Siswa Tsanawiyah Al-Falah Lulus 100%

Berbeda dengan siswa Aliyah yang ternyata pada Ujian Nasional tahun ini tidak lulus sebanyak 8 dari total 57 siswa (14%), siswa Madrasah Tsanawiyah justru berhasil lulus semua. Hal ini tentu menjadi sebuah kebanggan bagi guru dan ustadz yang menjadi dewan pengajar pada level ini. Semoga tingkat kelulusan ini menjadi tanda bahwa Al-Falah memang cukup mampu menghadapi persaingan dunia pendidikan yang carut marut ini. Semoga juga, Al-Falah bisa memacu diri lebih pesat menuju Peradaban Pendidikan yang lebih baik.

Analisis Drastisnya Kenaikan Ketidaklulusan Siswa SMA dalam UN

Oleh : Muhammad Zainal Abidin
Mahasiswa Semester 6 Jurusan Pendidikan Matematika
UIN Alauddin Makassar

Mengapa tingkat ketidaklulusan Ujian Nasional siswa SMA tahun ini naik secara drastis?
Menurut hemat penulis, ada beberapa hal yang dapat menyebabkan hal ini, diantaranya adalah hal-hal sebagai berikut …

  1. Tradisi guru memberi bantuan jawaban kepada murid yang ternyata malah menimbulkan perasaan tidak Percaya Diri siswa dalam mengerjakan soal Ujian. Hal ini bisa berakibat pada keragu-raguan siswa pada jawabannya sendiri. Yang parah, jika ternyata siswa mengganti jawabannya yang benar dengan jawaban dari guru yang belum tentu benar. Hahaha… Komunitas Air Mata Guru telah membuktikan banyaknya kecurangan dalam hal ini. Bukankah dalam mempertahankan kebenaran dan kejujuran ini adalah sesuatu yang teramat sulit bagi siswa-siswa Indonesia yang sudah lekat dengan tradisi MENCONTEK? Apalagi persen kelulusan sangat mempengaruhi Image sekolah bersangkutan. Bagaimana ternyata jika SMA favorit tak mampu meluluskan 100% siswanya? Nah, hal ini menjadi alasan utama kepala sekolah dan guru-guru melakukan tindakan curang..
  2. Adanya kesalahan dalam PAKET SOAL. Dua jenis paket soal yang diberikan kepada siswa (Paket untuk siswa yang bernomor ganjil dan genap) tentunya kadang menimbulkan kerancuan. Situasi ujian yang tak relax sama sekali memungkinkan pihak Panitia Ujian salah dalam memberikan paket. Bisa jadi,siswa yang harusnya mendapatkan paket ganjil malah mendapatkan paket soal genap, atau sebaliknya. Yang lucu, jika siswa paket ganjil mencontek jawaban dari paket genap. Yaaa… hasilnya, OTOMATIS, jawabannya salah semua.
  3. Ketidakmampuan siswa melingkari jawaban pada lembar ujian komputer dengan sempurna. Komputer yang melakukan Scanning terhadap lembar jawaban menentukan kriteria lingkaran yang dapat dikenali, sedikit teledor saja, akan berakibat fatal. Itu menurut ahli komputer. Apalagi jika siswa yang bersangkutan mengisi jawaban seadanya, tanpa memperhatikan lingkaran yang dibuat sudah total atau belum
  4. Pensil 2B. Faktor ini belum tentu pasti. Saya sempat mendengarkan pembicaraan seorang penjual Alat Tulis Kantor, katanya, salah satu penyebab tingginya tingkat ketidaklulusan adalah karena pensil 2B memang bukanlah pilihan yang sempurna
  5. Standar nilai yang LEBIH TINGGI dari tahun sebelumnya tentu saja berakibat buruk pada psikologi siswa. Belum lagi bagi siswa yang pada malam sebelum Ujian Patah Hati. Hahaha… Bisa berabE jadinya! Padahal nilai 5,0 adalah standar rendah untuk kenaikan Kelas. Siswa dengan nilai MERAH ini tidak akan bisa naik ke level kelas yang lebih tinggi.
  6. Nasib… Kali!!! Guru-guru di SMA lebih sayang pada siswanya. Kalau tidak bisa tahun ini, Insya Allah tahun depan masih ada. Atau yang mau cepat, Paket C saja. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.

