Teori Marxis Dalam Hubungan Internasional

Posting 31 Juli 2007
By Rahmat Hidayat
BAB I
PENDAHULUAN

Deskripsi singkat artikel Stephen Hobden dan Richard Wyn Jones

1. Berlanjutnya Relevansi Marxisme
Berakhirnya Perang Dingin, runtuhnya Partai Komunis di Rusia dan Eropa Timur, serta menyebarnya kapitalisme menyebabkan komunisme dianggap tidak lagi relevan dan hanya tinggal sejarah. Akan tetapi, ada dua hal yang membuat Marxisme tetap eksis sebagai sebuah pemikiran, bahkan mengalami kebangkitan kembali atau renaissance, yaitu: (1) perpecahan Blok Timur dan runtuhnya Uni Soviet, yang memungkinkan berkembang kembalinya gagasan-gagasan Marx yang terlepas dari paham Leninisme (Marxisme-Leninisme) yang berbeda baik dalam hal konsep maupun praktiknya (konsep ‘vanguard party’, ‘democratic centralism’, dan ‘command economy’ tidak ada dalam pemikiran asli Marx), (2) teori sosial Marx masih menyediakan analisis yang penting mengenai dunia yang kita huni, yaitu analisis mengenai kapitalisme sebagai metode produksi atau mode of production.
Berikut adalah istilah-istilah dalam Marxisme:
• Kapitalisme: metode produksi kapitalis. Dalam analisis Marxis, metode ini mencakup sekumpulan hubungan sosial yang bersifat spesifik dalam periode sejarah tertentu yang juga bersifat spesifik. Bagi Marx, terdapat tiga karakteristik utama kapitalisme, yaitu: (1) dalam kapitalisme, segala sesuatu memiliki harga masing-masing, termasuk waktu bekerja seseorang, (2) semua kebutuhan produksi (pabrik, bahan mentah) dikuasai atau dimiliki oleh satu kelas, yaitu kelas kapitalis, dan (3) untuk dapat bertahan, para buruh harus menjual tenaga kerja mereka kepada kelas kapitalis, dan karena kelas kapitalis mengontrol sumber daya dan hubungan produksi, mereka juga mengendalikan keuntungan yang dihasilkan dari tenaga kerja para buruh tersebut.
• Sumber daya atau kekuatan produksi: elemen-elemen yang dikombinasikan dalam proses produksi, mencakup tenaga kerja, peralatan, dan teknologi yang tersedia selama periode sejarah tertentu.
• Hubungan produksi: Hubungan produksi menghubungkan dan mengatur sumber daya (means of production) dalam proses produksi. Hubungan produksi mencakup hubungan teknis dan institusional dalam proses produksi, serta struktur yang lebih luas yang mengatur sumber daya produksi dan produk akhir proses tersebut .
Salah satu kekuatan Marx adalah analisisnya mengenai krisis. Penjelasan ortodoks mengenai kapitalisme menyatakan bahwa pasar bebas akan bergerak menuju ekuilibrium dan bersifat stabil. Sebaliknya, Marx berpendapat bahwa di dalam kapitalisme terdapat bawaan guncangan dan kesadaran manusia yang mengancam. Selain analisisnya mengenai kapitalisme, elemen lain dalam pemikiran Marxis, yaitu kepercayaan bahwa kapitalisme akan digantikan oleh sosialisme merupakan analisis Marx yang terbukti prematur.
Jika dibandingkan dengan realisme dan liberalisme, pemikiran Marxis menyediakan pandangan yang kurang familiar mengenai hubungan internasional. Teori Marxis bertujuan untuk menyingkap kebenaran mendasar yang tersembunyi dalam politik dunia. Lebih jauh lagi, kaum Marxis berargumen bahwa upaya untuk memahami politik dunia harus didasarkan pada pemahaman yang lebih luas mengenai proses yang berlangsung dalam kapitalisme global. Mereka berargumen bahwa kapitalisme global bertujuan untuk mempertahankan kemakmuran kaum yang berkuasa di atas penderitaan kaum miskin yang tidak memiliki kekuasaan.

2. Elemen-Elemen Esensial dalam Teori Marxis mengenai Politik Dunia
Warisan pemikiran Marx telah ditafsirkan dalam berbagai cara yang seringkali bertentangan satu sama lain. Beberapa aliran yang dipengaruhi oleh pemikiran Marx, baik secara langsung maupun tidak langsung antara lain world-system theory, Gramnscianisme, critical theory, dan Neo-Marxisme. Kesemua teori tersebut berbagi pandangan Marx bahwa dunia sosial harus dianalisis sebagai sebuah totalitas. Elemen kunci lain yang memusatkan perhatian pada saling keterhubungan dan konteks adalah konsep materialis mengenai sejarah. Argumen ini menyatakan bahwa perubahan historis merupakan refleksi dari perkembangan ekonomi masyarakat. Perkembangan ekonomi merupakan penggerak sejarah yang efektif. Dinamika pusat yang diidentifikasi oleh Marx adalah ketegangan antara sumber daya produksi (means of production) dan hubungan produksi (relations of productions) yang membentuk basis atau dasar ekonomi (economic base) dalam masyarakat tertentu. Institusi-institusi legal, politis, dan kultural merupakan refleksi dari pola kekuasaan dan kontrol dalam bidang ekonomi. Hal ini digambarkan dalam model base-superstructure berikut ini:
Kelas memainkan peran penting dalam analisis Marxis. Pemikiran Marxis berpandangan bahwa masyarakat secara sistematis rawan terhadap konflik kelas. Lebih jauh lagi, Marx berpendapat bahwa seluruh sejarah masyarakat merupakan sejarah perjuangan kelas. Dalam masyarakat kapitalis, konflik terjadi antara kelas borjuis (kapitalis) dan proletar (buruh). Hal yang penting untuk diingat adalah elemen-elemen esensial yang telah disebutkan di atas masih berada dalam perdebatan dalam hal penafsiran dan pelaksanaannya.

