAS BOTOL AQUA
Mungkin sebagian dari kita mempunyai kebiasaan memakai dan memakai ulang botol plastik (Aqua, VIT, etc) dan menaruhnya di mobil atau di kantor. Kebiasaan ini tidak baik, karena bahan plastic botol (disebut juga sebagai polyethylene terephthalate or PET) yang dipakai di botol2 ini mengandung zat2 karsinogen (atau DEHA). Botol ini aman untuk dipakai 1-2 kali saja, jika anda ingin memakainya lebih lama, tidak boleh lebih dari seminggu, dan harus ditaruh ditempat yang jauh dari matahari. Kebiasaan mencuci ulang dapat membuat lapisan plastic rusak dan zat karsinogen itu bisa masuk ke air yang kita minum. Lebih baik membeli botol air yang memang untuk dipakai ber-ulang2, jangan memakai botol plastik.

2. PENGGEMAR SATE
Kalau Anda makan sate, jangan lupa makan timun setelahnya. Karena ketika kita makan sate sebetulnya ikut juga karbon dari hasil pembakaran arang yang dapat menyebabkan kanker. Untuk itu kita punya obatnya yaitu timun yang disarankan untuk dimakan setelah makan sate. Karena sate mempunyai zat Karsinogen (penyebab kanker) tetapi timun ternyata punya anti Karsinogen. Jadi jangan lupa makan timun setelah makan sate.

3. UDANG DAN VITAMIN C
Jangan makan udang setelah Anda makan Vitamin C. Karena ini akan menyebabkan keracunan dari racun Arsenik (As) yang merupakan proses reaksi dari Udang dan Vitamin C di dalam tubuh dan berakibat keracunan yang fatal dalam hitungan jam.

4. MI INSTAN
Untuk para penggemar mi instan, pastikan Anda punya selang waktu paling tidak 3 (tiga) hari setelah Anda mengkonsumsi mi instan, jika Anda akan mengkonsumsinya lagi, dari informasi kedokteran, ternyata terdapat lilin yang melapisi mi instan. Itu sebabnya engapa mi instan tidak lengket satu sama lainnya ketika dimasak. Konsumsi mie instan setiap hari akan meningkatkan kemungkinan seseorang terjangkiti kanker. Seseorang, karena begitu sibuknya dalam berkarir tidak punya waktu lagi untuk memasak, sehingga diputuskannya untuk mengkonsumsi mi instan setiap hari. Akhirnya dia menderita kanker. Dokternya mengatakan bahwa hal ini disebabkan karena adanya lilin dalam mi instan tersebut. Dokter tersebut mengatakan bahwa tubuh kita memerlukan waktu lebih dari 2 (dua) hari untuk membersihkan lilin tersebut.

5. BAHAYA DIBALIK KEMASAN MAKANAN
Kemasan makanan merupakan bagian dari makanan yang sehari-hari kita konsumsi. Bagi ebagian besar orang, kemasan makanan hanya sekadar bungkus makanan dan cenderung ianggap sebagai “pelindung” makanan. Sebetulnya tidak tepat begitu, tergantung jenis bahan kemasan. Sebaiknya mulai sekarang Anda cermat memilik kemasan makanan. Kemasan pada makanan mempunyai fungsi kesehatan, pengawetan, kemudahan, penyeragaman, promosi, dan informasi. Ada begitu banyak bahan yang digunakan sebagai pengemas primer pada makanan, yaitu kemasan yang bersentuhan langsung dengan makanan. Tetapi tidak semua bahan ini aman bagi makanan yang dikemasnya. Inilah ranking teratas bahan kemasan makanan yang perlu Anda waspadai.

A. Kertas.
Beberapa kertas kemasan dan non-kemasan (kertas koran dan majalah)yang sering digunakan untuk membungkus makanan, terdeteksi mengandung timbal (Pb) melebihi batas yang ditentukan. Di dalam tubuh manusia, timbal masuk melalui saluran pernapasan atau pencernaan menuju sistem peredaran darah dan kemudian menyebar keberbagai jaringan lain, seperti: ginjal, hati, otak, saraf dan tulang. Keracunan timbal pada orang dewasa ditandai dengan gejala 3 P, yaitu pallor (pucat), pain (sakit) & paralysis (kelumpuhan). Keracunan yang terjadipun bisa bersifat kronis dan akut. Untuk terhindar dari makanan yang terkontaminasi logam berat timbal, memang usah-susah gampang. Banyak makanan jajanan seperti pisang goreng, tahu goreng dan tempe
goreng yang dibungkus dengan Koran karena pengetahuan yang kurang dari si penjual, padahal bahan yang p anas dan berlemak mempermudah berpindahnya timbale makanan tsb. Sebagai usaha pencegahan, taruhlah makanan jajanan tersebut di atas piring.

B. Styrofoam
Bahan pengemas styrofoam atau polystyrene telah menjadi salah satu pilihan yang paling populer dalam bisnis pangan. Tetapi, riset terkini membuktikan bahwa styrofoam diragukan keamanannya. Styrofoam yang dibuat dari kopolimer styren ini menjadi pilihan bisnis pangan
karena mampu mencegah kebocoran dan tetap mempertahankan bentuknya saat
dipegang. Selain itu, bahan tersebut juga mampu mempertahankan p anas dan dingin tetapi tetap nyaman dipegang, mempertahankan kesegaran dan keutuhan ahan yang dikemas, biaya murah, lebih aman, serta ringan. Pada Juli 2001, Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa residu styrofoam dalam makanan sangat berbahaya. Residu itu dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC), yaitu suatu penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan pada system endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen dalam makanan.

JADILAH SAHABAT BAGI ORANG LAIN DAN KIRIMKAN TULISAN INI SEBANYAK MUNGKIN KEPADA SAHABAT ANDA.