Hasil Pengumuman UAN 2007

Makassar, Tribun — Sekitar 2.600 siswa kelas III sekolah menengah atas (SMA) di Sulawesi Selatan (Sulsel) tidak lulus di ujian nasional (UN) yang digelar Mei lalu.
Ketua Panitia UN Sulsel 2007, Abdul Jabbar, mengungkapkan hal tersebut di Makassar, Selasa (12/6). Hasil tersebut diperoleh dari badan standar UN di Jakarta, dan sudah dibagikan ke seluruh kabupaten/kota.
“Tapi, hasil tersebut masih harus dikonversi dengan nilai lain di sekolah masing-masing. Jadi ini baru angka UN dan bukan kelulusan dari sekolah,” kata Jabbar.
Angka kelulusan UN di Sulsel mencapai 95 persen dari sekitar 47.426 siswa peserta UN. Hasil ini lebih baik bila dibandingkan dengan tingkat kelulusan UN secara nasional yang hanya 90 persen.
Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Jeneponto meraih tingkat kelulusan di UN tahun ini. Dari 1.354 peserta UN di Sidrap, hanya sembilan siswa yang tidak memenuhi standar atau tingkat kelulusan di atas 95 persen.
Sedangkan di Kabupaten Jeneponto hanya 11 siswa yang nilainya tidak mencapai standar UN dari 1.490 peserta UN.
Sementara di Makassar, tingkat kelulusan UN sekitar 95 persen atau 1.062 peserta tidak mencapai nilai standar dari 18.965 peserta UN.
Menurut Jabbar, tingkat kelulusan tahun inilebih baik meski standar nilai UN dinaikkan menjadi 5,0. Dia menambahkan, penentuan lulus tidaknya siswa tergantung pada kebijakan sekolah masing-masing, pasalnya, meski siswa tersebut nilainya memenuhi standar tapi perilakunya tidak, maka akan tidak lulus juga.
Hal ini sesuai dengan buku petunjuk UN, yang tidak hanya menilai dari nilai standar namun perilaku siswa tersebut.
Untuk pengumuman hasil UN tersebut, menurut Jabbar terserah dari pihak sekolah kapan ingin mengumumkannya, sehingga pengumuman UN SMA/MA/SMK nantinya tidak akan dilaksanakan secara serentak, yang penting pelaksanaannya paling lambat pada 16 Juni mendatang.
“Mungkin saja besok (hari ini), karena hasil tersebut sudah ada di semua sekolah kabupaten/kota. Selama pihak sekolah sudah merekap semua nilai, mereka sudah dapat mengumumkan nilai UN siswa,” jelas Jabbar.
Untuk hasil UN tingkat sekolah menengah pertama (SMP), hasilnya baru akan diterima dari pusat pada 16 Juni mendatang.
Sedangkan Kepala Badan Standar Pendidikan Nasional Yunan Yusuf mengatakan hasil ujian nasional telah dikirimkan ke daerah. “Seminggu yang lalu telah dikirim, diserahkan ke daerah kapan diumumkan,” katanya.

Yunan tidak mau memastikan jumlah siswa yang lulus ujian nasional. “Kami tidak dalam posisi mengumumkan, tapi kalau dipersentasikan jumlah kelulusan ada di angka 90-an persen,” tambahnya.

Ujian Akhir
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Makassar Suardi mengatakan, pihaknya belum berani mengumumkan persentase kelulusan di setiap sekolah.
Alasannya, masing-masing sekolah masih melakukan rekapitulasi nilai antara nilai mata pelajaran yang diujikan pada ujian nasional (UN) dan nilai yang diujikan pada ujian sekolah (US).
“Kita belum memastikan kelulusannnya. Sebab, bisa saja persentase kelulusan akan meningkat karena dipengaruhi oleh nilai ajian akhir siswa yang bersangkutan,” kata Suardi.
Sedang Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Makassar Mahmud BM mengatakan, meski persentase kelulusan SMA di kota Makassar belum diumumkan, namun dia menggambarkan, ada sebuah sekolah yang 100 siswanya tidak lulus UN.
“Saya tidak bisa sebutkan. Yang jelas persentase kelulusan tiap sekolah di Makassar bervariasi. Mulai dari 70 persen, 75 persen, 95 persen, dan hanya sedikit sekolah yang meluluskan siswanya hingga 100 persen. Bahkan ada sekolah unggulan yang siswanya tidak lulus,” ujarnya.

Pengawas Independen
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Prof Dr Mansyur Ramly menilai salah satu tingginya angka ketidaklulusan disebabkan karena efektifnya tim pengawas independen melaksanakan tugasnya melakukan pengawasan di lapangan.
Namun, kata Mansyur, tingginya ketidaklulusan bukan berarti nilai rata-rata UN menurun. Sebab, di sisi lain, nilai rata-rata UN meningkat dari tahun sebelumnya.
“Ini menunjukkan bahwa mutu penyelenggaraan UN dan mutu siswa kita semakin membaik. Kenyataan ini akan memotivasi siswa untuk lebih giat belajar pad atahun depan,” katanya.
Mansyur memberikan tanggapan itu seusai mengikuti rapat di kantor Wapres RI tentang kebijakan UN tahun 2008 bersama deputi wapres bidang kesra dan dirjen dikdasme.
“Selain membicarakan masalah UN, kita juga mempersiapkan kebijakan UN untuk sekolah dasar dan madrasyah ibtidaiyah (SD/MI) tahun 2008. Setelah itu saya menggelar rapat dengan mendiknas tentang rancangan peraturan pemerintah (RPP) pendanaan pendidikan,” katanya.