3. World-System Theory
World-system theory bermula dari upaya sistematik pertama untuk menerapkan pemikiran Marx dalam lingkup internasional. Teori ini mengkritik imperialisme yang dikemukakan oleh para pemikir seperti Hobson, Luksemburg, Bukharin, Hilferding, dan Lenin pada awal abad ke-20. Karya yang paling berpengaruh dalam perdebatan ini adalah pamflet yang ditulis oleh Lenin yang berjudul Imperialism, the Highest Stage of Capitalism. Lenin berargumen bahwa kapitalisme telah memasuki tahap tertinggi dan terakhir seiring dengan berkembangnya monopoli kapitalisme serta munculnya konsep core dan periphery. Dengan berkembangnya konsep core dan periphery ini, tak ada lagi keselarasan kepentingan di antara seluruh pekerja. Jadi, menurut Lenin, pembagian struktural antara core dan periphery menentukan sifat hubungan di antara kaum borjuis dan proletar di setiap negara.
Terdapat dua elemen penting dalam pendekatan world-system mengenai politik dunia, yaitu: (1) politik domestik dan internasional bertempat dalam kerangka ekonomi dunia kapitalis dan (2) negara bukan satu-satunya aktor penting dalam politik dunia. Kelas sosial juga memainkan peran yang signifikan. Lebih jauh lagi, tempat negara dan kelas-kelas dalam struktur ekonomi dunia kapitalis membatasi perilaku mereka dan menentukan pola-pola interaksi dan dominasi di antara mereka. Raul Prebisch berargumen bahwa negara-negara dalam periphery menjadi semakin miskin relatif terhadap negara-negara dalam wilayah core. Pemikiran ini dikembangkan lebih lanjut oleh Andre Gunder Frank dan Henrique Fernando Cardoso.

4. Elemen Kunci dari Wallerstein’s World-System Theory
Immanuel Wallerstein merupakan tokoh world-system theory yang terpenting. Bentuk organisasi sosial yang dominan menurut Wallerstein adalah world-system, yang terbagi ke dalam dua tipe, yaitu world-empire dan world economy. Perbedaan mendasar di antara keduanya adalah pembuatan keputusan mengenai distribusi sumber daya. Dalam world-empire, sistem politik yang terpusat menggunakan kekuasaannya untuk mendistribusikan sumber daya dari daerah periphery ke daerah core/inti. Dalam world-economy, hal itu dilakukan melalui pasar sebagai media dengan banyak pusat kekuasaan yang bersaing satu sama lain.
World-system yang modern adalah salah satu contoh dari world-economy. Sistem tersebut merupakan sistem kapitalis. Wallerstein mendefinisikan kapitalisme sebagai ‘sistem produksi yang menjual produk di sebuah pasar untuk mendapatkan keuntungan dan appropriation. Ia berargumen bahwa sistem itu sendiri memiliki awal, pertengahan, dan akhir. Wallerstein menambahkan satu zone ekonomi yang dinamakan semi-periphery. Menurutnya, zona tersebut memiliki peran pertengahan dalam world-system yang menampilkan karakteristik inti dan periphery tertentu.
Menurut para teoris world-system, ketiga zona tersebut berhubungan satu sama lain dalam hubungan yang menjadikan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Ketiga zona tersebut membentuk dimensi spasial dalam world-economy. Untuk memahami dinamika interaksi di antara ketiganya, kita harus memusatkan perhatian pada dimensi temporal dari penggambaran Wallerstein mengenai world-economy, yaitu ritme siklis, kecenderungan sekular, kontradiksi, dan krisis. Ritme siklis berkaitan dengan kecenderungan dunia kapitalis untuk menjalani periode ekspansi dan kontraksi yang berulang. Kecenderungan sekular mengacu pada pertumbuhan atau kontraksi jangka panjang dalam world-economy. Salah satu kontradiksi yang dihadapi oleh kapitalisme adalah krisis underconsumption. Untuk memaksimalkan keuntungan, kaum kapitalis menekan upah buruh sedemikian rupa hingga mereka tidak lagi dapat membeli hasil produksi. Hal ini akan menimbulkan krisis underconsumption. Bagi Wallerstein, krisis dalam world-system tertentu menandai akhir sistem itu dan penggantiannya dengan sistem lain. Ia berargumen bahwa world-system modern pada saar ini tengah mengalami krisis.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Marxisme
Ekonom dan filsuf ekonomi politik jerman abad ke dua puluh dalam banyak hal mewakili kritik mendasar liberalsime eknomi. Kami melihat pandangan kaum ekonomi lliberal memandang perokonomian sebagai postive sum game dengan keuntungan bagi semua. Marxmenolak pandangan tersebut. Malahan ia melihat perekonomian sebagai tempat eksploitais manusia dan perbedaan kelas. Marx dengan demikian mengambil pendapat zero sum dari merkantilisme dan memakainya pada hubungan kelas selain hubungan Negara. Kaum marxis sepakat dengan kaum merkantilis bahwa politik dan ekonomi sangat berkaitan: keduanya menolak pandangan kaum liberal tantang bidan gekonomi yang berjalan dengan hukumnya sendiri. Tetapi sementara kaum merkantilis melihat ekonomi sebagai alat politik, kaum marxis menempatkan yang pertama dan politik yang kedua.
Meskipun perekonomian kapitalis yang dikendalikan oleh kaum borjuis bersifat eksploitatif terhadap buruh, Marx tidak melihat pertumbuhan kapitalisme sebagai peristiwa negative atau kemunduran. Sebaliknya kapitalisme, berarti kemajuan bagi Marx dalam dua hal. Yang pertama, kapitalsime menghancurkan hubungan produksi sebelumnya seperti feodealisme, yaitu hubungan produksi yang bahkan lebih eksploitatif, dengan para buruh petani dalam kondisi yang menyerupai perbudakan. Kapitalisme merupakan langkah maju dalam hal bahwa buruh bebas menjual kekuatan kerjanya dan memperoleh imbalan yang terbaik. Kedua, dan yang paling penting bagi Marx, kapitalisme membuka jalan bagi revolusi sosial dimana alat-alat produksi akan ditempatkan dalam kontrol sosial bagi keuntungan kaum proletar, yang merupakan mayoritas terbesar. Hal itu merupakan tujuan revolusioner yang disasar pemikiran ekonomi Marxis.
Kaum borjuis yang mendominasi perekonomian kapitalis melalui kendali alat produksi juga akan cenderung mendominasi dalam bidang politik. Hal ini membawa kita pada kerangka kerja kaum Marxis bagi studi EPI. Yang pertama, Negara tidak otonom, mereka digerakkan oleh kepentingan kelas yang berkuasa, dan Negara kapitalis terutama digerakkan oleh kepentingan kaum borjuisnya. Hal ini berarti bahwa perjuangan antar Negara, termasuk peperangan seharusnya dilihat dalam konteks persaingan ekonomi diantara kelas kapitalis dari negara yang berbeda.
Bagi kaum Marxis, konflik kelas lebih mendasar dibanding konflik antar negara. Kedua, sebagai suatu sistem ekonomi, kapitalisme bersifat ekspansif, selalu mencari pasar baru dan lebih menguntungkan. Disebabkan kelas-kelas batas negara konflik tidak terbatas pada negara-negara, bahkan meluas ke seluruh dunia dalam gelombang kapitalisme. Oleh karena itu analisis kaum Marxis juga harus jelas tentang sejarah. Kejadian-kejadian harus selalu dianalisis dalam konteks sejarah. Sebagai contoh, terdapat interdependensi ekonomi yang tertinggi antar negara sekitar perang dunia pertama; juga terdapat interdependensi ekonomi yang tinggi antar banyak negara saat ini. Teori EPI saat ini yang berdasarkan pada kerangka Marxisme adalah analisis Immanuel Wallerstain tentang perkembangan sejarah perekonomian negara kapitalis. Wallerstain memberikan banyak tekanan pada perekonomian dunia dan cenderung mengabaikan politik internasional. Ia mempercayai perekonomian dunia sebagai pembangunan yang tidak seimbang yang telah menghasilkan hirarki dan wilayah core semi periphery, dan periphery. Yang kaya dalam wilayah core (Eropa Barat, Amerika Utara dan Jepang) digerakkan atas penderitaan wilayah periphery (Dunia ketiga).
Ada beberapa unsur dalam teori kelas Marx yang perlu diperhatikan. Pertama, tampak betapa besr peran segi struktural dibandingkan segi kesadaran dan moralitas. Pententangan antara buruh dan majikan bersifat obejektif yang ditentukan oleh kedudukan mereka masing-masing dalam proses produksi. Kedua kepentingan kelas pemilik dan kelas buruh secaraobjektif bertentangna, mereka juga mengambil sikap dasar yang berbeda terhadap perubahan sosial. Ketiga, dengan demikian menjadi jelas mengapa bagi Marx kemajuan dalam usunan masyarakat hanya tercapai melalaui revolusi sosial.
Teori Marxis pada evolusi dari kapitalisme didasari adanya perubahan ekonomi dan konflik kelas: kapitalisme pada abad kesembilan belas muncul di Eropa dari adanya sistem feodal. Dalam pandangan Marxis menjelaskan perbedaan dari yang lain sperti liberalisme dan realisme. Dalam pandangan liberalis ketergantungan ekonomi adalah satu kemungkinan untuk menjelaskan kerjasama internasional, tapi hanya satu antara banyak faktor. Dan dalam pandangan realis dan neorealis, faktor ekonomi adalah sau unsur dari kekuatan, atau satu komponen dari struktur internasional. Dalam pandangan marxis yang lain, ekonomi adalah asusmi faktor yang terpenting.
Marx menolak ide bahwa tujuan pasar mencapai keseimbangan dan menjaga kontradiksi selaras antara kemampuan kapitalis untuk memproduksi barang dengan kemampuan konsumen unutuk membelinya dalam ekonomi kapitalis. Melebarnya kesenjangan antara produksi dan konsumsi menyebabkan fluktuasi ekonomi dan depresi, dan kelangkaan dalam krisis ekonomi semakin intensif yang pada akhirnya mendorong proletar yang tertindas memberontak melawan sistem. Kemudian Marx menyatakan, dalam kapitalisme faktor struktural menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi perjuangan kelas daripada keharmonisan dan kerjasama ekonomi dan politik.
Kontribusi kaum Marxis lainnya baru-baru ini, oleh Robert Cox, kurang ekonomistis meskipun titik awalnya sama : analisis sejarah tentang fase-fase utama perkembangan kapitalis global. Menurut Cox, kita berada di dalam proses perubahan jauh dari tatanan dunia. Pasca 1945 yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Transformasi mendasar berlangsung dalam tiga bidang utama. Pertama, terdapat globalisasi ekonomi yang menghubungkan apa yang biasa menjadi perekonomian nasional bersama dalam jaringan global yang padat. Perekonomian dunia semakin global, tetapi juga semakin hirarkis, sebab kekuatan ekonomi dikonsentrasikan di wilayah core. Kedua, negara-negara berkurang arti pentingnya dibanding kekuatan ekonomi poltik, non teritorial, seperti perusahaan trans nasional. Hal itu mungkin menyebabkan berakhirnya sistem negara bangsa westphalia; paling tidak kepemerintahan internasional oleh negara tertantang dan mungkin berkurang oleh semakin otonomnya kekuatan-kekuatan. Ketiga, tatanan yang lebih sama dan demokratik adalah memungkinkan, menegaskan bahwa pemerintah yang didukung oleh mayoritas umumnya dapat memperoleh kembali kendali atas perekonomian bagi manfaat tujuan kesejahteraan.