BAGAIMANA DENGAN AL-FALAH?
Info terbaru menyebutkan bahwa Delapan orang dari 57 total Siswa Aliyah tidak berhasil lulus dalam ujian nasional ini. Dari total 57 siswa tersebut, terdapat 2 orang siswa dari Jurusan IPA (Total siswa IPA adalah 24 orang) dan 6 orang siswa dari Jurusan IPS (Total siswa IPS adalah 33 orang), ternyata tidak lulus. Meski info tersebut dapat dipercaya, tapi tidak disebutkan mereka gagal memenuhi target standar pada mata pelajaran apa.

Ini info taon 2007, tapi yang taon 2008 Lulus semua eui!

Saluutt

:mrgreen:

Jilbab

Jilbab, secarik kain untuk menutupi kepala dan rambut perempuan, tak lagi menjadi masalah sederhana. Jilbab menyuguhkan kepada kita dua konteks yang berbeda dan saling bertentangan. Suatu waktu, mengenakan jilbab diperlukan usaha keras karena ada yang melarangnya. Namun, di sisi lain, pemakaian jilbab justru dipaksakan. Bila tak mengenakannya akan dijatuhi hukuman: cemeti hingga mati.
Contoh yang pertama, beberapa waktu lalu, beberapa pegawai perempuan di Sogo, Jakarta, mengalami kesulitan dengan pihak manajemen karena mereka memakai jilbab. Demikian juga di beberapa negaa di Eropa, khususnya di Prancis, yang saat ini menerapkan pelarangan pemakaian simbol-simbol agama di tempat umum–tak hanya simbol Islam.
Di ranah lain, Menteri Sosial Pakistan Zill-e Huma, 20 Februari lalu, ditembak mati oleh kelompok Islam garis keras di Pakistan gara-gara tak mengenakan jilbab. Demikian juga perempuan-perempuan di Aceh yang tertangkap basah tidak mengenakan jilbab akan dicambuk di muka umum selepas salat Jumat. Di Padang, melalui surat keputusan wali kota, mengenakan jilbab menjadi kewajiban. Beberapa daerah lain di Indonesia juga mempraktekkan hal yang sama: bila ada itikad menerbitkan peraturan tentang moral ataupun syariah, mewajibkan perempuan berjilbab menjadi agenda utama.
Contoh-contoh di atas sengaja saya hadirkan untuk memperlihatkan betapa persoalan jilbab ini sudah dipandang secara hitam-putih. Lebih dari itu, ada semacam ketakutan yang berlebihan dari dua arus tersebut. Apabila hal ini sengaja didiamkan, jilbab akan dimusuhi dan akan terus-menerus dilarang oleh mereka yang membenci. Sebaliknya, mereka yang mendukung jilbab akan terus memperjuangkannya.
Saya kira, di sinilah letak pentingnya mendiskusikan kembali fenomena jilbab. Pihak yang setuju ataupun menolak harus menyadari bahwa jilbab, sebagai fenomena, membawa pesan yang beragam. Menganut satu persepsi saja terhadap fenomena jilbab ini akan menjerumuskan kita pada bentuk penghakiman yang sewenang-wenang. Keputusan apa pun yang diambil, bila berasal dari asumsi yang salah, tak akan pernah bisa menyelesaikan masalah, malah akan menimbulkan masalah yang jauh lebih besar.
Pada hemat saya, paling tidak ada empat tipologi yang bisa dipakai saat melihat fenomena jilbab. Tipologi ini berhubungan dengan motif, bentuk jilbab, dan gaya hidup yang mengenakannya.
Pertama, jilbab atas alasan teologis, yaitu kewajiban agama. Mereka yang mengenakan jilbab ini akan memahaminya sebagai kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan. Bentuk jilbab pun sesuai dengan standar-standar syariat, tak hanya menutup rambut dan kepala, tapi juga–menurut sebagian dari mereka–hingga sampai ke dada. Jilbab yang lebar, bila perlu menutupi seluruh tubuh. Perempuan yang mengenakan jilbab seperti ini juga akan berhati-hati bergaul di ruang publik.
Kedua, alasan psikologis. Perempuan yang berjilbab atas motif ini sudah tidak memandang lagi jilbab sebagai kewajiban agama, tapi sebagai budaya dan kebiasaan yang bila ditinggalkan akan membuat suasana hati tidak tenang. Kita bisa menemukan muslimah yang progresif dan liberal masih mengenakan jilbab karena motif kenyamanan psikologis tersebut. Bentuk jilbab yang dikenakan berbeda dengan model pertama, dan disesuaikan dengan konteks dan fungsinya. Demikian juga dengan gaya hidup yang memakainya, jauh lebih terbuka, dan pergaulan mereka sangat luas, berbeda dengan model pertama.
Ketiga, jilbab modis. Jilbab sebagai produk fashion. Saya memandang jilbab model ini sebagai jawaban terhadap tantangan dunia model yang sangat akrab dengan perempuan. Namun, di sisi lain, ada nilai-nilai agama yang berusaha dipertahankan dan sebagai merek dagang. Munculnya outlet-outlet dan acara-acara peragaan busana muslimah mampu menghadirkan model jilbab dan busana muslimah yang telah melampaui persoalan agama.
Dua bulan lalu, di harian Al-Hayat, saya membaca laporan jurnalistik dari Maroko dan Aljazair bahwa para ulama agama di dua negara itu mengecam munculnya jilbab-jilbab modis. Menurut mereka, bentuk-bentuk jilbab tersebut tidak sesuai dengan standar syariat, demikian pula perilaku yang memakainya. Kata seorang ulama di antara mereka, bagaimana mungkin seorang muslimah bisa mengenakan jilbab yang mini dan transparan, kadang rambut dan lehernya terlihat, dan dipadukan dengan kaus yang ketat dan celana jins?
Fenomena ketiga ini sangat menarik saat ini untuk dikaji lebih lanjut. Arus modernisasi dan fashion tak bisa dibendung oleh apa pun. Ia bisa menciptakan fenomena baru. Dan asumsi-asumsi yang dipakai untuk memandangnya pun tak bisa seperti yang ditunjukkan oleh para ulama itu.
Sedangkan di Indonesia, jilbab modis sangat menjamur, sangat digemari kawula muda dan kalangan selebritas. Salah satu simbol yang bisa saya sebutkan adalah Gita KDI, penyanyi dangdut yang fasih bergoyang, yang mengenakan pakaian ketat namun tetap setia berjilbab. Jilbab dan busana Gita tak bisa lagi dilihat melalui model pertama, teologis, karena dalam aturan syariat yang jumud, perempuan jangankan bergoyang, menyanyi saja akan menyulut masalah.
Keempat, jilbab politis. Fenomena ini muncul dari berbagai kelompok Islam yang menggunakan simbol-simbol agama sebagai dagangan politik. Dalam konteks ini, jilbab tidak lagi menjadi persoalan keimanan, kesalehan, dan kesadaran pribadi, namun akan dipaksakan ke ruang publik. Inilah fenomena yang sebenarnya terjadi di Pakistan, di Aceh, dan di beberapa daerah di Indonesia yang berdalih ingin menerapkan syariat Islam.
Saya pribadi bisa menghormati apabila ada muslimah yang ingin mengenakan jilbab sebagai bentuk keyakinan pribadi, tanpa harus memakai standar pribadi tersebut terhadap orang lain. Misalnya pandangan bahwa yang memakai jilbab lebih soleh dan terhormat dari yang tidak memakai. Di sinilah pihak yang selama ini mencurigai jilbab perlu melihatnya secara cermat. Jilbab sebagai keyakinan pribadi tak perlu dimusuhi. Bila hal ini terjadi, akan menjadi senjata bagi varian keempat untuk mempolitisasi peristiwa tersebut.
Bila benar jilbab berhubungan dengan masalah keyakinan dan kesadaran, ia tak perlu peraturan. Di sini, jilbab akan dipakai dan dipahami secara sehat karena merupakan bentuk ekspresi keyakinan dan kebebasan. Jilbab dipakai sebagai model yang bisa memperkaya khazanah busana. Terserah apakah ia dipandang sebagai pakaian agama atau pakaian adat-istiadat.
Namun, yang pasti dan perlu disadari adalah jilbab tetaplah merupakan pakaian individu, yang tidak bisa dijadikan sebagai pakaian publik. Jilbab sebagai produk budaya akan senantiasa berubah. Apabila jilbab dijadikan pakaian publik atas dasar motif agama, namun orang yang tidak meyakini agama itu tetap saja diwajibkan memakai jilbab, sama saja dengan mewajibkan non-muslim untuk salat. Tidak lucu, bukan?