2. Marxisme, Lenin, dan Konflik Kelas
Pusat dari teori Marx adalah konflik kelas. Marx berpendapat, bahwa kapitalisme dan produksi kapitalis secara mendasar disebabkan oleh kepercayaan yang besar pada properti privat dan kompetisi demi keuntungan. Keistimewaan utama dari produksi kapitalis dalam ekonomi industri yang baru muncul adalah pembagian masyarakat antara kapitalis yang memiliki faktor produksi dan pekerja yang hanya memiliki fisik. Menurut teori ini, kapitalis berusaha memaksimalkan keuntungan dari pasar dan pekerja, serta membayar pekerja dengan upah rendah yang tidak sesuai dengan yang dihasilkan.
Menurut Marx, keuntungan yang diperoleh dalam ekonomi kapitalis berasal dari surplus value yang dihasilkan dari perbedaan antara banyaknya upah yang dibayarkan pada pekerja dan nilai yang dihasilkan oleh pekerja. Marx beranggapan penyebab konflik utama dalam masyarakat kapitalis tidak hanya cara dan faktor produksi tetapi juga cara dan faktor distribusi dari surplus modal.
Marx menolak ide bahwa tujuan pasar mencapai keseimbangan dan menjaga kontradiksi selaras antara kemampuan kapitalis untuk memproduksi barang dengan kemampuan konsumen unutuk membelinya dalam ekonomi kapitalis. Melebarnya kesenjangan antara produksi dan konsumsi menyebabkan fluktuasi ekonomi dan depresi, dan kelangkaan dalam krisis ekonomi semakin intensif yang pada akhirnya mendorong proletar yang tertindas memberontak melawan sistem. Kemudian Marx menyatakan, dalam kapitalisme faktor struktural menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi perjuangan kelas daripada keharmonisan dan kerjasama ekonomi dan politik.
Lebih jauh, Klasik Liberal melihat ekonomi dan politik sebagai konsep yang berbeda secara analitik dan terpisah dari cara kerja pasar. Formulasi Marx berhenti pada proposisi bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan, dan bahwa politik tidak sama sekali bebas dari faktor ekonomi yang berkembang di masyarakat. Aspek ekonomi dan politik dalam ekonomi pasar adalah pusat isu distribusi modal berbasis kelas, dan distribusi yang berasal dari pasar secara analitik dan praktek tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dimana mereka dijalankan. Konstruk kewenangan politik (negara) mendominasi pengeluaran institusi untuk tujuan pengawasan dan pencabutan sumber daya dari masyarakat. Agama berlaku sebagai racun yang membutakan rakyat dari perbedaan ini.
Marx dan kaum sosialis kontemporernya percaya bahwa kapitalisme dan laju internasionalisasi ekonomi pasar kapitalis yang didorong oleh keuntungan dan akumulasi kesejahteraan akan menyebabkan ‘revolusi proletar’ diseluruh dunia yang berakhir pada jatuhnya kapitalisme. Tentu saja, Marx tidak percaya bahwa akan diperlukan pergerakan politik, walau hal itu akan terjadi sesuai dengan hukum ekonomi yang telah ditemukannya.
Dalam Manifesto of The Communist Party Marx dan Engels menyatakan bahwa sejarah masyarakat sampai saat ini adalah sejarah perjuangan kelas, semua yang terlibat didalamnya berdiri dalam oposisi yang konstan satu dengan yang lain, tidak terinterupsi, terbuka dan tertutup, perjuangan yang setiap saat berakhir, baik dalam revolusi rekonstitusi masyarakat, atau kejatuhan kelas yang bertentangan. Indikasinya sangat jelas, bagaimanapun peristiwa masa depan akan membuktikan sebaliknya, dan nasionalisme tentu salah satu diantaranya.
Disamping isu solidaritas proletar melawan kapitalisme, pada awal abad ke-20, sosialis dan Marxis, Vladimir I Lenin, memperhatikan PD I sebagai perjuangan diantara kapitalis demi wilayah kolonial, sumber daya, dan pasar. Dalam pandangan ini, nasionalisme dan imperialisme membawa sosialis untuk memodifikasi teori Marxis agar sesuai dengan teori ekonomi politik. Hal ini dapat dilihat dalam Imperialism The Highest Stage of Capitalism, Lenin mentransformasikan teori ekonomi politik domestik Marx menjadi teori ekonomi politik internasional. Pada awal abad ini, kapitalisme telah menciptakan teknologi yang lebih maju dan canggih dan lebih berorientasi global. Perluasan produksi konsumen sama baik dengan pedagangan dan transaksi modal diantara kapitalis, dan antara kapitalis dengan negara berkembang melalui kolonisasi dan pembentukan kekaisaran. Hal ini telah merubah ekonomi global yang didominasi oleh industri yang besar dan kuat dan monopoli keuangan dan kepercayaan. Lenin berpendapat bahwa monopoli kapitalisme dan imperialisme dipengaruhi dua kondisi mendasar; munculnya operasi monopolistik dan kompetisi untuk memperoleh bahan mentah diseluruh dunia, yang tidak terhindarkan membawa pada konflik militer internasional dan ‘perjuangan bagi ruang kepentingan ekonomi’.
Bentuk imperialisme ini adalah tingkatan tertinggi dari kapitalisme, dimana masyarakat kapitalis akan mengurangi ekonomi domestik dengan jalan ekspansi. Dan imperialisme akan berusaha mengurangi kompetisi di pasar global. PD I menurut Lenin merupakan manifestasi yang paling jelas dari kompetisi diantara kekuatan imperialis. Persaingan ekonomi diantara negara kapitalis tidak dapat diatasi dengan cara damai sehingga perang tidak terhindarkan.
Tidak semua Marxis setuju dengan Lenin. Karl Kautsky menyatakan bahwa kapitalisme tidak secara otomatis membawa konflik, tetapi dapat berkembang melalui fase yang berbeda dimana kekuatan kapitalis menjaga kesejajaran ekonomi dan ideologi mereka untuk waktu yang lama dan mengembangkannya menjadi ultraimperialisme yang lebih luas. Menurut Kautsky. Kerjasama diantara negara kapitalis adalah mungkin dan dominasi kapitalis dalam sistem dunia tidak selalu berakhir pada perang. Kesuksesan Revolusi Bolshevik dan kreasi Uni Soviet muncul untuk melegitimasi teori Lenin tentang imperialisme sebagai teori ekonomi politik internasional Marxis yang bersifat orthodoks.