sumber:
http://www.korantem/po.com/korantempo/2007/03/09/Opini/krn,20070309, 61.id.html

Hati-hati terhadap Situs di bawah ini

Katanya, alamat website di bawah ini menyebarkan informasi yang salah tentang Islam. So… Coba dikaji, dibaca ulang. Ini dia :
1. http://www. answering-islam.org
2. http://www.aboutislam.com
3. http://www.thequran.com
4. http://www.allahassurance.com
Situs-situs tersebut telah sengaja dibuat oleh kaum Yahudi yang senantiasa gencar menyebarkan yang salah tentang Al-Qur’an, Hadits dan Islam

Hadits Palsu tentang keutamaan Shalat dan Puasa di Bulan Rajab

Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
sumber :almanhaj.or.id

PENJELASAN PARA ULAMA TENTANG MASALAH RAJAB

[1]. Imam Ibnul Jauzy menerangkan bahwa hadits-hadits tentang Rajab, Raghaa’ib adalah palsu dan rawi-rawi majhul. [Lihat al-Maudhu’at (II/123-126)]

[2]. Kata Imam an-Nawawy:
“Shalat Raghaa-ib ini adalah satu bid’ah yang tercela, munkar dan jelek.” [Lihat as-Sunan wal Mubtada’at (hal. 140)]

Kemudian Syaikh Muhammad Abdus Salam Khilidhir, penulis kitab as-Sunan wal Mubtada’at berkata: “Ketahuilah setiap hadits yang menerangkan shalat di awal Rajab, pertengahan atau di akhir Rajab, semuanya tidak bisa diterima dan tidak boleh diamalkan.” [ Lihat as-Sunan wal Mubtada’at (hal. 141)]