3. Neo Marxisme
• Bill Warren: Imperialisme dan bangkitnya kapitalisme Dunia Ketiga
Dalam bukunya, Commnunist Manifesto, Marx memandang kapitalisme sebagai tahapan penting dalam perkembangan manusia. Menurut Lenin, imperialisme menandai fase di mana kapitalisme tidak lagi memainkan fungsi progresif, melainkan merupakan tahapan tertinggi dari kapitalisme. Pandangan ini disangkal oleh Bill Warren. Menurutnya, imperialisme bukan merupakan tahap tertinggi dari kapitalisme, melainkan awal atau perintisnya. Lebih jauh lagi, Warren berargumen bahwa kolonialisme telah meningkatkan kesejahteraan material di seluruh dunia yang mencakup perawatan kesehatan, pendidikan, dan akses terhadap barang-barang konsumsi yang lebih baik. Oleh karena itu, Warren berpendapat bahwa kita tidak boleh bersikap anti-kapitalisme. Imperialisme harus dilihat sebagai awal menyebarluasnya kapitalisme ke seluruh dunia yang mengarah pada dunia kapitalis global.
• Justin Rosenberg: Kapitalisme dan hubungan sosial global
Justin Rosenberg adalah tokoh Hubungan Internasional. Fokus dari analisis Rosenberg adalah karakter sistem internasional dan hubungannya dengan hubungan-hubungan sosial yang terus berubah. Rosenberg menyediakan kritik terhadap realisme. Ia mengajukan teori hubungan internasional alternatif yang sensitif terhadap perubahan dalam politik dunia. Menurut Rosenberg, kedaulatan dan anarki dapat dipahami melalui metode Marxisme. Kedaulatan mencerminkan cara di mana negara menjadi terpisah dari proses produksi di bawah kapitalisme, dengan perannya yang menjadi semakin politis. Ia juga menyimpulkan bahwa anarki merupakan kondisi dalam hubungan kapitalis dan bukan bawaan dalam hubungan internasional. Pemikiran Warren merupakan tantangan terhadap teori dependensi dan world-system theory.

4. Teori Dependensia dan “World System”
Dalam paragraf ini lebih kepada pembahasan tentang teori ketergantungan. Banyak para penstudi yang juga akhirnya memberikan kontribusi tentang teori ketergantungan. Hal ini juga karena Marxis banyak menyinggung tentang negara-negara yang bergantung kepada negara kaya karena adanya struktur dalam system dunia. Tidak hanya sebatas, pemikiran Marxis juga pada akhirnya menyebabkan timbulnya para penstudi-penstudi lain dimana mereka juga memberikan pemikiran terhadap teori kergantungan dan system dunia.
Penstudi hubungan internasional Marxis telah mengembangkan teori ketergantungan (dependency theory) untuk menjelaskan kekurangan dari dunia ketiga. Ini terlihat setelah perang dunia kedua, negara Amerika Latin melihat adanya ketidakseimbangan pertumbuhan dalam negaranya, dimana negara-negara pemilik modal akan menghasilkan penghasilan yang baik terhadap pasarnya. Tapi ini adalah bukan yang diharapkan. Penstudi mendefinisikan dependensi adalah situasi dimana akumulasi dari modal tidak dapat menopang dikondisi internalnya. Negara yang bergantung terhadap negara lain harus meminjam kepada negara pemilik untuk menghasilkan produksi yang baik, dan hutang luar negerinya harus mengurangi akumulasi dari surplus. (dependensi adalah bentuk dari interdepedensi internasional, dimana negara kaya harus memberikan pinjaman uang hanya kepada negara miskin sebagai kebutuhan penjaman tersebut, akan tetapi interdepedensi ini dengan keseimbangan kekuatan).
Teori dependensia menemukan akar penyebab keterlambatan pembangunan pada kebergantungan yang besar dari negara-negara Amerika Latin kepada negara-negara industri seperti Amerika Serikat. Kebergantungan ini telah memperparah keterlambatan pembangunan karena mekanisme eksploitasi yang dilakukan negara-negara center ke negara-negara periphery, baik secara langsung maupun melalui media negara-negara semi periphery dan kelas-kelas komprador domestik. Proposal untuk aksinya tentu saja dengan memutuskan atau mengurangi rantai kenergantungan negara-negara berkembang pada negara-negara industri.
Berbeda dengan transformasi Marxisme dari leninis dan Maois, kebanyakan literatur berorientasi Marxis atau neo-Marxis selama paruh kedua abad ke-20 memberi kontribusi besar bagi teori imperialisme. Teori dependensi telah menjadi satu yang paling mempengaruhi school of thought IPE terbaru. Sebagai suatu varian pemikiran struktural Marxis-Leninis, teori dependensi mencoba menjelaskan ketidaksesuaian yang lebar antara industrialisasi, kesejahteraan negara-negara utara dan kemiskinan, negara-negara miskin di selatan. Thesis utamanya bahwa dalam hubungan utara-selatan, negara kaya (core) berdasarkan sejarah memindahkan negara berkembang (periphery) kepada posisi subordinat melalui eksploitasi sumber daya, termasuk manusia dan bahan mentah.
Dialog utara-selatan menjadi isu penting dalam hubungan internasional. Menurut teori dependensi, situasi darurat secara luas diakibatkan oleh fakta bahwa negara kapitalis barat berkembang secara bertahap dari pertanian ke industri dewasa dan masyarakat modern melaui suatu periode lebih dari satu abad. Dalam kemerdekaan pemimpin dan institusi di negara berkembang dapat mengatur pengaruh ekonomi dan politik yang cukup untuk menyelaraskan pembangunan ekonomi dan modernisasi sesuai langkah yang diinginkan.
Ketegangan utara-selatan semakin memburuk dengan fakta bahwa negara-negara yang memasuki sistem internasional terperangkap ditengah perjuangan ideologi dan kekuasaan yang kuat antara kapitalisme (AS) dan komunisme (US). Lebih jauh, pandangan ekonomi internasional tidak terbukti lebih ramah bagi negara baru merdeka, seperti negara utara yang telah mempertahankan supremasinya melebihi semua organisasi dan hukum internasional, dan negara berkembang tidak punya pilihan, selain menjalankannya.
Teori dependensi menekankan pada peran pemerintah dan MNC serta konsekuensi merugikan dalam operasi mereka bagi sebagian besar populasi di negara berkembang. Mereka mencatat bahwa pemerintah dan MNC negara industrialis utara mendominasi institusi politik dan ekonomi negara berkembang melalui sogokan dan pemilihan elit dan modal lokal, kemudian mengabadikan hubungan ketergantungan melaui investasi dalam industri ekstraktif, fasilitas produksi, teknologi rendah dan buruh yang murah. Hal ini mengakibatkan negara barat semakin maju dan negara berkembang semakin miskin dan tergantung pada modal dan teknologi negara Utara.