[3]. Kata Syaikh Muhammad Darwiisy al-Huut: “Tidak satupun hadits yang sah tentang bulan Rajab sebagaimana kata Imam Ibnu Rajab.” [Lihat Asnal Mathaalib (hal. 157)]

[4]. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H): “Adapun shalat Raghaa’ib, tidak ada asalnya (dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), bahkan termasuk bid’ah…. Atsar yang menyatakan (tentang shalat itu) dusta dan palsu menurut kesepakatan para ulama dan tidak pernah sama sekali disebutkan (dikerjakan) oleh seorang ulama Salaf dan para Imam…”

Selanjutnya beliau berkata lagi: “Shalat Raghaa’ib adalah BID’AH menurut kesepakatan para Imam, tidak pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyu-ruh melaksanakan shalat itu, tidak pula disunnahkan oleh para khalifah sesudah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula seorang Imam pun yang menyunnahkan shalat ini, seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, Imam ats-Tsaury, Imam al-Auzaiy, Imam Laits dan selain mereka.<!–– D([”mb”,”mereka.

Hadits-hadits yang diriwayatkan tentang itu adalah dusta menurut Ijma’ para
Ahli Hadits. Demikian juga shalat malam pertama bulan Rajab, malam Isra’,
Alfiah nishfu Sya’ban, shalat Ahad, Senin dan shalat hari-hari tertentu
dalam satu pekan, meskipun disebutkan oleh sebagian penulis, tapi tidak
diragukan lagi oleh orang yang mengerti hadits-hadits tentang hal tersebut,
semuanya adalah hadits palsu dan tidak ada seorang Imam pun (yang terkemuka)
menyunnahkan shalat ini… Wallahu a’lam.” [Lihat Majmu’ Fataawa (XXIII/132,
134)]

[5]. Kata Ibnu Qayyim al-Jauziyyah:
“Semua hadits tentang shalat Raghaa\’ib pada malam Jum’at pertama di bulan
Rajab adalah dusta yang diada-adakan atas nama Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Dan semua hadits yang menyebutkan puasa Rajab dan shalat
pada beberapa malamnya semuanya adalah dusta (palsu) yang diada-adakan.”
[Lihat al-Manaarul Muniif fish Shahiih wadh Dha’iif (hal. 95-97, no.
167-172) oleh Ibnul Qayyim, tahqiq: ‘Abdul Fattah Abu Ghaddah]

[6]. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany mengatakan dalam kitabnya, Tabyiinul
‘Ajab bima Warada fii Fadhli Rajab:
“Tidak ada riwayat yang sah yang menerangkan tentang keutamaan bulan Rajab
dan tidak pula tentang puasa khusus di bulan Rajab, serta tidak ada pula
hadits yang shahih yang dapat dipegang sebagai hujjah tentang shalat malam
khusus di bulan Rajab.”

[7]. Imam al-‘Iraqy yang mengoreksi hadits-hadits yang terdapat dalam kitab
Ihya’ ‘Uluumuddin, menerangkan bahwa hadits tentang puasa dan shalat
Raghaa\’ib adalah hadits maudhu’ (palsu). [Lihat Ihya’ ‘Uluumuddin (I/202)]

[8]. Imam asy-Syaukani menukil perkataan ‘Ali bin Ibra-him al-‘Aththaar, ia
berkata dalam risalahnya: “Sesungguhnya riwayat tentang keutamaan puasa
Rajab, semuanya adalah palsu dan lemah, tidak ada asalnya (dari Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam).” [Lihat al-Fawaa-idul Majmu’ah fil
Ahaaditsil Maudhu’ah (hal. 381)]
“,1] ); //–>

Hadits-hadits yang diriwayatkan tentang itu adalah dusta menurut Ijma’ para Ahli Hadits. Demikian juga shalat malam pertama bulan Rajab, malam Isra’, Alfiah nishfu Sya’ban, shalat Ahad, Senin dan shalat hari-hari tertentu dalam satu pekan, meskipun disebutkan oleh sebagian penulis, tapi tidak diragukan lagi oleh orang yang mengerti hadits-hadits tentang hal tersebut, semuanya adalah hadits palsu dan tidak ada seorang Imam pun (yang terkemuka) menyunnahkan shalat ini… Wallahu a’lam.” [Lihat Majmu’ Fataawa (XXIII/132, 134)]

[5]. Kata Ibnu Qayyim al-Jauziyyah:
“Semua hadits tentang shalat Raghaa’ib pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab adalah dusta yang diada-adakan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan semua hadits yang menyebutkan puasa Rajab dan shalat pada beberapa malamnya semuanya adalah dusta (palsu) yang diada-adakan.” [Lihat al-Manaarul Muniif fish Shahiih wadh Dha’iif (hal. 95-97, no. 167-172) oleh Ibnul Qayyim, tahqiq: ‘Abdul Fattah Abu Ghaddah]

[6]. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany mengatakan dalam kitabnya, Tabyiinul ‘Ajab bima Warada fii Fadhli Rajab:
“Tidak ada riwayat yang sah yang menerangkan tentang keutamaan bulan Rajab dan tidak pula tentang puasa khusus di bulan Rajab, serta tidak ada pula hadits yang shahih yang dapat dipegang sebagai hujjah tentang shalat malam khusus di bulan Rajab.”

[7]. Imam al-‘Iraqy yang mengoreksi hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Ihya’ ‘Uluumuddin, menerangkan bahwa hadits tentang puasa dan shalat Raghaa’ib adalah hadits maudhu’ (palsu). [Lihat Ihya’ ‘Uluumuddin (I/202)]

[8]. Imam asy-Syaukani menukil perkataan ‘Ali bin Ibra-him al-‘Aththaar, ia berkata dalam risalahnya: “Sesungguhnya riwayat tentang keutamaan puasa Rajab, semuanya adalah palsu dan lemah, tidak ada asalnya (dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).” [Lihat al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaaditsil Maudhu’ah (hal. 381)]

[9]. Syaikh Abdus Salam, penulis kitab as-Sunan wal Mubtada’at menyatakan: “Bahwa membaca kisah tentang Isra’ dan Mi’raj dan merayakannya pada malam tang-gal dua puluh tujuh Rajab adalah BID’AH. Berdzikir dan mengadakan peribadahan tertentu untuk merayakan Isra’ dan Mi’raj adalah BID’AH, do’a-do’a yang khusus dibaca pada bulan Rajab dan Sya’ban semuanya tidak ada sumber (asal pengambilannya) dan BID’AH, sekiranya yang demikian itu perbuatan baik, niscaya para Salafush Shalih sudah melaksanakannya.” [Lihat
as-Sunan wal Mubtada’at (hal. 143)]!– D([”mb”,”
[9]. Syaikh Abdus Salam, penulis kitab as-Sunan wal Mubtada’at menyatakan:
“Bahwa membaca kisah tentang Isra’ dan Mi’raj dan merayakannya pada malam
tang-gal dua puluh tujuh Rajab adalah BID’AH. Berdzikir dan mengadakan
peribadahan tertentu untuk merayakan Isra’ dan Mi’raj adalah BID’AH,
do’a-do’a yang khusus dibaca pada bulan Rajab dan Sya’ban semuanya tidak ada
sumber (asal pengambilannya) dan BID’AH, sekiranya yang demikian itu
perbuatan baik, niscaya para Salafush Shalih sudah melaksanakannya.” [Lihat
as-Sunan wal Mubtada’at (hal. 143)]

[10]. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz, ketua Dewan Buhuts
‘Ilmiyyah, Fatwa, Da’wah dan Irsyad, Saudi Arabia, beliau berkata dalam
kitabnya, at-Tahdzir minal Bida’ (hal. 8): “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan para Shahabatnya tidak pernah mengadakan upacara Isra’ dan
Mi’raj dan tidak pula mengkhususkan suatu ibadah apapun pada malam tersebut.
Jika peringatan malam tersebut disyar’iatkan, pasti Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada ummat, baik melalui ucapan maupun
perbuatan. Jika pernah dilakukan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pasti
diketahui dan masyhur, dan ten-tunya akan disampaikan oleh para Shahabat
kepada kita…

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak
memberi nasihat kepada manusia, beliau telah menyampaikan risalah
kerasulannya sebaik-baik penyampaian dan telah menjalankan amanah Allah
dengan sempurna.

Oleh karena itu, jika upacara peringatan malam Isra’ dan Mi’raj dan
merayakan itu dari agama Allah, ten-tunya tidak akan dilupakan dan
disembunyikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi karena
hal itu tidak ada, maka jelaslah bahwa upacara tersebut bukan dari ajaran
Islam sama sekali. Allah telah menyempurnakan agama-Nya bagi ummat ini,
mencukupkan nikmat-Nya dan Allah mengingkari siapa saja yang berani
“,1] )

Belajar Efektif Dengan Teori Stephen R. Covey

Menjelang Ujian Akhir Semester, kadang kita bakal ngelakoni rutinitas SKS (Sistem Kebut Semalaman), tapi bagi teman-teman yang memang rajin sejak awal sih gak bakal ada masalah. So.. Kamu-kamu yang pengen belajar lebih efektif, berikut ini adalah 7 (tujuh) langkah yang dapat kamu lakukan dan kembangkan sendiri yang diadaptasi dari buku Seven Habits of Highly Effective People karangan Steven Covey.
Bertanggung jawab atas dirimu sendiri.
Tanggung jawab merupakan tolok ukur sederhana di mana kamu sudah mulai berusaha menentukan sendiri prioritas, waktu dan sumber-sumber terpercaya dalam mencapai kesuksesan belajar.

Pusatkan dirimu terhadap nilai dan prinsip yang kamu percaya.
Tentukan sendiri mana yang penting bagi dirimu. Jangan biarkan teman atau orang lain mendikte kamu apa yang penting.

Kerjakan dulu mana yang penting.
Kerjakanlah dulu prioritas-prioritas yang telah kamu tentukan sendiri. Jangan biarkan orang lain atau hal lain memecahkan perhatianmu dari tujuanmu.

Anggap dirimu berada dalam situasi “co-opetition” (bukan situasi “win-win” lagi).
“Co-opetition” merupakan gabungan dari kata “cooperation” (kerja sama) dan “competition” (persaingan). Jadi, selain sebagai teman yang membantu dalam belajar bersama dan banyak memberikan masukkan/ide baru dalam mengerjakan tugas, anggaplah dia sebagai sainganmu juga dalam kelas. Dengan begini, kamu akan selalu terpacu untuk melakukan yang terbaik (do your best) di dalam kelas.

Pahami orang lain, maka mereka akan memahamimu.
Ketika kamu ingin membicarakan suatu masalah akademis dengan guru/dosenmu, misalnya mempertanyakan nilai matematika atau meminta dispensasi tambahan waktu untuk mengumpulkan tugas, tempatkan dirimu sebagai guru/dosen tersebut. Nah, sekarang coba tanyakan pada dirimu, kira-kira argumen apa yang paling pas untuk diberikan ketika berada dalam posisi guru/dosen tersebut.

Cari solusi yang lebih baik.
Bila kamu tidak mengerti bahan yang diajarkan pada hari ini, jangan hanya membaca ulang bahan tersebut. Coba cara lainnya. Misalnya, diskusikan bahan tersebut dengan guru/dosen pengajar, teman, kelompok belajar atau dengan pembimbing akademismu. Mereka akan membantumu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

Tantang dirimu sendiri secara berkesinambungan.
Dengan cara ini, belajar akan terasa mengasyikkan, dan mungkin kamu mendapatkan ide-ide yang cemerlang.

Ini dia … Para Satria di Gerbang

Ini adalah Pasukan Garuda MA Al-Falah, foto empat tahun lalu, tahun 2003. Kali aja ada yang kangen ma kita-kita. Masih hobi banget ma Pramuka waktu itu, gak tau sekarang bagaimana nasib kegiatannya, moga-moga masih bagus aja! Eh, kalo ada yang fotonya mo di upload di sini, silakan kirim ke email. Ok!

Membaca dan Membaca …

Perubahan adalah suatu keniscayaan. Tak ayal setiap insan pasti akan berubah. Perubahan dalam diri dapat terjadi karena adanya beberapa hal, antara lain komunikasi dengan dunia luar, adanya transmisi sosial, perkembangan fisik dan mental atau karena tekanan yang mengharuskan kita melakukan penyetimbangan dalam diri kita, yakni dengan berubah. Masalahnya, ke arah manakah perubahan yang terjadi pada diri kita. Ke arah positif kah? Negatif kah? Atau perubahan kita hanya dengan jalan di tempat, melihat orang lain berubah, mengikuti arus. Jika kita adalah orang yang berubah ke arah positif, bersyukurlah kita. Tapi, jika yang terjadi justru perubahan yang negatif, maka kita mesti bersegera berbenah diri, mengingat kembali : Apa tujuan kita diciptakan Yang Kuasa di dunia ini? Atau kita justru berada pada golongan terakhir, diam di tempat (yang dikatakan oleh Rasul sebagai orang yang merugi).
Pesan pertama yang disampaikan Ilahi kepada Rasul kita adalah perintah membaca. Membaca bisa diinterpretasikan dalam arti yang seluas-luasnya. Belajar, berkomunikasi, memahami kekuasaan Tuhan lewat ciptaan-Nya, tanda-tanda-Nya di alam, dinamika sosial, bencana, dan semuanya. Tapi sudahkah kita memahami pesan ini?
Rasul yang ummi-pun ternyata justru mendapatkan perintah yang benar-benar merupakan sesuatu yang baru. Apa yang harus ku baca, sedangkan aku adalah orang yang ummi? Setelah Jibril mengulang pesan Tuhan untuk ketiga kalinya, barulah Rasul mengerti makna dari kata ‘’Iqra’’. Mestinya dari pengalaman pertama kerasulan Nabi kita, kita dapat mengambil pelajaran, perubahan adalah suatu keniscayaan. Jika hari ini kita adalah orang yang ummi, maka kita harus bersegera belajar untuk berubah. Pahami semua situasi, baca kondisi, baca keadaan dan baca pula kekurangan kita. Tak juga harus berubah secara spontan, semua tetap membutuhkan waktu agar diri kita tidak tersentak kaget, seperti tubuh yang tiba-tiba tidak mendapatkan makanan setelah sehari mendapatkan tiga piring nasi lengkap dengan sayur-mayurnya.
Mahasiswa tak pernah akan ada bedanya dengan siswa SMA jika dia tak melakukan aktivitas rutin intelek, membaca. Membaca adalah jendela dunia, itulah istilah yang paling sering terucap ketika orang membahas masalah baca. Yuppp..bahkan lebih dari itu. Kita hanya akan bisa menulis ketika kita telah membaca. Bagaimana mungkin kita bisa menulis sementara otak yang menjadi tumpuan bagi kerangka pikir malah kosong blong. Ya kuncinya, membaca. Apalah artinya mahasiswa jika kita hanya termasuk dalam golongan mahasiswa yang gak hobi baca.
Istiqamah adalah kunci kesuksesan dalam mengarahkan diri pada perubahan menuju kebaikan. Meskipun sedikit, perubahan yang tahap demi tahapnya kita lalui dengan penuh keistiqamahan akan membawa keberhasilan dalam diri kita. Sebuah pepatah Barat menyatakan bahwa ‘’Kesuksesan adalah 1% jenius dan 99% keringat’’. Jadi bagi kamu-kamu yang merasa bahwa dirinya tak pernah mampu untuk berubah, JANGAN TAKUT … Yakinkan dalam hati, bahwa perubahan merupakan kunci menuju kesuksesan. Niatkan dengan sebenar-benarnya, kemudian langkah-langkah kecil menggapai tujuan yang telah ditetapkan di awal. Jika di awal semester hingga semester ini kamu-kamu tetap menjadi mahasiswa yang tak pernah gemar membaca, tips ini mungkin bisa kamu jadikan sebagai acuan :