MARXISM/DEPENDENCY TEHORY
Key actors Social classes, transnational elites, multinational Corporations.
View the individual Actions determined by economic class
View of the state An agent of the structure of international capitalisme and the excuting agent of the bourgeouisie
View of the international system Highly stratified; dominated by international capitalist system
Belief about change Radical change is sought
Major Theorists Hobson, Marx, Wallerstein, Lenin
Kritik terhadap teori ini mencatat, bahwa ketidakberuntungan negara kurang berkembang tidak dapat dibebankan pada persoalan baru yang dihadapi mereka. Kesalahan manajemen ekonomi oleh pemimpin nasional dan kepentingan bank memainkan peranan penting. Pendukung perdagangan bebas menyatakan bahwa keuntungan dari pertumbuhan perdagangan dan upah, serta berlimpahnya barang konsumsi akan secara bertahap menyaring negara kurang berkembang dalam pasar terbuka.
Teori dependensi menekankan bahwa sistem kapitalis dunia secara esensial didasarkan pada hubungan asimetris, dengan menjadi subordinat, negara kapitalis kaya tidak secara nyata menindas negara miskin. Kemudian, sebab utama dependensi dan masalah besar yang diasosiasikan dengan negara berkembang terintegrasi secara global dengan ekonomi kapitalis dunia yang berkembang dibawah kekuasaan negara industrialis barat.
Studi tentang kebergantungan structural berkembang lebih lanjut dengan suatu penemuan World System Theory, yang kemudian secara intensif dipelajari di Amerika Utara. Kemiskinan dan pemiskinan negara-negara dunia ketiga dipahami dalam konteks yang lebih luas daripada sekedar dalam konteks hubungan antara suatu negara berkembang dengan negara-negara industri. Sistem dunia yang kapitalis dengan mekanisme negara-negara kapitalis pusat terhadap kapitalis pinggiran menjadi mapan saat ini melalui proses sejarah yang cukup panjang. Sistem ini bagaimanapun menuntut setiap negara, termasuk negara-negara dunia ketiga (kapitalis pinggiran), untuk menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip kapitalisme global. Keterlambatan pembangunan di negara-negara dunia ketiga justru disebabkan oleh keterikatan mereka terhadap system dunia yang kapitalis ini; mereka yang belum siap dipaksa harus bersaing dalam konteks dunia yang kapitalis.
Pendekatan dependensia dan world system theory mendapat sambutan luas di negara-negara Asia dan Afrika. Pendekatan-pendekatan ini dipelajari luas dan dikembangkan sesuai dengan karakteristik masing-masing negara. Teori ini merupakan cabang dari Marxisme. Dasar pemikiran dari pendekatan capitalist world-economy adalah bahwa ekonomi dunia kontemporer dapat dijelaskan dengan baik melalui konteks sejarah evolusi kapitalisme dan asal-usul sistem ekonomi modern sejak abad ke-16. Selama berabad-abad, “world system” modern mengalami perubahan dari masyarakat agrikultural yang terisolasi secara geografis menjadi masyarakat industri dan jaringan perdagangan dan institusi keuangan yang berteknologi tinggi serta fasilitas produksi yang dikuasai oleh kekuatan kapitalis besar. Menurut pandangan ini, tidak ada perubahan yang terjadi dalam sistem ekonomi internasional sampai akhir abad 20 kecuali hanya kelanjutan sistem kapitalis dunia dengan dalilnya mengenai ekspansi dan eksploitasi. Perubahan yang terjadi hanyalah pada tingkat kompleksitas struktural yang terlibat.
Menurut Immanuel Wallerstein, sistem kapitalis dunia, yang dibentuk sekitar tiga abad lalu, terdiri dari beberapa komposisi dasar, termasuk didalamnya pasar global tunggal; sejumlah kecil pelaku utama; negara kapitalis kuat yang mendominasi pasar global; dan pembagian sistem dunia menjadi negara “core” dan “periphery”. Negara core terdiri dari negara kapitalis besar di kawasan Eropa Barat, Amerika Utara dan Jepang. Negara peripheral adalah negara berkembang di kawasan Amerika Latin, Afrika dan Asia. Wallerstein menyatakan bahwa hubungan antara core dan periphery adalah eksploitasi, dimana core membentuk pondasi struktural ekonomi dunia modern menurut sudut pandang mereka sendiri, mendominasi dan mengarahkan pembangunan ekonomi dan politik di periphery. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga kelangsungan status quo dan hak-hak istimewanya didalam sistem melalui perdagangan bilateral dan multilateral dan kesepakatan keuangan serta kekuatan militer jika diperlukan.
Untuk itu, gerakan sosial maupun perjuangan kelas yang ada umumnya bertujuan melakukan demokratisasi dan keadilan ekonomi berskala nasional dalam jangka waktu panjang tanpa memecahkan masalah ketimpangan dunia. Apalagi jika perjuangan kelasnya berskala lebih kecil, seperti pada tingkat pabrik dan kota industri. Gerakan sosial ataupun perjuangan kelas yang bertujuan untuk merebut suatu negara, jika berhasil, lambat-laun harus berjuang demi mengejar ketinggalan ekonomi, lambat-laun akan mengorbankan tujuan perjuangan kelas semula, dan bahkan akan menjadi semakin represif. Perjuangan kelas skala nasional harus ditinggalkan dan menggalang gerakan anti system dengan perjuangan kelas berskala global. Salah satu yang diajukannya adalah strategi untuk mengarahkan energi gerakan pada sumber surplus ekonomi, penyedotan surplus ekonomi global dengan jalan mengurangi tingkat laba, dan secara global memperhatikan persoalan pemerataan.

Perkembangan dalam World-System Theory
World-system theory telah menjadi sub-bidang kaji dalam teori Marxis dan Hubungan Internasional. Christopher Chase-Dunn lebih menekankan peran sistem antarnegara daripada Wallerstein. Sementara itu, Frank dan Gills berpendapat bahwa world-system theory merupakan hasil dari world-system yang jauh lebih tua, yang didasarkan pada Timur Tengah.
• Gramscianisme
Gramsci mempertanyakan mengapa revolusi di Eropa Barat sulit untuk dilakukan. Jawabannya mengenai pertanyaan ini berkisar di seputar konsep hegemoni. Hegemoni adalah istilah dalam hubungan internasional yang menggambarkan negara yang paling berkuasa atau yang paling dominan dalam sistem internasional. Menurut Gramsci, sistem kapitalis Eropa dipertahankan tidak hanya melalui koersi, namun juga melalui persetujuan atau consent yang diciptakan oleh hegemon. Menurut Gramsci, ideologi yang dominan telah ‘mengendap’ dalam masyarakat sehingga dianggap sebagai common sense. Proses ini bertempat dalam masyarakat sipil, yaitu jaringan institusi dan praktik dalam masyarakat yang menikmati sejumlah otonomi dari negara di mana kelompok dan individu mengekspresikan diri mereka pada satu sama lain dan pada negara. Dengan analisisnya ini, Gramsci menempatkan superstruktur pada posisi yang penting. Ia menggunakan istilah historical bloc untuk menggambarkan hubungan yang saling menguatkan dan berbalasan di antara hubungan sosial-ekonomi (base) dan praktik-praktik politik-kultural (superstructure). Masyarakat dapat diubah hanya bila posisi hegemon tersebut diganti.
• Robert Cox: Analisis mengenai ‘World Order’
Sebuah kalimat terkenal dari Robert Cox berbunyi: “Teori selalu ditujukan untuk seseorang dan suatu tujuan”. Dengan kata lain, pengetahuan tidak pernah menjadi objektif dan abadi seperti yang diklaim oleh kaum realis. Robert Cox menyediakan kritik bagi realisme dan neo-realisme. Menurutnya, realisme dan neo-realisme ditujukan untuk melayani kepentingan elit-elit yang berkuasa dan bertujuan untuk melegitimasi status quo. Cox membedakan antara problem solving theory yang menerima parameter dari order yang telah ada dan critical theory yang berupaya untuk menentang order yang ada dengan cara mencari, menganalisis, dan mendukung proses sosial yang dapat mengarah pada perubahan emansipatoris.
Cox menerapkan konsep hegemoni Gramsci ke dalam lingkup internasional dengan berargumen bahwa hegemoni adalah sesuatu yang penting untuk mempertahankan stabilitas dan keberlangsungan seperti halnya dalam level domestik. Dalam analisis Cox mengenai dua hegemon (AS dan Inggris), gagasan hegemonik yang mereka gunakan adalah perdagangan bebas. Cox mempertahankan pandangan Marxis bahwa kapitalisme adalah sistem yang secara bawaan tidak stabil dan memiliki kontradiksi-kontradiksi yang tidak dapat dihindari.

• Critical Theory

“Contemporary critical theory in english- lenguange international relations may best be understood as today;s manifestations of long standing democratic impulse in the academic studi of international affairs.
-Craig N, Murphy-

Jika Gramsci memusatkan perhatian pada ekonomi politik internasional, critical theory memusatkan perhatian pada masyarakat internasional dan keamanan internasional. Tokoh critical theory dalam hubungan internasional antara lain Andrew Linklater. Critical theory berkembang dari karya Frankfurt School. Tokoh-tokoh generasi pertama critical theory antara lain Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse.
Teori ini dikembangkan lebih lanjut oleh Jurgen Habermas. Pusat perhatian critical theory, dalam istilah Marxisme klasik, nyaris seluruhnya bersifat superstruktural. Para pemikir Frankfurt School berargumen bahwa kaum buruh telah terserap ke dalam sistem dan tidak lagi merupakan ancaman bagi sistem tersebut. Kontribusi critical theory yang paling besar adalah konsep mereka mengenai emansipasi. Menurut para tokoh critical theory generasi pertama, emansipasi berarti rekonsiliasi dengan alam. Generasi selanjutnya, terutama Habermas, menekankan proses dialog dan komunikasi dalam proses emansipasi. Menurut Habermas, partisipasi tidak boleh dibatasi oleh batasan negara berdaulat tertentu. Ia juga menyatakan bahwa Menurut Andrew Linklater, emansipasi dalam hubungan internasional berarti semakin terkikisnya signifikansi etis dan moral negara. Menurutnya, Uni Eropa merupakan contoh pemerintahan post-Westphalian. Elemen yang penting dalam metode critical theory dinamakan immanent critique.