  1. Untuk memulai hobi membaca, carilah buku cerita ringan yang paling ngetrend, yang paling banyak diceritakan oleh teman-teman se-kampus. Kamu sudah baca ini belum? Bagaimana menurut kamu? Haa… misalnya yang sudah up to date sejak dua bulan lalu adalah novel dwilogi pembangun motivasi diri DI ATAS SAJADAH CINTA karya Habiburrahman El-Sirazi. Kalau kamu sudah baca novel Islami ini, kamu pasti bakal ngerasa bahwa membaca adalah sesuatu yang asyik. Kepuasan yang didapatkan sama seperti ketika kita menonton Spiderman 3, sama seperti ketika menonton Pirrates of Carribian, sama dengan menonton Sinetron Intan, sama dengan makan pisang goreng di depan Toko Sejahtera. Sama … sama …
  2. Setelah ada sedikit rasa pada buku, carilah teman yang punya hobi membaca buku. Kutu Buku juga gak papa. Yang biasanya pake’ kacamata tebel seperti pantat botol. Bukankah Rasul pernah berkata Kalau mau tahu seperti apa akhlak seseorang, lihatlah dahulu temannya. Hal ini juga seiring dengan kajian psikologi perkembangan bahwa perubahan yang terjadi dalam diri seseorang lebih dominan merupakan pengaruh dari lingkungan sekitar. Hal ini juga terjadi pada hobi-hobi yang muncul setelah kita bergaul bersama orang-orang tertentu. Jika kita selalu bersama dengan Ustadz, Insya Allah kita akan terbiasa untuk mengkaji masalah agama, membahas perkembangan komunitas ikhwan dan akhwat (haha …). Kalau kita selalu bergaul dengan anak-anak Punk, pengikut alirannya Funky Kopral, yakinkan hati bahwa dalam sebulan ke depan celana panjang yang kita pakai adalah celana Levis jenis mbotol, Rambut kita akan sejenis dengan rambut landak pada bagian tengahnya saja, kacamata kita akan sebesar kacamatanya Vokalis NAIF. Begitu pula ketika kita selalu bergaul dengan si Kutu Buku. Tidak tersindirkah kita jika tiap ada kesempatan si dia selalu membaca buku, membahas masalah yang penting, sementara kita hanya duduk bengong aja? Insya Allah kita akan berubah. Insya Allah … Amin
  3. Kalau perlu beli buku motivasi tentang nikmatnya membaca, misalnya ANDAI BUKU ADALAH SEBUAH PIZZA, QUANTUM LEARNING, ASYIKNYA BELAJAR, dll. Buku-buku ini kan sudah pada menjamur semua. Hal yang paling sering terjadi adalah kita merasa langsung malas membaca buku karena melihat tebalnya buku yang lebih dari tebalnya es kue, hurufnya kecil-kecil lagi. Mungkin dengan memilih jenis bacaan yang sesuai dan buku yang menarik, minat kita tidak akan segitu cepatnya pudar.
  4. Pahami keadaan kamu ketika membaca. Ingat, masing-masing orang mempunyai gaya belajar dan membacanya sendiri-sendiri. Ada yang bisa memahami bacaan ketika diiringi dengan musik, ada yang paham ketika mendengarkannya dari orang lain, ada juga yang paham membaca saat tengah malam. Nah, hal ini hanya akan kamu sadari karena kamu sering membaca, sehingga kamu bisa membedakan mana jenis belajar yang bermakna bagi kamu, dan mana yang tidak. Oke … beberapa tips di atas mungkin bisa kamu coba saat ini. Penulis memohon maaf jika terjadi kerancuan dalam beberapa bahasan di atas. Intinya, blog ini adalah tempat yang kembali menjadikan penulis sebagai orang yang belajar menulis. Tempat berkreativitas. Bagi kamu-kamu yang ingin tulisannya dimuat di blog ini, silakan email saja ke alamat yang tertera di atas.
  Jangan takut, tak pernah ada kata terlambat untuk mencoba.
Yang penting : KITA BERPROSES.

Makassar, 3 Juni 2007
M. Zainal Abidin
(Penulis adalah mahasiswa Semester 6, pada Tadris Pendidikan Matematika, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, yang juga merupakan administrator pada blog alfalahconnection ini).