BAB III
KESIMPULAN
Teori Marxis dalam Hubungan Internasional dan Globalisasi
Dalam kesimpulan ini dapat dijelaskan bahwsannya globalisasi adalah proses di mana transaksi sosial mengenai berbagai jenis hal semakin meningkat tanpa hubungan dengan batas-batas negara. Globalisasi ditandai oleh semakin menyatunya perekonomian nasional, kesadaran global mengenai saling ketergantungan ekologis, membludaknya jumlah perusahaan, gerakan-gerakan sosial, dan para pelaku antarpemerintah yang beroperasi dalam skala global, serta revolusi komunikasi yang membantu perkembangan kesadaran global. Menurut teori Marxis, dunia telah lama didominasi oleh satu perekonomian tunggal dan kesatuan politik, yaitu sistem kapitalis global. Jadi, kaum Marxis tidak menganggap globalisasi sebagai sesuatu yang baru, melainkan sebagai kecenderungan jangka panjang dari perkembangan kapitalisme. Lebih jauh lagi, globalisasi sering dijadikan alat ideologis untuk membenarkan pengurangan hak-hak dan prinsip kesejahteraan para buruh. Menurut Marx dan Engels globalisasi bukan sja mnegasilkan hubungan antar negara akan tetapi adanya dinamika internal dan dominasi kapitaslis dari sistem produksi.
Yang pertama kali menafsirkan pemikiran Marx dalam lingkup internasional adalah Lenin dengan karyanya, Imperialisme, The Highest Stage of Capitalism. Lenin menyebutkan bahwa negara-negara dapat memainkan peran sebagai kelas-kelas. Ia membagi negara-negara ke dalam core yang terdiri dari negara-negara kapitalis (dianalogikan dengan kelas borjuis dalam masyarakat) dan periphery yang terdiri dari negara-negara berkembang (kelas proletar). Lenin berargumen bahwa kapitalisme telah memasuki tahap tertinggi dan terakhir seiring dengan berkembangnya monopoli kapitalisme serta munculnya konsep core dan periphery. Dengan berkembangnya konsep core dan periphery ini, tak ada lagi keselarasan kepentingan (harmony of interests) di antara seluruh pekerja. Jadi, menurut Lenin, pembagian struktural antara core dan periphery menentukan sifat hubungan di antara kaum borjuis dan proletar di setiap negara. Dengan penganalogian ini, aspek internasional mulai masuk ke dalam pemikiran Marxis.
Marxisme dalam Hubungan Internasional mengemuka pada tahun 70-an dalam bentuk neo-Marxisme yang didorong oleh pengalaman-pengalaman empiris di Amerika Latin. ECLA menyelidiki keterbelakangan yang terjadi di Amerika Latin dan ketergantungan negara-negara di kawasan tersebut kepada Amerika Utara. Teori yang menjelaskan hal ini kemudian disebut sebagai teori dependencia yang menyatakan bahwa terdapat ketergantungan negara-negara periphery terhadap core. Teori ini berargumen bahwa ekonomi negara-negara Dunia Ketiga dikondisikan dan disubordinasikan terhadap pembangunan ekonomi, ekspansi, dan kontraksi kemajuan ekonomi negara-negara kapitalis.
Untuk memperhitungkan argument Marxis dalam pendekatan hubungan internasional direfleksikan pada proses dimana adanya kesatuan perlombaan antar manusia dan penekanan terhadap peranan kapitalisme dan perkembangan ini. Dominananya pemikiran ini di analisis untuk menggantikan tempat alienasi, eksploitasi dan menjauhkan dari sistem kebebasan dan kerjasama universal. Interpretasi Marxis sebagai pengaruh terlegitimasi dengan luas mengatasi adanya resistensi, khususnya dari kaum realis dan neo realis. Kaum realis menyangkal bahwa kapitalis akan menyatukan dunia dalam kebiasan dalam prediksi Marxis dan menolak adanya klaim revolusi proletariat dapat muncul dalam pembagian dunia dalam nation state. Marxis, mengalah pada metode tradisional yaiut diplomasi untuk memelihara bertahan hidup dan keamanan dari nation state menguatkan kembali pandangan realis. Tranformasi dari system internasional Marxis telah mentranformasi dari aksi sebagai agent dari tranformasi system internasional Marxis menjadi instrumen yang direproduksi kembali. Batas perselisihan antara China dan Soviet, Invasi Vietnam ke Kamboja dan perang antar China dan Vietnam adalah bentuk kegagalan Marxis untuk membuat pentingnya system internasional Negara.
Marxis juga dipengaruhi oleh pendekatan yang radikal dari ekonomi politik internasional, termasuk teori ketergantungan, dengan berargumen bahwa analisis interdepedensi terlalu distribusi tidak sejajar untuk kesejahteraan dari kapitalis system dunia. Studi dari ketidak sejajaran inilah yang menjadi saluran untuk izin masuk pendekatan Marxis kedalam studi hubungan internsional.
Selain itu Robert Cox juga berusah menggantikan hubungan internasional yang kovensional teori yang memfokuskan kepada interaksi antara kekuatan kelas, Negara dan tatanan dunia itu adalah ambisi yang di gunakan disiplin ilmu materialisme sejarah. Kehadiran dan perkembangan industrialisasi pada abad ke-19, selain menciptakan lapangan pekerjaan yang besar, juga membawa kesengsaraan bagi masyarakat dimana pabrik-pabrik didirikan. Kesenjangan secara sosial ekonomi terjadi antara mereka yang memiliki kekuasaan modal dan politik dengan mereka yang memiliki keuangan terbatas. Kondisi ini membuat Karl Marx, penteori ekonomi-politik sosialis yang paling berpengaruh pada abad itu, mengkritik keberadaan kapitalisme dan mengembangkan teori ekonomi politik saintifiknya sendiri untuk menjelaskan perubahan yang terjadi dalam industrialisasi baru di Eropa. Teorinya didasarkan bagi tujuan perjuangan kelas antara proletar (kaum pekerja) dan borjuis (pemilik faktor produksi).
Dunia ketiga bukannya tidak menyadari bahwa suatu ketergantungan (Dependensi) telah berlangsung di negara-negara mereka sehubungan dengan proses modernisasi dan industrialisasi. Persoalannya ialah bagaimana cara yang harus ditempuh agar fenomena ketergantungan itu dapat dieleminasi sedemikian rupa. Berkaitan dengan ini, studi berpikir Marxian mengenai model ketergantungan, menentang konsep-konsep dan tata ekonomi yang ditawarkan kapitalisme-liberalisme.
Pencarian konsep, teori dan model yang paling cocok secara general untuk pembangunan di Dunia Ketiga sukar dilakukan, dan mungkin tidak pernah dapat ditemukan karena perbedaan-perbedaan visi dan kerangka berpikir di Dunia Ketiga. Secara parochial konsep industrialisasi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi geografis banyak dijadikan acuan atau yang direkomendasikan sebagai bahan temuan para pakar Ekonomi Politik baik oleh negara maju maupun negara berkembang, untuk membekali keyakinan para pengambil keputusan di negara-negara berkembang.
Karena sifatnya yang lebih ambisius, teori-teori global lebih rentan ketimbang teori-teori dengan penerapan sederhana. Kita berurusan dengan hubungan-hubungan antara wilayah maju dan wilayah terbelakang. Dari seluruh pendekatan yang diuji di atas, Wallerstein dengan World System Theory nya sangat holistik dan luar biasa ekonomistik dalam lingkup penanganannya atas hubungan-hubungan antara politik dan ekonomi. Ia cenderung memperlakukan proses-proses politik domestik ditentukan secara eksternal atau pencerminan kepentingan-kepentingan ekonomi domestik, dan melakukannya secara mekanis dan pukul rata. Namun ia memperkenalkan kembali politik (dan negara-bangsa) sebagai faktor penentu dalam perhitungan penjagaan system pertukaran tak setara yang dianggap juga menghasilkan mereka.
Sebagai bahan kesimpulan penutup yang terakhir, bahwasannya dalam perkembangan pemikiran marxis akhirnya melahirkan pemikir-pemikir yang mengembangkan teori-teori dari Marxis, seperti yang telah dijelaskan diatas sepeti, Rober Cox dengan teori critical theorinya, Gramsci dengan Hegemoninya, Immanuel Wallerstain dengan world system theory-nya, dan masih banyak lagi pemikir-pemikir yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
• Baylis, John and Smith, Steve. 2005. The Globalization Of World Politics. 3th Edition. Oxford University Press. New York.
• Jackson, Robert and Georg, Sorensen. 1999. Introduction to International Relations. Oxford University Press Inc. New York.
• Mingst, Karent. 1999. Essential of International relations. First Edition. W.W. Norton and Company, Inc. New York.
• Pearson, S.Frederic dan Payaslian, Simon,1999. International Political Economi: Conflict and Cooperation in the Global System. McGraw Hill College, Boston.
• Joshua S. Goldstein. 2002. International Relations: Brief Edition. Longaman. New York.
• Fakih, Mansour. 2001. Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
• Chan, Steve. 1978. Beyond the North – West: Africa and the East, dalam R.J.A. Groom & M. Light. Frances Pinter, Ltd.. London.
• Burchil, Scott dan Linklat er, Andrew. 1996. Theory Of Internastional Relations. Macmilan Press. New York.
• Suseno Magnis, Fransz. 2005. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionism. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
• Wyn Jones, Richard. 2001. Critical Theory and World Politics. Lynne Reinner Publisher,Inc
. London

3 Balasan ke Teori Marxis Dalam Hubungan Internasional

  1. Anonymous mengatakan:

    pertanyaannya apa motivasi dari kapitalisme, apaah sekdr uang, ideologi atau agama????krus

  2. Anonymous mengatakan:

    thank you

  3. - mengatakan:

    bagusnya,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: